Showing posts with label Militer. Show all posts
Showing posts with label Militer. Show all posts

Resolusi Tahun Baru ala Sukarno: "Rebut Papua dari Belanda"

Ilustrasi pidato Soekarno menjelang pertempuran Trikora di Papua Barat. FOTO/Istimewa

.Dalam sebuah pidato di Istana Negara pada 19 Mei 1962, Presiden Sukarno berkata kepada hadirin upacara pelantikan penerbang Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Isinya tidak jauh soal kebanggan terhadap militer yang dimiliki Indonesia dan kampanye “pembebasan Irian Barat”.

Menurut Sukarno, meski terdapat beberapa kekurangan, angkatan perang yang dibangun pemerintah Indonesia sejak merdeka, 17 Agustus 1945, semakin sempurna dan kuat. Capaian tersebut, bagi Sukarno, amat penting guna menjadikan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), termasuk AURI di dalamnya, sebagai alat untuk merebut Irian Barat – yang dikenal juga dengan sebutan Papua – dari kuasa Belanda.

Pidato berjudul “Kita: Angkatan Perang yang Kuat” itu termuat dalam buku Bung Karno: Masalah Pertahanan-Keamanan (2010) yang disunting Iman Toto K. Rahardjo dan Suko Sudarso.

Dalam pidato itu tersurat Sukarno punya tekad merebut Papua sebelum tahun 1962 berakhir. Laiknya menyatakan resolusi tahun baru, presiden Indonesia pertama itu berkata, “Irian Barat harus merdeka, bebas masuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik sebelum ayam jantan berkokok pada tanggal 1 Januari 1963.”

Kata-kata “ayam jantan berkokok pada tanggal 1 Januari 1963” itu pun tidak hanya disebut sekali. Ia muncul juga dalam pidato "Menghadapi Saat-saat yang Menentukan" yang disampaikan Sukarno pada Pelantikan Perwira-perwira Remaja Akademi Angkatan Laut (AAL) di Surabaya, 17 Juni 1962.

“Kehendak rakyat ialah bahwa pemerintah Republik Indonesia telah tertanam, tertanam di Irian Barat sebelum ayam jantan berkokok pada tanggal 1 Januari 1963,” sebut Sukarno.


Konfrontasi Sebelum Ayam Jantan Berkokok

Ambisi itu ingin digapai Bung Karno sejak lama. Segala upaya pun dikerahkan. Salah satunya tergambar dalam tindakannya terhadap Papua semasa menjabat presiden dari 1945 hingga 1966.

Ulf Sundhaussen, dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967 (1986, hlm. 274-277) menyatakan ada tiga hal yang menjadi program jangka pendek Kabinet Kerja tahun 1959, yakni penyediaan sandang dan pangan bagi rakyat, pemulihan keamanan dalam negeri, "pengembalian" Irian Barat.

Sundhaussen juga mencatat, pada 1960 Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda. Kemudian, pada awal 1961, Sukarno mengimbau para kepala staf angkatan perang mempersiapkan diri untuk melancarkan aksi militer perebutan wilayah Papua.

“Bagi Presiden, masalah Irian Barat mempunyai prioritas paling tinggi,” sebut Sundhaussen. Ini berpuncak kala Sukarno menyatakan konfrontasi terhadap Belanda dalam pidatonya di peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1961.

“Kita tidak akan membuang-buang kata lagi dengan Belanda sekarang! Irian Barat harus secepatnya dikembalikan ke dalam wilayah kekuasaan Republik. Pada waktu ini kebijaksanaan kita terhadap Belanda adalah kebijaksanaan konfrontasi di segala bidang – bidang politik ekonomi ya bahkan dalam bidang militer!” sebut Sukarno.

Di sisi lain, Belanda juga semakin memperuncing. Ester Yambeyapdi, dalam artikel berjudul “Papua Barat dalam Perundingan”, yang dimuat di Jurnal Sejarah (Vol. 6, No. 1, Agustus 2004) membeberkan, pada Sidang Umum PBB September 1961 delegasi Belanda mengajukan "Usulan Luns". Kata Luns diambil dari nama Menteri Luar Negeri Belanda saat itu, Joseph Marie Antoine Hubert Luns.

Isi usulannya agar Papua berada di bawah perwakilan PBB dan kemudian diberikan "penentuan nasib sendiri" menuju kemerdekaan.

Sikap Belanda tersebut dibalas Menteri Luar Negeri Indonesia saat itu, Subandrio. Menurutnya, jika PBB menerima usulan Belanda, itu membenarkan hak Indonesia untuk mengusir Belanda dengan kekerasan. Pada akhirnya, usulan Belanda tersebut ditolak Majelis Umum PBB.
 Berselang tiga bulan kemudian, pada 19 Desember 1961, Presiden Sukarno mengumumkan kampanye Tri Komando Rakyat. Dia menyerukan, pertama, untuk menggagalkan pembentukan negara boneka Papua. Kedua, untuk mengibarkan bendera merah putih di Irian Barat. Dan ketiga, untuk bersiap-siap bagi mobilisasi umum.

Nugroho Notosusanto, dalam Sedjarah Operasi2 Pembebasan Irian Barat (1971), menyebutkan pada 2 Januari 1962, melalui, Keputusan Presiden Nomor 1/1962, Sukarno membentuk Komando Mandala yang bertugas melancarkan operasi militer untuk merebut Papua. Komandan operasi tersebut adalah Seoharto yang saat itu berpangkat mayor jenderal.

“Ini dilakukan sementara Indonesia masih dalam proses merundingkan pengembalian Papua. Dengan Demikian Indonesia menggunakan tekanan militer untuk memperoleh persyaratan yang menguntungkan baginya,” sebut Sundhaussen.

Karena Perjanjian New York

Dua bulan selepas pidato Sukarno di AAL, Indonesia tampak berhasil mendepak Belanda dari Papua.

Pada 15 Agustus 1962, Indonesia dan Belanda menandatangani Perjanjian New York. Isinya menyatakan bahwa Belanda akan menyerahkan kekuasaannya atas Papua kepada United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA). Lembaga tersebut yang bakal menyerahkan kekuasaan atas Papua kepada Indonesia.

Perjanjian itu mengatur bahwa Indonesia harus melaksanakan suatu Act of Free Choice atau penentuan pendapat orang Papua mengenai kesediannya menjadi bagian dari Indonesia atau tidak sebelum akhir tahun 1969. Kegiatan tersebut berada dalam pengawasan PBB.

Akhirnya, pada 1 Oktober 1962 Belanda menyerahkan otoritas administrasi Papua kepada UNTEA. Lalu, sebagaimana dicatat Nugroho, pada 31 Desember 1962, bendera merah-putih-biru Belanda resmi diturunkan, diganti bendera merah-putih Indonesia, sebagai tanda dimulainya kekuasaan de jure Indonesia, di bawah pengawasan PBB, atas Papua.

Mimpi Sukarno untuk menjadikan Papua masuk dalam wilayah Indonesia semakin dekat realisasinya sebelum ayam jantan berkokok 1 Januari 1963. Namun, dia tidak lagi menjabat presiden saat Act of Free Choice yang digelar pada 1969 karena kadung lengser pada 1966 digantikan Soeharto.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam

 
 
 

EMPAT ANGGOTA POLISI TEROR Pdt SOCRATES SOFIAN YOMAN.

Pdt . Yoman
PAPUA(UMAGI)-- Aksi teror kembali terjadi di Papua, sekitar pukul 19.30 (06/7) tadi, di jalan raya dari Kota Raja-Abepura, depan Saga Mall.

Sekita 4 orang anggota Polisi dari Satuan Brimob POLDA Papua, menahan mobilnya Pdt. Socrates Sofian Yoman, Ketua Sinode Babtis besera Ibu, bersama Matius Murib, mantan Wakil Ketua KOMNAS HAM Papua dan tiga orang anaknya yang hendak pulang setelah ibadah di Kota Raja Luar. Membuka paksa, pintu mobil dengan tangan kosong dan senter yang dipegang pada tangan sebelah salah satu anggota brimob ini dipasangnya dan tujukan langsung ke arah mata Pdt Yoman sambil mengatakan "anda kenapa berhenti disini? anda siapa?, kerja dimana?, dinas mana? kalau anda tidak senang polisi bicara, jangan caranya begitu" ungkap mantan wakil ketua KOMNAS HAM Papua


lanjud murib kepada media bahwa, rupanya mulai dari depan Kantor Perpustakaan Daerah di kota raja, Polisi yang telah menaiki dalam Mobil Truk merasa disenter dengan lampu sorot.

pada saat aksi tidak etis dan sikap arogansi, keempat orang polisi tersebut, Pdt Yoman hanya mengatakan beberapa kali dengan kata "saya minta maaf, saya tidak sengaja" tetapi dalam tempo lima menit polisi tetap bersih keras dengan nada keras memberikan tekanan tekanan pada seorang tokoh dan pimpinan gereja. ungkap Matius Murib.

Sementara itu, Mantan Wakil Ketua KOMNAS HAM Papua ini, mengaku kepada media, sempat mengingatkan kepada anggota Polisi untuk bicara baik-baik dengan seorang tokoh, dan dengan tegas saya mengatakan "anda tahu-tidak ini Pdt Sokrates Sofyan Yoman, Ketua Sinode Gereja Babtis Papua".

Setelah itu, ada seorang Polisi lain (senior) juga datang lalu meredahkan emosi anggota polisi yang sedang meror ketua sinode
ini.lalu akhirnya mereka pulang.

Masalah yang dilakukan ini akan dilaporkan kepada Wakapolda Papua, ungkap Matius kepada ke empat anggota polisi. "silahkan lapor saja, kami tidak takut", balas salah seorang anggota polisi. lalu mereka hentikan aksinya kemudian menuju ke arah Kantor Polsek Abepura.

Dari aksi yang dilakukan keempat Anggota Polisi ini, Mantan KOMNAS HAM Papua mengaharapkan agar Kapolda Papua dapat memeriksa dan memproses hukum terhadap keempat anggota yang bersifat arogan yang sewenang-wenang terhadap seorang tokoh masyarakat papua. Hal ini dinilai sebagai upaya profokasi dan memancing emosi masa masyarakat Papua. Untuk itu, kami meminta hentikan cara-cara teror dan kekerasan terhadap orang asli papua, dan orang papua tetap sabar dan mendorong
dialog damai jakarta-papua. (KADEPA)

SUMBER; FACEBOOK.COM

TNI Siap Hadapi Kelompok Separatis Bersenjata di Papua

SEMARANG - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman menyatakan TNI siap untuk menghadapi gerombolan separatis bersenjata di Papua menyusul sering terjadinya gangguan keamanan dari kelompok separatis bersenjata.

