![]() |
| sejumlah pelajar |
Rosita I. Yantori, salah satu siswa kelas IX SMP satu atap Paparu, mengaku tiap pagi ia berangkat dari rumah ke sekolah pada pukul 05.00 WIT dengan berjalan kaki sekitar 5 kilo meter. Namun, ketika tiba di sekolah, hanya mendapat dua mata pelajaran masing-masing mata pelajaran biologi dan fisika. Dua mata pelajaran ini diajarkan oleh satu guru. “Setiap pagi, saya berangkat dari rumah jam 05.00 WIT ke sekolah jalan kaki sekitar 5 kilo meter. Sampai di sekolah jam 7.00 WIT. Tapi, hanya dua mata pelajaran yang saya dapat yaitu biologi dan fisika. Di sekolah cuma ada satu guru,” ungkap Rosita kepada tabloidjubi.com di Serui, belum lama ini.
Rosita mempertanyakan tenaga guru yang bertugas di sekolahnya. Menurut dia, mengapa guru yang lain tak di tugaskan untuk membantu satu tenaga guru tersebut. “Kalau saya pikir guru yang lain kenapa tidak bisa di tugaskan disini kah? Kenapa guru yang lain tidak bisa di kirim ke sini untuk bantu satu ibu guru yang mengajar kami,” ujarnya. Dia berharap, ada tenaga guru yang ditugaskan untuk membantu seorang guru yang masih tetap bertahan untuk mengabdi di SMP satu atap ini.
Agustina R. M. Rumboirusi, siswa lainnya mengatakan mereka banyak mengalami kesusahan dan kesulitan lantaran kekurangan tenaga guru. Selain itu, tak ada fasilitas pendukung untuk belajar. Diantaranya, komputer. “Kami ingin belajar komputer, tapi tidak ada komputer dan laptop. Guru yang mengajar komputer juga tidak ada. Jadi, kami minta kalau bisa ada bantuan komputer dan tenaga guru,” pintahnya.
Selain itu, para siswa ingin belajar bahasa Inggris namun tak ada guru. “Kami ingin belajar bahasa Inggris tapi tidak ada gurunya. Kalau bisa ada guru mata pelajaran bahasa inggris yang bertugas di sekolah kami,” tuturnya.
Tak hanya Rosita I. Yantori dan Agustina R.M Rumboirusi yang mengeluhkan kondisi itu. Ester Tomamba, siswa lainnya juga mengeluh. Menurut Ester, dirinya ingin mendapat mata pelajaran bahasa inggris seperti siswa yang belajar di kota. Namun, tak ada guru yang mengajar. “Saya ingin sekali tahu bahasa inggris tapi tidak ada guru yang mengajar,” ungkapnya. Siswa kelas satu SMP satu atap ini berharap, ada pemerintah menambah guru di sekolahnya. Dengan begitu, tak ada lagi kekurangan guru. “Saya harap ada penambahan guru. Supaya proses belajar mengajar bisa lancar,” kata Ester.
Koordinator Foker LSM Papua, wilayah Teluk Cenderawasih, Serui, Aston Situmorang saat di konfirmasi tabloidjubi.com, Selasa (13/3) menandaskan masalah persoalan itu sudah terjadi sejak tahun 2011 lalu. Namun, sampai saat ini tak ada perubahan. Masalah itu sudah di sampaikan berulang kali ke Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Yapen.Tapi, sampai saat ini tak di gubris. “Masalah itu sudah lama terjadi. Dinas pendidikan sudah tahu. Tapi, mereka tidak ambil sikap,” ujar Aston. Hingga berita ini di tulis, Dinas pendidikan setempat belum berkomentar soal masalah ini. (Jubi/Musa Abubar)
tabloidjubi

0 komentar:
Post a Comment