![]() |
| Bakti Husada |
Binpa - Saya Optimis, ada peningkatan pelayanan
kesehatan yang dibarengi dengan peningkatan fasilitas kesehatan di
Provinsi Papua. Kalau tahun 2006, pemerintah baru mendirikan 10 rumah
sakit, maka 2007 ada 11 rumah sakit yang dibangun, kemudian 2008 12, 2009 ada
16 rumah sakit, masuk 2010 16 lagi pembangunan rumah sakit, terakhir 2011
kemarin Pemerintah telah membangun 20 rumah sakit,” ujar drg Yosep Rinta
Riatmaka.
Ia mengaku optimis pembangunan
kesehatan di Provinsi Papua di era otsus Papua ada peningkatan, “Siapa
bilang pembangunan kesehatan diera Otsus tidak ada peningkatan, saya
lihat ada perkembangan baik terhadap pembangunan kesehatan dengan
adanya peningkatan sarana prasarana, operasional pelayanan sebagai
upaya percepatan pembangunan pelayanan kesehatan” ujarnya.
Adanya peningkatan pembangunan rumah
sakit, diikuti penambahan puskesmas, merupakan contoh konkrit adanya
upaya itu, sebagai sarana mendekatkan layanan kesehatan ramah pada
masyarakat di 385 distrik dan 3.565 kampung di 28 Kabupaten dan satu
kota yang tersebar di seluruh di Papua. Ia menjelaskan, bila puskesmas
pada 2006 ada 230, meningkat pertahunnya menjadi, 245,260,296,310
pada 2010 lalu hingga 314 pada 2011. Penambahan puskesmas diikuti
penambahan puskesmas pembantu yang mencapai tujuhratusan. Dari 735
pada 2006 menjadi 731 pada 2008. Dari 703 pada 2009. Untuk tahun 2010
pemerintah baru membangun 686 dan 2011 685. Untuk pondok bersalin
baru dibangun pemerintah pada 2007 sebanyak 454 menjadi 497 pada 2008
dan 497 pada 2009. Dokter Yosep yang ditemui usai pertemuannya dengan
semua stakholder dan LSM Kesehatan di Papua, bukan kebetulan semua
stakholder dikumpulkan, namun memang haruslah demikian membangun
komitmen kuat untuk kesehatan di Papua, ujarnya setelah bertemu para
stakholder.
Bahkan Dinas Kesehatan dibawah Komando
mantan Sekda Merauke ini optimis dan berkomitmen meningkatkan
percepatan pembangunan Kesehatan. Sepuluh tahun implementasi Otsus
Papua bidang pembangunan kesehatan yang gunakan dana otsus Papua,
prioritas utama dana Otsus kesehatan untuk belanja Publik, termasuk
keberadaan petugas. Padahal dikesehatan yang namanya belanja aparatur,
outputnya juga untuk publik walaupun obat banyak, operasionalnyapun
banyak, namun tak diimbangi petugas kesehatan, bagaimana jadinya, ya
kan, tentu tak bisa.
Kita harapkan belanja publik juga bisa
dimasukan dalam otsus untuk meningkatkan keberadaan tenaga kesehatan
dikampung. Ia menegaskan, pembangunan kesehatan diPapua yang
dijalankan selama impelementasi Otsus bidang kesehatan, sumber dananya
bukan dari dana Otsus saja, bisa juga dari APBN.
“Yang terpenting di Papua adalah
bagaimana membuka akses pelayanan, saya pikir hal itu penting,”jelasnya.
Ia mengakui, untuk menuju pada peningkatan akses layanan kesehatan
hingga pelosok distrik di Papua, memang ada masalah dan tantangannya.
Kita masih punya 40 persen puskesmas tak ada dokter tetap, karena yang
ada dokter PTT yang dikontrak untuk waktu sangat singkat. Kita masih
punya 7 persen dari jumlah distrik tidak punya puskesmas.
“Pada 2008, kita masih punya 46 persen
kampung belum tersedia sarana pelayanan kesehatan dan tenaga pelayanan
kesehatan, kendala ini menyertai masalah pembangunan kesehatan di Tanah
Papua, trasportasi dan medan yang sulit yang biasanya ditempuh
ketempat pelayanan , jadi tantangan sendiri, karena biasa ditempuh
dalam 1- 22,8 jam. Kita masih punya 26,65 persen pustu tak ada tenaga
ditambah 41,4 persen pondok bersalin kampung tak ada bidan”, ujarnya.
“ Oleh karena itu saya panggil semua
Stakholder dan LSM Kesehatan, saya tegaskan pada mereka, untuk
berkomitmen dengan masalah kesehatan di Tanah Papua, semua dalam rangka
membuka akses pelayanan lebih dekat ke masyarakat, mari kita buat
komitmen, bangun kesehatan di Papua,” katanya tegas. Oya, lanjut dr
Yosep yang nanti pada bulan April mendatang provinsi Papua akan
mendapatkan jata 90 tenaga dokter yang akan ditempatkan merata di
seluruh Kabupaten hingga distrik. Dari 90 tenaga dokter umum itu,
diantaranya ada dokter spesialis yang ditempatkan merata di semua pusat
pelayanan kesehatan.
Sumber Pembiayaan Kesehatan
Dikatakan, sumber pembiayaan kesehatan dikabupaten, tak hanya bertumpu pada dana Otusus Papua, melainkan ada sumber dana APBN. Pembantuan/BOK,DAK,Bansos, Jamkesmas dan Jampersal, sementara sumber dana APBD dianggarkan dari DAU, PAD dan Otsus. Sumber dana berikut dari UNICEF, khusus dikabupaten Jayapura dan Jayawijaya. GF ATM khusus untuk TB Paru, malaria dan HIV/AIDS.
Dikatakan, sumber pembiayaan kesehatan dikabupaten, tak hanya bertumpu pada dana Otusus Papua, melainkan ada sumber dana APBN. Pembantuan/BOK,DAK,Bansos, Jamkesmas dan Jampersal, sementara sumber dana APBD dianggarkan dari DAU, PAD dan Otsus. Sumber dana berikut dari UNICEF, khusus dikabupaten Jayapura dan Jayawijaya. GF ATM khusus untuk TB Paru, malaria dan HIV/AIDS.
Dalam kesempatan perbincangan selasa
(6/3/2012), bersama dokter Agnes Ang, diperlihatkan grafik pembiayaan
pembangunan kesehatan melalui Otsus Papua tahun 2002 – 2011, data
memperlihatkan adanya kenaikan signifikan dari sisi pembiayaan
pembangunan kesehatan diPapua. Pada 2002 pembiayaan dana Otsus 80
miliar lebih, 2003 masih sama 80 miliar lebih, 2004 mengalami penurunan
mendekati 60 miliar kemudian ada kenaikan 2005 sebesar 80 miliar, 2006
sama 80 miliar. Pada 2007 naik hingga 100 miliar, 2008 ada
kenaikan100 setengah miliar lebih, Ditahun 2009 justru melonjak jadi
194 miliar dan mengalami kenaikan hingga 600 miliar ditahun 2012 ini,
ada kenaikan 10 persen.
Strategi Pemecahan Masalah
Dalam perbincangan kemarin, kepala Dinas Yosep Rinta Riatmaka menyatakan, komitmen tentang pembangunan kesehatan bagi Provinsi Papua, coba kita siasati bersama dalam rangka pemecahan masalah kesehatan, diantarnya penguatan sistim kesehatan, meliputi capacity building tenaga manajemen dan teknis, termasuk promkes di tingkat Dinas Kabupaten, juga program capacity building tingkat puskesmas, dengan melakukan pengembangan sistim informasi kesehatan hingga Puskesmas.
Dalam perbincangan kemarin, kepala Dinas Yosep Rinta Riatmaka menyatakan, komitmen tentang pembangunan kesehatan bagi Provinsi Papua, coba kita siasati bersama dalam rangka pemecahan masalah kesehatan, diantarnya penguatan sistim kesehatan, meliputi capacity building tenaga manajemen dan teknis, termasuk promkes di tingkat Dinas Kabupaten, juga program capacity building tingkat puskesmas, dengan melakukan pengembangan sistim informasi kesehatan hingga Puskesmas.
Ia mengakui, pemecahan masalah
kesehatan amat terkait dengan penyediaan SDM Kesehatan, ujung ujungnya
masalah penempatan dokter/drg. dengan formasi INPRES dan penyiapan
jenjang karier, termasuk percepatan penyediaan tenaga bidan melalui
ikatan beasiswa untuk pendidikan bidan reguler serta pendidikan tenaga
bidan C. Selanjutnya, Peningkatan SDM kesehatan untuk menempuh
pendidikan SPK plus satu tahun ikut pendidikan bidan, ungkapnya.
Strategi berikut membuka D3 perawat gigi diPapua, katakanlah, titipan
D3 perawat gigi diluar Papua.
| Sumber |

0 komentar:
Post a Comment