KSAD mengatakan, kelompok bersenjata di Papua itu berada di daerah tengah sehingga sering terjadi gangguan keamanan sehingga menyebabkan terjadinya kontak tembak antara TNI dan kelompok bersenjata.

"Beberapa waktu lalu kita telah berhasil menembak satu orang dari separatis bersenjata, menawan 10 orang dan menyita sebanyak 18 pucuk senjata rakitan. Dengan mereka terus mengganggu keamanan, kami tetap waspada. Pada prinsipnya masyarakat Papua adalah saudara dan bangsa kita juga yang berhak untuk mendapatkan perhatian, kami tingkatkan kesejahteraan, pendidikannya dan memberikan rasa keadilan bagi rakyat Papua," tegasnya.

Tetapi bagi gerakan pengacau keamanan bersenjata mereka akan berhadapan dengan TNI sesuai dengan tugas TNI untuk menghadapi gerombolan separatis bersenjata atau pemberontak bersenjata. Sehingga KSAD meminta untuk terus tingkatkan kewaspadaan dan juga profesionalisme TNI.

Kontak tembak antara TNI dan kelompok separatis bersenjata terjadi Sabtu (1//2) lalu di Kampung Sasawa Distrik Yapen Barat, Kabupaten Kepulauan Yapen. Saat itu Tim Gabungan dari TNI AD dan Polri sedang melakukan patroli di daerah setempat.

Setelah sebelumnya kejadian itu, Tim Gabungan memperoleh informasi dari intelejen adanya "latihan militer" dari kelompok

radikal bersenjata di DistrikYapen Barat. Baku tembak pun tak terhindarkan karena petugas mendapatkan tembakan dari separatis.

( Yulianto / CN26/, suaramerdeka.com )

http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2014/02/11/190582



Korban Penembakan Oleh Militer Indonesia, Terhadap Warga Sipil Di Kabupaten Puncak Jaya

Korban Penembakan oleh Militer Indonesia
Puncak Jaya,KNPBNews – Mulia Kabupaten Puncak Jaya, 26/01/2014 pukul 8:00 pagi wpb, Kabupaten Puncak Jaya distrik Mulia, terjadi pengerebekan dan pemukulan terhadap rakyat sipil yang tidak tahu apa-apa, saat itu, Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) jemaat Dodopaga dan jemaat Kulirik sedang beribadah, secara tiba-tiba ada bunyi tembakan dan anggota Brimob dan Densus 88 langsung di kepung masyarakat di dalam gereja, dan gereja pun di bakar oleh militer Indonesia.
Dalam insiden ini di kabarkan bahwa, Pdt, Gembala dan jemaat Tuhan dalam gereja hari itu dapat penyiksaan dan intimidasi yang luar biasa oleh aparat keamanan Indonesia yang berada di puncak Jaya, mereka ditikam dengan pisau sangkur dan saat ini di rawat di rumah sakit umum di Mulia.  Insiden ini ada dua rakyat sipil yang korban pemukulan oleh militer Indonesia, nama-nama sebagai berikut; 1. Lurugwi Morib, sebagai kepala Desa setempat dan 2. Pamit Wonda, sebagai Gembala jemaat setempat.
Saat ini situasi di Kabupaten Puncak Jaya darurat militer, dan hampir semua masyarakat pengungsi ke hutang, dan ada yang pengungsi ke Kabupaten terdekat seperti Kab, Tolikara, Lani Jaya, dan Puncak Ilaga, dan masyarakat dalam kota juga tidak bisa bergerak keluar tetapi tetap harus terkurung di dalam rumah, karena masyarakat sipil di jalan-jalan semua dia angap anggota TPN-OPM oleh militer Indonesia.
Oleh karena itu dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Yamo, puncak Jaya, memohon kepada seluruh rakyat bangsa Papua Barat dari Sorong sampai Merauke, tolomg mendukung di dalam doa bagi rakyat yang ada di Kabupaten Puncak Jaya, saat ini sedang mengungsi ke hutang tahan lapar dan haus, tahan dingin, hujan dan panas di hutang rimbah, demi bangsa dan tanah air kita West Papua
Sumber  :  http://knpbnews.com/?p=3516




Indonesian military ‘development’ program spreads fear in West Papua

The military presence in West Papua is almost always accompanied by human rights violations such as killings, arbitrary arrests, rape and torture.
© Survival International
Papuan leaders have voiced their concern at plans for more than a thousand Indonesian soldiers to build 1,500 km of new roads in the next two years to accelerate ‘development’ inWest Papua.
The government claims that unrest in the region is caused by a lack of ‘development’, while Papuans blame their problems on the violation of their political and human rights. Survival International and many Papuans fear that the influx of soldiers will bring neither development nor peace to the region.
One Papuan leader, Rev Socratez Yoman, told Survival, ‘The West Papuans do not need big roads, but a better life on their own land, without intimidation, terror, abuses and killings’.
Another leader, Markus Haluk, warned that the roads would open up the forests to illegal logging, much of it likely to be at the hands of the military.
The military presence in West Papua is almost always accompanied by human rights violations such as killings, arbitrary arrests, rape and torture.
So-called ‘development’ has already inflicted enormous damage to the Papuan people. Despite the presence of the world’s biggest gold mine, West Papua remains the poorest region in Indonesia with an HIV/AIDS rate thought to be 20 times higher than the rest of the country. Many of the cases of HIV/AIDS can be traced back to the commercial sex industry, which has accompanied the arrival of migrant workers in the fishing, logging and mining industries.
Many Papuans believe that the military have a vested interest in introducing HIV/AIDS in West Papua and see it as an attempt at ethnic cleansing. In some areas the military have supplied alcohol and prostitutes to bribe tribal leaders in order to gain access to their land and its resources. The disease is devastating some tribes. Rates are especially high in areas where so-called ‘development’ has already taken place, such as close to the US- and British-owned Grasberg mine.
Survival International is calling on the government of Indonesia to end human rights violations in West Papua and to enter into meaningful talks with the Papuan people so they are able to decide their own way of life, their own development priorities and their own future.
For more information about the impact of imposing ‘development’ on tribal people see Survival’s campaign Progress Can Kill.

http://www.survivalinternational.org/news/9173

 


Posted at 20:58 on 22 April, 2013 UTC
Six members of the pro-independence West Papua National Committee, or KNPB, from Timika in the Indonesian region, have been jailed for one year.
They were sentenced on charges of carrying dangerous weapons and for treason, but their lawyers asserted the six were non violent activists and that no case had been proven against them.
They say they will lodge appeals against the sentence.
West Papuan media reporting on the trial have described the court decisions as farcical.
The six were arrested in October last year amid a crack down on KNPB activists by Indonesia’s counter-terror unit Detachment 88.
 

 

 
 

4 Kopasus Tertembak di Distrik Sinak, Dikatakan 4 Masyarakat Sipil Pembohongan Publik

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)-Organisasi Papua Merdeka (OPM), bertahan memperjuangkan demi hak politik Kemerdekaan bangsa Papua Barat. TNI/POLRI mempertahankan demi  keutuhan NKRI.
Puncak Jaya, Peristiwa Penembakan yang terjadi di Puncak Jaya waktu lalu 21/2/2013, yang mana Polda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih menyatakan, 4 masyarakat sipil tukang bangunan tertembak oleh TPN-OPM pimpinan Jendral. Goliath Tabuni, adalah pembohongan public.
Bukti: Peti yang Berisi 13 Pucuk Senjata Jenis M-16, Penyimpanan 4 Kopasus telah ditangan TPN-OPM
Bukti: Peti yang Berisi 13 Pucuk Senjata Jenis M-16, Penyimpanan 4 Kopasus telah ditangan TPN-OPM
Hal ini dikatakan seorang anggota TPN-OPM dari Puncak Jaya kepada Admin WPNLA. Ia menyelaskan peristiwa penembakan itu, ”4 orang Kopasus menjamar sebagai tukang bangunan kami tembak. 4 Kopasus itu juga menyimpan senjata laras panjang jenis M16 dalam satu peti yang terkunci mati, kami bawa keluar. Senjata itu, sekarang kami pegang jumlah 13 pucuk. Sekarang kekuatan kami sudah banyak, untuk lawan balik TNI/POLRI yang kejar kami”. Ujarnya melalui via telepon seluler.
Tambah sumber, “Selain itu kami juga berhasil ambil senjata laras panjang 1 M-16 dan Pistol 1 jenis F-46. Ambil senjata itu setelah kami tembak 2 anggota TNI 753 Nabire di Tingginambut”, pada (21/2/2013).
Keempat Kopasus yang tertembak diantaranya, Yohanes Palimbung,  Yuli,  Markus Kevin Rendenan  dan  Rudi. Mereka ini murni anggota Kopasus. Hal ini membenarkan, dari kepemilikan senjata dengan jumlah banyak 13 pucuk senjata dan dari informasi yang diperoleh Admin WPNLA.
Ditanya terkait situasi sekarang di Puncak Jaya, pada (28/2/2013). “Aparat gabungan guna menembak TPN-OPM masuk di Markas TPN-OPM di Tingginambut. Namun tepat pukul 6:00 pagi wp dekat kampung Berime Distrik Tinggnambut terjadi baku tembak antara TPN-OPM dan TNI/POLRI. Baku kontak senjata itu TPN-OPM berhasil mengusir aparat gabungan sampai mereka undur di kali Berime sebelah. Tetapi karena mereka kalah, emosi mereka itu lampiaskan dengan menembak Babi piaraan masyarakat sipil dan bakar rumah-rumah masyarakat sipil, itu yang mereka lakukan di kali sebelah”. Kata anggota TPN-OPM itu yang namanya minta dirahasiakan.
Tuduhan Polda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih kepada TPN-OPM Pimpinan Jendral. Goliath Tabuni, dikabarkan pada beberapa media bahwa pada (21/2/2013) TPN-OPM menembak mati 4 masyarakat sipil tukang bangunan di Distrik Sinak, adalah mustahil, penipuan terdahap public.
TPN-OPM mengerti aturan perang. TPN-OPM tidak bisa menembak sembarang seperti masyarakat sipil tukang dan pedakang lainnya. Jika TPN-OPM menembak seseorang, berdasarkan data intelejen TPN-OPM.
Data tersebut membenarkan bahwa itu betul, aparat menyimpan senjata dengan dali membunuh masyarakat Papua setempat, maka TPN-OPM menembaknya. Kemudian siapapun dia yang memiliki senjata selain TPN-OPM di Papua adalah musuh abadi TPN-OPM. Kecuali masyarakat sipil yang tidak memiliki senjata.
TPN-OPM tidak seperti TNI/POLRI yang tidak tahu aturan. TNI/POLRI yang selalu menyiksa dan membunuh masyarakat sipil Papua. Contohnya seperti penyiksaan terhadap orang tidak bersalah Tunaliwor Kiwo, Telenggen Kire, adalah masyarakat sipil, yang jadi korban penyiksaan pada 30 Mei 2010 dari Pos TNI 753 Nabire yang ditempatkan di Nelime Kabupaten Puncak Jaya Distrik Tingginambut. Kemudian penyiksaan itu di Papua daerah lainnya terus dilakukan, tidak hanya terjadi di Puncak Jaya Papua.
Demikian, tidak hanya terjadi penyiksaan, pula pembunuhan terus terjadi seperti dikabarkan www.suarapapua.com diberitakan oleh media ini, “pada tanggal 21 November 2012, dua orang oknum anggota TNI menembak mati pendeta wanita Frederika Metalmeti. Korban tertembak oleh salah satua anggota kesatuan Korem 174/ATW Merauke, tidak hanya itu di seluruh tanah Papua daerah manapun terus terjadi hal itu.
Hal itu terjadi karena TNI/POLRI tidak tahu aturan perang. Sangat memalukan tidak tahu aturan perang, padahal Negara yang telah sekian lama merdeka. TPN-OPM justru lebih mengerti dan turuti aturan perang. Sangat disanyangkan Polda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih atas perlakuan anggotanya.
Distrik Tingginambut, perang antara TPN-OPM dan TNI/POLRI belum berhenti. Perang masih dilakukan, TPN-OPM pimpinan Jendral. Goliath Tabuni dengan dalih untuk merebut kemerdekaan bangsa Papua dari tangan kolonialis Indonesia. TNI/POLRI dengan dalih untuk mempertahankan Papua bagian dari NKRI. Perang ini sampai kapan pun tidak akan pernah selesaikan, di selurh tanah Papua, bukan hanya di Tingginambut. Pemerintah Indonesia tidak mampu menyelesaikan konflik tuntutan Kemerdekaan.
TPN-OPM bertahan memperjuangkan hak kemerdekaan bangsa Papua. TNI/POLRI mempertahankan keutuhan NKRI. Dampak ini mengakibatkan masyarakat sipil Papua semakin bertambah korban. Untuk mengatasi korban masyarakat sipil Papua, perlu upaya intervensi Internasional. Demi menyelamatkan rakyat bangsa Papua yang mana bagian dari umat Tuhan.
Admin WPNLA, Pemberitaan di Publik oleh Polda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih adalah penipuan besar. Dikatakan 4 masyarakat sipil, yang mana mengaku tukang
Foto: Pemakaman 4 Kopasus, yang dikatak 4 Warga itu.
Foto: Pemakaman 4 Kopasus, yang dikatakan 4 masyarakat sipil itu.
tukan bangunan adalah pembohongan public.
Mana mungkin seorang masyarakat menyimpan senjata dalam peti dengan jumlah 13 Pucuk senjata laras panjang jenis M-16 itu?
Akhirnya TPN-OPM berhasil juga e… senjata tersebut pindah tangan. Oh…. ternyata 4 masyarakat tukang bangunan yang dikatakan Polda Papua dan Pangdam XVII Cendrawasih itu Kopasus eeee….. Oh…. Ya betul pemakaman juga Kopasus yang kubur mayat itu. Tukang bangunan itu bisa juga e… menyimpan 13 pucuk senjata jenis M-16 dalam 1 peti.
Polda Papua dan Pagdam XVII Cenderawasih, untuk apa itu tukang bangunan menyimpan 13 pucuk senjata?

sumber: www.wpnla.net

PANIAI: KONTAK SENJATA TPN-OPM VS TNI-POLRI 2 ANGGOTA TNI DI TEMBAK, 3 WARGA SIPIL TANGKAP DAN 3 MESIN PERAHU JONSON DI RUSAK POLISI

Ilustrasi@umaginews.com
PANIAI -- GriliawanTentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka  (TPN-OPM) Wilayah Paniai melawan Aparat Gabungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesi (TNI-POLRI) Dua anggota TNI dari Batalyon 753  mengalami luka tembak akibat diserangan tersebut.

Menurut  Tpn-Opm melalui Pernyataannya Sikap menyataan bahwa kami siap melawan Kolonial Indonesia sampai dunia Kiamat, disampaikan oleh Pimpinan Tpn-Opm wilayah Paniai ( Jhon M Yogi). Kami berjuang bukan soal makan dan minum tapi tujuan utama Perjuangan kami demi  merebut Kedaulatan Negara West Papua.

