.
» » Lucky Kaikatui: pelukis Papua yang sangat prolifik

Lucky Kaikatui: pelukis Papua yang sangat prolifik

Penulis By on Monday, 30 May 2016 | No comments

Lucky Kaikatui dan sebagian karyanya
Dari beranda, ruang tamu, hingga ke dapur rumahnya berjejer berbagai lukisan indah bernuansa alam dan budaya Papua. Nyaris tidak ada tempat yang tersedia untuk menaruh lukisannya yang terus bertambah setiap minggu.

Lucky Kaikatui adalah seorang pelukis Papua yang sangat prolifik. Sayang sekali, kurangnya publikasi di media massa membuat realis yang satu ini tidak dikenal oleh masyarakat pencinta seni Indonesia. 

Karakternya sebagai seorang pelukis sangat kuat. Hal tersebut terlihat jelas dalam goresan-goresan cat minyak yang tegas dan penuh makna.

Sejak kecil ia telah dijuluki oleh teman-temannya sebagai jago gambar di sekolahnya. Sewaktu duduk di kelas satu SD Negeri I Manokwari, gambar pertama yang dibuatnya, “Pendekar Si Kapak Hilang,” langsung diperebutkan oleh teman-temannya. 

Menginjak SMP, Lucky selalu melukis. Karyanya dipamerkan di ruang perpustakaan sekolah. Begitu pula ketika ia harus pindah dari Manokwari ke Jayapura untuk melanjutkan pendidikannya di SMU. Sekali lagi karya–karya Lucky membuat banyak orang terkagum-kagum. Tahun 1985, ia mengikuti lomba melukis tingkat SMU dan Umum se-Papua. Sebagai hasilnya, untuk Tingkat SMU ia mendapat juara I, sedangkan untuk Tingkat Umum ia meraih juara II.

Bakat alam yang dimilikinya ini sempat mengundang perhatian para petinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Irian Jaya. Sebagai hasilnya, walaupun masih duduk di bangku SMU, pada tahun 1986 ia berhasil menyelenggarakan pameran lukisan di Jayapura sebanyak 3 kali. Tiap kali berpameran minimal jumlah lukisan yang dipajangnya adalah 30 buah. 

Pemuda Lucky Kaikatui menamatkan SMU pada tahun 1987. Ia pun berusaha untuk melanjutkan pendidikannya ke ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Sayang niatnya itu tak dapat ia wujudkan karena pihak keluarga tidak sanggup membiayainya kuliah di pulau Jawa. 

Menyadari kondisi perekonomian keluarganya ini, Lucky lalu kembali ke Manokwari dan mengikuti tes penerimaan CPNS. Ia lulus dan diterima sebagai pegawai negeri di Kabupaten Manokwari. Waktu itu Lucky yang masih muda tersebut ditugaskan di Anggi. Iklim di Anggi dingin sekali dan dikelilingi oleh danau serta kawasan hutan yang masih perawan. Lebih memprihatinkan lagi ternyata Anggi sangat terisolasi dari dunia luar. Menurutnya, di samping bekerja, ia sekaligus dapat meresapi keindahan alam Papua yang kelak akan menjadi sumber inspirasi yang berlimpah bagi karya-karyanya. 

Meskipun sudah bekerja sebagai pegawai negeri, kerinduan untuk menimba ilmu di perguruan tinggi tidak pernah surut. Dalam benaknya, suatu saat ia harus mewujudkannya. 
Setelah 3 tahun bekerja di pedalaman dan tidak pernah turun ke kota, tiba-tiba saja ia terserang penyakit Malaria dan harus berobat ke kota. Dalam keadaan sakit itulah Lucky memutuskan untuk berangkat ke kota. Ia harus berjalan kaki selama tiga hari menembus hutan belantara. Agar tidak tersesat, Lucky mengikuti beberapa orang pedalaman Arfak yang juga hendak ke kota. Kenangan berjalan kaki selama tiga hari di tengah lebatnya hutan Arfak kemudian ia tuangkan dalam sejumlah lukisan. Salah satu di antaranya berjudul “Menembus Isolasi untuk Setetes Kehidupan.” Lukisan itu menggambarkan tantangan alam yang dihadapi masyarakat bila mereka hendak pergi ke kota hanya demi membeli sedikit bahan kebutuhan pokok seperti garam, gula atau minyak goreng. Selain belum ada jalan beraspal, terdapat pula sungai-sungai besar. Dalam keadaan banjir sungai-sungai itu tidak bisa disebrangi. Penduduk harus berjalan di atas pohon-pohon yang telah tumbang. 

