.
» » » Bentrok Timika Masih Berlanjut-Tiga Pekan Enam Orang Tewas, 40 Luka-luka

Bentrok Timika Masih Berlanjut-Tiga Pekan Enam Orang Tewas, 40 Luka-luka

Penulis By on Saturday, 23 June 2012 | No comments

TIMIKA– Bentrok antarwarga Kampung Harapan dan Kampung Amole, Kelurahan Kwamki Lama, Timika, Papua, hingga kemarin padahal berlanjut. Polisi tidak mampu menghalau kedua kubu meski jumlah korban terus bertambah. Kedua kampung bertikai itu terletak di kawasan Kwamki Lama,sekitar 20 kilometer dari Timika, ibu kota Kabupaten Timika.

Berdasarkan pantauan, dua kubu saling serang menggunakan panah dalam jarak dekat. Warga dari dua kubu saling memprovokasi dengan ritual “buang suara”sebagai pertanda ajakan perang. Bentrokan terus terjadi karena kurangnya perhatian pemerintah dan aparat setempat. Ini terbukti tidak adanya langkah konkret untuk turun langsung menemui warga, guna melakukan mediasi. Berdasarkan catatan Polres Timika, sejak terjadi bentrokan tiga pekan lalu,sudah enam orang tewas dan setidaknya 40 orang mengalami luka-luka.

Kabid Humas Polda Papua AKBP Yohannes Nugroho, membenarkan terjadi kembali kasus perang antarkampung. “Rabu lalu menewaskan satu warga Kampung Harapan,” katanya. Pertikaian kedua kampung itu sudah berlangsung sejak Mei lalu,diawali kematian warga Kampung Harapan akibat kecelakaan lalu lintas dan diduga pelakunya berasal dari Kampung Amole.Awal Juni lalu, kedua kubu sepakat mengakhiri perang dengan upacara adat patah panah.

Namun sejak Senin hingga Selasa pekan ini, kedua kubu kembali berperang, bahkan empat polisi terluka panah serta kendaraan dinas yang digunakan dibakar dan dirusak. Hingga kemarin, pemerintah setempat belum berbuat banyak untuk memediasi dua kampung. Dikhawatirkan jika kondisi ini terus dibiarkan, konflik akan meluas. Bahkan tidak mustahil, beberapa suku lain di Kwamki Lama yang masih memiliki hubungan emosional dengan salah satu kampung akan terlibat.

Apalagi, mayoritas penduduk di Kwamki Lama berasal dari masyarakat tujuh suku di pegunungan tengah Papua yang memiliki riwayat, selalu menempuh cara perang untuk menyelesaikan persoalan. Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar mengatakan, pihaknya telah menggandeng tokoh adat setempat untuk mendamaikan kedua belah pihak.“Saat ini dilakukan pertemuan tokoh adat dan masyarakat untuk mengeliminasi konflik,” ujar Boy di Mabes Polri,kemarin.

Terkait dengan insiden yang menewaskan enam orang ini, polisi sudah memeriksa 30 orang, dan 25 di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka. “Mereka sudah ditahan,” kata Boy. Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai, polisi di Papua tidak memiliki strategi khusus untuk menangani konflik di Timika karena kepolisian di provinsi tersebut tidak solid dan cenderung berdiri sendiri.

“Ada konflik internal di Polda.Polisi sibuk bertikai di internalnya sendiri,maka itu konflik warga tak bisa ditangani,”ujar Neta. Menurut dia, seharusnya selain harus solid dan memiliki deteksi dini yang sempurna, Polri juga wajib menempatkan perwira yang memiliki kemampuan dialog dan negosiasi yang mumpuni. “Berdasarkan pemetaan kita,warga Papua yang tinggal di pegunungan itu memiliki watak yang mudah terprovokasi, sehingga polisi harus menempatkan anggota yang bisa bernegosiasi untuk meredam emosi warga,”pungkasnya.


●krisiandi sacawisastra/ okezone 





Baca Juga Artikel Terkait Lainnya