.
Selamat Datang di Portal Radio Suara Dogiyai Fm

Mahasiswa Papua Tak Boleh Numpang Lagi

sejumlah mahasiswa Universitas Bengkulu (Unib) asal Provinsi Papua
BENGKULU – Dunia pendidikan di Provinsi Bengkulu belakangan ini sempat heboh. Pasalnya beredar informasi sejumlah mahasiswa Universitas Bengkulu (Unib) asal Provinsi Papua tidak diperbolehkan lagi oleh pihak kampus tinggal di Mess Unib yang terletak di Jalan Budi Utomo Kelurahan Beringin Raya Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu.

Para mahasiswa tersebut adalah penerima beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) dari Kemenristek dan Dirjen Dikti, saat ini untuk penempatan di Unib berjumlah sebanyak 24 orang yang terdiri dari 8 perempuan dan 16 laki-laki.

Venus Belau (21) mahasiswa semester V Fakultas Pertanian Unib asal Kabupaten Intan Jaya menuturkan, sebelumnya dalam pembekalan penerima beasiswa mereka dijanjikan mendapatkan tempat tinggal dan biaya hidup selama menempuh pendidikan.

“Kami dijanjikan akan mendapatkan tempat tinggal dan biaya hidup dari pemerintah. Namun setelah kami di Bengkulu, kami tidak ada tempat tinggal. Jadi kami menumpang di Mess Unib,” ungkap Venus kepada RB, kemarin (26/10).

Namun baru sekitar 1,5 tahun tinggal di Mess Unib, para mahasiswa ini terpaksa harus keluar dan mencari kost-kostan. Alasannya dikarenakan bahwa mess tersebut hanya bisa digunakan oleh mahasiswa yang mengikuti program pertukaran mahasiswa. Jadi dengan terpaksa para mahasiswa Papua ini mencari tempat kost untuk tetap tinggal dan berkuliah.

“Selama disini kami hanya diberi biaya hidup saja oleh pemerintah dalam program beasiswa ini. Namun untuk tempat tinggal tidak ada. Berbeda dengan provinsi lain yang disediakan tempat tinggalnya. Jadi untuk ngekost, kami haru membayar sebesar Rp 2,5 juta per tahun,” ujar Venus.

Hal yang sama juga diungkapkan George Nawipa (20) asal Wamena. Ia mengaku kecewa dengan program dan kebijakan pemerintah yang justru malah mempersulit para mahasiswa yang mengikuti program beasiswa tersebut. “Tidak ada kami dapat uang untuk tempat tinggal. Jadi untuk kost ini, kami terpaksa menggunakan uang biaya hidup yang ada,” katanya.

Diakui George, mereka beberapa kali sudah menghadap pihak rektorat Unib. Namun tetap saja hasilnya mereka tidak diperbolehkan tinggal di Mess Unib tersebut. Bahkan saat ini mereka kost menyebar di beberapa lokasi, mulai dari Unib depan, Unib belakang dan Gang 3 Kelurahan Kandang Limun.

“Jadi saat ini yang bisa kami lakukan adalah menjalani apa yang saat ini terjadi. Yang jelas kami harus tetap kuliah dan menamatkan pendidikan disini,” terangnya.

Terpisah, Wakil Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Unib Alimansyah mengungkapkan, tidak benar pihak Unib mengusir para mahasiswa asal Papua tersebut. Bahkan seluruh mahasiswa di Unib mendapatkan perlakuan yang sama dan tidak ada pembedaan. Hanya saja memang untuk Mess Unib tidak bisa digunakan sebagai kost-kostan mahasiswa karena sudah diatur peruntukannya.

Ia mengungkapkan, para mahasiswa Papua tersebut mendapatkan biaya tempat tinggal dari pemerintah, jadi mereka bebas untuk memilih kost dimanapun mereka mau.

“Jadi tidak ada kita pernah mengusir mahasiswa kita. Malahan kita membantu mereka pertama kali tiba di Bengkulu. Dan setelah itu, karena mereka mendapatkan biaya untuk tempat tinggal, maka kita sarankan mereka untuk mencari tempat tinggal,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Rektor Unib Dr. Ridwan Nurazi, SE, M.Sc, AK yang dengan tegas mengatakan bahwa Mess Unib bukan tempat kost. “Mereka kan dapat biaya hidup dari negara. Lagian juga Mess Unib bukan tempat kost,” singkat Ridwan. (sly)

 Sumber:harianrakyatbengkulu.com
Share this post :

PAPAN PENGUMUMAN

.

Statistik Blog

 
Support : Disclaimer | Privacy Policy | Kontak Kami | Forum Diskusi | Site Map | Tentang Kami
Copyright © 2017. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Modified by dzulAceh
Proudly powered by Blogger