Showing posts with label Meepago. Show all posts
Showing posts with label Meepago. Show all posts

Raih Banyak Suara, Oktopianus Petrus Tebai Gelar Ibadah Syukur

Suasana saat ibadah syukuran (Foto:Istimewa)
Nabire - Keluarga besar Otopianus Petrus Tebai, di Nabire gelar ibadah syukur atas perolehan suara 425.159 tertinggi kedua dari Calon DPD RI Dapil Papua, pada Jumat, 24 Mei 2019 di Jalan.Jayanti Nabire,Papua.


Ibadah syukur perolehan suara kedua ini, di pimpin Oleh Pewarta Yan Edowai, yang mana dalam firmanya mengatakna kita patut bersyukr atas kepada Tuhan, kerana barang siapa mengandalkan Tuhan pasti apa yang di inginkanya dapat terwujud, untuk itu kita beryukur sehinga perolehan suara yang di berikan masyarakat di papua telah mendukung, Otopianus Petrus Tebai untuk memiliki suara tertinggi kedua Calon DPD RI Dapil Papua, periode 2019-2024.

Otopianus Petrus Tebai saat di wawancari mengatakan perolehan suara yang di miliki merupakan kemenangan murni yang Tuhan percayakan oleh rakyat untuk memilinya, sehinga dirinya memperoleh suara tertinggi ke dua Anggota DPD RI Dapil papua, dan juga mengucapkan terima kasih kepada selurh rakyat papua dan masyarakat non asli papua yang telah memberika hak suara untuk mendukungnya sebagai calon anggota DPD RI, pada 17 april lalu, dan kiranya Tuhan membalas semua oarang yang mendukungnya.

Otopianus Petrus Tebai juga mengharapkan agar anggota DPD RI Papua dan Papua Barat, agar bersama sama membuat Pansus untuk menangani berbagai persoalan di papua.

Lebih lanjut di katakan, Papua membutukan sarana dan prasarana khususnya Bandara, Pelabuhan, Jalan, Jembatan, dan perumahan rakyat, dan juga papua tengah hal ini akan di perjuangan di DPD RI nantinya.

Ist papualives.com

Ada Krans Bunga Turut Berdukacita Atas Matinya Jaringan Internet di Nabire

Krans Bunga Turut Berdukacita Atas Matinya Jaringan Internet di Nabire yang di taru masyarakat Nabire atas kekecewaannya pelayanannya di depan stasiun bumi  divisi Infratel Nabire milik PT.Telekomunikasi Indonesia (Foto:Dree/PapuaLvies)
Nabire - Krans Bunga Turut Berdukacita Atas Matinya Jaringan Internet di Nabire yang ditujukan  untuk  PT.Telkom maupun PT.Telekomunikasi Indonesia, hal ini dibuat sebagai bentuk kekecewaan masyarakat atas  buruknya  jaringan internet/Idihome maupun  Telkomsel di kota Nabire dan sekitarnya yang mana hampir seminggu lebih mati.


Krans Bunga tersebut diletakkan di depan Kantor Stasiun Bumi  Divisi Infratel Kabupaten Nabire milik PT.Telekomunikasi Indonesia di Jalan Merdeka Nabire,Krans Bunga itu diletakan sejak sabtu dini  hari ketika dalam suasana matinya jaringan sesuai dengan pantauan media ini dilokasi ditarunya Krans Bunga tersebut .

Donatus, salah satu Masyarakat Nabire yang sedang melintas di depan kantor  PT.Telekomunikasi  Indonesia  mengatakan bahwa kecewa atas  pelayanan intenet di nabire yang  sangat   buruk sehingga membuat aktivitas masyarakat yang mengunakan jasa internet lumpuh total

” saya harap agar pihak  Telkom maupun pemerintah daerah serius dalam mengatasi hal ini.”katanya ketika ditemui media ini ( 19/09/2019) minggu lalu.

Terkait hal itu, Noverita Bonay Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Nabire mengaku akan mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan masalah jaringan yang sering bermasalah di kabupaten Nabire.

Sementara itu Kepala KADANTEL Telkom Biak ketika dihubungi Via telepon Seluller mengungkapkan pihaknya telah berupaya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di dua titik yang mengalami gangguan, yaitu; di Ponit Serui dan Pioint Nabire.Sambil menunggu alat yang dikirimkan dari makassar ke nabire.

“untuk itu, agar masyarakat nabire dapat bersabar menunggu  menyelesaikan dilokasi gangguan jaringan tersebut”harapnya.

Sumber: Dree/Papualives

Miskin’ Sinyal Internet di Nabire Papua Bikin Mati Gaya


Ilustrasi seorang warga tengah mengakses smartphone. Foto: Adam Noor/Asumsi.co
Nabire - Jaringan internet jadi sesuatu yang langka hampir di berbagai wilayah Papua. Jangankan sinyal internet, keberadaan jaringan telepon di pulau yang terkenal karena keindahan alamnya itu, masih naik turun, kadang stabil dan kadang hilang.

Kondisi itulah yang langsung dirasakan saya saat berkunjung ke Kabupaten Nabire, Papua, selama beberapa hari, pada Jumat, 19 Mey 201i lalu. Di Nabire, sinyal internet seperti barang mewah.
Saat mendarat di Bandara Douw Aturure, Nabire, koneksi sinyal internet pun mulai buruk dan sama sekali tak stabil. Mengirim pesan WhatsApp saja, saya harus menunggu beberapa menit sampai pesan yang tadinya pending lama, jadi benar-benar tercentang dan sampai ke penerima.

Sebagai seorang jurnalis, situasi ini tentu sangat tak nyaman bagi saya yang aktivitas sehari-harinya tak bisa jauh dari akses internet. Baik itu untuk kebutuhan mengirim berita, membuka email, maupun sekedar browsing untuk mencari data sebagai bahan riset.

Di era serba digital seperti sekarang ini, akses internet memang sudah seperti nyawa bagi pekerja-pekerja yang selalu berurusan dengan dunia maya. Tersendatnya jaringan internet tentu membuat koordinasi jadi lamban dan kemungkinan untuk ketinggalan informasi pun jadi besar.

Setibanya di penginapan yang berada di Kabupaten Nabire, kira-kira 10 menit dari Bandara Douw Aturure, harapan akan munculnya sinyal internet yang stabil pun pupus. Meski sudah berada di kawasan pusat kota, tetap saja koneksi internet di smartphone saya benar-benar mati suri.


Memang, satu-satunya jaringan provider internet yang tersedia di Nabire adalah Telkomsel saja. Bagi para pengguna jaringan-jaringan lainnya seperti Indosat, 3, sampai XL, jangan terlalu berharap akan ada akses internet dari masing-masing provider tersebut.

Jaringan Tri sama sekali tak ada dan blank total. Sementara untuk jaringan internet XL dan Indosat sendiri, katanya ada di beberapa tempat, namun itu juga belum merata. Yang jelas, di luar Telkomsel, jaringan provider lain tak tersedia.

Sekadar informasi, sebenarnya akses internet Telkomsel di Nabire sendiri sudah mencapai jaringan 4G di layar smartphone saya. Hanya saja, saat mencoba untuk browsing, halaman pencarian pun hanya berputar-putar saja dan tak bisa dibuka sama sekali.

Meski akses jaringan internet Telkomsel sangat buruk, sebenarnya saya sempat senang dan sedikit bernapas lega lantaran berpikir akan ada jaringan cepat Wifi di hotel saya menginap. Sayangnya, jaringan Wifi juga tak terlalu membantu dan aksesnya pun lamban.

Jaringan internet Wifi di hotel tersebut hanya mudah diakses di sekitaran area resepsionis saja dan itupun belum tentu stabil. Sementara saat berpindah ke kamar, jaringan Wifi sama sekali hilang. Bagaimana dengan Telkomsel? Habis juga.

“Iya sinyal internet di Nabire ini memang susah sekali, saya selalu kesal kalau mau buka internet tapi tak bisa. Mau baca-baca berita pun jadi susah sekali. Saya pakai Telkomsel, jaringannya ada tapi susah diakses,” kata Gerry, salah satu resepsionis hotel tempat saya menginap di Nabire, Sabtu, 1 September.

Keberadaan Telkomsel sebagai provider internet utama di Nabire pun seolah tak bisa dimaksimalkan oleh masyarakat sekitar. Bahkan, Gerry sendiri mengakui bahwa untuk sekedar mengirim pesan singkat lewat WhatsApp saja masih sulit.

