.
» » » » Festival Budaya SMA Adhi Luhur Meriah: Diapresiasi dan Dikritik

Festival Budaya SMA Adhi Luhur Meriah: Diapresiasi dan Dikritik

Penulis By on Friday, 7 March 2014 | No comments

Saat dramatari "Upacara Pemberian Nama Anak Adat dan Ratapan Mama-mama Papua" dipentaskan pada Festival Budaya SMA Adhi Luhur Nabire. Foto: Yermias Degei
Nabire, MAJALAH SELANGKAH -- Sekolah Menengah Atas (SMA) YPPK Adhi Luhur, Kolese Le Cocq dArmandville Nabire Papua menggelar Festival Budaya di halaman sekolahnya, Jalan Merdeka Nabire, Sabtu, (02/11/13).
 
Festival digelar meriah. Tampak anak-anak SMA dari berbagai suku yang sekolah di SMA ini mengenakan pakaian adat mereka masing-masing. Tidak hanya para murid, para guru di sekolah ini tampak mengenakan pakaian adat mereka. 

Tidak seperti Festival Budaya tahun-tahun sebelumnya, tampak di tangan tamu dan undangan terlihat bendera merah putih berukuran kecil. "Kami diberi bendera kecil di pintu masuk oleh penerima tamu. Ya, pegang saja," kata Stevanus Mote.  

"Budaya itu bukan hanya soal-soal tampilan, melainkan merupakan seluruh proses kerja. Akhirnya, saya menyampaikan selamat menikmati tampilan-tampilan gelaran budaya dari suku dan etnis yang ada di SMA Adhi Luhur," demikian kata Kepala SMA Adhi Luhur, V. Seno Hari Prakoso, SJ mengakhiri sambutannya. 

Tampilan drama dari suku Asmat, "Perayaan Pembabtisan" dari para Tahun Orientasi Rohani (TOR) dari lima keuskupan di tanah Papua menandai pembukaan Festival ini. 

Bupati Nabire, Isaias Douw dalam sambutannya yang dibacakan Asisten II, Sukadi mengatakan, kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dari tiap suku bangsa di dunia. Maka, kebudayaan menunjukkan identitas sebuah suku yang harus terus diwariskan oleh generasi muda di zaman ini.
"Saat ini, budaya kita mulai terkikis oleh perubahan zaman. Maka, saya apresiasi apa yang dilakukan SMA  Adhi Luhur ini. Karena budaya adalah perwujudan harga diri sebagai manusia," kata Bupati. 

Selanjutnya, penabuhan tifa Papua oleh Bupati Nabire menandai pemukaan Festival ini secara resmi. Disusul, para siswa menyanyikan lagu Theme Song yang diciptakannya sendiri sebagai opening ceremony dilanjutkan catwalk dari masing-masing suku. 

Sebuah drama bertema "Perayaan Keberagaman" sosial budaya yang dibawakan para siswa kelas XII usai opening ceremony cukup mengundang tawa hadirin. Drama ini mengisahkan bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia yang multi etnis dengan kompleksitas masalahnya. 

Tidak disangka, kritik muncul dari orang tua murid atas drama ini. "Drama ini panjang. Saya justru melihat drama ini lebih banyak diperlihatkan superioritas suku tertentu atas suku lain. Juga, menempatkan tokoh anak Papua ini sebagai pencuri dalam drama ini. Peran dia hanya pencuri, ini bisa menyinggung perasaan orang tua murid, walaupun ingin gambarkan kehidupan sosial kita di Indonesia," kata Antomina.    

Usai drama yang cukup panjang ini, tamu undangan diarahkan ke stand-stand yang menyajikan makanan khas dan karya seni dari tiap suku. Ada makanan khas Batak, Jawa, Bali, Timor, Toraja, Key, Pesisir Papua, Pegunungan Papua, dan Cina. Icip-icip makanan khas berlangsung  sekitar 30 menit. 

Tarian Yospan (Yosim Pancar) secara bersama mengundang para tamu kembali mengikuti acara inti. Acara inti diawali sebuah drama. 

Beberapa siswa berpakaian adat Koteka (pakaian adat laki-laki Pegunungan Papua dan Moge (pakaian adat perempuan Pegunungan Papua) memasuki arena utama dari dua pintu yang didesain khas Papua. 
 
Menyimak Dramatari Papua

"Kehidupan di sekitar Danau Wissel," demikian sebuah papan nama dipajang. Drama "Upacara Pemberian Nama Anak Adat dan Ratapan Mama-mama Papua" dimulai. Ini adalah sebuah dramatari gabungan suku-suku pegunungan Papua dan pesisir Papua yang sekolah di SMA Adhi Luhur. 

Intinya, drama ini menceritakan bagaimana kehidupan orang Papua sebelum ada kontak dengan dunia luar. Para siswa menggambarkan bagaimana kehidupan masing-masing suku sebelum ada kontak dengan dunia luar. 

Pertemuan orang Papua gunung dan orang Papua pesisir pada zaman dahulu digambarkan kembali dalam drama ini. Beberapa anak berpakaian pegunungan Papua bertemu dengan beberapa anak berpakaian pesisir Papua. Di sana terjadi kontak antar mereka dan membangun hubungan sosial dan ekonomi. 

Suasana kehidupan suku-suku yang digambarkan dalam dramatari berubah setelah upacara adat pemberian nama adat usai. Bunyi "bomm, bomm, trum, trum" membuat kehidupan damai yang digambarkan kocar-kacir. Bagaimana kontak-kontak awal dengan dunia luar yang disertai kekerasan di masa lalu digambarkan di sana. 

Air mata beberapa tamu undangan berlinang pada adegan ratapan atas tertembaknya seorang anak laki-laki kepala suku. Suasana tampak benar-benar hening saat salah satu anak tampak tak berdaya meminta pertolongan. Lagu dan bunyi tifa mengiringi adegan ini. Digambarkan,  anak ini meninggal dan ditemukan oleh suku pesisir Papua dan mereka meratapi anak ini. 

Di tengah ratapan suku pesisir, beberapa suku lain yang terseber di Papua mulai berdatangan. Beberapa siswa perempuan yang berperan sebagai mama-mama Papua dan mereka meratapi dia. Suasana ratapan inilah yang membuat  air mata tamu undangan dan beberapa siswa SMP tak tertahankan. Selanjutnya, anak ini digotong keluar oleh suku-suku dalam kondisi hening. 

Diperlihatkan pada akhir drama ini, kondisi bagaimana saat ini orang-orang Papua mulai bangkit dari suasana keterpurukan mereka. Ajakan-ajakan untuk maju dan bekerja untuk memperbaiki kehidupan disampaikan di sana. "Buna yoka, anigou-anigou. Buna yoka ekowai-ekowai" (orang Papua, maju-maju. Orang Papua bekerja-bekerja). 

Selanjutnya, ditampilkan tarian budaya dari suku Jawa, Timor, Tinghoa, Batak, Manado, Toraja, Maluku, dan kebudayaan dari pesisir Papua. Semua penampilan dari tiap suku menarik. Festival yang dimulai 08.00 WIT itu diakhiri sekitar pukul 15.00 WIT. 

"Saya benar-benar senang dan puas melihat anak-anak SMA ini berpakaian adat. Anak saya ini dulu takut tetapi sekarang berani pakai koteka.  Saya salut buat SMA Adhi Luhur yang hidupkan budaya kita," kata Damiana Magai, salah satu orang tua murid. 

Apresiasi disampaikan juga dari Zakeus Petege. "Saya senang dengan kegiatan ini. Saya ajak anak-anak saya ke sini untuk nonton." Kata dia, Festival Budaya ini adalah kegiatan berbobot dan banyak nilai hidup di sana. 

Tidak disangka, salah satu alumni SMA Adhi Luhur, Stevanus menyampaikan kritik tajam. 

"Saya suka acara ini. Tiap dua tahun saya datang nonton. Tetapi, saya tidak suka kalau dalam apresiasi budaya ada muatan-muatannya. Saya jadi heran, kenapa ada bagi-bagi bendera merah putih pada acara budaya ini. Ini kita mau bangun nasionalisme Indonesia karena orang Papua tidak ada nasionalisme atau acara budaya," kata dia. 

Kata dia, pendidikan (sekolah) dan apresiasi budaya tidak bisa disisipi kepentingan. Menurutnya, pendidikan dan kebudayaan haruslah ditetakkan pada posisinya. Hasil dari apresiasi budaya dan pendidikan itu tentu akan melahirkan manusia-manusia yang dapat memilih kehidupannya. "Tidak perlu ada pemaksaan seperti ini," kata dia. (MS/Yermias Degei)


 Sumber : MAJALAH SELANGKAH



Baca Juga Artikel Terkait Lainnya