.
» » Pejalan Kaki Nilai Bupati Dogiyai Langgar Visi-Misinya

Pejalan Kaki Nilai Bupati Dogiyai Langgar Visi-Misinya

Penulis By on Friday, 7 March 2014 | No comments

Benediktus Goo, pencetus ide aturan kampung. foto: dok pribadi.
Nabire, MAJALAH SELANGKAH -- Pernyataan bupati kabupaten Dogiyai, Thomas Tigi soal memberikan kebebasan untuk kaum hawa mengenakan celana serta menjual dan mengkonsumsi pinang yang nota bene bukan sebagai kebudayaan orang Mee ditentang Solidaritas Pejalan Kaki Dogiyai.

Pernyataan tersebut dinilai bertolak belakang dengan salah satu visi-misinya ketika mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di kabupaten Dogiyai dengan bunyi Memusnahkan Penyakiit Sosial di Dogiyai.

Kepada majalahselangkah.com, salah satu pencetus ide untuk melarang kaum hawa mengenakan celana, mengkonsumsi miras serta pinang dan bandar togel, Benediktus Goo mengatakan, seharusnya Bupati Dogiyai merasa bersyukur dengan aturan kampung yang sudah berjalan, karena beberapa kampung yang menerapkan idenya telah menyadari akan ancaman terhadap budaya Mee di Dogiyai.

"Sebenarnya aturan kampung yang beberapa kampung sudah berhasil ini bupati bersyukur karena mereka sudah sadar akan ancaman budaya luar. Mengapa? Karena masyarakat sedang mendorong visi-misi bupati tentang Memusnahkan Penyakit Sosial di Dogiiyai," tuturnya.

Lebih lanjut kata dia, aturan yang sedang berjalan ini salah satunya untuk membendung cara gaya hidup barat atau western life serta gaya hidup modern atau modern life style. Karena menurutnya, hal tersebut memaksakan diri dan jauh melenceng dari budaya yang telah ada sejak nenek moyang.

"Mengangkat budaya lokal itu yang mesti kita pikirkan, memakaii celana pendek itu sudah meniru kehidupan orang barat. Bukan hanya perempuan tetapi larangan lain bagi laki-laki juga ada seperti dilarang mengenakan cincing, tampilan rambut seperti perempuan daln lain-lain," sambung dia.

Lelaki alumni Universitas Cenderawasih ini berkisah, awalnya ide itu lahir setelah kejadian yang memakan korban jiwa akibat mengkonsumsi miras.

Saat itu, kata dia, ide tersebut diusulkan kepada kepala distrik Kamuu Utara bersama dua rekan lainnya dan tanpa berpikir panjang ide tersebut diterima, karena hal sama dipikirkan juga oleh orang nomor satu di distrik Kamuu Utara tersebut. Perlahan aturan itu diterapkan dan hasilnya berjalan maksimal, lalu aturan ini diterapkan juga di kampung Mauwa distrik Kamuu dan mulai menyebar ke beberapa kampung di kabupaten Dogiyai.

Kata Benny, sapaan akrab Benediktus Goo, walaupun bupati sudah memberikan kebebasan untuk mengenakan celana serta menjual dan mengkonsumsi pinang namun, kata dia aturan kampung akan tetap berjalan.

"Pernyataan bupati itu menurut kami hanya sebatas opini, bukan keputusan tertulis jadi aturan yang sudah berjalan ini tidak akan berhenti disitu saja, karena masyarakat di beberapa kampung menerima baik ide kami itu," jelas Goo

Sebelumnya bupati kabupaten Dogiyai saat melantik ibu-ibu PKK mempersilahkan perempuan untuk memakai celana secara bebas serta menjual pinang dan togel di Dogiyai. (M2/Ms)  


 Sumber: Majalahselangkah.com

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya