![]() |
| Save Our Pa |
Ketiga hal ini secara tidak langsung sudah menjadi mesin pembunuh dan penghancur bagi Rakyat (orang asli papua) Papua.
Tanpa Rakyat Papua sadari, program
pemerintah (KB), Miras dan penyebar penyakit HIV/Aids telah dengan
sengaja dipelihara untuk membatasi angka kelahiran atau jumlah penduduk
orang asli Papua di Papua.
Dengan demikian, Orang Asli Papua
bukannya bertambah banyak, namun semakin berkurang, dengan perbandingan
30 persen Orang Asli Papua dan 70 Persen Orang Pendatang (Non Papua).
Selain ketiga faktor diatas, diketahui
juga bahwa, kurangnya populasi penduduk asli Papua disebabkan oleh
masalah sosial dan pelanggaran HAM dan penyebab utamanya adalah migrasi
penduduk dari luar Papua. Orang asli Papua akan terus menurun jumlahnya
dikarenakan adanya faktor keinginan menguasai Tanah Papua untuk
kepentingan ekonomi.
Hal ini disampaikan salah satu Tokoh Intelektual Amungme, Titus Kemong, Jumat (9/3) kepada Suara Papua di Timika.
Diakui, KB boleh-boleh saja namun perlu
dilihat dan sasarannya kemana. Mengentaskan kemiskinan untuk mencapai
kesejahteraan masyarakat sangat baik tetapi kalau dilihat dari sudut
pandang Populasi penduduk apakah hal ini tidak membawa dampak negatif
bagi orang Papua?
“Program ini baik, tapi kami orang Papua asli tambah kurang, bukan banyak,” jelas Titus.
Sungguh aneh” itulah kalimat yang
dilontarkannya saat mengetahui populasi orang asli Papua hanya 30
persen, sementara penduduk non Papua mencapai 70 persen.
Karena itu dirinya mengatakan, kalau
bisa sasaran program KB ditujukan dan diterapkan kepada penduduk non
dengan alasan jumlah penduduk non Papua populasinya sangat melebihi
populasi Orang Asli Papua.
Selain program KB, dirinya juga
memprediksi ada dua faktor lagi yang menyebabkan populasi jumlah
penduduk rakyat Papua berkurang yakni, Minuman Keras (Miras) dan
penyebaran penyakit HIV/Aids yang ditularkan melalui sex bebas.
“Walau sudah ada Peraturan Daerah (Perda) tetap kita lihat Miras
masih bebas dijual. Kalau sudah miras pasti ujungnya melakukan hal-hal
negatif seperti main perempuan dilokalisasi dan hal-hal negatif lainnya,
sampai ujungnya bisa tertular penyakit HIV/AIDS,” Kata Titus.
Memang perlu ada kesadaran dari
masyarakat, tetapi setidaknya pemerintah harus punya itikad baik untuk
menekan dan membatasi peredaran Miras dan pengiriman pekerja Sex di
Papua.
Dengan begitu jumlah Populasi Penduduk Papua di Papua tidak semakin berkurang.
Menurut pengamatan dia, sepertinya persoalan ini sengaja dipelihara dan dibiarkan terjadi di Bumi Papua.
“Jangan-jangan mereka sengaja membunuh kita dengan cara seperti ini,” jelasnya.
Terlepas dari KB lanjutnya, berbicara
kasus Miras di Timika sangat berat karena standart peredaran Miras
ditimika diperankan/dibekap oleh oknum-oknum kepentingan dan hal ini
sangat sulit ditindak lanjuti diibaratkan seperti benang yang terlingkar
dan sulit dibetulkan kembali.
Dalam tahun 2012 ini saja jumlah korban
Miras mencapai 12 orang, Yakni bulan Januari korban Miras 7 orang di
Jita Distrik Jita Kabupaten Mimika, Papua dan 5 korban dibulan Februari.
Semuanya didominasi oleh masyarakat asli Papua.
Peraturan Daerah (Perda) di Timika sudah
ada yang mengatur tentang peredaran Miras, namun sampai saat ini Perda
Miras ini tidak diimplementasikan dengan baik.
“Sudah ada Perda tapi tetap saja Bir, vodka dan minuman keras lainnya masih bebas dijual di Timika,” ungkapnya.
Selain itu, tingkat pengiriman pekerja
sex dibawah umur masih terjadi ditimika. Yang menjadi kendala adalah
kurang pengontrolan dari pemerintah daerah setempat.
Kata Titus, semua ini disengaja untuk
memunahkan penduduk asli Papua, karena sebagian besar Orang Asli Papua
terkadang terjerumus dalam hal-hal seperti itu. Dan strategi terstruktur
ini dimainkan untuk menghilangkan populasi penduduk asli Papua.
Info terkait, sementara itu, Penjabat
Gubernur Papua, Syamsul Arief Rivai, kepada sejumlah wartawan, Rabu
(7/3) di Jayapura, menegaskan bahwa, tujuan utama Program program KB
bukanlah untuk membatasi angka kelahiran, namun mengatur dan
merencanakan kelahiran yang baik agar diperoleh anak-anak sehat dan
cerdas serta ibu yang sehat dengan berujung pada peningkatan
kesejahteraan rakyat dan kebahagian keluarga.
Yang menjadi tantangan pembangunan
kependudukan di Indonesia tidak terlepas dari masalah kemiskinan.
Walaupun setiap tahun Pemerintah berhasil menurunkan jumlah penduduk
miskin secara bertahap, namun penurunan jumlah penduduk ini harus lebih
dipercepat lagi.
Menanggapi hal itu, Gubernur berharap,
setiap stacholder dapat mencocokan kebijakan dan strategi pembangunan
kependudukan dan KB dengan program penanggulangan kemiskinan.
Gubernur, berharap Satuan Kerja
Perangkat Daerah Keluarga Berencana (SKPDKB) di Kabupaten/Kota agar
mampu meyakinkan para Bupati dan Wali Kota, tentang pentingnya strategis
program KB bagi investasi pembangunan manusia Indonesia menuju
kesejahteraan.
Pemahaman inilah yang harus segera mungkin disosialisaikan ke masyarakat hingga ke kampung-kampung.
Untuk diketahui, pengurangan populasi
penduduk Papua paling banyak disebabkan oleh Kasus-kasus HAM/kekerasan
yang terjadi di Papua, diantaranya: Konflik Horizontal yang terjadi di
daerah Pegunungan contoh: Kabupaten Puncak, Eduda Paniai, dan Jayapura
belum lama ini. Disertai juga dengan banyaknya Migran atau penduduk (Non
Papua) di Papua.
Sumber : centraldemokrasi

0 komentar:
Post a Comment