Persoalan itu kemudian disampaikannya kepada bupati Manokwari yang ketika itu adalah Drs. Esau Sesa berupa sebuah lukisan. Ternyata pak bupati tidak hanya menanggapinya dengan baik dan kaget melihat karyanya. “Pelukis berbakat seperti harus diberi kesempatan untuk mengembangkan karya-karyamu sebagai appresiasi terhadap seni dan budaya Papua,” komentar bupati kepadanya. Lucky selanjutnya mendapat izin bupati untuk meneruskan studinya di pulau Jawa. Keberangkatannya ke sana dalam rangka tugas belajar dari pemerintah daerah.

Berdasarkan arahan dari petugas pemda, ia diharuskan mengambil jurusan cinematography di Institut Kesenian Jakarta. Walaupun begitu, Lucky setiap saat terlihat nongkrong di jurusan seni lukis. Akhirnya ia pun diterima di jurusan tersebut dan langsung menempati Semester IV program D III Seni Lukis IKJ. 

Selama belajar di IKJ, Lucky dan kawan-kawannya pernah melakukan studi banding di ISI Yogja, sekolah yang telah didambakannya sejak masih di SMU dulu. Sehabis belajar dengan seniman Yogja, ia pun berangkat ke Ubud, Bali guna menuntut ilmu di bawah bimbingan Prof. Srihadi selama satu bulan. Lucky juga berkesempatan belajar dan melihat karya-karya Anthony Blanco, Arie Smith, Eisnel, dan I Nyoman Made Lempar.

Setelah mengembara selama 8 tahun di pulau Jawa dan Bali, maka pada tahun 2000 Lucky dipanggil pulang ke Papua. Ia harus menemani ibunya yang sedang sakit keras.
 
Di Manokwari Papua, ia kembali bekerja seperti sedia kala sebagai pegawai negeri di kantor gubernur IJB. Tidak lama kemudian Lucky turut membidani lahirnya PUMA – Perupa Manokwari. Organisasi ini berfungsi sebagai wadah berkumpulnya seniman Manokwari yang peduli untuk mengangkat kembali kekayaan budaya Papua supaya lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Keahliannya melukis dibagikan pula kepada orang lain yang tertarik mendalaminya. Saat ini ia sedang membina sejumlah anak-anak Papua dengan biayanya sendiri. Pelukis-pelukis remaja ini antara lain Yabal Marbuan, Alberth Marbuan, Alberth Warijo, Carlos, Septinus dan Mesakh, sebagian masih sekolah sisanya sudah drop-out. Harapan Lucky Kaikatui, semoga anak-anak didiknya tersebut, bersama dengan pelukis - pelukis senior, bisa berjuang melestarikan nilai-nilai kultur dan keindahan alam Papua yang semakin terkikis oleh arus modernisasi dan trend globalisasi. 

Bagi Lucky Kaikatui melukis adalah bagian dari perjuangan itu. Ia selalu mengingatkan generasi muda Papua agar tidak meninggalkan kekayaan budaya mereka yang begitu beragam dan tak ternilai harganya. 

Pelukis Lucky Kaikatui bersama
istrinya (Rahab) dan
anak-anaknya: Calvin Cahaya Cendrawasih (7),
Bernilai (2),
Selviana (6 bulan)
Kekayaan budaya Papua ini adalah salah satu aset budaya di Nusantara yang perlu dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda. Setiap lukisan yang dibuat Lucky selalu memiliki latar belakang cerita yang menarik. Contohnya, Hidup Atau Mati, lukisan ini menceritakan saat-saat menegangkan antara burung Kasuari dan si pemburu. Kakeknya Lucky adalah seorang pemburu Kasuari yang sangat terkenal di kampungnya. Dari cerita kakeknya, jika tombak yang dilempar tidak mengenai sasaran, sang pemburu bisa mati ditembusi tendangan tiga cakar Kasuari yang tajam.

Lucky Kaikatui kurang dikenal oleh masyarakat pencinta seni Indonesia. Mungkin ia tinggal di Papua, jauh dari jangkauan media massa nasional. Berbagai pameran lukisan yang digelarnya baik di Manokwari dan Jayapura kurang mendapat peliputan media massa yang semestinya. Walaupun belum banyak lukisan yang berhasil dijualnya, bukan berarti bahwa karya-karyanya kurang diminati masyarakat. Ia hanya belum dikenal oleh dunia luar terutama para kolektor seni.

Kondisi ini tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berkarya. Setiap minggu Lucky menghasilkan lukisan-lukisan yang baru. Kanvas dibuatnya sendiri. Teknik pembuatannya sudah dikuasainya sewaktu kuliah di IKJ dulu. 

Sang isteri (Rahab) sudah memaklumi kecintaan suaminya pada seni lukis. Oleh karena itu, dengan sepenuh hati ia mendukung suaminya yang idealis ini. Lucky Kaikatui sekeluarga tinggal di sebuah rumah kecil di Jalan Brawijaya No. 08, Jati, Manokwari. Papua Barat. Ia bisa dihubungi pada di. telp. 0986 213466


 http://www.geocities.ws

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya