![]() |
| JUMPA PERS. Ari Sihasale bersama para pendukung film |
Agak lama kemudian, bocah berseragam merah-putih yang kedodoran dan lusuh itu kemudian berlari kencang menyusuri padang, dan memasuki sebuah gubug yang ternyata adalah ruangan kelas. Di hadapan teman-temannya yang duduk rapi di bangku masing-masing, bocah itu berseru dengan nada sedih, "Teman-teman, guru pengganti belum juga datang."
Kelas pun senyap. Tapi tak lama. Bocah itu berkata lagi, kali ini sambil tersenyum, "Ya sudah, kita belajar menyanyi saja!" Dan, gemuruh tawa riang pun menyambut ajakan itu. Bocah-bocah tanpa alas kaki itu, sebagian tidak berseragam, menghambur ke luar kelas, bergandeng tangan menyanyikan 'Hymne Guru'.
Dengan pembukaan seperti itu, karya terbaru Alenia Pictures berjudul 'Di Timur Matahari' ini barangkali belum apa-apa sudah bikin mewek. Eksotika alam Indonesia Timur yang dikontraskan dengan bocah-bocah polos yang hidup dalam penderitaan (bahasa halusnya: tak seberuntung saudara-suadara mereka di Jakarta), yang selalu menjadi sajian film-film produksi duet produser Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, memang tak pernah gagal menyedot simpati.
Kali ini, kita diperkenalkan dengan Mazmur (Simson Sikoway) dan 4 kawannya, Thomas (Abetnego Yogibalom), Suryani, Agnes, dan Yoakim yang sudah 6 minggu tak punya guru. Dari dunia bocah yang hanya kenal bernyanyi dan bermain ini, penonton kemudian diajak memasuki apa yang selama ini dibahasakan oleh media massa Jakarta sebagai "konflik Papua". Bagi kita yang pada umumnya harus diakui tak banyak tahu tentang Papua, film ini bisa menjadi pengantar untuk memahami masyarakat di provinsi paling Timur Indonesia itu.
Konflik pertama muncul dari kehadiran pendatang, yang diwakili oleh Ucok (Ringgo Agus Rahman) yang baru sebulan bekerja di Papua. Ucok yang menabrak Mazmur harus berhadapan dengan urusan denda adat. Konflik kedua datang dari relasi antarsesama penduduk Papua sendiri, yakni ketika ayah Mazmur ditipu orang dan berujung pada konflik berdarah yang berkepanjangan. Di tengah itu muncul konflik-konflik "sampingan", seperti masuknya handphone yang mengubah perilaku anak-anak muda.
Yang menarik, Ari Sihasale sebagai sutradara, Jeremias Nyangoen (sebelumnya dikenal sebagai pemeran Sumanto dalam 'Kanibal Sumanto', 2004) sebagai penulis skenarionya tak melupakan esensi paling mendesak dari subjek Papua, yakni "status" hubungannya dengan Jakarta. Kehadiran Jakarta, yang mewakili NKRI, diwakili oleh tokoh Mike (diperankan oleh Mike 'Idol') dan istrinya, Vina (Laura Basuki).
Mike yang tak lain adalah saudara dari ayah Mazmur, yang bekerja di Jakarta, dipanggil pulang untuk ikut menyelesaikan konflik yang terjadi. Konflik antarkeluarga, dan juga antarsuku itu memang tak lantas serta-merta membuat film ini memasuki isu politik hubungan Papua dengan Jakarta yang kerap memanas. Pun, konflik yang disebabkan oleh kehadiran korporasi, yang diwakili sosok Ucok, terasa serba samar.
Selebihnya, film ini main aman dengan tanpa menyinggung isu separatisme, seperti pernah dilakukan Garin Nugroho lewat 'Aku Ingin Menciummu Sekali Saja'. Sinematografi yang cantik, dan akting bocah-bocah asli Papua yang ciamik memberi nilai lain bagi film ini. (in)
fajar

0 komentar:
Post a Comment