Mereka juga menyatakan bahwa Kemerdekaan Ialah hak segala Bangsa, maka Indonesia segarah Mengakuinya kedaulatan Negara kami yakni Negara West Papua. (www.edudanews.blogspot.com)

Menurut Informasi dari warga  sipil setempat Mengatakan   bahwa terjadi saat tim gabungan mengawal pengiriman logistik pilkada ke Distrik Kebo.  Tim gabungan Tni-Polri yang menggunakan  tiga Speed Boat dari  Enaro ke distrik Paniai Utara kebo  pada Kamis (11/10) siang, di kali Waneuwo di hadang oleh Pasukan Giriliawan  Pejuang Kemerdekaan Papua Merdeka (Tpn-Opm). melalui Sms singkat.

Saat rombongan yang menggunakan tiga speedboat memasuki muara sungai Kebo, tiba-tiba TPN/OPM menyerang dengan menembaki iringan speedboat yang dinaiki anggota Tni-Polri. Akibat serangan TPN/OPM,  kata Kapolres Paniai, AKBP Anthon Diantje kepada ANTARA, dua anggota TNI terluka serta satu speedboat tenggelam. Menurutnya, serangan TPN/OPM itu dibalas anggota sehingga terjadi kontak senjata dan rombongan berupaya kembali ke Enarotali.

Kedua anggota Yon 753 itu masing masing Praka Aris mengalami luka tembak di tangan dan kaki. Sedangkan Praka Arisoni Wembi mengalami luka tembak ditangan dan saat ini masih ditangani tim medis RSUD Paniai. (www.mertrotvnews.com)
Kemudian Tni-Polri Marah dan menembakki perahu Jonzon Milik Masyarakat Sipil daerah Aikai Enarotali. masayarakat yang sedang berlabu di palabuhan Aikai Enarotali mengakibatkan jonson berlubang sebanyak  tiga Mesin perahu jonsonn yang rusak ditembaki. Di lanjut Warga sipil Bobaigo Ibu Kota Enarotali di Tangkap tanpa alasan Jelas masing-masing mereka masih di tahan di Kantor polisi guna mintah keterangan. (www.tabloidjubi.com)

Tni-Polri juga penyisiran brutal di sekitar kota enarotali. Kini kota Enarotali dan Madi sepih. Warga sipil sedang mengungsi ke kampung-kampung dan ke hutan. Perahu dan janson milik masyarakat dihancurkan oleh TNI-POLRI. Korban  dan kerugian material lain belum diketahui. (Un/Ag)

Sumber: umaginews.com
 
 
 

TNI Belum Bisa Pastikan Kelompok Penyerang di Puncak Jaya


Jayapura - Delapan anggota TNI dan dua warga sipil tewas dalam baku tembak dengan kelompok sipil bersenjata di dua wilayah berbeda di Kabupaten Puncak dan Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

Kodam XVII Cenderawasih belum bisa memastikan kelompok yang bertanggung jawab atas rangkaian penyerangan mematikan tersebut.

Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih Letkol Jansen Simanjuntak di Jayapura, Kamis (21/2/2013), mengatakan pihaknya masih belum bisa memastikan kelompok bersenjata yang bertanggung jawab karena belum dilakukan olah tempat kejadian perkara dan masih fokus proses evakuasi korban menuju kota Jayapura.

“Kalau di Tingginambut selama ini kita tahu ada kelompok pimpinan Goliath Tabuni, dan untuk wilayah Sinak biasanya ada kelompok Yambi di bawah pimpinan militer Murib yang sering beroperasi. Hanya saja belum bisa kami pastikan. Pengejaran terus dilakukan,” terang Jansen.

Jansen mengatakan, baku tembak terjadi setelah kelompok sipil bersenjata menyerang pos TNI di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, serta menghadang pasukan TNI di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, pada Kamis (21/02) pagi.

Dalam baku tembak di Distrik Sinak, tujuh orang anggota TNI tewas, sedangkan baku tembak di Distrik Tingginambut, mengakibatkan satu orang anggota TNI dan dua orang warga sipil tewas, serta seorang TNI lainnya terluka, kata Jansen Simanjuntak. [ksr]
------------------
sumber :  city.seruu.com



8 Anggota TNI & 2 Warga Tewas


Kodam XVII Cenderawasih Benarkan 8 Anggota TNI & 2 Warga Tewas 
 
Pihak Kodam XVII Cenderawasih mengakui korban tewas sebanyak delapan anggota TNI dan dua warga sipil, akibat baku tembak antara TNI dan kelompok sipil bersenjata di dua wilayah berbeda di Kabupaten Puncak dan Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Kamis (21/02/2013) pagi. 
"Total korban tewas TNI 8 orang, dan 2 orang masyarakat sipil," kata Kapendam XVII Cenderawasih, Letkol Jansen Simanjuntak, seperti dikutip dari BBC Indonesia, Kamis (21/2/2013) siang.
Menurutnya, baku tembak terjadi setelah kelompok sipil bersenjata menyerang pos TNI di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, serta menghadang pasukan TNI di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, pada Kamis (21/02) pagi.

Dalam baku tembak di Distrik Sinak, tujuh orang anggota TNI tewas, sedangkan baku tembak di Distrik Tingginambut, mengakibatkan satu orang anggota TNI dan dua orang warga sipil tewas, serta seorang TNI lainnya terluka, kata Jansen Simanjuntak.

Menyinggung rencana penambahan pasukan, Jansen mengaku belum ada penambahan pasukan sementara ini. Apalagi saat ini masih tergolong situasi aman sehingga TNI belum bisa melakukan sweeping ataupun aksi lainnya karena bukan darurat militer, sehingga masih kewenangan pihak kepolisian. [ksr]




650 Prajurit TNI Berangkat ke Papua dengan KRI Banda Aceh

( Ilustrasi/ edukasi.kompasiana.com)
Jakarta, (Rasudofm) - Pangdivif-1 Kostrad Maj. Gen. Daniel Ambat act as Inspector departure ceremony at the release ceremony of 650 Warrior Battalion-321 Kostrad to the assignment in order Pamtas RI-PNG, at Kolinlamil, North Jakarta, Monday (28/01/2013 ). Such releases are sent to the editor Tribunnews.com.

In his speech, Pangdivif-1 Kostrad asked Kostrad-321 Infantry soldiers to always adhere to the Sapta Marga, Soldier's Oath and 8 Compulsory military in any task, especially in the approach to the local community, in-depth study of customs and habits. At the end of its mandate, Pangdivif-1 Kostrad advised that each individual's health care and pay attention to the safety factor for the task in the area of ​​operations.

Battalion-321 Kostrad set using KRI Banda Aceh and will travel for ± 2 weeks to arrive in Papua.



source: tribunnews 


650 Prajurit Yonif Jalani Latihan Pra Tugas

SIAPKAN PASUKAN. Kasdam VII/Wrb Brigjen TNI Heri Mulyono memeriksa pasukan yang akan diberangkatkan ke perbatasan Papua di Markas Yonif 726/Tamalatea, Sabtu pagi, 1 Desember.
TAKALAR -- Provinsi Papua yang berbatasan langsung dengan Papua New Guinea hingga kini masih bergejolak terkait pelbagai permasalahan dan ancaman. Permasalahan tersebut diupayakan dapat tuntas dengan cara menyiagakan personel prajurit TNI di wilayah itu.

Ratusan prajurit yang tergabung dalam Yonif 726/Tamalatea, ikut ambil bagian. Mereka memeroleh kepercayaan untuk melaksanakan tugas operasi di daerah perbatasan Papua tersebut.

Namun, sebelum mereka dikirim ke sana, ratusan prajurit ini harus menjalani serangkaian latihan khusus di Yonif 726/Tamalatea. Kasdam VII/Wrb Brigjen TNI Heri Mulyono memimpin langsung pembukaan latihan pra tugas tahap dua dan tiga, Sabtu pagi, 1 Desember. Heri Mulyono bertindak sebagai inspektur upacara dan didampingi oleh Danyonif 726/Tamalatea Mayor Inf Heny Setyono selaku komandan upacara.

Heri mengatakan, latihan pra tugas tahap dua dan tiga ini merupakan lanjutan dari latihan pra tugas tahap pertama. Latihan pra tugas lanjutan ini bertujuan untuk lebih memantapkan materi-materi yang telah diperoleh pada latihan sebelumnya. Para prajurit yang ditempa dengan pelbagai latihan ini, diharapkan dapat memiliki kemampuan taktik dan teknik tempur, kemampuan intelijen, binter serta mampu memberikan pelayanan dukungan administrasi sesuai tuntutan tugas yang akan dihadapi di daerah penugasan.

"Lebih baik mandi keringat dalam latihan dari pada mandi darah di daerah operasi," kata Heri Mulyono dihadapan 650 prajurit peserta latihan.

Danyonif 726/Tamalatea Mayor Inf Heny Setyono menambahkan, dalam kehidupan militer, tugas operasi ini merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan bagi prajurit. Prajurit yang dilatih sebelum berangkat ke medan operasi, tidak hanya dilatih seputar teknik dan latihan militer. Namun, prajurit juga akan mendapatkan pembekalan masalah tentang pertanian.

"Di tempat tugas mereka nanti, tentu akan menemukan wilayah perkampungan yang dihuni oleh masyarakat. Jadi tugas mereka tidak hanya menjaga keamanan, tapi juga melakukan pembinaan teritorial kepada masyarakat, antara lain, menjadi tenaga pendidik, atau mengajarkan kepada masyarakat yang belum mengetahui cara bercocok tanam," jelas Heny, Minggu, 2 Desember.

Rencananya, lanjut Heny, 650 prajurit Yonif 726/Tamalatea ini akan diberangkatkan pada awal tahun depan. Mereka akan bertugas selama enam bulan disana. Dalam upacara kemarin, hadir pula Danrem 141/TP dan para Dandim Jajaran Korem 141/TP serta para Kabalak Kodam VII/Wrb. (yuk/bas)


 Sumber: Fajar.co

Sadis, Seorang Pendeta Wanita di Papua Ditembak Aparat TNI

Photo Ilustrasi penembakan
Merauke - Seorang pendeta wanita, Predika Metal Meki (38) meregang nyawa di dekat sungai Mak  Ia ditemukan dalam keadaan tewas Rabu (22/11) pagi, di Jalan Trans Asiki, Merauke. distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digole, Papua. Wanita ini tewas dengan dua luka tembak di pelipis kanan dan di bahu kanan hingga tembus ke belakang.
Menurut keterangan dari pihak keluarga, terdapat dua luka tembak di tubuh korban yakni pada bagian kepala dan bahu. Selain itu juga terdapat beberapa luka memar akibat pukulan dan sabetan benda tajam.

