.
» » » » ASDEI YOGYA: MEMPERJUANGKAN KEJUJURAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

ASDEI YOGYA: MEMPERJUANGKAN KEJUJURAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Penulis By on Saturday, 22 February 2014 | No comments

YOGYA - Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Deiyai Yogyakarta dan Solo kembali menggelar diskusi yang ke 43 pada Kamis, 20 Februari 2014. 

Diskusi ini berjudul “Memperjuangkan Kejujuran” yang dibawakan oleh Moses Douw, Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan, Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “STPMD” APMD Yogyakarta. Diskusi kali ini dimulai pada pukul 20.30 WIB. 

Dalam diskusi, pemateri memaparkan bahwa kejujuran perlu diperbaiki dan diangkat kembali. Ia mngambil contoh kejujuran yang pernah dialami oleh seorang tokoh nasional India yakni Mahatma Gandhi. Semasa beliau sekolah, kata Moses, ketika mengikuti ujian- ujian di sekolah Gandhi tidak menggunakan bocoran jawaban atau menyontek. Bisa dikatakan bahwa seorang Mahatma Gandhi adalah seorang yang lemah namun menerima kuat dalam pendiriannya, jujur pada sikap dan tindakannya.

Selain itu, dalam pembahasan selanjutnya, Moses menghubungkan kejujuran dalam kehidupan dengan bacaan yang terdapat di ayat- ayat kitab suci. Dalam hal kejujuran, Yesus berbicara dan bersikap sangat tegas. Yesus semasa hidupnya di dunia ini, Dia sangat sadar dan pemaaf. Tetapi terhadap kaum munafik, Yesus sangat keras. Mengapa demikian? Orang- orang yang munafik sulit sekali untuk bertobat karena mereka menganggap dirinya suci. Mereka sangat mengandalkan kesalehan, kekudusan, dan kekuasaannya sendiri.

Dalam sesi selanjutnya, Deserius Butu mengemukakan bahwa salah satu contoh kejujuran yang sering dilakukan adalah mereka yang sering merokok. Prinsip yang sering mereka lakukan adalah membagi rokok jika ada rokok dan tidak jika tidak ada rokok. 

Pendapat lain dikemukakan oleh Yustinus Tebay, Mahasiswa Jurusan  Ekonomi di STIB Bank. Tebay berpendapat bahwa kejujuran harus ditanamkan dari anak masih kecil. Jika anak dilatih dari kecil untuk selalu jujur, maka ketika dewasa orang tersebut akan berusaha jujur misalnya dalam hal ekonomi. Contohnya ketika orang tersebut diberi tanggung jawab menjadi bendahara di suatu komunitas maka tugas tersebut tidak dilalaikan olehnya.

Di sela- sela penjelasan tersebut muncul pula pertanyaan yang sangat bagus, yang dilontarkan oleh Bernadeta Goo, Mahasiswa Jurusan Ekonomi Universitas Widya Wiwaha. Bernadeta melontarkan pertanyaan bahwa setiap orang di dunia pasti tidak lupa dari ketidakjujuran. Untuk mengatasi ketidakjujuran tersebut langkah- langkah apa saja yang dilakukan agar ketidakjujuran tidak muncul?

Mendengar pertanyaan tersebut, para mahasiswa yang mengikuti diskusi pun mengemukakan pendapat masing- masing. Pendapat dimulai dari pemateri, Moses Douw. Douw mengemukakan bahwa untuk mengatasi munculnya ketidakjujuran itu kita harus kembali ke agama. Kita Punya keyakinan kepada Tuhan yang kita yakini. Contoh nyata adalah Mahatma Gandhi. Beliau menegakkan kejujuran melalui agama yang diyakininya. Pendapat Moses ditambahkan oleh Deserius Butu bahwa selain agama, kita juga harus kembali ke budaya kita. Ketidakjujuran menjadi hal yang biasa karena saat ini, sanksi yang diberikan tidak seberat masa lalu (masa nenek moyang).

Selain tanggapan di atas, tanggan lain dipaparkan oleh Agustian Tatogo, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma(USD). Tatogo menjelaskan kejujuran harus dimulai dari diri sendiri. Seseorang harus percaya diri (PD) terhadap dirinya sendiri. Untuk menetukan suatu tindakan, entah itu baik atau buruk, dalam dirinya harus mempunyai keyakinan. Keyakinan seseorang adalah awal dari sukses atau tidaknya kejujuran tersebut. 

Tanggapan lain disampaikan oleh Albertus You, Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Jana Badra (UJB). You menambahkan ada tiga unsur  utama untuk mengatasi ketidakjujuran, yakni pertama: kesadaran diri. Ketika melakukan sesuatu, apakah seseorang tersebut sadar akan dirinya atau tidak? Kedua: mempunyai prinsip. Untuk  bertindak sesuatu hal, seseorang harus mempunyai prinsip, punya keyakinan serta selalu optimis. Ketiga: hidup seadanya. Artinya, dalam hidup kita sehari- hari kita hidup apa adanya, jika tidak kaya akan harta duniawi, kita tidak boleh berkeinginan untuk menjadi kaya karena ketika kita bekeinginan untuk menjadi kaya, muncullah sikap dan tindakan ketidakjujuran.

Hal senada pula dilontarkan oleh Andy Pigai, Mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Lingkungan. Andy mengemukakan bahwa manusia hidup antara keinginan dan iman. Keinginan dan iman tidak dapat disatukan karena keduanya bertolak belakang. Keinginan manusia sering kali tidak selaras dengan iman. Manusia pada zaman ini memiliki keinginan tetapi tidak memiliki iman. Hal ini yang menyebabkan munculnya ketidakjujuran di dunia ini. Maka, harapannya agar manusia di dunia ini semakin mengenal iman, berjalan dan bertindak sesuai dengan iman. Iman yang dimaksud adalah keyakinan kita akan Tuhan yang kita yakini.

Pendapat lain tentang kejujuran dimunculkan oleh Stefanus Bukega, Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Jana Badra (UJB). Bukega memaparkan bahwa melakukan ketidakjujuran namun jika demi kepentingan bersama itu tidak jadi persoalan. Yang menjadi persoalan adalah melakukan tindak ketidakjujuran namun untuk kepentingan diri sendiri, misalnya mencari jabatan atau kedudukan, memperkaya diri sendiri. Hal demikian tidak diperbolekan. Memang ada benarnya juga bahwa, untuk melakukan ketidakjujuran itu tergantung situasi dan kondisi pada orang yang melakukan tindakan tidak jujur.

Pada akhir sesi, pemateri menyimpulkan bahwa ketidakjujuran itu bermanfaat untuk mendapatkan jabatan serta untuk mendapatkan kekayaan. Tetapi di balik ketidakjujuran yang dilakukannya tersebut diharapkan agar nantinya akan ada feedback atau timbal baliknya. Tentunya timbal balik adalah hal- hal yang posistif atau bisa membantu masyarakat lain dalam mengembangkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Kejujuran menjadi faktor penentu dalam kehidupan, misalnya kita ingin hidup miskin tetapi bahagia karena jujur atau kaya tetapi tidak bahagia, semua itu tergantung pada  pilihan dari orang tersebut. Acara diakhiri pada pukul 22.00 WIB dengan tepuk tangan meriah. (Agustinus Tatogo)
 
 Sumber:
 http://www.timipotu.blogspot.com/2014/02/asdei-yogya-memperjuangkan-kejujuran.html
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya