Home » , » BUKU: Nineteen Eighty-Four

BUKU: Nineteen Eighty-Four

Cover BUKU: Nineteen Eighty-Four
“Nineteen Eighty-Four” adalah buku George Orwell (1903-1950; nama aslinya:  Eric Arthur Blair), yang diterbitkan pada tahun 1949 dalam bentuk novel. Dengan membaca tanda-tanda zaman, novel ini berimajinasi tentang lahirnya pemerintah otoriter yang memanipulasi pikiran rakyatnya sendiri. Salah satu caranya ialah lewat “Kementerian Kebenaran.” Di sana ada seorang petugas rendahan, yang di luar kendali dirinya sendiri, terus-menerus diawasi untuk mengedit “data yang benar,” yaitu data yang membuktikan “kebenaran” kebijakan pemerintah otoriter. Keterlaluan?  Sabar! Tunda dulu pendapatnya!

Kini, menurut berbagai peneliti, editor data itu ada di dalam diri kita masing-masing. Sadar atau tidak, otak kita punya mekanisme yang selalu mengedit data dalam rekamannya, sehingga pendapat kita selalu sesuai dengan perubahan yang terjadi di lingkungan kita. Ada buktinya?

Pada tahun 1973, Gregory Markus, seorang profesor politik dari Universitas Michigan, meneliti pendapat 3.000 orang tentang pokok bahasan yang kontroversial di dalam masyarakat, misalnya legalisasi narkoba. Pilihan pendapat mereka berkisar antara “sepenuhnya setuju” hingga “sepenuhnya tidak setuju.” Pendapatnya direkam. Sepuluh tahun kemudian mereka ditanyakan lagi pertanyaan yang sama. Ternyata, mereka berpendapat bahwa pendapatnya sama dengan yang dikemukakannya 10 tahun yang lalu. Ketika jawaban mereka dibandingkan peneliti dengan rekaman 10 tahun sebelumnya, hasilnya ternyata SANGAT TIDAK SAMA. Mereka tidak sadar bahwa pendapatnya sudah berubah, karena adanya “editor” di dalam dirinya. Apakah mereka salah karena berubah pendapat? 

Berubah pendapat tidak ada salahnya, tetapi menjadi salah jika orang mengira pendapatnya masih seperti dulunya, padahal sudah berubah. Berarti. kita mungkin tidak sadar bahwa diri sendiri sudah berubah. “Aku bukan yang dulu” adalah pengakuan yang hanya ada dalam lirik lagu Obbie Messakh, penyanyi asal Pulau Rote.

Di manakah posisiku, misalnya, tentang peranan KPK, kini dan di masa lalu? Apakah ada rekaman pendapat masa lalu untuk dibandingkan dengan pendapat sekarang? Mungkin tidak ada rekamanku, tetapi jejak digitalku ada di berbagai tempat, di tangan berbagai pihak. Celakanya sekarang, jejak digital itu dapat dimanipulasi, sehingga saya “kedapatan” mengatakan yang tidak saya katakan.  Hoax!

Sebuah cara untuk mendeteksi adanya “editor” di dalam diri kita ialah: memelihara buku harian untuk dikonsultasi kembali di masa depan. Peter F. Drucker (1909-2005), Bapak Ilmu Manajemen Modern, menganjurkan dan melakukannya. Dag Hammarskjöld (1905-1961) Sekjen PBB pada masanya (1953-1961), melakukannya setiap hari hingga saat meninggalnya dalam kecelakaan pesawat terbang pada 18 September 1961. Setelah ia meninggal, buku hariannya banyak mengungkapkan siapakah Sekjen PBB termuda ini, dan di mana posisinya dalam usaha menjaga perdamaian di Kongo, yang berakhir dengan kematiannya. Buku harian dapat menjadi sumber catatan perjalanan hidup seseorang, yang berubah-ubah, di lingkungan yang juga terus berubah.

Catatan: Sebuah novel lain dari George Orwell yang sangat menarik adalah “Animal Farm” (1945); sebuah kritik sosial, yang masih sangat relevan dengan kehidupan masa kini.

“Nulla Dies Sine Linea.” Tiada hari berlalu tanpa tertulisnya sebaris kalimat. Pendapat dan posisiku?

Oleh: Wim Poli
 
Share this video :

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2013. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger