| Mahasiswa Permanapandodei Bandung saat menerima materi makrab di lembang Jawa Barat (foto: Natho) |
Sebelumnya saya merasa catatan saya ini jauh dari
sempurnah sehingga perlu adanya revisi dalam redaksi yang saya tulis. Oleh
karena itu, perlu adanya pengkajian ulang melalui hal-hal yang kritis dan
membangun demi mendapatkan pencerahan referensi berfikir sebagai barometer
ataupun metodologi dalam menentukan arah berfikir dan bertindak:
PEMBATASAN
Namun disini saya mau sedikit melakukan
refleksi analis tentang beberapa aspek yang kiranya membutakan mata dan hati
orang papua sebagai subjek
maupun objek dari analisis ini setidaknya marilah kita melihat beberapa aspek dibawah ini
sebagai acuan pembicaraan kita:
1) Aspek Historis;
dalam pandangan historis papua merupakan daerah yang masih mengalami
potensi yang sangat “awas” dan “bingun”.
2) Aspek Isu & Tema; dari beberapa isu-isu global serta
tema-tema besar dan mendasar “seperti isu kemerdekaan”, otonomi khusus,
kesejahteraan, yang tentunya berkaitan langsung dengan isu-isu papua yang terus
berkembang, dahulu kini dan masa yang akan datang. Utamanya dalam kedok
pertarungan globalisasi.
3)
Aspek Strategis; dalam konteks keindonesiaan,
global tanah papua memiliki posisi dan nilai tawar dalam bentuk ekonomi dan
politik terutama kepentingan dari konfigurasi negara-negara besar dalam era pasar seperti saat ini.
GAMBARAN UMUM
Menurut Samuel. P
Huntington, lewat bukunya yang berjudul ”the
clash of civilizations and remaking of world order” menggambarkan dunia ini
sedianya adalah sebuah ring tinju yang dimana disitu menjadi ajang tanding
beragama suku bangsa dibumi terutama dalam mengatur ritme pergulatan
negara-bangsa (strugle of power
nation-state) didalam menetapkan politik
imperialisme dan politik status quo.
Membicarakan persoalan papua tentunya
tidak akan terpisah dalam sejarah politik Indonesia
dan dunia serta dominasi negara
dan pasar sebagai sebuah kondisi dan
prakondisi modernisasi terutama dalam klaim untuk menetapkan politik
imperialisme dan politik status quo ditanah papua.
Oleh karena itu, dalam menyikapi
sejarah itu, perlu kita menulusuri beberapa era dalam pemerintahan indonesia
yaitu, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Dalam pandangan politik global sendiri proses dalam
periode ataupun era itu sendiri mempunyai ciri khas tersendiri yaitu dengan
bergulirnya Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin (Cold War), serta yang tidak dapat kita abaikan
sekarang adalah Era-Perdagangan Bebas
(Free Trade Era). Sehingga, disini kita dituntut untuk mengaktualisasikan
diri untuk menyikapi tantangan global melalui hubungan antar bangsa didalam sebuah
sistem dunia dimana politik
itu sedang berlangsung
dari kacamata kekinian demi masa depan yang damai.
“KONSISTENSI MASYARAKAT PAPUA”
Bergulirnya perkembangan dalam tatanan
global, berbanding lurus dengan adanya keterbukaan dalam peluang interaksi
dalam bentuk ekonomi dan politik. Berkaitan dengan sifat ekonomi politik
internasional sebagai salah satu bidang kajian didalam
hubungan internasional yang memberikan sifat interaksi malalui institusi dan
aktifitas dari pada perilaku para actor, agen, atau, rejim internasional
yaitu; integrasi dan saling dominasi antara aktifitas pasar dan proses-proses
kebijakan, sehingga dalam prakteknya ada kalanya faktor ekonomi mempengaruhi
perilaku politik, akan tetapi tidak jarang juga faktor-faktor politik
menentukan proses serta aktifitas ekonomi. Dari pandangan
yang berbeda globalisasi cenderung menciptakan keuntungan timbal balik (mutual-benefit) diantara unit-unit yang
terlibat, ”namun dari pandangan yang
berbeda dalam globalisasi sistem internasional merupakan arena lain bagi
keterbukaan kompetisi antar bangsa”, yang kemungkinan mengarah kepada
kerjasama atapun konflik. Sehingga secara harfiah
paket globalisasi dapat
digambarkan sebagai proses pengintegrasian aktifitas-aktifitas terhadap
kebijakan strategis yang sedang berada dalam sebuah dinamika perjuangan untuk mencapai kekuasaan “struggle of power”.
Upaya internasional dalam menyikapi
hubungan antar
bangsa ditanah papua tentunya menjadi tantangan tersendiri. Sebab bagi rakyat papua dominan, persoalan papua saat ini terkesan
tersembunyi dan
disembunyikan oleh rejim ekonomi maupun rejim
politik yang
ingin melumat habis alam, masyarakat, serta budaya papua yang
sebagian besar masih awam melalui proyeksi pasar dan negara, sehingga hal ini
dapat dikatakan akan melahirkan bentuk-bentuk kanibalisme model baru (neo-canibalism). Oleh karena
itu, sewajarnya kita harus melihat papua dari kaca mata yang lebih komperhensif serta
mengkajinya dengan dengan pisau analisis yang baik. Sebab, hal yang
terkesan menarik
untuk disikapi terutama mengenai kedekatan logika ekonomi dan logika
politik adalah keterkaitan
kehadiran
negara dan dampak liberalisasi yang membombardir tanah papua dengan segala
macam kepentingan,
baik dari persepsi temporer dan kontemporer. Fenomena papua yang belum terkuak dan berada didalam
rangkulan hantu-hantu yang berdarah dingin ini, menjadi suatu potensi sebuah elemen penting dalam menyimak
dunia-dunia yang hilang dalam agenda global.
Tatanan politik global yang
mengantarkan Informasi
dan teknologi memainkan peranan yang begitu penting menjadi sebuah
momen penting terutama dalam meninjau kembali sepak terjang negara-negara dalam paket
globalisasi. Namun yang terpenting untuk perlu disimak adalah
semakin banyaknya agen serta institusi sebagai manifestasi hubungan itu sendiri
mengantarkan dunia bukan saja memandang keterlibatan secara tradisional, namun
jauh dari pada itu semua elemen dalam sistem internasional wajib memandang
aktor-aktor yang tak terduga (the
invesible hands) yang tentunya menjadi sebuah tinjauan khusus dalam
mengkaji negara dan kepentingannya didalam melebarkan sayap imperiumnya dalam
bentuk modernisasi aktifitas ekonomi dan politik yang dahulu terlihat sepele
dan tradisional,
menjadikan
tanah papua menjadi menarik untuk disimak serta menjadi sebuah panggung yang
patut ditontonan.
Idealnya tanah papua
dari persepsi objektif maupun subjektif menjadi fakum karena adanya konfigurasi
negara-negara besar utamanya indonesia yang
memainkan peranan politik yang
sangat penting dan dominan atas tanah papua, sehingga perjuangan papua dalam
menemukan jati diri terutama dalam mencapai tujuan-tujuan untuk membangun
nilai-nilai kepapuan menjadi bias.
PENUTUP
Globalisasi
menempati titik sentral didalam berbagai agenda internasional, dalam pandangan
yang berbeda, akibat globalisasi persoalan-persoalan saat ini harus terus
dipahami dalam proses globalissi. Setidaknya ada tiga kata kunci dalam memahami
proses globalisasi, yaitu; kesaling
terhubungan, intergrasi, dan saling keterkaitan. Oleh karena itu,
Proses pemagaran itu harus menggunakan formasi yang konstruktif; (Untuk menata dunia,
kita harus menata terlebih dahulu bangsa; Untuk menata
bangsa, kita harus menata keluarga terlebih dahulu; Untuk menata
keluarga, pertama-tama kita harus menata diri pribadi kita terlebih dahulu; Kita harus meluruskan hati kita sebelum
yang lainnya;
Oleh:
Alm. Jusuf Michael Badii
0 komentar:
Post a Comment