“Mau kirim-kirim pesan lewat WhatsApp saja susahnya minta ampun. Saya kirim pesan jam 8 pagi, nanti baru dibaca jam 9 pagi, lalu dibalasnya jam 10,” ujar Gerry sembari tertawa.

Pada akhirnya memang untuk mendapatkan sinyal, baik itu sinyal telepon ataupun internet untuk berkomunikasi di sana benar-benar tak semudah membalikkan telapak tangan. Meski Telkomsel sudah menyajikan koneksi internet dengan jaringan 4G, namun hal itu tidak bekerja maksimal.

Menurut penuturan Gerry, memang sinyal internet Telkomsel sendiri hanya akan stabil di area tertentu saja. Jadi, jika memang ingin mendapatkan akses internet yang lumayan, maka harus berjalan jauh dulu ke beberapa tempat yang memiliki sinyal bagus.

Memang kebutuhan akan sinyal internet ini sebenarnya bisa sedikit diakali dengan mengubah akses jaringan. Saya sendiri mencoba mengubah jenis jaringan yang dianjurkan dari all broadband menjadi salah satu jaringan yakni 3G dan 2G.

Namun, lagi-lagi hal itu juga tak terlalu membantu saya yang butuh jaringan cepat untuk kebutuhan penulisan berita. Hanya akses telepon dan pesan singkat SMS saja yang sejauh itu bisa saja maksimalkan untuk berkomunikasi.

Beruntungnya, saya masih sempat mendapatkan jaringan internet Telkomsel yang stabil di beberapa kesempatan. Setelah menunggu beberapa waktu untuk memposting naskah tulisan ke web dan email, akhirnya saya bisa menyelesaikan tugas dengan rasa was-was.

Terkait sinyal internet yang benar-benar buruk di Nabire ini, saya coba berbincang dengan Pengamat Teknologi Informasi dari Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Heru Sutadi, saat saya sudah tiba di Jakarta pada Senin, 3 September kemarin.

Heri mengatakan memang jaringan telekomunikasi di daerah terpencil seperti di Papua masih belum stabil dan kurang perhatian. Walaupun pemerintah sering mengatakan akan membangun jaringan yang kuat, namun hal itu masih jauh dari harapan.

“Memang soal jaringan telekomunikasi masih jadi persoalan. Pemerintah kan selalu mengatakan sudah dibangun tapi memang ternyata indah kabar dari rupa,” kata Heru.

Soal kurangnya perhatian terhadap akses jaringan internet di Papua, terutama Nabire, lanjut Heru, memang masih dianggap sebagai masalah kecil. Sayangnya, masalah kecil tersebut justru genting bagi sebagai masyarakat yang menggantungkan pekerjaannya dengan akses internet.

“Ini karena kita anggap semua ini masalah biasa sehingga diselesaikan dengan cara biasa. Padahal harus ada percepatan (penerapan jaringan internet cepat),” ucap Heru.

Heru pun memberikan saran agar daerah-daerah terpencil seperti Papua memang harus mendapatkan perhatian yang lebih besar perihal akses jaringan internet ini. Apalagi, Papua kerap dianggap sebagai daerah tertinggal lantaran jauh dari Pulau Jawa, yang dinilai sebagai pusat dari segala informasi.

“Memang harus ada rencana terstruktur, dicek ke lapangan, bangun dengan akses memadai dan kecepatan sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Sebetulnya, akses jaringan internet yang masih terbatas di Papua, khususnya Nabire ini, masih bisa dimaklumi. Apalagi jika melihat posisi Papua yang memiliki letak geografis dan medan yang terjal seperti pegunungan, laut, dan hutan belantara.

Hal itu tentu menyulitkan banyak pihak untuk mempercepat pembangunan dan pemerataan jaringan. Namun, itu justru jadi tantangan tersendiri bagi pemerintah jika ingin memaksimalkan potensi besar Papua terutama dari sektor pariwisata.

Dengan akses jaringan internet yang cepat, tentu stakeholder dan banyak pekerja di sektor digital akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan dunia luar. Segala macam bentuk promosi pariwisata Papua yang terkenal surga itu pun akan mudah dilakukan.

Sumber : Ramadhan/asumsi.co

KNPI Desak Polda Papua Bertanggung Jawab atas Peristiwa Penembakan Terhadap Pemuda di Deiyai

Yulianus Mote (25 Thn) Korban Penembakan Aparat Kepolisian di Waghete Deiyai Papua. (FOTO/DOK)
DEIYAI – Polda Papua segera bertanggung jawab dan segera pecat pelakukan penembakan terhadap Yulius Mote di Deiyai Papua. Demikian tegas Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Deiyai, Jeckson Ikomou , Rabu, (22/5) melalui press reases yang di terima media.

Sikap arogan dan agresif yang dilakukan Polisi Indonesia yang bertugas di Deiyai telah menunjukan bahwa satuan kepolisian yang bertugas di Papua khususnya di deiyai  tidak profesional  untuk menjalankan tugas dan wewenangnya sesuai dengan amanah UU Nomor 2 Tahun 2002.

“Seharusnya, Polisi amankan kelompok pemuda yang melakukan pemalangan mobil lalu berikan hukuman sesuai dengan tindakannya, jangan langsung tembak macam tembak  binatang”.

“Wah, anehnya aparah langsung melakukan tindakan penembakan tanpa menghargai sesama manusia yang punya hak hidup,” Tegasnya.

Aparat yang  bertugas di Papua khususnya deiyai sangat tidak profesional dalam menjalan tugas dan wewenang, sebab sudah dua kali aparat melakukan tindakan penembakan terhadap masyarakat kecil.
Sebelumnya, Kasus Oneibo berdarah, kasus tersebut belum sepenuhnya di tuntaskan. Sekarang terjadi lagi Deiyai berdarah yang kedua,”Jelasnya.

Terkait Pernyataan  Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal, melalui media jubi adalah pembohongan publik. “Seharusnya turung langsung dulu lalu tinjau masalah, jangan asal mengeluarkan penyataan-pernyataan yang sesat dan menyesatkan publik di media,” Ujar.

Maka, Lanjutnya, Polda Papua segera bertanggung jawab atas tindakan penembakan  yang dilakukan terhadap warga kami dan segera pecat pelaku,”Tegasnya.

Komnnas HAM segera turun ke waghete untuk melakukan investigasi terkait peristiwa penembakan terhadap warga kami. (MWP/MM) majalahwekonews.com

Satu Warga Dilaporkan Tewas Tertembak Polisi di Deiyai Papua

Polsek Tigi terbakar akibat diamuk massa. (istimewa)
Jayapura(rasudofm) – Satu orang dilaporkan meninggal dunia di Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai terkena peluru tajam oknum anggota polisi dan beberapa lainnya dilaporkan luka parah.

Pastor Santon Tekege melaporkan korban yang meninggal dunia Yulius Mote (18 tahun) kena tembak peluru di otak kecil tembus di mata, sementara beberapa orang luka-luka. ‘’Korban meninggal dunia Yulius Mote (18), ada lagi yang meninggal dunia di tempat, beberapa warga masyarakat luka-luka,’’ tulis Pastor Santon dalam SMS yang dikirim ke Pospapua.com.

Penembakan terjadi Selasa (21/5) berawal dari kasus anak muda yang sedang mabuk lalu meminta uang kepada sopir angkutan umum. Sopir tidak terima lalu mengejar pemuda tersebut dengan parang. Sopir kemudian kembali ke mobil untuk berangkat, tapi pemuda yang tadinya dikejar kembali dengan sekelompok orang lalu menghancurkan mobil.

Polisi lalu mendatangi tempat kejadian perkara dan menemukan pemuda yang mabuk. Pemuda yang mabuk melakukan perlawanan terhadap oknum anggota Polri tersebut. Karena tidak terima oknum Polisi lalu melepaskan tembakan mengenai salah seorang warga di bagian paha.

Akibat tertembaknya warga, massa lalu marah dan membakar Kantor Polsek Tigi.

Untuk membubarkana massa menurut Pastor Santon aparat berkali-kali melepaskan tembakan, hingga pukul 19.00 WIT situasi di Tigi Deiyai memcekam, apalagi listrik padam.

Aparat keamanan membubarkan massa dengan melepaskan gas air mata.

Kapolda Papua, Brigjen Pol Rudolf Roja ketika ditanya Antara mengungkapkan tentang insiden tersebut melalui pesan singkatnya hanya menjawab “saya sedang rapat”. (N.A)



(Sumber : Pospapua.com & Antara)

 
Copyright © 2013. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger