.
» » Tuhan sebagai Fokus Yang Paling Utama

Tuhan sebagai Fokus Yang Paling Utama

Penulis By on Saturday, 23 June 2012 | No comments

"Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Matius 6:24
 

Saya bisa sesekali melakukan multi tasking, alias mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam satu kesempatan. Itu bisa lumayan menghemat waktu disaat tugas sedang menggunung. Tetapi untuk urusan yang penting-penting, biasanya saya memilih untuk fokus mengerjakan satu saja, agar hasil terbaik bisa diperoleh. Dalam menulis renungan saya lebih suka untuk mengetik tanpa terganggu atau terputus oleh apapun, karena saya tidak mau apa yang menjadi suara Tuhan bagi kita semua tidak tersampaikan secara baik. Dalam hal-hal yang tidak terlalu penting saya bisa multitasking, tapi tidak untuk sesuatu yang memerlukan konsentrasi penuh. Jika tidak, maka hasilnya bisa-bisa kurang maksimal atau malah bisa memakan waktu yang justru lebih lama ketimbang menyelesaikannya satu persatu.

Dalam kehidupan sehari-hari seperti itu, dalam hal kerohanian pun demikian. Kita memang disebut anak Raja yang memegang Imamat Rajani (1 Petrus 2:9), tapi kita tidak boleh bersikap sombong karenanya. Karenanya saya suka menggambarkan posisi kita sebagai anak Raja yang berhati hamba. Seorang hamba seharusnya mengabdi kepada tuannya, dan hanya pada satu tuan saja, tidak boleh lebih. Mengabdi berhubungan dengan kesetiaan. Dalam kehidupan kita mungkin saja muncul beberapa tujuan yang ingin diraih, tapi dari sisi tingkat kepentingan atau urgensinya, tentu ada urutan yang paling atas yang kemudian disusul oleh urutan kedua, ketiga dan seterusnya.

Apa yang saat ini tampil pada posisi teratas dalam daftar urut kita? Yesus mengingatkan hal ini dengan tegas lewat ayat bacaan hari ini. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24).

Manusia memang tidaklah seperti Tuhan yang mampu hadir dimana-mana dan mampu melakukan begitu banyak pekerjaan dalam waktu yang sama dengan hasil yang sempurna. Sebagai manusia kita ini terbatas kemampuannya. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita hanya bisa memilih untuk mengabdi kepada salah satu, apakah kepada Allah atau kepada mamon. Mamon disini berarti lebih luas dari uang. Bisa diartikan juga sebagai harta kekayaan atau segala sesuatu keduniawian yang kita anggap penting, yang kadang bisa membuat kita menomor-duakan atau bahkan meninggalkan Tuhan apabila tidak waspada.

Jadi mana yang lebih kita dahulukan, apakah Allah atau mamon? Mungkin mudah jika menjawab lewat kata-kata saja, tapi dalam pelaksanaan seringkali susah. Banyak orang yang memilih untuk menomor-satukan uang/harta dan meletakkan urusan Tuhan pada urutan kesekian. Terlalu lelah bekerja membuat kita mengesampingkan pentingnya berdoa. Kita memilih untuk beristirahat dan bersantai atau bersenang-senang di hari Minggu ketimbang bersama-sama saudara seiman menyembah Tuhan dalam ibadah raya dan sebagainya.

Seorang teman pernah menyampaikan posisi hatinya pada suatu kali. "Buat apa melayani ?

Daripada buang-buang waktu seperti itu lebih baik terus cari duit.

Jika tidak keluarga mau makan apa ?

Memangnya bisa makan pelayanan ?" katanya tertawa.

Ada banyak orang yang sependapat dengannya, dan itu menggambarkan dimana posisi Tuhan dalam hidup mereka.

Apa yang ditegaskan Yesus adalah jelas. Pengabdian kita kepada Allah yang begitu mengasihi kita sungguh harus total dan tidak setengah-setengah. Tidak boleh terbagi-bagi, tidak boleh berbarengan dengan keduniawian apalagi ditempatkan lebih rendah, tidak boleh terpecah dan bercabang-cabang. Kita memang harus bekerja, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dan diri kita sendiri. Namun itu bukanlah hal yang paling utama, karena cepat atau lambat jika kita fokus kepada harta, kita akan menjadi budak harta pada suatu ketika.

Apabila kita khawatir akan kondisi keuangan kita, kita tidak harus menjadi panik lalu bekerja serabutan tanpa memikirkan waktu.
Apa yang harus kita lakukan justru sebaliknya, yaitu terlebih dahulu mencari Tuhan, karena Dialah sebenarnya yang menyediakan segalanya.

"Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata :
Apakah yang akan kami makan ?
Apakah yang akan kami minum ?
Apakah yang akan kami pakai ?
Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.
Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (Matius 6:31-32).

Tuhan tahu persis apa yang menjadi kebutuhan kita.
Jika demikian apa yang harus kita lakukan ?
Tuhan Yesus berkata : "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (ay 33). Kita justru harus mendahulukan atau memprioritaskan untuk mencari Kerajaan Allah. Itu artinya menomor-satukan Tuhan dalam kondisi atau situasi apapun. Tentu saja bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan, meninggalkan keluarga, sahabat dan sebagainya, tapi apa yang dimaksud adalah meletakkan dan mengabdi kepada Tuhan pada prioritas di urutan pertama. Karenanya kita tidak perlu khawatir akan hari esok, seperti apa yang kemudian dilanjutkan Kristus: "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (ay 34).

Apakah saya mengatakan bahwa bekerja kurang penting ?

Sama sekali tidak. Itu sangat penting.

Lantas pertanyaan lainnya, dengan hanya 24 jam sehari, bagaimana mungkin ?

Saya akan menjawab, bagaimana jika kita meletakkan Tuhan di atas segala sesuatu yang kita lakukan atau kerjakan ?

Bagaimana jika dalam melakukan sesuatu kita bisa memuliakan Tuhan lebih dari apapun ? Tidakkah itu indah ?

Siapa yang hari ini menjadi tuan dalam diri kita ? Apakah Tuhan, atau hal lainnya seperti harta, karir, status, kedudukan, hobi, dan sejenisnya ?

Apakah kita sudah menempatkan Tuhan pada posisi selayaknya di urutan pertama, atau kita masih mencoba untuk meletakkan Tuhan pada urutan yang sama dengan hal-hal lainnya atau malah dibawah ?

Apakah kita hanya menempatkan Tuhan dalam satu dari sekian posisi multitasking kita ?

Sesungguhnya itu bisa terlihat dari apa yang paling menyita waktu, tenaga dan pikiran kita.

Apapun yang saat ini menyita waktu, tenaga dan pikiran kita, itulah sebenarnya yang menjadi tuan kita.

Tuhan begitu mengasihi kita.

Lihatlah apa kata Daud berikut ini "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan : apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya ? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya ?" (Mazmur 8:4-5).

Sudah sepantasnyalah jika Tuhan kita prioritaskan pada posisi pertama.

Mari kita perhatikan diri kita hari ini, apa yang menjadi prioritas di posisi teratas, dan pastikanlah bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang menjadi fokus utama pengabdian kita.

Hamba tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, yang mana yang kita pilih ?




Baca Juga Artikel Terkait Lainnya