Korban, Frederika Metalmeti atau pendeta Rika, diduga ditembak oleh teman dekatnya yang merupakan seorang anggota TNI. Kemungkinan terlibatnya anggota TNI dalam kasus itu, juga dibenarkan oleh Komandan Korem 174, Animti Waninggap, Merauke, Brigjen Edy Rahmadi. Hal itu diperkuat dengan penemuan sejumlah alat bukti di TKP.

Kesedihan pun menyelimuti keluarga yang tengah menunggu kedatangan jenazah Pendeta Frederika Metalmeti, yang sudah bertugas di Gereja Betlehem Pantekosta, Boven Digul, sejak sepuluh tahun lalu. Saat ini jenazah korban sudah diberangkatkan menuju Merauke, dengan menempuh perjalanan darat sejauh lebih dari 400 kilometer.(TNT/suarabaptis.blogspot.com)


KETATNYA MILITER, TIDAK ADA WARNA RAIMUNA PRAMUKA ASLI

Ilustrasi Militer (photo lst)
Papua - Raimuna X yang dilangsungkan tanggal 08-15/10/12 di Bumi Perkemahan (BUPER) Waena-Jayapura-Papua dianggap bukan kegiatan Pramuka yang sesungguhnya. Warna Pramuka tidak nampak, karena ketatnya militer dan intel.

Beberapa tanggapan dan cerita para peserta pramuka Raimuna X, mengungkapkan kekecewaannya. mereka mengatakan tidak ada warna pramuka yang sesungguhnya. Setiap tenda peserta dijaga ketat oleh 2-3 militer.

Peserta tidak merasa bebas untuk melaksananakan kegiatan pramuka. "kami merasa tertekan dan tidak bebas melakukan kegiatan, karena setiap kegiatan yang kami lakukan dikawal oleh militer. bahkan disetiap tenda yang kami tinggal dikawal" ungkap salah seorang peserta raimuna X (RTP).

Hakekat dari kegiatan pramuka tidak nampak bahkan hilang. Padahal kegiatan pramuka yang biasanya harus dilakukan tanpa pengawalan ketat dari militer. hal seperti ini hanya dilakukan di Papua. "Hakekat prmuka tidak nampak dan kami baru menemukan kegiatan raimuna ketat seperti ini", lanjutnya.

Selanjutnya, dikatakannya ketidakhadiran presiden untuk membuka Raimuna X di Papua masih dipertanyakan. Pdahal raimuna sebelumnya yang diadakan di luar Papua presiden selalu hadir, tetapi mengapa tidak di Papua.

Selain itu, dikatakan kata raimuna berasal dari daerah Papua. maka raimuna yang diadakan di Papua, bagaikan kembali ke kampung halaman. oleh karena itu, para peserta dari luar Papua ingin menyaksikan tarian raiimuna yang berasal dari Papua itu, tetapi tidak terlaksana. kegiatan kemarin diwarnai kegiatan luar Papua, alias warna islam. kebanyakan kegiatan bernuansa islamik, bukan bernuansa Papua. (Honaratus Pigai)

Kekerasan Oknum TNI Tidak Tersentuh


JAKARTA - Di usianya yang memasuki ke 67, TNI masih gagal dalam melaksanakan reformasi dirinya. Hal tersebut bisa tercermin dalam banyaknya angka kekerasan yang dilakukan TNI.


Periode Oktober 2011-September 2012, KontraS (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) setidaknya mencatat 81 peristiwa kekerasan oleh oknum TNI di Papua, Aceh, Surabaya, Padang, Kalimantan Barat.


Ada dua hal dalam kekerasan yang dilakukan TNI. Penyelesaianya tidak transparan. Tidak ada informasi. Kalaupun ada beritanya diselesaikan secara internal. Koboy teksas," ujar Haris Azhar, Koordinator Kontras, dalam siaran persnya bersama Imparsial, dalam menyikapi HUT TNI, Menteng, Jakarta, Kamis (4/10/2012).


Kekerasan yang dilakukan oknum TNI, lanjut Haris, beragam. Tersinggung, mabuk, solidaritas korps, kekerasan terhadap pekerja pers, kekerasan saat operasi militer saat bertugas.
"Kekerasan di Papua kami mencatat lima orang tewas, 39 orang luka seiurs dalam operasi militer dan penyerangan di Papua," papar Haris.


Korban tersebut terjadi saat Pembubaran Kongres III Rakyat Papua di Abepura, 19 Oktober 2011 dan sejumlah peristiwa kekerasan oknum TNI di Papua.


Selain catatan kekerasan tersebut, lanjut Haris, KontraS masih mencatat 24 tindak kekerasan karena persoalan-persoalan sepele lainnya.


"Kami mendorong kementerian koordinator bidang politik, hukum, dan keamanan, Bapak Djoko Suyanto, untuk segera menggelar evaluasi institusional TNI atas masih banyaknya praktir nir akuntabilitas dan sejumlah kasus pelanggaran HAM yang serius yang nyaris tidak ditindaklanjuti," tegasnya.

 Sumber: TRIBUNNEWS.COM


 
Copyright © 2013. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger