Showing posts with label Nabire. Show all posts
Showing posts with label Nabire. Show all posts

Raih Banyak Suara, Oktopianus Petrus Tebai Gelar Ibadah Syukur

Suasana saat ibadah syukuran (Foto:Istimewa)
Nabire - Keluarga besar Otopianus Petrus Tebai, di Nabire gelar ibadah syukur atas perolehan suara 425.159 tertinggi kedua dari Calon DPD RI Dapil Papua, pada Jumat, 24 Mei 2019 di Jalan.Jayanti Nabire,Papua.


Ibadah syukur perolehan suara kedua ini, di pimpin Oleh Pewarta Yan Edowai, yang mana dalam firmanya mengatakna kita patut bersyukr atas kepada Tuhan, kerana barang siapa mengandalkan Tuhan pasti apa yang di inginkanya dapat terwujud, untuk itu kita beryukur sehinga perolehan suara yang di berikan masyarakat di papua telah mendukung, Otopianus Petrus Tebai untuk memiliki suara tertinggi kedua Calon DPD RI Dapil Papua, periode 2019-2024.

Otopianus Petrus Tebai saat di wawancari mengatakan perolehan suara yang di miliki merupakan kemenangan murni yang Tuhan percayakan oleh rakyat untuk memilinya, sehinga dirinya memperoleh suara tertinggi ke dua Anggota DPD RI Dapil papua, dan juga mengucapkan terima kasih kepada selurh rakyat papua dan masyarakat non asli papua yang telah memberika hak suara untuk mendukungnya sebagai calon anggota DPD RI, pada 17 april lalu, dan kiranya Tuhan membalas semua oarang yang mendukungnya.

Otopianus Petrus Tebai juga mengharapkan agar anggota DPD RI Papua dan Papua Barat, agar bersama sama membuat Pansus untuk menangani berbagai persoalan di papua.

Lebih lanjut di katakan, Papua membutukan sarana dan prasarana khususnya Bandara, Pelabuhan, Jalan, Jembatan, dan perumahan rakyat, dan juga papua tengah hal ini akan di perjuangan di DPD RI nantinya.

Ist papualives.com

Ada Krans Bunga Turut Berdukacita Atas Matinya Jaringan Internet di Nabire

Krans Bunga Turut Berdukacita Atas Matinya Jaringan Internet di Nabire yang di taru masyarakat Nabire atas kekecewaannya pelayanannya di depan stasiun bumi  divisi Infratel Nabire milik PT.Telekomunikasi Indonesia (Foto:Dree/PapuaLvies)
Nabire - Krans Bunga Turut Berdukacita Atas Matinya Jaringan Internet di Nabire yang ditujukan  untuk  PT.Telkom maupun PT.Telekomunikasi Indonesia, hal ini dibuat sebagai bentuk kekecewaan masyarakat atas  buruknya  jaringan internet/Idihome maupun  Telkomsel di kota Nabire dan sekitarnya yang mana hampir seminggu lebih mati.


Krans Bunga tersebut diletakkan di depan Kantor Stasiun Bumi  Divisi Infratel Kabupaten Nabire milik PT.Telekomunikasi Indonesia di Jalan Merdeka Nabire,Krans Bunga itu diletakan sejak sabtu dini  hari ketika dalam suasana matinya jaringan sesuai dengan pantauan media ini dilokasi ditarunya Krans Bunga tersebut .

Donatus, salah satu Masyarakat Nabire yang sedang melintas di depan kantor  PT.Telekomunikasi  Indonesia  mengatakan bahwa kecewa atas  pelayanan intenet di nabire yang  sangat   buruk sehingga membuat aktivitas masyarakat yang mengunakan jasa internet lumpuh total

” saya harap agar pihak  Telkom maupun pemerintah daerah serius dalam mengatasi hal ini.”katanya ketika ditemui media ini ( 19/09/2019) minggu lalu.

Terkait hal itu, Noverita Bonay Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Nabire mengaku akan mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan masalah jaringan yang sering bermasalah di kabupaten Nabire.

Sementara itu Kepala KADANTEL Telkom Biak ketika dihubungi Via telepon Seluller mengungkapkan pihaknya telah berupaya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di dua titik yang mengalami gangguan, yaitu; di Ponit Serui dan Pioint Nabire.Sambil menunggu alat yang dikirimkan dari makassar ke nabire.

“untuk itu, agar masyarakat nabire dapat bersabar menunggu  menyelesaikan dilokasi gangguan jaringan tersebut”harapnya.

Sumber: Dree/Papualives

Miskin’ Sinyal Internet di Nabire Papua Bikin Mati Gaya


Ilustrasi seorang warga tengah mengakses smartphone. Foto: Adam Noor/Asumsi.co
Nabire - Jaringan internet jadi sesuatu yang langka hampir di berbagai wilayah Papua. Jangankan sinyal internet, keberadaan jaringan telepon di pulau yang terkenal karena keindahan alamnya itu, masih naik turun, kadang stabil dan kadang hilang.

Kondisi itulah yang langsung dirasakan saya saat berkunjung ke Kabupaten Nabire, Papua, selama beberapa hari, pada Jumat, 19 Mey 201i lalu. Di Nabire, sinyal internet seperti barang mewah.
Saat mendarat di Bandara Douw Aturure, Nabire, koneksi sinyal internet pun mulai buruk dan sama sekali tak stabil. Mengirim pesan WhatsApp saja, saya harus menunggu beberapa menit sampai pesan yang tadinya pending lama, jadi benar-benar tercentang dan sampai ke penerima.

Sebagai seorang jurnalis, situasi ini tentu sangat tak nyaman bagi saya yang aktivitas sehari-harinya tak bisa jauh dari akses internet. Baik itu untuk kebutuhan mengirim berita, membuka email, maupun sekedar browsing untuk mencari data sebagai bahan riset.

Di era serba digital seperti sekarang ini, akses internet memang sudah seperti nyawa bagi pekerja-pekerja yang selalu berurusan dengan dunia maya. Tersendatnya jaringan internet tentu membuat koordinasi jadi lamban dan kemungkinan untuk ketinggalan informasi pun jadi besar.

Setibanya di penginapan yang berada di Kabupaten Nabire, kira-kira 10 menit dari Bandara Douw Aturure, harapan akan munculnya sinyal internet yang stabil pun pupus. Meski sudah berada di kawasan pusat kota, tetap saja koneksi internet di smartphone saya benar-benar mati suri.


Memang, satu-satunya jaringan provider internet yang tersedia di Nabire adalah Telkomsel saja. Bagi para pengguna jaringan-jaringan lainnya seperti Indosat, 3, sampai XL, jangan terlalu berharap akan ada akses internet dari masing-masing provider tersebut.

Jaringan Tri sama sekali tak ada dan blank total. Sementara untuk jaringan internet XL dan Indosat sendiri, katanya ada di beberapa tempat, namun itu juga belum merata. Yang jelas, di luar Telkomsel, jaringan provider lain tak tersedia.

Sekadar informasi, sebenarnya akses internet Telkomsel di Nabire sendiri sudah mencapai jaringan 4G di layar smartphone saya. Hanya saja, saat mencoba untuk browsing, halaman pencarian pun hanya berputar-putar saja dan tak bisa dibuka sama sekali.

Meski akses jaringan internet Telkomsel sangat buruk, sebenarnya saya sempat senang dan sedikit bernapas lega lantaran berpikir akan ada jaringan cepat Wifi di hotel saya menginap. Sayangnya, jaringan Wifi juga tak terlalu membantu dan aksesnya pun lamban.

Jaringan internet Wifi di hotel tersebut hanya mudah diakses di sekitaran area resepsionis saja dan itupun belum tentu stabil. Sementara saat berpindah ke kamar, jaringan Wifi sama sekali hilang. Bagaimana dengan Telkomsel? Habis juga.

“Iya sinyal internet di Nabire ini memang susah sekali, saya selalu kesal kalau mau buka internet tapi tak bisa. Mau baca-baca berita pun jadi susah sekali. Saya pakai Telkomsel, jaringannya ada tapi susah diakses,” kata Gerry, salah satu resepsionis hotel tempat saya menginap di Nabire, Sabtu, 1 September.

Keberadaan Telkomsel sebagai provider internet utama di Nabire pun seolah tak bisa dimaksimalkan oleh masyarakat sekitar. Bahkan, Gerry sendiri mengakui bahwa untuk sekedar mengirim pesan singkat lewat WhatsApp saja masih sulit.

“Mau kirim-kirim pesan lewat WhatsApp saja susahnya minta ampun. Saya kirim pesan jam 8 pagi, nanti baru dibaca jam 9 pagi, lalu dibalasnya jam 10,” ujar Gerry sembari tertawa.

Pada akhirnya memang untuk mendapatkan sinyal, baik itu sinyal telepon ataupun internet untuk berkomunikasi di sana benar-benar tak semudah membalikkan telapak tangan. Meski Telkomsel sudah menyajikan koneksi internet dengan jaringan 4G, namun hal itu tidak bekerja maksimal.

Menurut penuturan Gerry, memang sinyal internet Telkomsel sendiri hanya akan stabil di area tertentu saja. Jadi, jika memang ingin mendapatkan akses internet yang lumayan, maka harus berjalan jauh dulu ke beberapa tempat yang memiliki sinyal bagus.

Memang kebutuhan akan sinyal internet ini sebenarnya bisa sedikit diakali dengan mengubah akses jaringan. Saya sendiri mencoba mengubah jenis jaringan yang dianjurkan dari all broadband menjadi salah satu jaringan yakni 3G dan 2G.

Namun, lagi-lagi hal itu juga tak terlalu membantu saya yang butuh jaringan cepat untuk kebutuhan penulisan berita. Hanya akses telepon dan pesan singkat SMS saja yang sejauh itu bisa saja maksimalkan untuk berkomunikasi.

Beruntungnya, saya masih sempat mendapatkan jaringan internet Telkomsel yang stabil di beberapa kesempatan. Setelah menunggu beberapa waktu untuk memposting naskah tulisan ke web dan email, akhirnya saya bisa menyelesaikan tugas dengan rasa was-was.

Terkait sinyal internet yang benar-benar buruk di Nabire ini, saya coba berbincang dengan Pengamat Teknologi Informasi dari Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Heru Sutadi, saat saya sudah tiba di Jakarta pada Senin, 3 September kemarin.

Heri mengatakan memang jaringan telekomunikasi di daerah terpencil seperti di Papua masih belum stabil dan kurang perhatian. Walaupun pemerintah sering mengatakan akan membangun jaringan yang kuat, namun hal itu masih jauh dari harapan.

“Memang soal jaringan telekomunikasi masih jadi persoalan. Pemerintah kan selalu mengatakan sudah dibangun tapi memang ternyata indah kabar dari rupa,” kata Heru.

Soal kurangnya perhatian terhadap akses jaringan internet di Papua, terutama Nabire, lanjut Heru, memang masih dianggap sebagai masalah kecil. Sayangnya, masalah kecil tersebut justru genting bagi sebagai masyarakat yang menggantungkan pekerjaannya dengan akses internet.

“Ini karena kita anggap semua ini masalah biasa sehingga diselesaikan dengan cara biasa. Padahal harus ada percepatan (penerapan jaringan internet cepat),” ucap Heru.

Heru pun memberikan saran agar daerah-daerah terpencil seperti Papua memang harus mendapatkan perhatian yang lebih besar perihal akses jaringan internet ini. Apalagi, Papua kerap dianggap sebagai daerah tertinggal lantaran jauh dari Pulau Jawa, yang dinilai sebagai pusat dari segala informasi.

“Memang harus ada rencana terstruktur, dicek ke lapangan, bangun dengan akses memadai dan kecepatan sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Sebetulnya, akses jaringan internet yang masih terbatas di Papua, khususnya Nabire ini, masih bisa dimaklumi. Apalagi jika melihat posisi Papua yang memiliki letak geografis dan medan yang terjal seperti pegunungan, laut, dan hutan belantara.

Hal itu tentu menyulitkan banyak pihak untuk mempercepat pembangunan dan pemerataan jaringan. Namun, itu justru jadi tantangan tersendiri bagi pemerintah jika ingin memaksimalkan potensi besar Papua terutama dari sektor pariwisata.

Dengan akses jaringan internet yang cepat, tentu stakeholder dan banyak pekerja di sektor digital akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan dunia luar. Segala macam bentuk promosi pariwisata Papua yang terkenal surga itu pun akan mudah dilakukan.

Sumber : Ramadhan/asumsi.co

Gubernur Nilai Potensi Wisata Hiu di Nabire Bisa Mendunia

Gubernur Papua Lukas Enembe
Gubernur Papua Lukas Enembe menilai potensi wisata hiu di Kabupaten Nabire bakal mendunia bila dikelola dan dipromosikan secara maksimal kepada dunia luar. Apalagi hewan laut hiu itu, tak pernah berpindah dan hanya berkembang biak di perairan laut Nabire.

Berkenaan dengan hal itu, pihak mengimbau pemerintah kabupaten setempat agar dapat memikirkan satu formula yang tepat untuk mempromosikan potensi wisata hiu Nabire.

“Sebab saya rasa pengembangan wisata hiu Nabire ini akan sangat menarik minat para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri”.

"Apalagi wilayah Nabire ini berdekatan dengan Biak, Serui, Waropen serta sejumlah kabupaten di Provinsi Papua Barat, seperti Teluk Wondama kemudian Kaimana,” terang Gubernur Lukas dalam satu kesempatan di Jayapura, kemarin.

Dia katakan, baru-baru ini Presiden Joko Widodo berkunjung ke Nabire dalam rangka peresmian PLTMG Kalibobo, Nabire, RSUD Regional Mee Pago serta peninjauan Bandara Douw Atarure dan Pelabuhan Samabusa.

Perhatian Presiden terhadap Nabire dan Papua secara kseluruhan, diapresiasi karena merupakan bentuk komitmen yang ingin berkunjung serta membangun bumi cenderawasih, agar dapat mengejar ketertinggalan dari provinsi lainnya di Indonesia.

Sehingga melalui momentum kunjungan Presiden Joko Widodo itu, diharapkan dapat memacu peningkatan angka kunjungan wisatawan dalam negeri maupun manca negara di Kabupaten Nabire.
“Apalagi sudah dibangun bandara Internasional Douw Aturure. Lalu sudah ada pula Pelabuhan Samabusa, sehingga dapat menunjang program tol laut dari Presiden Joko Widodo. Ini berarti akses ke Nabire terhubungkan baik melalui darat maupun laut secara maksimal”.

“Namun diharapkan pula pemerintah kabupaten setempat untuk mendukung program Presiden serta meningkatkan potensi kekayaan alam dan wisata, agar bisa dijual keluar daerah,” harap dia.

 papua.go.id

Duapuluh Tiga Motif Batik Papua Khas Nabire Diluncurkan

Nabire, Sebanyak 23 motif Batik Papua ciri khas kabupaten Nabire diluncurkan, Senin (6/11/17) di halaman kantor Bupati Nabire. Peluncuran batik Papua khas Nabire dirangkai dalam sebuah acara syukuran bersama prestasi opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi Papua atas laporan keuangan Pemerintah Kabupaten Nabire tahun 2016, penghargaan Indonesia Awards 2017 dari MNC Grup, I News TV dengan kategori “Pembangunan Infrastruktur dalam Rangka Pembukaan Isolasi Daerah Indonesia Bagian Timur”, penyerahakan Kartu Indonesia Pintar, serta penutupan dan penyerahan hadiah Voli Putra Bupati Cup 2017.

Rangkaian acara pemberian penghargaan dan peluncuran batik Papua ciri khas Kabupaten Nabire dihadiri oleh Kepala Seksi Hak Cipta, Ditjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Kasubdit Kekayaan Intelektual Kanwil Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Papua, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkpimda), Pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan rakyat Daerah, Unsur TNI dan Polri, Pimpinan Instansi Vertikal di Kabupaten Nabire, Pimpinan Badan Usaha Milik Negara, Pimpinan Badan Usaha Milik Daerah, Pimpinan Organisasi Non-Pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, ribuan Aparatur Sipil Negara, dan perwakilan masyarakat.

Peluncuran batik Papua ciri khas Kabupaten Nabire diawali dengan penjelasan tentang proses pembuatan batik khas Nabire oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabupaten Nabire, Ibu Yufinia Mote, S.SIT sebagai penggagasnya.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan secara resmi Hak Cipta dan Desain Industri dari Kepala Seksi Hak Cipta, Ditjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Luter Pasande kepada Pemerintah Kabupaten Nabire.

Dijelaskan Yufinia Mote, S.SIT, batik Papua ciri khas Kabupaten Nabire dapat diluncurkan setelah melalui proses yang panjang. “Pada awalnya, ketika kami mengikuti dan menghadiri berbagai kegiatan baik yang dilaksanakan di Provinsi Papua maupun di luar Provinsi Papua, kami selalu menggunakan Batik Papua sebagai busana dan ada banyak pertanyaan yang diajukan kepada kami. Ditanyakan, apakah batik yang ibu gunakan adalah batik dari Kabupaten Nabire? "Sebagai seorang istri Bupati dan juga sebagai seorang Pimpinan saya merasa malu. Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan kepada mereka. Tetapi untuk menutupi semuanya, saya hanya bisa katakan bahwa yang saya gunakan adalah Batik Papua,” kata Ibu Yufinia, isteri bupati Nabire.

“Berawal dari pengalaman-pengalaman inilah saya sebagai pimpinan termotifasi dan saya berkomitmen bahwa Kabupaten Nabire harus mempunyai Batik Khas Nabire. Kemudian saya memamnggil Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan, Ibu Matilda Mose dan saya menceritakan semua yang terjadi dengan satu harapan bahwa Batik Khas Nabire harus ada. Puji Nama Tuhan karena akhirnya kegiatan membatik ini mulai diperjuangkan melalui Bidang Pemberdayaan Perempuan pada Tahun 2015 dengan membentuk Panitia Pelaksana Kegiatan Desain Batik Papua Ciri Khas Nabire dengan ketua Panitianya adalah Bapak Agustinus Tatogo, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Nabire,” kata Yufinia menjelaskan.

Selanjutnya, ibu Yufinia menjelaskan bahwa sebelum Kegiatan Sayembara/ Lomba Desigen Batik dimulai, ia sebagai anak adat yang tahu dan menghargai nilai-nilai budaya mengundang Ketua Lembaga Adat, Kepala Suku, Para Seniman/Seniwati serta Budayawan Kabupaten Nabire guna memberikan kriteria / bentuk motif batik ciri khas Nabire dan memperoleh pengakuan serta penerimaan terhadap motif tesebut.

“Pada tanggal 15 April 2015 rapat berama antara Panitia penyelenggara dengan Ketua Lembaga Adat Kepala Suku Para Seniman/Seniwati serta Budayawan Kabupaten Nabire sekaligus Penandatanganan Berita Acara 'Ppngakuan dan Penerimaan Motif Batik Papua Ciri Khas Nabire. Pada tanggal 16 Aprll 2015 dlumumkan Lomba Sayembara Desain Motif Batik Papua Ciri Kahs Nabir,” katanya melanjutkan penjelasan.

Persyaratan yang ditetapkan bersama untuk Sayembara adalah dalam batik khas Nabire harus memuat unsur kebudayaan pegunungan dan pesisir pantai. Pegunungan berupa Panah, jubi, Koteka, Moge dan Wupi. Daerah Pesisir dan Kepulauwan dengan motif Rumah Adat, Keyakinan (Dewa yang di Puja), Sisir Bambu, Tifa, Tali Persahabatan/Persatuan, Gelang Batu, Kulit Bia, Paseda, dayung, dan Penokok Sagu. Kemudian, kekayaan alam seperti Hiu, Paus dan Emas.

“Pada tanggal 20 April 2015, saya sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Kabupaten Nabire mengeluarkan Surat Keputusan tentang Pembentukan Tim Juri untuk mengadakan penilaian terhadap motif batik yang dilombakan. Tim Juri dipimpin oleh Daniel Maipon, S.STP dengan Sekretaris Matilda Mose, S.Sos dan anggota antara lain (alm) Yakobus Muyapa, (Alm) Yuuan Yaap Marei, Drs. Blasius Nuhuyanan, Menasye Yoteni, SH, Yufinia Mote, S.Si.T, Septinus Bamnsano, S.Pd, Derek Nurlete, S.STP, Albert Runaweri (Dewan Kesenian Provinsi), Lamech Niwari, Nyoman Dana,” jelasnya lagi.

“Setelah mengujian dan penilai tertulis maupun secara lisan akhirnya Pengumuman pemenang Lomba Desain Batik Papua Ciri Khas Nabire dapat diumumkan secara resmi Pada tanggal 24 April 2015 dengan pemenang lomba adalah Juara I, Marthen Giyai, Juara II, Koresac.Mobalen, Juara Ill, Fransiskus Tekege. Selanjutnya, tanggal 24 April 2015 kami lakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Hasil Desain Motif Batik Papua Ciri Khas Nabire dari pemenang Lomba Motif Batik Papua Ciri Kas Nabire kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Nabire, Bapak Bupati Nabire Bapak, Isaias Douw, S.Sos., MAP untuk dijadikan sebagai Aset Pemerintah Daerah Kabupaten Nabire,” kata Yufinia.

Dijelaskannya lagi, selama tahun 2016  kegiatan memproduksi Batik Papua ciri khas Nabire kembali diusulkan dan diperjuangkan namun tidak dapat dilanjutkan karena tidak tersedianya dana dalam memfasilitasi kegiatan dimaksud. Tahun 2017 kembali lagi diperjuangkan. "Puji Tuhan karena mendapat dukungan dari berbagai pihak terutama dari bapak Bupati Nabire sehingga melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak pada tahun 2017 ini kami dapat melewati tahapan-tahapan, salah satunya adalah mendaftarkan di di Kementerian Hukum dan HAM guna memperoieh Lesiansi/ Hak Paten Batik Papua Ciri Khas Nabire dan kegiatan pelatihan membatik di Yogyakarta diikuti oleh 20 peserta pelatihan.” jelasnya.

“Akhirnya, hari ini tanggai 6 Nopember 2017 adalah merupakan hari bersejarah bagi perjalanan batik Papua ciri khas Nabire, yakni dilakukan acara Penyerahan Sertifikat Hak Paten Batik Papua Khas Nabire dan Launching Perdana Batik Papua Ciri Khas Nabire. Selaku Pimpinan SKPD penyelenggara dan Pencetus Batik Papua Ciri Khas Nabire, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Tuhan pemilik alam semesta ini,” tutur Yufinia.

Dengn pencapian itu Ibu Yufinia mengucapkan terima kasih kepada semua unsur yang telah berjuang serta berkorban demi terciptanya batik Papua ciri khas Nabire, antara lain Pak Bupati, lbu Direktur Hak Cipta Kementerian Hukum dan HAM RI, Kanwil Kemenkumham Jayapura, Ketua Asosiasi Batik dan Tenun Nusantara, Ketua Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Nabire, Ketua Ketua Lembaga Adat Kabupaten Nabire, Kepala-Kepala Suku, Seniman/Seniwati, Para Budayawan, Panitia Penyelenggara, Tim Juri, serta kepada ketiga pemenang Lomba Desigen Motif yang dengan rela hati tanpa ada paksaan telah menyerahkan basil karyanya kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Nabire untuk dijadikan sebagai Aset Kabupaten Nabire, dan juga kepada semua staf Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atas kerjasama yang baik.
Di tempat yang sama, dalam sambutannya, Bupati Nabire, Isaias Douw, S.Sos., MAP mengungkapkan rasa syukurnya atas Batik Papua khas Nabire. “ Hari ini, kita bersyukur bahwa Kabupaten Nabire resmi memiliki batik Papua ciri khas Nabire yang unik, kombinasi unsur-unsur kebudayaan daerah pegunungan, pesisir dan kepulauan.”

“Saya atas nama pemerintah daerah Kabupaten Nabire menyampaikan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para seniman dan budayawan yang telah ikut terlibat dalam proses terwujudnya batik Papua ciri khas Nabire,” kata Isaias.

Dijelaskan Bupati Isaias, yang dimaksud dengan karya seni batik Papua ciri khas Nabire adalah motif batik kontemporer yang bersifat inovatif, masa kini, dan bukan tradisional. Karya tersebut dilindungi karena mempunyai nilai seni, baik dalam kaitannya dengan gambar, corak, maupun komposisi warna.

“Batik Papua khas Nabire ini adalah kebanggaan kita, orang Nabire. Karena itu, saya minta agar semua ASN wajib mengenakan batik ciri khas Nabire pada setiap hari Kamis dan dapat digunakan sebagai tablak meja, kain jendela, latar belakang spanduk, kop surat dan, dapat digunakan di sekolah-sekolah, BUMD, BUMN dan organiasi non-pemerintah sambil menunggu keputusan resmi dari pemerintah kabupaten Nabire,” pinta Isaias.

‘Saya minta kepada dinas teknis agar segera menyediakan sarana berupa mesin dan bahan kain serta melatih tenaga-tenaga untuk memproduksi sebanyak-banyaknya batik ini. Mari kita lestarikan seni dan budaya melalui batik Papua ciri khas Nabire,” harap Isaias mengakhiri sambutannya. (
Oleh : Yermias Degei )
KabarIndonesia 


 

Pengrajin noken minta Pemkab Nabire bangun fasilitas

Mama-mama pengrajin penjual noken di pinggir jalan raya Yos Sudarso, tepatnya di depan taman Gizi depan pertokoan laut Oyehe, Nabire.
Nabire, Jubi – Mama-mama pengrajin noken yang telah lama jualan di pinggir jalan raya Yos Sudarso, tepatnya di depan taman Gizi dan depan pertokoan laut Oyehe, Nabire, meminta pemerintah setempat mendirikan fasilitas pendukung berupa pondok untuk memanjang daganganya.

“Bisa dibangun di depan bekas kantor DPRD, atau samping kiri pintu masuk terminal Oyehe,” kata seorang Pengrajin Noken, mama Albertina Waine, Senin, (6/11/2017).

Ia menilai selama ini pemerintah tidak melihat usaha kerajinan noken sebagai peluang usaha kerakyatan di Nabire.

“Padahal permintaan kami cukup sederhana, hanya kasih bangun pondok,” kata Albertina menambahkan.

Mama Waine  telah berjualan noken berbagai jenis sejak tahun 2013. Sebelumnya ia bersama pengrajin dan penjual noken lain berjualan di dalam pasar Oyehe, namun mereka diusir karena sengketa lapak di dalam pasar.

“Kalau kami mau jual di tempat lain itu kami selalu diusir. Jadi, pilihan terakhir kami jual di sini,” katanya

Seorang mama penjual noken lain, Fredrika Douw, mengatakan  hampir setiap saat selalu  mendapat pesanan noken dari para pejabat. “Mereka mendatangi membeli noken atau saat jalan santai,” kata Fredrida.

Menurut dia, keberadaan pondok noken sangat penting membantu kenyamanan para pembeli dan penjual sendiri.

Mama Gerfasia Waine  pedagang noken di depan pertokoan laut juga mendukung pentingnya pondok sebagai fasilitas pendukung. Karena menurut dia, payung yang digunakan saat jualan hasil bantuan mahasiswa Papua yang sedang mengenyam pendidikan di Jawa dan Bali,  sudah rusak.

Pemilik toko Mega Baru di pertokoan Oyehe, Amrin, 44, tahun, menilai penjual noken yang dilakukan mama-mama Papua di depan tokonya justru membuat kumuh . “Hampir tiap hari banyak orang yang kunjungi sering biarkan sampah tanpa dibersihkan,” kata Amrin.

Ia mengaku masih mentolerir, tapi mama-mama Papua yang jualan kadang abai, sehingga perlu tempat khusus buat jualan. “ Baiknya mereka jualan di tempat khusus,” katanya. (jubi)

PAW, dua anggota DPRD Nabire dilantik

Ketua DPRD Kabupaten Nabire, Marhen Douw kepada Jubi mengatakan pelantikan sudah diagendakan dan sudah sesuai prosedur yang berlaku. “Pelantikan ini berdasatkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Papua. Jadi kami hanya mengeksekusi,” tuturnya.

 
Ketua DPRD Nabire Marthen Douw dan kedua anggota yang dilantik dalam mengambil sumpah janji, Kamis, (6/7/2017) – Jubi/Titus Ruban

Nabire, Jubi – Dua anggota DPRD Nabire dari Fraksi Nasdem, dilantik menjadi anggota DPRD Nabire, dalam pergantian antar-waktu (PAW) di ruang sidang DPRD Nabire, Kamis (6/7/2017).

Neles Yawan dan Germanus Agapa dilantik menjadi anggota DPRD Nabire menggantikan Matias Pigai dan Oktovianus Gobay yang meninggal dunia.

Ketua DPRD Kabupaten Nabire, Marhen Douw kepada Jubi mengatakan pelantikan sudah diagendakan dan sudah sesuai prosedur yang berlaku. “Pelantikan ini berdasatkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Papua. Jadi kami hanya mengeksekusi,” tuturnya.

Dikatakan Marhen Douw, pihaknya melakukan sidang paripurna setelah partai Nasdem mengusulkan kedua nama anggotanya.

“Kami tidak mencampuri urusan partai. Kami hanya bertugas untuk melaksanakan pengambilan sumpah janji. Dewan tidak mempunyai hak untuk menentukan siapa penggantinya,”ujarnya.

Sekretaris Dewan Ansari menambahkan untuk pelantikan kedua anggota tersebut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Papua nomor 155.2/81/tahun 2017 tentang peresmian pemberhentian dan pengangkatan penggantian antar waktu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Nabire periode tahun 2014-2019.

“Pelantikan dari Natalius Pigai Almarhum kepada Neles Yawan dan Oktovianus Gobay Almarhum kepada Germanus Agapa,” jelasnya.

Pelantikan tersebut dihadiri Bupati dan wakil Bupati Nabire, anggota Forkompimda, tamu undangan termasuk keluarga anggota DPRD Nabire yang baru dilantik serta anggota DPRD kabupaten tersebut. (*)

 http://tabloidjubi.com

Pos militer di kawasan Nifasi ganti warna untuk hilangkan jejak

Pos penjagaan di depan pintu masuk kawasan pertambangan emas Nifasi ini disebutkan oleh masyarakat pemilik hak ulayat telah berganti warna untuk menghilangkan jejak keterlibatan oknum TNI yang membackup aktifitas PT KEL - IST
Paniai - Solidaritas untuk Nifasi (SUN) Nabire menyebutkan PT.Kristalin Eka Lestari (PT.KEL) sedang memprovokasi warga dan membuat kelompok pro kontra agar ada legitimasi untuk tetap bertahan bekerja menambang emas di bantaran Sungai Mosairo.
Kordinator Solidaritas Untuk Nifasi, Roberthino Hanebora mengaku, pihak yang pro terhadap PT.KEL hanya beberapa orang dan hampir seluruh masyarakat Nifasi menolak kehadiran PT.KEL dan klaim wilayahnya bantaran sungai Mosairo .
"Jelasnya hanya sembilan KK (Kepala Keluarga) yang mendukung PT.KEL dari 143 KK. Perlu diketahui dari 143 KK hanya 90 KK suku asli Nifasi dan pemilik hak ulayat Mosairo. Dari 90 KK suku asli Nifasi hanya 3 KK suku asli yang mendukung PT.KEL, sisa 6 KK dari 9 KK itu adalah warga domisili di kampung Nifasi. Artinya bukan pemilik ulayat yang mendukung PT.KEL," tutur Robertino Hanebora kepada Jubi melalui pesan WhatsApp, Selasa, (27/6/2017).
Untuk meminimalisir dan menyudahi konflik di Nifasi, menurutnya, masyarakat Nifasi terutama Kepala Sub Suku Wate Kampung Nifasi bersama Kepala-Kepala Suku Besar Wate, pihak keamanan dari Polsek Lagari dan Koramil yang wilayah teritorinya ada di dalamnya Nifasi dan juga kelompok pro PT.KEL melakukan pembicaraan di Kampung Nifasi pada tanggal 3 Juni 2017.
"Dalam pertemuan tersebut mayarakat Nifasi menyepakati dan memutuskan beberapa hal penting guna menyudahi polemik berkepanjangan akan kehadiran PT.KEL," ungkapnya.
Keputusan itu diantaranya PT.KEL dapat bekerja tapi di KM 39 bantaran sungai Mosairo ke arah bawah bagian utara dan nanti dibuat surat persetujuan bekerja atau pelepasan adat.
"Karena belum ada persetujuan dan pelepasan adat oleh suku Wate kepada perusahaan itu," katanya.
Seluruh masyarakat memasang tapal batas bagi PT.KEL di KM 39 Bantaran Sungai Mosairo. Dan kesepakatan tersebut ditandatangani oleh perwakilan masyarakat Nifasi oleh pemimpin adat dan disaksikan seluruh saksi-saksi.
Kepala suku Wate, Alex Raiki mengatakan, pada 10 Juni 2017 berdasar kesepakatan tanggal 3 Juni 2017 masyarakat Nifasi menuju bantaran sungai Mosairo memasang tapal batas PT.KEL KM 39. Lalu, Kepala Sub Suku Wate Kampung Nifasi Azer Monei  mendatangi perusahaan itu yang selama ini masih bekerja di KM antara 39 dan 40 yang tidak disetujui masyarakat Nifasi selama ini.
"Kami menyampaikan hasil kesepakatan tanggal 03/06/2017, sehingga PT.KEL harus mematuhi kesepakatan masyarakat Nifasi dan PT.KEL segera memberhentikan aktivitasnya serta segera membawa peralatanya ke arah KM 39 bawah (Utara) yang nanti disusul dengan surat pelepasan oleh masyarakat," jelas Raiki.
Namun PT.KEL melanggar perjanjian tanggal 12/06/2017. Perusahaan ini masih melakukan pekerjaan di KM 39/40 dan tak membawa turun peralatan penambanganya.
"Yang terjadi malah PT.KEL kembali memanfaatkan pihak-pihak yang pro PT.KEL untuk tetap mempertahankan PT.KEL tetap bekerja antara KM 39/40 di bantaran sungai Mosairo," tambahnya.
"Padahal pihak-pihak yang dipakai tersebut sudah menyepakati hasil pertemuan tanggal 03/06/2017. Hal itu berlanjut hingga hari ini," katanya kesal.
Raiki menyampaikan, hingga saat ini pihak aparat keamanan terutama TNI masih ada di lokasi itu walaupun di media massa disebutkan tidak ada.
"Pos-pos militer yang digunakan untuk membackup PT.KEL sudah dicat dengan warna lain untuk menghilangkan jejak. Namun dokumentasi kami untuk membuktikan keterlibatan mereka ada buktinya," ungkapnya.
Pihaknya meminta kepada Presiden Joko Widodo dan semua pihak dapat menseriusi tapi juga menyelesaikan konflik tambang yang dilakukan PT.KEL di Nifasi.
"Kami menilai terkesan PT.KEL terlalu kebal hukum, sehingga tak mampu diselesaikan oleh negara ini," katanya.
"Nawacita sebagai pintu kedaulatan rakyat perlu ditegakan, sehingga kesejahteraan rakyat dengan cara legal dan penegakan HAM bisa tercapai," pungkasnya.  (*)

Ko dari Nabire, Ingin Dengar RRI-Pro 1 Nabire? Buka Disini!

Kantor RRI Nabire, Papua/Foto: ist
Tower pemancar Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) tingkat daerah di suatu daerah biasanya memiliki cakupan jaringan berdasarkan kejauhan dalam jarak-jarak tertentu. Misal programa RRI di Nabire, Papua tidak bisa didengar melalui radio oleh mereka yang tinggal di luar Nabire. Sebut saja, contoh dari Jogja. Tidak bisa. Namun sekarang dengan kemajuan teknologi, khalayak luas dapat mengakses siaran tersebut melalui audio streaming lewat alamat ini.

Berikut langkah-langkahnya:

Pertama, buka alamat ini (http://www.rri.co.id/home.html), sehingga muncul page seperti gambar dibawah ini.

her/ist
Kedua, setelah masuk, dibagian tepi kanan bawah ada kolom kecil (-- Pilih Stasiun--). Disitu kalau dibuka, akan muncul beberapa stasiun radio. Scroll kebawah, cari Nabire. Setelah dapat, tekan, akan muncul P1 (Pusat siaran pemberdayaan masyarakat) dan P2 (Pusat siaran kreativitas anak muda). Kalau ingin ikuti siaran pro 1 Nabire, pilih P1. Perhatikan gambar berikut.
her/ist


Ketiga, setelah tekan P1, selanjutnya adalah tinggal mendengarkan. Dalam daftar menu stasiun, selain Nabire, ada juga beberapa stasiun daerah-daerah lain di Papua yaitu: Biak, Bovendigul, Fak Fak, Jayapura, Kaimana, Manokwari, Merauke, Serui, Sorong, dan Wamena. Tinggal dipilih mana yang ko mau dengar. Semoga bermanfaat! (Herman E. Degei) 


 https://sapusuara.blogspot.co.id

Suara Papua bersama Majalah Beko Sukses Gelar Diskusi Jurnalistik

Potret bersama seusai diskusi kelas umum di tempat kegiatan. Foto: Delian Dogopia/Beko.
Nabire, MAJALAH BEKO - - Suara Papua bersama Majalah Beko sukses menggelar diskusi jurnalistik pada Sabtu (01/07/2017) di ruangan Kelas Va, SD Negeri Inpres Bumi Wonorejo, Jln. Perintis Bumi Wonorejo, Nabire, Papua.
Diskusi yang dipaparkan oleh Arnold Belau, Pimpinan Redaksi (Pimred) Suara Papua ini dibagi dalam dua kelas; kelas umum dan kelas khusus. Kelas umum dimulai pukul 09.30 WIT hingga pukul 13.30 WIT, sedangkan kelas khusus dimulai pukul 14.00 WIT hingga 17.15 WIT.
Dalam kelas umum, terdapat dua topik yang dipaparkan, yakni “Perkembangan Pers Papua” dan “Sosial Media”. Kelas umum ini diikuti 39 peserta, terdiri dari mahasiswa, pelajar, dan masyarakat, serta 8 kru Majalah Beko. Akhir dari materi, Belau membuka ruang diskusi dan menceritakan sedikit pengalamannya seputar topik. Sedangkan, kelas khusus hanya diikuti para kru Majalah Beko. Dalam kelas khusus, Belau menanyakan dan menjawab kendala-kendala yang dialami para kru Majalah Beko, di antaranya teknik peliputan dan penulisan berita, serta soal pers lainnya.
Belau mengatakan, diskusi serupa pernah dilakukannya di Jayapura dan Pulau Jawa dengan tujuan agar kaum muda Papua harus menulis tentang Papua.
“Seperti hari ini, di Jayapura dan di Pulau Jawa pun beberapa kali saya melakukan pelatihan jurnalistik, dan yang menggerakkan hati saya adalah anak-anak Papua harus menulis tentang Papua. Itu harapan saya,” kata Belau ketika ditemui majalahbeko.com seusai diskusi.
Di kesempatan yang sama, Aten Pekei, Pimred Majalah Beko juga menyampaikan hal serupa yang sesuai dengan tujuan diselenggarakannya diskusi ini. “Harapan saya kepada peserta diskusi kelas umum dan kelas khusus, dengan materi-materi yang tadi sudah dipaparkan Pimpred Suara Papua, Arnold Belau, kaum muda tergerak hati untuk bisa menulis,” kata moderator diskusi ini.
Selain itu, Longginus Pekei, pemerhati pendidikan di Nabire, mengatakan, Nabire membutuhkan jurnalis-jurnalis muda yang harus dipersiapkan sesuai situasi di daerah.
“Saya melihat kondisi nasional, pada khususnya Papua, khususnya lagi di Nabire, memang harus ada jurnalis-jurnalis muda yang harus tumbuh, semangat dan punya energi untuk mengambil peran,” katanya.
Sementara, Alfons Heru Gobai, seorang peserta kelas umum, mengaku, dengan diskusi yang diselenggarakan Majalah Beko ini, dirinya mulai mengenal dunia jurnalistik dan tergerak untuk menulis.
“Pada awalnya, agak kebingungan tentang jurnalistik itu sendiri. Namun, setelah mengikuti seminar, saya merasa tertarik karena saya berkeinginan untuk menjadi seorang wartawan,” katanya di kesempatan yang sama juga.
Diskusi ini berjalan aman hingga usai.

(Amos Degei)
 
 http://www.majalahbeko.com
 

Warga Probolinggo Dibunuh di Nabire Papua

Nabire – H. Abdul Rafiq (44), warga Kampung Pengumbin, Desa Kramat Agung, Kecamatan Bantaran, tewas mengenaskan dengan luka tusuk di leher. Ia ditemukan tewas di Jalan Baru Kampung Bumi Mulia, Kompleks Sarera, Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire, Papua.

H. Abdul Rafiq (44), warga Kampung Pengumbin, Desa Kramat Agung, Kecamatan Bantaran, tewas mengenaskan dengan luka tusuk di leher. Ia ditemukan tewas
Hal tersebut dibenarkan Kapolsek Bantaran AKP. Sujianto, saat dikonfirmasi oleh wartabromo.com, Minggu (2/7/2017).

“Betul ada warga kami yang menjadi korban pembunuhan di Nabire Papua. Kami mendapat informasi itu kemarin siang, beberapa saat setelah kejadian penemuan jasad korban. Disana korban kerja sebagai tukang ojek,” kata Kapolsek, AKP Sujianto.

Dituturkan, berdasarkan keterangan dari Kepolisian Resor Nabire, penemuan mayat itu terjadi pada hari Sabtu (1/7/2017) pukul 11.30 WIT atau 9.30 WIB.

Abdul Rafiq yang tinggal di jalan Yan Mamoribo, Smoker, Nabire itu, mengalami luka tusuk pada dagu bawah tembus ke kepala belakang.

Korban pertama kali ditemukan oleh tukang ojek lain yang sedang mengantarkan penumpang ke jalan baru, di perjalanan saksi melihat sosok orang tergeletak di pinggir jalan. Saksi lalu melaporkan hal tersebut ke Polsek Nabire Barat.

Selanjutnya, menurut Sujianto, Piket Polsek Nabire Barat dipimpin Kapolsek Nabar Iptu Akhmad Alfian, mendatangi TKP dan mengamankan TKP. Setelah melakukan olah TKP, jenazah korban dibawa ke RSUD Nabire guna pemeriksaan medis dan autopsi jenazah.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan di TKP yaitu 1 buah Linggis, dompet korban lengkap dengan identitas dan uang sebanyak Rp. 196.000,- dan 1 buah HP Nokia milik Korban. Sementara motor korban Yamaha Jupiter dengan nomor polisi PA-4329-KS diduga dibawa lari oleh pelaku.

“Dugaan sementara, korban mengalami pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal dunia dengan sasaran kendaraan bermotor. Sepeda motornya tidak berada di TKP dan diduga dirampas dan dibawa oleh pelaku. Pelaku dimungkinkan adalah penumpang ojek yang sengaja meminta diantar oleh pelaku, ” terang mantan Kapolsek Leces ini.

Rencananya jenazah tukang ojek ini ini dibawa pulang ke Desa Kramat Agung. Saat ini, jenazah korban masih dalam perjalanan dari Nabire menuju Surabaya. (lai/saw)

(wartabromo.com)

Diduga dokumen pasokan tak lengkap, Satpol PP Nabire ‘tahan’ 25 ekor sapi

Menurut Stev, sebanyak 97 ekor sapi yang ada di dalam dokumen sudah diperiksa di Ambon, namun sebanyak lima ekor tidak memenuhi syarat sehingga hanya 92 ekor yang dimuat ke dalam kapal menuju Nabire.
Nakoda kapal, La Maju saat memberikan keterangan kepada Jubi di atas kapalnya – Jubi/ Titus Ruban
Nabire – Dicurigai dokumen tak lengkap, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Nabire, menghentikan pembongkaran 92 ekor sapi.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Nabire, Stev saat ditemui Jubi, Selasa, (31/5/17) mengaku mendapat informasi langsung terkait aktivitas bongkar muat sapi tersebut dari Bupati Nabire, Isaias Douw, melalui sambungan telpon. “Saya dengar soal sapi dari bupati melalui telepon, dan memerintahkan agar kami memeriksa dan menghentikan kegiatan mereka sebab tidak ada izin yang diberikan oleh pemkab melalui dinas terkait,” ujar Stev.

Menurut Stev, sebanyak 97 ekor sapi yang ada di dalam dokumen sudah diperiksa di Ambon, namun sebanyak lima ekor tidak memenuhi syarat sehingga hanya 92 ekor yang dimuat ke dalam kapal menuju Nabire.

Kapal LCT Manusela Permai 06 Banjarmasin yang datang dari Seram/Ambon itu bersandar di pantai Kalibobo dan terpaksa dihentikan karena, menurut Stev, dokumen (pasokan) hewan ternak tersebut tidak pernah dikeluarkan oleh Pemkab Nabire.

“Yang juga perlu diketahui bahwa daerah Ambon, khususnya Seram adalah daerah larangan pasokan sapi. Karena pernah pasokan dari sana itu ternyata ternak sapi terjangkit virus antraks,” kata Stev.

Stev juga mengatakan hal itu sudah diselidiki dan pemasok sementara sudah dimintai keterangan oleh pihajk POL PP  dan Dinas Peternakan setempat.

“Untuk jumlah sapi sementara 67 ekor sudah diangkut ke pemasok dan 25 masih di dalam kapal,” kata Stev lagi sambil menegaskan sapi-sapi yang sudah dikeluarkan tidak boleh diperjualbelikan terlebih dahulu sebelum dicek kebenaran dokumen dan diperiksah oleh karantina.

Masih menurut Stev, aktivitas tersebut bisa dikatakan ilegal karena instansi yang berkewenangan memberikan rekomendasi hanya dinas peternakan, sementara pihak pemasok mengatakan telah mendapat izin dari karantina, “padahal itu izin dari karantina Seram dan karantina (Seram) tidak punya hak memberikan izin masik barang (ke Nabire),” lanjut Stev.

“Pemberian izin masuk ternak adalah dinas peternakan, kalau sudah ada (izin) baru karantina yang periksa, bukan dia (karantina) yang memberikan izin masuk,” kata dia.

Stev menghimbau kepada para pengusaha ternak agar mengikuti prosedur, aturan dan ketentuan yang berlaku karena pada prinsipnya pemerintah tidak akan mempersulit.

Terpisah, Nakoda kapal  LCT Manusela Permain, La Maju saat dimintai keterangan mengatakan tidak tahu menahu terkait perizinan. “Saya tidak tahu ada surat izin atau tidak, itu bukan urusan saya, karena saya hanya disuruh muat oleh agen. Setelah sampai disini (Nabire) saya sudah hubungi syahbandar dan mereka bilang suruh bongkar disini,” ujar La Maju.

Terkait pemilik 92 ekor sapi itu, La Maju mengaku tidak tahu pasti. “Saya muat dari Seram, katanya yang punya Pak Budi, tapi saya belum tahu orangnya,” kata dia.

Hingga berita ini diturunkan, pihak dinas peternakan dan karantina terkait belum bisa dikonfirmasi.(*)

  Jubi

Perempuan Nabire Pamerkan Hasil Kerajinan di Buleleng Bali

 Nabire - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Nabire memfasilitasi puluhan perempuan Papua asal Nabire untuk memamerkan hasil kerajinan pada ajang Buleleng EXPO Tahun 2017 yang berlangsung 17-21 Mei 2017 di Kabupaten Buleleng, Propinsi Bali.
 
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Nabire, Yufinia Mote (tengah) bersama sejumlah perempuan dari Nabire pada ajang Buleleng EXPO Tahun 2017 di Provinsi Bali – Jubi/ist.

Nabire, Jubi - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Nabire memfasilitasi puluhan perempuan Papua asal Nabire untuk memamerkan hasil kerajinan pada ajang Buleleng EXPO Tahun 2017 yang berlangsung 17-21 Mei 2017 di Kabupaten Buleleng, Propinsi Bali.

“Promosi hasil karya perempuan kabupaten ini dilakukan atas kerja sama kami dengan  Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Nabire, Yufinia Mote Douw via ponsel, Jumat (19/5/2017).

Yufinia menjelaskan selain memamerkan hasil karya perempuan pihaknya juga mempromosikan potensi pariwisata di Nabire seperti Hiu Paus dan lainnya.

“Ini adalah peluang yang kami manfaatkan agar hasil karya perempuan Nabire bisa dikenal sehingga pada saatnya akan banyak permintaan apabila hasil karyanya dinilai baik,” katanya.

Dijelaskan, tugas Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada intinya berusaha meningkatkan kualitas hidup perempuan, perlindungan perempuan, kualitas keluarga, sistem data gender dan anak, pemenuhan hak anak, dan perlindungan khusus anak.

“Kami terus berusaha meningkatkan kualitas keluarga dan kualitas hidup perempuan dari segi ekonomi. Salah satu caranya yang dilakukan adalah hasil produksi, hasil karya perempuan harus bisa dipasarkan secara maksimal,” jelasnya.

Untuk itu Yufinia terus berupaya memperluas jangkauan pemasaran dan peningkatan kualitas hasil karya perempuan di kabupaten tersebut.(*) JUBI

Bupati Isaias apresiasi pelaksanaan UN SD berjalan lancar

Bupati Nabire Isaias Douw mengapresiasi pelaksanaan Ujian Nasional Tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Nabire yang sudah berlangsung lacar, baik dan aman beberapa waktu lalu.
Bupati Nabire, Isaias Douw di ruang kerjanya, Jumat (19/5/2017) – Jubi/Titus Ruban. Jumat 19/5/17
Nabire, Jubi - Bupati Nabire Isaias Douw mengapresiasi pelaksanaan Ujian Nasional Tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Nabire yang sudah berlangsung lacar, baik dan aman beberapa waktu lalu.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada kepada para guru SD, para kepala sekolah, panitia sampai kepala dinas pendidikan,” katanya akhir pekan lalu.

Isaias mengaku sudah mendapat laporan dari Kepala Dinas Pendidikan, bahwa proses ujian sudah berjalan lancer, tinggal di laporkan ke provinsi.

“Pendidikan adalah kunci utama untuk kemajuan sebuah daerah, bangsa dan Negara. Karena itu, orang tua, pemerintah dan masyarakat umum diharapkan tetap mendukung dan memastikan kelancaran proses pendidikan di semua tingkat di Kabupaten Nabire,” harapnya.

Isaias mengingatkan pendidikan tidak hanya tanggung jawab  sekolah atau pemerintah, tetapi semua pihak. Untuk itu ia mengajak seluruh masyarakat terutama orang tua untuk mendukung agar ke depan proses pendidikan di Nabire tetap aman dan ditingkatkan.

“Orang tua harus memastikan anaknya sekolah dengan baik. Pendidikan harus dimulai dari rumah. Anak-anaknya harus diantar. Saya lihat, banyak orang Papua punya kendaraan tetapi jarang antar anaknya ke sekolah,” katanya.

Bupati mengingatkan mengantar anak ke sedkolah itu merupakan salah satu dukungan orang tua kepada anak. “Anak akan belajar dengan baik kalau orang tua tunjukkan perhatiannya, jadi, jangan hanya kasih uang dan biarkan anak jalan sendiri ke sekolah,” katanya

Isaias menekankan anak muda memiliki tantangan yang lebih besar ke depannya. Untuk itu anak-anak Nabire harus bersekolah dengan baik agar dapat mengatasi persaingan dan tantangan zaman. (*)  JUBI



Perayaan HUT Ke 34 SD Negeri Inpres Kotabaru Nabire

SD Negeri Inpres Kotabaru Nabire, di usianya yang ke 34 tahun, diharapkan untuk terus meningkatkan mutu dan kinerjanya dalam memajukan dan mensukseskan pendidikan di kabupaten Nabire.

Harapan tersebut diungkapkan Kepala Sekolah SD Negeri Inpres Kotabaru Nabiree, Johanis Leo Somar, saat memberikan sambutan pada Ibadah Syukuran Perayaan HUT ke 34, SD Negeri Inpres Kotabaru Nabire, sabtu pagi (11/03).

“Melalui perayaan HUT ke 34 SD Negeri Inpres Kotabaru tersebut, pihak sekolah akan terus berupaya untuk merefleksikan diri kembali tentang perjalanan sekolah SD Negeri Inpres Kotabaru selama 34 tahun,” ungkap Johanis Leo Somar.

Usai sambutan, Kepala Sekolah Johanis Leo Somar melantik kepengurusan Komite SD Negeri Inpres Kotabaru Nabire, periode 2016-2018.

Sementara itu ditempat yang sama, Ketua Panitia HUT Ke 34 SD Negeri Inpres Kotabaru, Elsmar Huwae, dalam laporannya mengatakan, sejumlah kegiatan telah dilaksanakan dalam rangka menyambut HUT ke 34 SD Negeri Inpres Kotabaru Nabire.

Acara syukuran HUT ke 34 SD Negeri Inpres Kotabaru tersebut, diawali ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Evelin Maraaja Pondaag S.Th, dan mengusung tema “Dengan Berpendidikan Kita Dapat Menciptakan & Mencerdaskan Anak bangsa,” serta sub tema “Dengan Ulang Tahun Yang Ke 34, Kita Tingkatkan Kekeluargaan & Semangat Belajar & Mengajar Di Sekolah Ini”.

Acara ini juga dihadiri para mantan Kepala Sekolah SD Negeri Inpres Kotabaru Nabire, para alumni dan tamu undangan.

(RRINabire/Robi.Fanindi)
http://www.nabire.net/news-info/258/

KM Tidar buka rute Kaimana-Nabire

Pelabuhan Kaimana - Wikipedia.
Kaimana – Kapal Motor (KM) Tidar membuka rute pelayaran pelabuhan Kaimana, Papua Barat menuju Nabire, Papua.

Kepala Pelni Kaimana, Sugiyanto mengatakan, sejak Februari kemarin ada satu lagi kapal milik PT. Pelni yang menyinggahi pelabuhan Kaimana, yakni KM Tidar.

Dengan adanya KM Tidar berarti sudah ada tiga kapal yang menyinggahi pelabuhan Kaimana. Tiga kapal tersebut adalah KM Tatamailau yang selama ini melayani penumpang dari Ternate hingga Merauke, KM Ngapulu yang melayani penumpang dari Tanjung Periuk (Jakarta) hingga Fakfak, Papua Barat dan KM Tidar yang melayani penumpang dari Makasar hingga Nabire.

“Untuk KM Ngapulu ini dia menggantikan rutenya KM Tidar dengan homebase-nya di Tanjung Periuk (Jakarta). Sementara KM Tidar homebase-nya di Makassar (Sulawesi Selatan) sampai Nabire (Papua) dengan menyinggahi Kaimana. Sehingga untuk kemudahan akses, khususnya transportasi laut bagi masyarakat Kaimana sudah terjawab,” katanya di Kaimana, Rabu (8/3/2017).

Dikatakannya, KM Tidar sudah melayani penumpang rute Makassar – Nabire sudah dua trip berjalan.

“Kemudahan sudah ada, sehingga kami berharap keluhan masyarakat Kaimana terkait dengan transportasi laut ini sudah bisa terjawabi,” katanya.

Ketika disinggung soal jumlah penumpang yang turun-naik di Pelabuhan Kaimana, menurutnya hal ini memang belum maksimal. “Memang untuk jumlah penumpangnya boleh dikatakan masih sangat sedikit, berkisar seratus lebih. Tetapi ini kan rute barunya KM Tidar. Sehingga kami berharap kedepannya kalau sudah tiga empat kali trip, masyarakat pasti sudah terbantu dan banyak yang menggunakan jasa KM Tidar,” katanya.

Dengan adanya tiga kapal milik Pelni yang menyinggahi Pelabuhan Kaimana, masyarakat terbantu.

“Kami harap agar kedepannya masyarakat sudah tidak lagi kesulitan terkait dengan jasa transportasi laut ini,” katanya. (Jacob Owen/Jubi)

Bupati Isaias: Pejabat baru harus dukung 12 program prioritas

Bupati Nabire, Isaias Douw dalam sebuah acara – dok/ist
Nabire - Bupati Nabire, Isaias Douw meminta kepada 15 Kepala Distrik dan 84 pejabat eselon II dan eselon III yang dilantik pada 3 Maret 2017 lalu di Aula Quest House Jalan Merdeka Nabire, mendukung 12 program prioritas yang sudah berjalan selama kurang lebih satu tahun ini.

Program prioritas yang sedang dilakukan antara lain adalah pembangunan lapangan terbang untuk didarati pesawat berbadan besar yang sedang dikerjakan di Karadiri; pengembangan rumah sakit rujukan di RSUD Nabire sedang dikerjakan; pembangunan stadion sepak bola standar sedang dikerjakan di Kalibobo; relokasi warga Waroki ke arah 2/3 KM ke darat agar terhindar dari banjir; pelebaran jalan dalam kota dan luar kota di Nabire (Yaro-Topo, Lagari-Napan, Topo-Lagari, Nabire-Waropen, jalan trans Dipa serta jalan 2 jalur ke Bandara Baru Karadiri sudah mulai dikerjakan.

“Presiden kita Jokowi sudah tegaskan, Aparatur Sipil Negara adalah pelayan rakyat, saatnya kerja, kerja dan kerja membangun negeri, membangun bangsa,” kata Isaias sebagaimana dikutip Kepala Bagian Humas Setda Nabire, Yermias Degei, Selasa (7/2/2017) di Nabire.

Program berikutnya, pengembangan pelabuhan penumpang dan pelabuhan kontainer sudah diprogramkan; penambahan kuota BBM sedang diperjuangkan; pemekaran provinsi Papua Tengah dan ibu kota provinsi di Nabire sedang diperjuangkan; jaminan stabilitas Keamanan sebagaimana telah tercipta selama 5 tahun lalu agar semua orang berkarya dalam keadaan aman dan damai.

"Program prioritas tambahan lain adalah peningkatan kualitas pendidikan; kualitas pelayanan kesehatan; pemberdayaan ekonomi masyarakat; pelestarian lingkungan hidup; pembinaan perempuan melalui berbagai organisasi perempuan; sentuhan kasih kepada semua suku dan agama; dan pembinaan kepada RT/RW serta Kepala Suku dari semua kerukunan yang ada di Kabupaten Nabire, “ kata Isaias seperti dikutip Kabag Humas.

Kepada mereka yang belum mendapatkan kesempatan untuk melayani masyarakat, Isias meminta agar tetap mendukung program pemerintah, karena penyegaran jabatan dapat dilakukan kapan saja dan siapa saja bisa diganti apabila kinerjanya buruk. (Jubi)

Hiu Paus Langka Mati Tertabrak KM Labobar di Papua

JAYAPURA - Seekor hiu paus langka dan dilindungi, mati akibat tertabrak Kapal Motor Labobar. Diduga hiu paus tersebut tertabrak di sekitar perairan Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen saat kapal dalam perjalanan ke Jayapura.

Keberadaan hiu paus itu baru terungkap setelah KM Labobar berlabuh di perairan Jayapura. Para penumpang terkejut melihat hiu paus tersangkut di haluan depan kapal.

Hewan bernama latin rhincodon typus itu memiliki panjang kurang lebih empat meter dan kondisinya sudah mati. Ikan tersebut diperkirakan mati kurang lebih 24 jam karena badannya sudah bengkak dan membusuk.

Penanggung jawab karantina ikan pelabuhan laut Jayapura, Izaak Andrie, mengatakan, ini merupakan hiu paus yang dilindungi dan tergolong anakan.

"Kami telah berkoordinasi dengan Kapten Kapal Motor Labobar untuk membawa bangkai satwa tersebut ke laut lepas sehingga proses penguraiannya tak menimbulkan masalah," kata Izaak, Kamis (25/8/2016).

Di Papua, warga biasa menyebut hiu paus dengan sebutan gurano bintang. Satwa ini merupakan salah satu ikan terbesar di dunia, dengan ukuran terbesar mencapai 20 meter, sedangkan ukuran terkecil 55 sentimeter. Biasanya hiu paus ini ditemui di perairan Kwatisore, Papua Barat dan sekitarnya.
(ris) newsokezone

32 Perangkat Desa asal Nabire Papua Belajar Smart Kampung di Banyuwangi

Banyuwangi - Sebanyak 32 perangkat desa asal Kabupaten Nabire, Papua melakukan studi banding ke Banyuwangi, Jawa Timur. Tujuannya untuk mempelajari program smart kampung dan e-village budgeting yang dicetuskan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

"Kami ingin melihat potensi desa, pengembangan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) dan mengenal program smart kampung. Itu masih diterapkan satu-satunya di Banyuwangi. Smart city saja belum semua kota menerapkan dan malah smart kampung bisa dilaksanakan di Banyuwangi. Kami juga berharap e-village budgeting bisa diaplikasikan ke Nabire," kata bendahara Kampung Wanggar Makmur, Eko Adi Purnomo saat ditemui di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jumat (22/7/2016).

Eko menyebut 32 perangkat desa itu berasal dari distrik Wanggar, Nabire Barat, Makimi, Uwapa, dan Napan. Dia berharap program smart kampung dapat diterapkan di Nabire. Dia ingin memotong mata rantai birokrasi untuk memberikan pelayanan bagi warga kampungnya.

"Untuk integrasi smart kampung perlu proses untuk mengusulkan ke pemda setempat. Kalau daerah transmigran dan pesisir itu bisa cepat langsung kita layani, kalau daerah yang tranportasinya susah butuh waktu 3-7 hari karena jalan kaki dari desa ke kecamatan," cetusnya.


Soal kendala jarak, diakui Eko memang menjadi penghalang untuk memberikan pelayanan yang cepat. Tak hanya itu masalah telekomunikasi yang belum merata juga menjadi hambatan untuk membangun infrastruktur IT di wilayahnya.

"Sebenarnya kami langsung melayani warga hanya memang ada kendala jarak. Misalnya saja dari kampung ke kota ada yang harus menempuh perjalanan sejauh 32 Km bahkan harus menyewa pesawat helipad dengan biaya sampai Rp 45-48 juta untuk sekali ngantar. Terhambatnya pembangunan di Papua karena masalah transportasi dan biaya," cetusnya.

"Sinyal ponsel pun tidak selalu ada tapi kami bisa memulai dengan aplikasi offline. Mencoba memulai supaya tertib administrasi, pelayanan lebih cepat dan transparan mengingat dana desa yang dikucurkan tiap tahun cukup besar sekitar Rp 600-700 juta," tambahnya.

Eko menjelaskan untuk melaksanakan studi banding ini dianggarkan oleh perangkat desa dari 12 kampung di 5 distrik sejak setahun yang lalu melalui Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Kampung (RAPBK). Transmigran asal Sumbermulyo, Banyuwangi ini berharap dapat menyerap ilmu mengenai transparansi anggaran yang dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi dari program e-village budgeting dan smart kampung.

"Kita susun ini dari tahun lalu dimasukkan ke RAPBK. Jadi ini inisiatif muncul dari keprihatinan teman-teman pengelola desa, kami menyadari SDM kami masih minim namun dituntut untuk mengelola dana pusat yang besar dengan pertanggungjawaban. Kami masih kesulitan dan diharapkan kalau melihat proses administrasi desa, kami ingin proses perencanaan pembangunan, penyaluran anggaran dana desa sampai ke pelaporan bisa dilaksanakan dengan transparan," tandasnya.

Mantan tenaga ahli Kabupaten Nabire bidang pembangunan dan partisipatif masyarakat, Rutherford Maniagasi, menambahkan pariwisata di daerahnya tidak kalah dengan Banyuwangi. Oleh karenanya Rutherford berharap dengan perencanaan dan pengelolaan anggaran dengan baik potensi pariwisata di daerahnya dapat dikelola dengan maksimal.

"Di Nabire motifnya tidak kalah jauh dari Banyuwangi, misalnya di kabupaten Nabire ada daerah pesisir, lembah ada beberapa Sumber Daya Alam khususnya di lima kampung. Ada sungai-sungai yang potensial tapi belum dikembangkan masyarakat daerah. Ada juga wilayah pantai di Watisore dengan pemandangan hiu putih tapi belum ada sentuhan dari pemda. Banyak obyek wisata yang bagus tapi belum ada sentuhan, khususnya daerah pariwisata laut (pantai) di daerah Makimi, Masipawa dan kampung Weinami," tukas Rutherford.


Sementara itu Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPM-PD) Suyanto Waspo Tando menjelaskan materi yang diberikan sesuai dengan permintaan dari pihak perangkat desa Kabupaten Nabire. Materi yang mereka ingin pelajari soal perencanaan dan pengelolaan keuangan desa dan BUMDes.

"Kemarin belajar soal penatausahaan keuangan desa dan BUMDes.di Desa Sumber Bulu, Songgon dan Sumber Arum. Mereka ingin menerapkan sistem perencanaan anggaran berbasis IT seperti e-village budgeting tapi mereka juga mengeluhkan soal infrastruktur IT yang belum seperti di Banyuwangi. Saya menyarankan yang penting ada niat dan mulai dicicil dari kampung terdekat dengan kota. Saya juga mengingatkan perlu adanya harmonisasi kepala kampung dengan badan musyawarah kampung dan bendahara kades," jelas Suyanto.


Pria yang akrab disapa Yayan ini mengapresiasi semangat yang dimiliki oleh perangkat desa di Kabupaten Nabire yang ingin memajukan daerahnya. Dia juga membuka diri untuk saling berbagi pengalaman.

"Mereka mengakui SDM yang dimiliki masih kurang, adanya transmigran juga diterima dengan tangan terbuka. Tidak ada perbedaan mencolok antara pribumi dengan pendatang semuanya sudah membaur jadi mudah untuk saling bertukar pikiran. Soal studi lanjutan, kami pada posisi pasif namun sudah kami beri kontak telepon atau email kalau misal masih kurang soal penataan keuangan pasti kami kirimkan," tukasnya.
(ams/try)

SMKN 3 Makimi Gratiskan Biaya Pendidikan Pelajar Papua

NABIRE - Kepala Sekolah SMKN 3 Makimi, Yulianus Pasang, S.Pd, M.Pd secara tegas menyatakan dirinya selama ini bersama dewan guru membebaskan biaya pendidikan bagi putra–putri asal Papua yang ada di wilayah Distrik Makimi. Biaya tersebut diberikan kepada pelajar yang rajin masuk sekolah setiap hari untuk mengikuti proses belajar mengajar.


Selain mmbebaskan biaya pendidikan bagi putra-putri Papua, pihak sekolah juga memberikan bonus biaya bagi mereka yang berprestasi atau ranking di kelas, mulai dari ranking satu hingga ranking 3. Tak hanya itu, pihak sekolah juga memberikan bonus biaya bagi para juara atau rangkin per jurusan yang ada di SMK N 3 Makimi.

Biaya yang diberikan itu masing–masing Rp. 1.000.000 per orang. Selain itu juga ada biaya dari pemerintah pusat yakni bantuan bagi siswa miskin dan biaya lainnya yang diberikan bagi seluruh siswa dan siswi asal Papua. Hal ini diberikan sebagai bentuk perhatian secara khusus bagi putra dan putri Papua. Tetapi juga sebagai motifasi dan dorongan agar anak-anak tetap semangat belajar dan juga rajin ke sekolah.

“Bbiaya gratis bagi putra dan putri Papua itu sebagai bentuk motifasi bagi anak-anak kita agar tetap belajar. Program ini sudah diterapkan beberapa semester lalu hingga saat ini,” ujar Kepala SMK N 3 Makimi, Yulianus Pasang, S.Pd, M.Pd kepada Papuapos Nabire, akhir pekan lalu di ruangan kerjanya.

Lanjut Pasang, selain program biaya gratis bagi putra dan putri Papua, pada awal tahun pelajaran 2016/2017 SMK N 3 terus mengalami peningkatan jumlah murid baru lulusan SMP/Mts yang berminat untuk menimba ilmu di SMK N 3. Sehingga untuk tahun ini ada 48 murid baru yang datang dan mendaftar di SMK N 3 Makimi sebagai murid baru.
Sehingga mulai tanggal 11 hingga 16 Juli dilakukan kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) bagi 48 murid tersebut. Dan mulai Senin tanggal 18 Juli 2016 Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sudah harus dimulai dengan harapan semua dewan guru dan murid sudah harus star dengan KBM. Karena terhitung beberapa bulan kedepan akan dimulai dengan kegiatan ulangan tengah semester ganjil.(des)


 
Copyright © 2013. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger