NABIRE -
Bahan Bakar Minyak (BBM) mempunyai nilai strategis dalam berbagai aspek
kehidupan, baik ekonomi, politik maupun sosial budaya. Oleh karenanya
tidak aneh bila kebanyakan orang berkepentingan dengan BBM. Bahkan
sejumlah oknum tidak segan-segan untuk melakukan pelanggaran dan
penyelewengan.
BBM begitu menggiurkan bila dilihat dari nilai ekonomi. BBM subsidi yang seharusnya menjadi hak rakyat, diselewengkan, ditimbun untuk selanjutnya dijual dengan harga industri. Bukan hanya premium dan solar, namun minyak tanah disinyalir banyak diselewengkan oleh sejumlah oknum.
Kepala Depot Pertamina S. Teurupun didampingi Bambang Tri, Senin (26/3) turun langsung ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan di Agen Minyak Tanah (AMT) dan pangkalan-pangkalan.
Saat ditemui di ruang kerjanya seusai melakukan turun lapangan, S. Teurupun menegaskan, bila ketahuan atau kedapatan ada pangkalan minyak tanah (Mitan) menyelewengkan minyak tanah bersubsidi maka akan ditindak tegas dengan jalan ditutup operasinya.
“Bila ketahuan pangkalan minyak tanah melakukan penyelewengan karena menjual minyak tanah subsidi tidak sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah maka kita akan lakukan tindakan tegas dengan menutup pangkalan yang bersangkutan,” ungkapnya.
Terang Teurupun, penyelewengan itu juga dapat dilakukan oleh pangkalan yang hanya menjual sebagian minyak tanah subsidi kepada rakyat sementara sisanya ditimbun dan atau dijual dengan harga industri.
“Baik menjual dengan harga diatas ketetapan pemerintah atau menjual sebagaian pasokan minyak tanah dengan harga industri maka kita tidak akan segan-segan untuk menindak tegas yang bersangkutan,” tandasnya.
Kepala Pertamina Nabire mencontohkan 5 drum smela ada pangkalan dipasok 15 drum, mereka jual 5 drum saja sisanya ditimbun atau dijual diatas harga ketetapan pemerintah.
Terang Kepala Depot Pertamina Nabire, harga jual minyak tanah subsidi adalah Rp. 3.300 sedangkan daerah yang jauh seperti Lagari Rp. 3.400 per liter.
“Itu harga yang telah ditetapkan pemerintah. Bila ada pangkalan menjual diatas harga itu, atau menjual hanya sebagian saja maka kami akan panggil 3 AMT yang ada. Kita ingatkan mereka untuk tidak lagi memasok minyak tanah pada pangkalan yang bersangkutan,” tegasnya.
Koordinasi Jelang Kenaikkan Harga BBM
Sementara itu menjelang kenaikkan harga BBM yang direncakan pada 1 April mendatang, Pertamina Nabire telah berkoordinasi dengan pihak aparat uatamnya Polres Nabire.
Menurutnya, hal itu untuk mengantisipasi terjadinya penyelewengan BBM seperti terjadinya penimbunan, supir nakal serta masyarakat yang bermunculan secara sembunyi-sembunyi dalam memanfaatkan situasi.
Sementara itu, disejumlah SPBU masih terlihat antrian panjang.
Menurut Kepala Depot Pertamina Nabire, hal itu bukan disebabkan minimnya pasokan BBM dari Pertamina, namun hal itu yang selama ini menjadi pertanyaannya.
Terangnya, bila melihat kebutuhan masyarakat seharusnya masing-masing 5 ton premium dan solar setiap SPBu sudah cukup.
“Riilnya 10 ton premium dan 5 ton solar setiap SPBu sudah cukup memenuhi kebutuhan masyarakat, namun kenyataannya berapapun jumlah BBM yang dipasok tetap saja tidak cukup dan antrean tetap terjadi,” tuturnya.
“Ini yang perlu dipertanyakan, kemana BBM itu hilangnya. Hari ini saja (kemarin-red) kita pasok masing-masing SPBU 20 ton premium, namun antrean masih saja panjang,” ungkapnya.
Kepala Depot Pertamina Nabire meminta agar pemerintah daerah serius dalam menangani permasalahan peredaran BBM khususnya menjelang kenaikkan harga. (iing elsa)
BBM begitu menggiurkan bila dilihat dari nilai ekonomi. BBM subsidi yang seharusnya menjadi hak rakyat, diselewengkan, ditimbun untuk selanjutnya dijual dengan harga industri. Bukan hanya premium dan solar, namun minyak tanah disinyalir banyak diselewengkan oleh sejumlah oknum.
Kepala Depot Pertamina S. Teurupun didampingi Bambang Tri, Senin (26/3) turun langsung ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan di Agen Minyak Tanah (AMT) dan pangkalan-pangkalan.
Saat ditemui di ruang kerjanya seusai melakukan turun lapangan, S. Teurupun menegaskan, bila ketahuan atau kedapatan ada pangkalan minyak tanah (Mitan) menyelewengkan minyak tanah bersubsidi maka akan ditindak tegas dengan jalan ditutup operasinya.
“Bila ketahuan pangkalan minyak tanah melakukan penyelewengan karena menjual minyak tanah subsidi tidak sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah maka kita akan lakukan tindakan tegas dengan menutup pangkalan yang bersangkutan,” ungkapnya.
Terang Teurupun, penyelewengan itu juga dapat dilakukan oleh pangkalan yang hanya menjual sebagian minyak tanah subsidi kepada rakyat sementara sisanya ditimbun dan atau dijual dengan harga industri.
“Baik menjual dengan harga diatas ketetapan pemerintah atau menjual sebagaian pasokan minyak tanah dengan harga industri maka kita tidak akan segan-segan untuk menindak tegas yang bersangkutan,” tandasnya.
Kepala Pertamina Nabire mencontohkan 5 drum smela ada pangkalan dipasok 15 drum, mereka jual 5 drum saja sisanya ditimbun atau dijual diatas harga ketetapan pemerintah.
Terang Kepala Depot Pertamina Nabire, harga jual minyak tanah subsidi adalah Rp. 3.300 sedangkan daerah yang jauh seperti Lagari Rp. 3.400 per liter.
“Itu harga yang telah ditetapkan pemerintah. Bila ada pangkalan menjual diatas harga itu, atau menjual hanya sebagian saja maka kami akan panggil 3 AMT yang ada. Kita ingatkan mereka untuk tidak lagi memasok minyak tanah pada pangkalan yang bersangkutan,” tegasnya.
Koordinasi Jelang Kenaikkan Harga BBM
Sementara itu menjelang kenaikkan harga BBM yang direncakan pada 1 April mendatang, Pertamina Nabire telah berkoordinasi dengan pihak aparat uatamnya Polres Nabire.
Menurutnya, hal itu untuk mengantisipasi terjadinya penyelewengan BBM seperti terjadinya penimbunan, supir nakal serta masyarakat yang bermunculan secara sembunyi-sembunyi dalam memanfaatkan situasi.
Sementara itu, disejumlah SPBU masih terlihat antrian panjang.
Menurut Kepala Depot Pertamina Nabire, hal itu bukan disebabkan minimnya pasokan BBM dari Pertamina, namun hal itu yang selama ini menjadi pertanyaannya.
Terangnya, bila melihat kebutuhan masyarakat seharusnya masing-masing 5 ton premium dan solar setiap SPBu sudah cukup.
“Riilnya 10 ton premium dan 5 ton solar setiap SPBu sudah cukup memenuhi kebutuhan masyarakat, namun kenyataannya berapapun jumlah BBM yang dipasok tetap saja tidak cukup dan antrean tetap terjadi,” tuturnya.
“Ini yang perlu dipertanyakan, kemana BBM itu hilangnya. Hari ini saja (kemarin-red) kita pasok masing-masing SPBU 20 ton premium, namun antrean masih saja panjang,” ungkapnya.
Kepala Depot Pertamina Nabire meminta agar pemerintah daerah serius dalam menangani permasalahan peredaran BBM khususnya menjelang kenaikkan harga. (iing elsa)
0 komentar:
Post a Comment