.
» » » Pasca Baku Tembak OPM vs TNI-Polri : Giliran, Ribuan Warga Serui Dikabarkan Ketakutan

Pasca Baku Tembak OPM vs TNI-Polri : Giliran, Ribuan Warga Serui Dikabarkan Ketakutan

Penulis By on Monday, 10 February 2014 | No comments

JAYAPURA - Bukan hanya warga Puncak Jaya yang merasa ketakutan, tapi ribuan warga Kabupaten Kepulauan Yapen dikabarkan juga merasakan hal yang sama, pasca baku tembak antara kelompok bersenjata yang diduga OPM dengan pasukan TNI/Polri, Sabtu 1 Febuari lalu. Masyarakat ketakutan keluar rumah untuk beraktivitas, karena pasukan TNI-Polri mengerahkan kekuatan guna mengejar kelompok bersenjata.

Anggota DPR Papua dari daerah Pemilihan Kepulauan Yapen, Boy Markus Dawir mengungkapkan, saat ini sebagian besar warga Yapen ketakutan dan mengurangi aktivitasnya sehari-hari, karena aparat keamanan gabung Polri dan TNI, melakukan pengerahan kekuatan dalam mengejar kelompok
bersenjata. “Sekarang ini, warga Serui takut, mereka trauma karena TNI -Polri kerahkan kekuatannya untuk mengejar kelompok yang berseberangan,”ujar dia saat dikonfirmasi via selulernya Jumat 7 Febuari.

Ketakutan masyarakat timbul, lanjut dia, karena aparat keamanan terkesan mencurigai warga memiliki kaitan dengan kelompok yang berseberangan. “Ada kesan aparat menggenalisir kecurigaannya kepada sebagian besar warga, inilah yang membuat warga ketakutan,”paparnya.

Sebagai wakil rakyat yang berasal dari Kepulauan Yapen, Boy Dawir meminta Kodam dan Polda mengedepankan langkah persuasif, dalam menangani kelompok yang berseberangan. “Saya sangat menghormati tugas TNI dan Polri, namun saya minta Kapolda dan Pangdam menempuh langkah yang baik yakni persuasif, supaya jangan ada jatuh korban lagi,”ucapnya.

Apalagi, sambungnya, Presiden RI sudah menginstruksikan, dalam menangani persoalan di Papua tidak dengan cara militeristik. “Presiden kan sudah tegaskan, masalah Papua tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan tapi dengan langkah persuasif, jadi ini yang harus dikedepankan,”tandasnya.

Ia mengklaim, hampir seluruh warga Yapen trauma pasca aksi bantu tembak terjadi, sehingga juga berimbas pada konsolidasi sejumlah Parpol dalam menghadapi Pemilu. “Warga takut, jadi kami yang jadi caleg juga kesulitan dalam konsolidasi, padahal Pemilu tinggal menghitung hari,”tandasnya.
Erwin Rinaldi Kbarek juga anggota DPRP dari daerah pemilihan Kepulauan Yapen juga menandaskan hal senada, bahwa saat ini warga Serui ketakutan, pasca aksi baku tembak antara TNI-Polri dengan kelompok berseberangan yang diduga OPM. “Warga trauma keluar beraktivitas dan memilih bersiaga di rumah, karena takut,”ucapnya.

Untuk itu, Erwin meminta aparat keamanan dalam mengenai persoalan disana, sebaiknya mengedepankan langkah persuasif. “Aparat keamanan harus persuasif, jika memang ada kelompok yang berseberangan, mari rangkul mereka, karena mereka juga adalah masyarakat kita yang kebetulan berbeda pandangan politik,”tukasnya.

Terhadap ketakutan warga, Polisi sebagai penanggung jawab Kamtibmas, harus bisa memberikan jaminan keamanan. “Polisi harus jamin keamanan masyarakat disana, agar tidak ada lagi rasa ketakutan,”imbuhnya.

Salah seorang warga Serui, Paris Manik yang sehari-harinya PNS dilingkungan Kantor Bupati Kepulauan Yapen juga mengakui, ada ketakutan warga pasca aksi baku tembak antara aparat dengan kelompok bersenjata, “Pasca tembak-tembakan, kami di Serui memang ketakutan disini, dan selalu siaga di rumah, takut terjadi apa-apa,”singkatnya.

Kapolda Papua Irjen Pol Tito Karnavian mengatakan, warga yang merasa ketakutan dan memilih mengungsi, adalah warga Kampung Sasawa dan Kawana lokasi terjadinya aksi baku tembak antara TNI-Polri dengan Kelompok Kriminal Bersenjata. “Mereka mengungsi ke beberapa kampung disekitarnya, karena takut menjadi sasaran,”kata dia.

Menyikapi kondisi itu, lanjut Kapolda, pihaknya saat ini terus berkoordinasi dengan Bupati, Ketua DPRD serta tokoh Mayarakat, guna melakukan komunikasi dengan kelompok sipil bersenjata. “Kami terus membangun komunikasi dengan melibatkan sejumlah elemen masyarakat setempat, baik dalam menangani warga yang mengungsi juga terhadap kelompok kriminal bersenjata,”paparnya.
Kapolda mengklaim, dari hasil pemetaan yang dilakukan, ada tiga kelompok bersenjata yang berada di Kepulauan Yapen. “Ada kelompok yang dipimpin Rudi Orari, Fernando Warobay dan Erik Makatori,”tandasnya.

Sebelumnya, 1 Februari lalu baku tembak terjadi antara kelompokbersenjata dengan aparat keamanan gabungan TNI/Polri di daerah Sasawa. Satu anggota kelompok bersenjata tewas, sedangkan dua aparat keamanan tertembak. Sejumlah senjata api rakitan berhasil disita, diantaranya13 senpi rakitan TDR, 11 Senpi laras panjang dan 2 pendek. 2 sangkur.2 dopis (bom ikan), 2 busur. 20 anak panah,1 tombak, 1 hp. Pakaianloreng, 2 bendera bintang kejora serta bahan makanan dan obat-obatan.

Dari hasil penyelidikan polisi, empat orang telah ditetapkan sebagaitersangka, yakni berinisial SYW (48), JYK (28) , KW (50) dan RB (30).Mereka terancam dengan UU Darurat No 21 tahun 1951. Keempatnyaditangkap saat melakukan penyisiran di tepi pantai Kampung Sasawa, Yapen.(loy/jir/don/l03)

 BINPA



Baca Juga Artikel Terkait Lainnya