Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts

Negara dan Kebohongan

Kita bertolak dari analisis keterasingan dalam kondisi sekarang yang terjadi di negara indonesia, perkembangan demi perkembangan telah lewati bersama dengan segala kebohongan negara terhadap orang orang kecil dalam hal pembangunan infrastruktur di Papua, Mari kita saksi dengan kebijakan
pembohongan negara berdaulat ini.

Negara pura-pura bertindak atas kesejahteraan Papua tetapi itu hanya omong kosong, mengelabui segala pelanggaran Ham di seluruh Papua.

Negara bukanlah sang wasit netral yang melerai perselisihan-perselisihan yang timbul dalam pemikiran masyarakat secara adil. jadi negara tidak netral melainkan selalu menindas dengan kebohongan kepada masyarakat, negara itu negara hukum tapi menjadi negara pecundang.

Simak cerita pendek ini...!
Saya di jawa banyak orang di sana mengatakan kepada saya bahwa, di Papua Pembangunan Infrastruktur Pak Jokowi bangun dengan baik jadi kamu harus bangga kepada pak Jokowi, lalu apa jawab saya, itu hanya pembohongan publik mencari kepentingan, jangan percaya yang belum dapat anda lihat langsung, sebenarnya berbagai media yang mempublikasikan berita tentang infrastruktur
itu hanya omong kosong, supaya rakyat kecil indonesia percaya bahwa benar-benar Pak Jokowi Ia bangun Papua dan untuk mengelabui kepentingan para koruptor dan pemodalan di negara ini. Itu perbincanggan antara banyak masyarakat disana (jawa) yang tidak tau menau tentang kondisi Papua.

Perspektif negara dapat menjelasakan mengapa yang biasanya menjadi korban adalah rakyat kecil, mengapa pencuri kecil sering di hukum lebih keras daripada koruptor besar.

Karena negara diangap selalu merupakan negara demokrasi yang meliputi kepentingan penindas terhadap orang kecil sedangkan lawan bukan kawan, orang kecil hendaknya tidak mengharapakan keadilan atau bantuan yang sungguh-sungguh dari negara karena negara adalah justru wakil penindasan hukumnya dan memperjuangkan kepentingan khusus bagi para petinggi negara itu sendiri bukan kepentingan umum.

#SambilNyantai
#Coret_Coret_Saja
*PigaiNatho

Kami Masih Tetap Anak Tiri

Saya baru saja membaca seubua tulisan dari Sdr. Deni Siregar dengan judul PAPUA BUKAN ANAK TIRI LAGI. Cukup menarik.... Memang sejumlah besar infrastruktur yang dibangun khususnya dalam 3 tahun kepemimpinan Presiden JOKOWI terbilang fantastis.

Pasar Mama-mama, Tol laut, Tol udara, Pembangkit listrik, pelabuhan, Rek kereta api, dan jalan trans Papua. Ditambah lagi dengan kunjungan Presiden kurang lebih 4 kali ke Bumi Cenderawasih ini...

Sayangnya...upaya keras pemerintah pusat tersebut dirusak oleh ulah pasukan elit POLRI di Kabupatan Deyai beberapa hari lalu yang menewaskan seorang remaja dan beberapa lainnya luka-luka kena tembakan di Deyai.

Ya....kasus DEYAI BERDARAH telah menambah daftar panjang pelanggaran HAM di tanah kami, yang mana belum satu pun proses hukum terhadap kasus-kasus di tanah kami terselesaikan.

Kami semakin yakin bahwa kami bukan Indonesia, kami bukan anaknya Ibu Pertiwi. Kalaupun anak.....mungkin kami hanya ANAK TIRI....

Karena kami anak tiri maka walaupun kami demo hanya oleh 100 orang, kami dikawal dengan peluru tajam, sedangkan 7 juta ANAK KANDUNG yang demo Ahok di DKI cukup dikawal dengan gas air mata dan peluru karet.

MAAF BUNG DENI SIREGAR, KAMI MASIH TETAP ANAK TIRI IBU PERTIWI.

Ditulis Oleh: Pastor John Jonathan Nap

#EmbunBaliem

Gambaran Singkat Arti Kata “LANI” dan “BAHASA LANI”

Foto Seorang Warga Mengenkan Pakaiana Adat Lani (istimewa)

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

Sebelum saya menjelaskan secara singkat suku Lani dan bahasa Lani, penulis perlu menyampaikan bahwa suku Lani yang menggunakan bahasa Lani adalah suku terbesar di Papua, yang hidup, tinggal/mendiami dan bermukim bertahun-tahun bagian Barat dari Lembah Balim. Wilayah yang didiami pemilik dan pengguna bahasa Lani meliputi: Piramit, Makki, Tiom, Kelila, Bokondini, Karubaga, Mamit, Kanggime, Mulia, Nduga, Kuyawagi, Sinak dan Ilaga.

1. Arti kata “Lani”

Kata “Lani” mempunyai tiga pengertian atau tiga makna yang berbeda.

1.1. Kata Lani yang artinya “pergi atau diutus pergi”.

Kata Lani yang artinya “pergi atau diutus pergi” ini digunakan oleh suku yang bermukim di Lembah Parim yang lebih populer dengan nama Lembah Balim.

Lembah ini sesungguhnya lebih tepat Lembah Parim. Suku Mokoko artinya burung bangau. Agamua adalah nama tempat yg saat ini kota Wamena. Wamena mempunyai dua kata, yaitu “wam” artinya babi dan “ena” artinya piaraan, jadi Wamena artinya babi yang dipelihara dan selalu ikut tuanya kemana saja. Suku Hubula menggambarkan keadaan tanah yang subur karena ada kompos dari luapan sungai Parim. Suku Hubula juga tidak terwakili semua suku dan sub suku di lembah Parim. Suku Hubula ialah penyebutan untuk warga yang hidup di sepanjang Daerah Aliran Sungai Parim. Sementara yang di pinggiran Lembah/kaki gunung dan Pegunungan di sebut Sorimo. Tetapi dunia luar mengenal dengan sebutan Suku Hubula walau tidak mewakili semua suku yang bermukim di wilayah Lembah Parim.

Parim artinya sungai/air yang membelah lembah besar yang memisahkan Timur dan Barat. Kata Balim itu digunakan oleh orang luar yang sulit melafalkan atau menyebutkan kata Parim. Maka lebih populer dan dikenal secara luas sekarang dengan nama Lembah Balim. Tapi nama asli dan sebutan yang sebenarnya ialah Lembah Parim.

Kembali pada kata “Lani”. Kata “Lani” artinya pergi atau diutus pergi ini juga tidak terlepas dari kata “Kurima” yang artinya tempat perjumpaan dan perpisahan manusia pertama. Sedangkan kata Kurima itu terdiri dari dua kata, yaitu “Kur” artinya putih dan “ima” artinya air.

Suku yang hidup dan tinggal di wilayah Kurima menyebut nama Kurima artinya air putih. Tetapi bagi suku yang telah terpencar pergi ke Barat, yaitu: suku Lani, Moni, Mee menyebut Kurima itu tempat perjumpaan dan perpisahan manusia pertama. Dari sinilah terlihat jelas artinya kata Lani yaitu pergi atau diutus pergi.

1.2. Kata Lani juga memiliki arti seseorang yang hidup sendiri.

Bagian ini, kita tambah kata “Ap Lani” artinya setiap laki-laki yang selalu hidup menyendiri atau hidup sendiri dan yang berkebun sendiri, memasak sendiri dan mengurus diri sendiri disebut Ap Lani. Ap Lani biasanya tidak disukai dan dijauhi semua wanita. Ap Lani mengurus dirinya sendiri dan ia hidup tanpa isteri.

1.3. Kata “Lani” memiliki arti yang lebih dalam, yaitu Orang-orang Otonom, mandiri, independen dan berdaulat penuh.

Dalam buku: Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri” (Yoman, 2010, hal. 92) penulis menjelaskan sebagai berikut:

Kata Lani itu artinya: ” orang-orang independen, orang-orang yang memiliki otonomi luas, orang-orang yang merdeka, yang tidak diatur oleh siapapun. Mereka adalah orang-orang yang selalu hidup dalam kesadaran tinggi bahwa mereka memiliki kehidupan, mereka mempunyai bahasa, mereka mempunyai sejarah, mereka mempunyai tanah, mereka mempunyai gunung, mereka mempunyai hutan, mereka mempunyai sungai, mereka mempunyai dusun yang jelas, mereka mempunyai garis keturunan yang jelas, mereka mempunyai kepercayaan yang jelas, mereka mempunyai kemampuan untuk mengatur, dan mengurus apa saja, mereka tidak pernah pindah-pindah tempat, mereka hidup tertib dan teratur, mereka mempunyai segala-galanya.”

Contoh: Orang Lani mampu dan sanggup membangun rumah (honai) dengan kualitas bahan bangunan yang baik dan bertahan lama untuk jangka waktu bertahun-tahun. Rumah/honai itu dibangun di tempat yang aman dan di atas tanah yang kuat. Sebelum membangun honai, lebih dulu dicermati dan diteliti oleh orang Lani ialah mereka melakukan studi dampak lingkungan. Itu sudah terbukti bahwa rumah-rumah orang-orang Lani di pegunungan jarang bahkan tidak pernah longsor dan tertimbun tanah.

Contoh lain ialah orang Lani membangun dan membuat pagar kebun dan honai/rumah dengan bahan-bahan bangunan yang berkualitas baik. Kayu dan tali biasanya bahan-bahan khusus yang kuat supaya pagar itu berdiri kokoh untuk melindungi rumah dan juga kebun.

Orang Lani juga berkebun secara teratur di tanah yang baik dan subur untuk menanam ubi-ubian dan sayur-sayuran.

Dr. George Junus Aditjondro mengakui: “…para petani di Lembah Baliem misalnya, memiliki budaya pertanian ubi-ubian yang tergolong paling canggih di dunia, hasil inovasi dan adaptasi selama 400 tahun tanpa bantuan sepotong logam” (Cahaya Bintang Kejora, 2000, hal. 50).

Suku Lani juga dengan kreatif menciptakan api. Suku Lani dengan cerdas dan inovatif membuat jembatan gantung permanen. Para wanita Lani juga dengan keahlian dan kepandaian membuat noken untuk membesarkan anak-anak dan juga mengisi bahan makanan dan kebutuhan lain.

Yang jelas dan pasti, suku Lani ialah bangsa yang bedaulat penuh dari turun-temurun dan tidak pernah diduduki dan diatur oleh suku lain. Tidak ada orang asing yang mengajarkan untuk melakukan dan mengerjakan yang sudah disebutkan tadi. Suku Lani adalah bangsa mempunyai kehidupan dan mempunyai segala-galanya.

Dari uraian singkat ini memberikan gambaran yang jelas bahwa pada prinsipnya orang Lani itu memiliki identitas yang jelas dan memelihara warisan leluhur dengan berkuasa dan berdaulat penuh sejak turun-temurun.

2. Bahasa Lani

Saya tidak menjelaskan lebih detail tentang bahasa Lani karena saya bukan ahli bahasa. Walau demikian, saya ingin menyampaikan kepada para pembaca bahwa dalam bahasa Lani terdiri dari lima bentuk waktu. Dan dalam lima bentuk waktu itu digunakan bahasa bentuk tunggal dan jamak.

Selengkapnya Baca di Tili Post

MARI PAHAMI MASALAH MENDASAR !



Dalam keseharian hidup, permasalahan kehidupan akan selalu ada bersama manusia karena manusia tercipta untuk menciptakan, menemukan dan memecahkan setiap permasalahan hidup di sekelilingnya. 

Masalah berawal ketika seseorang terlahir dan mengenal dunia dan berakhir bersama akhir hayatnya. Apapun yang terjadi di sekelilingnya adalah masalah yang harus dipecahkan agar menemukan solusi yang baik untuk keberlangsungan hidup selanjutnya.

Hubungan sebab akibat sangat identik dalam setiap permasalahan yang muncul, mulai dari permasalahan yang berskala kecil, sedang hingga besar. Sehingga dalam penyelesaiannya tergantung bagaimana seseorang memahami inti permasalahan, menganalisa dan menyimpulkankan agar menemukan keputusan yang memuaskan semua pihak.

Dalam konteks masalah yang terjadi akhir-akhir ini di Tanah Papua, perlu adalah pemberian pemahaman yang ekstra melalui berbagai cara pendekatan oleh dan didukung pemerintah ataupun lembaga tertentu misalnya MRP, DAP dll yang sejenisnya kepada setiap orang yang hidup di tanah Papua tanpa terkecuali agar secara sadar memahami baik dan benar apa yang menjadi inti
dan akar permasalahan dari setiap masalah sosial, politik, pendidikan, hukum dan HAM yang masih terdengar dan terjadi hingga saat ini.

Hal ini penting karena

1. Masa demi masa terlewat dengan berbagai masalah yang sama
2. Generasi demi generasi termakan lahar planet ini dengan berbagai masalah yang sama
3. Prinsip hidup acuh tak acuh, egois dan tidak peka terhadap alam dan sesama telah dan sedang         mendarah daging kepada setiap watak generasi muda Papua
4. Kebiasaan merasa sukses ketika sudah berada di zona aman mengakibatkan buta melihat akan segalanya
5. Kebiasaan berbagi cerita sejarah masa lampau oleh orang tua kepada anaknya semakin minim
6. Kebiasaan berbahasa daerah dianggap kuno dan ketinggalan oleh sesama generasi dll.

Sehingga dengan segelumit permasalahan mendasar yang terabaikan, generasi muda mendatang dipastikan hidup pada suatu kehidupan yang buta akan permasalahan mendasar bahkan identitas sebenarnya

Semuanya ini penting agar kedepan tidak terkesan hidup bagai air di daun talas yang tak berpendirian tetap, lupa akan identitas dan dasar permasalahan sesungguhnya.

Ditulis Oleh: Modhy Giyai

POLITIK PENDIDIKAN


Pete Seeger saat berusia 88 tahun, bersama temannya, Ed Renehan (foto wikipedia)
POLITIK PENDIDIKAN 

Apa yang kau pelajari di sekolah hari ini, anakku?
Apa yang kau pelajari di sekolah hari ini, anakku?

Aku diajari bahwa Washington tidak pernah berdusta,
Aku diajari bahwa tentara itu tidak gampang mati,
Aku diajari bahwa setiap orang punya kebebasan,
Begitulah yang diajarkan guruku.

Itulah yang aku pelajari di sekolah hari ini,
Itulah yang aku pelajari di sekolah.

Aku diajari bahwa polisi adalah sahabatku,
Aku diajari bahwa keadilan tidak pernah mati,
Aku diajari bahwa pembunuh itu mati karena kejahatannya sendiri,
Meski kadang kita juga membuat kesalahan.

Aku diajari bahwa pemerintah harus kuat,
Pemerintah selalu benar dan tidak pernah salah,
Pemimpin kita adalah orang yang paling bijak,
Dan lagi-lagi kita akan memilih mereka.

Aku diajari bahwa perang itu tidak begitu buruk,
Aku diajari bahwa ada sebuah perang besar yang pernah terjadi,
Kita dulu pernah berperang di Jerman dan Perancis,
Dan mungkin suatu saat aku akan berperang.

Itulah yang aku pelajari di sekolah hari ini,
Itulah yang aku pelajari di sekolah.

(Lagu Tom Paxton yang dinyanyikan oleh Peter Seeger Less)

KAU AMBRUK PILAR PAPUA


Untukmu Dr. Pater Neles Kebadabi Tebai Projo


Imanmu setinggi langit
Imanmu menopang setinggi gunung Deiyai
Imanmu  terbentang luas seperti lembah hijau kamuu
Imanmu bangunan diatas berbatuhan di odedimi

                          Kau terbang tinggi esensial imanmu
                          Melangkah meski kerikil-kirikil masalah pemberontak menghadang
                          Tanpa mengenal letih lesuh berbeban berat

Kau nyatakan saya orang cerdas
Kau nyatakan saya cendekiawan
Kau nyatakan saya tembok Papua
Kau nyatakan saya perdamai Papua

                          Kau bukan lentera tertutup
                          Kau matahari di ufuk timur
                          Kau bergemilang diarema dunia pembodohan
                          Kau mutiara hitam megah
                          Kau panutan cerdas orang papua

Akankah kami kenang karyamu tanpa mengenal wajah yang sesungguhnya,
Akankah kami telusuri bekas jejakmu,
Berpakai kami rohmu akan kami melanjutkan ratapan kami

                         Pedih nadi yang dalam sampai sum-sum
                         kepergianmu tidak waras ini
                         Nyeri benakku, tak sanggup mendapatkan pengganti dirimu pahlawan cerdas
                         Apakah kau menjoloking madu, satu ambruk banyak yang terbang
                         Akan kami rindu sepanjang pekan kepergian tidak waras ini

Kami rindu engkau pahlawan sejati
KOYA UWII... KOYA WII... KOYA UWII
 U  G  A  T  A  M  E  P  A
Dr. Pater Neles Kebadabi Tebai Projo


###By egepou dimi ###

KEMANA ARAH SEPAK BOLA DOGIYAI..?

Skuat Persido Dogiyai di Liga 3 Zona Papua 2017
KEMANA ARAH SEPAK BOLA DOGIYAI..??
“Uang akan melaju datang selalu seketika Karir terbaik selalu ada di pundak”

Di lingkup sepak bola seluru dogiyai, saya menjadi bigung dan kadang-kadang berpikir panjang lebar,dan selalu muncul seribu pertanyaan di benak saya bahwa sebenarnya ada apa dengan Persido Dogiyai?.. sampai klub Persido selalu timbul tenggelam, karena pegalaman kemarin di ajang liga Nusantara yang baru bergulir dan baru saja berakhir itu, klub kebanggaan masyarakat dogiyai tidak di ikut sertakan, pada hal dari seluru klub tanah Papua sudah berpartisipasi dan menunjukkan bakatnya disana.

Perlu peran pemimpin yang bisa menentukan manajemen yang baik dalam menagani tim Persido Dogiyai di kamudian hari, jangan berfikir untuk Nepotisme dalam Memimpin dan Pemimpin tidak berpikir pada money tetapi lebih serius untuk berkarir, agar bisa membawa nama baik daerah ke muka Nasional dan juga karir para pemain asli Dogiyai menjadi pemain yan Profesional.

Banyak pemain asli Dogiay merasa kecewa setelah mendegar isu kalau tidak ada respon positif dari penjaga daerah (Pemerintah Daerah) saat-saat persiapan menuju kompetisi dan hal ini menjadi salah satu gunting/kekecewaan dan mempersempit bakat-bakat anak mudah Dogiyai yang ingin menunjukkan bakatnya di ajang level Nasional melalui tim asalnya .

“Kata Hati Saya;.Saya secara khusus ingin bermain membela tanah kelahiran saya Dogiyai. Saya tidak akan berhenti bemain bola sebelum saya bermain membela tanah kelahiran saya Dogiyai melalui klub PERSIDO Dogiyai” ( Catatan: Nomen Douw)

Refleksi Pribadi, Barometer Seorang Pemimpin

Barometer seseorang terbukti dari apa yang Dia lakukan, hingga berdampak kepada sebuah Bangsa/Daerah menjadi baik atau tidak intinya terletak pada bagaimana dia  terlepas dari hal yang bisa merugikan masyarakat: Yaitu Ia harus berprinsip atau berlandaskan IMAN, sesuai dengan Prinsip hidup ketuhanan itu barulah terlihat sempurnah.

"Cukupkan apa yang Anda miliki , sebab sisanya adalah milik mereka yang berhak"

Sewaktu seorang pemimpin  takut akan TUHAN maka semuanya akan baik tumbuh sendiri tampah harus di cari susah payah, tanpah harus banting tulang berulang kali karena semua yang baik dengan sendirinya akan terwujud..

Setelah bertahun-tahun belajar jadi pemimpin, sejak dari SD Jadi ketua Kelas, SMP siswa teladan, SMA Jadi ketua OSIS, Kuliah Jadi PRESMA Mahasiswa papua , bekerja juga di beberapa lembaga Negara dll.

Walaupun Anda mencari bagimana cara beretika baik untuk menjadi seorang pemimpin ternyata kuncinya ada di situ.

Seorang yang benar-benar terlahir sebagai pemimpin maupun akan menjadi alatnya TUHAN dia akan dimampukan berada di titik itu, Titik dimana dia menemukan makna dan efeck mengikuti teladan TUHAN dan dia akan tetap kuat disitu dan bertahan sebab di titik itu dia sudah benar benar mencintai apa yang dia lakukan.

"Cukupkan apa yang Anda miliki , sebab sisanya adalah milik mereka yang berhak"

Ternyata kata diatas ini tidak bisa di ukur oleh Ilmu penghetahuan apapun , teori apapun, Pertanyaannya adakah yang mau memberikan hidupnya pada TUHAN? .

" Refleksi Pribadi "
___
||" Janji iman " Surabaya 2011 ||

AKADOBI

Bila Aku Papua


"Bila Aku Papua"

Bila aku Papua badanku akan hitam tak bisa ditembus cahaya kejahatan

Rambutku akan hitam bagai hutan lebatku
yang tetap lembut saat ditinggal matahari

Mataku akan lebih hitam karena aku
telah menghirup uap granit dari tubuh pijakan kuda-kudaku

Rahangku akan hitam karena aku
harus menyangga gunung-gunung yang selalu
diselimuti legam abu-abu tua mendung abadi

Bahuku akan hitam layaknya berjuta tahun tegap dibebani malam dinding-dinding bukit

Tanganku akan hitam dibakar gua gua emas di selingkaran terjal terjal perut bumiku

Demikian lah indahnya hitam karena itu jiwaku akan hitam  yang tak pernah meratap
lazimnya jiwa yang paham bahwa merdeka adalah sukmaku yang tak pernah terampas
bagiku merdeka adalah bintang-bintang timur yang tak goyahtak redup oleh datangnya pagi,
pagilah yang menemani bintang-bintang timur hasrat merdekaku merdekaku tak boleh dirampas
karena merdekaku adalah senjata merdeka bangsaku yang akan indah jiwanya apa lagi kalau bukan jiwa merdeka.

Aku akan hitam layaknya Papua Merdeka
walau aku orang Indonesia karena ingin baik hati,
jiwa yang indah.

Danial Indrakusuma

foto: phaul-heger blog

Neles Tebay Dibunuh Dengan Cara Yang Profesional.

Dr. Neles Tebay Kebadabi, Pr
Dr.Neles Tebay,Pr itu dibunuh dengan cara yang profesional. Susah memang untuk dibuktikan. Hasil diagnosa dokter membuat kita puas agar tidak diselidiki ahli forensik independen. Tetapi ciri-ciri penyakit yang diderita itu tidak jauh bedah dengan berbagai pemimpin dunia yang dibunuh dengan senjata kimia (racun).

Pemimpin Palestina Yaser Arafat dibunuh dengan racun Polonium-210 oleh intelijen Israel. Zat racun merasuk ke aliran darah, limpa, ginjal, dan liver serta sumsum tulang. Akibatnya, tubuh manusia seperti terkena kanker stadium akhir.

Ibnu Al Khattab, pemimpin pemberontak Chechnya, yang tewas diracun zat sarin pada 2002. Zat ini dicampur lewat minuman atau makanan, atau disemprot ke udara agar dihirup korban. Begitu juga Hugo Chaves yang mati karena kanker.

Saat racun (zat kimia) masuk dalam tubuh, merusak sumsum tulang/belakang, menimbun racunnya menjadi kronis, lalu membunuh sel darah putih. Menyebabkan kerusakan paru-paru, ginjal, hati, dll, akibat Leukimia (kanker darah). Penyebab Leukimia itu karena merokok, Gen turunan, atau mutasi gen.

Apakah Pastor Neles Tebay memiliki penyakit turunan, kelainan gen atau biasa merokok? Tentu tidak. Racun apakah yang menyerang sel darah hingga kanker darah itu diderita, menyebabkan timbulnya sakit paru-paru, ginjal, dll hingga dia meninggal? Tentu dokter bisa memprediksinya.

Tetapi siapa penyebar zat kimia itu? Kalau tidak oleh manusia, barangkali kita salahkan barang-barang produksi kimia yang punya radiasi tinggi. Tetapi apakah Neles Tebay salah mengkonsumsinya? Kalau saja seorang pastor Neles punya kebiasaan bebas pasti ya, tetapi dia di lingkungan bersih dan sehat jasmani dan rohani.

Itulah yang membuat kita semua bertanya-tanya. Tetapi juga mengerti bahwa perjuangan untuk perdamaian (bukan kemerdekaan politik) saja harus menjadi korban buruan. Bahwa untuk berjuang bagi perdamaian saja dia terbunuh oleh senjata kimia. Lalu apa sikap dan tanggapan bangsa Papua?

Saya saksikan sendiri sikap ragu, kaku dan takut itu ditunjukkan oleh semua elemen. Perjuangan damai seorang Neles Tebay dijadikan kain pembalut luka bangsa yang terinfeksi dan kronis. Kematiannya membuat pihak-pihak bicara arti damai tanpa menunjukkan dan menuntut konteks perdamaian yang diperjuangkannya.

Pada perkabungan itu hadir dua kubu: Penjajah dan terjajah. Neles Tebay -sesuai misinya di JDP- adalah meja berunding antar kedua pihak. Diatas meja ini pihak kolonial -dari Presiden sampai agen terkecilnya di Papua-  memenuhi krans bunga. Dikuburkan dalam suasana penghormatan pada
wakil-wakil kolonial -Gubernur, Polda, Pangdam.

Adakah suasana ini menggugah inti perdamaian yang ada di otak Neles Tebay?  Sikap inlander, budak, nurut, itulah yang tercipta dalam suasana penguburan. Seakan lilin damai itu ditiup mati, karena kita bangsa Papua tidak mau berani menunjukkan bahwa Neles Tebay adalah tumbal dari sikap penjajah dan terjajah yang masih bersih keras untuk dialog selesaikan konflik politik ini.

Seakan hendak buat Neles sebagai figur yang mendorong orang Papua untuk hidup damai dalam Indonesia. Bukan! Bukan itu! Damai yang diperjuangkan Neles itu selesaikan akar konflik tentang status hukum dan politik Papua secara damai. Itu poinnya. Bukan bicara, hotbah, pidato damai tanpa
menyentu esensi dan mencari jalan keluarnya.

Tugas pastoral, akademisi, dan LSM saat ini adalah berjuang membela kebenaran yang diperjuangkan. Unsur dasar dari perdamaian adalah pengakuan pada kebenaran sejarah. Hidup berdamai dalam NKRI itu bukan cita-cita Neles Tebay. Dia tahu rakyat Papua sedang terjajah dan Indonesia menjajah. Dia memberi cara damai selesaikan ini dengan prinsip kebenaran, kejujuran dan
pengakuan.

Dia dibunuh untuk padamkan lilin perdamaian. Artinya Neles Tebay itu dibunuh karena pihak yang membunuh tidak ingin selesaian dengan damai. Karena misinya menghabisi orang Papua dan sejarah kebenarannya untuk menguasai Papua. Misi mereka adalah agar Papua menjadi ladang ekonomi
politik yang diperebutkan dan dinikmati dengan damai.

Mari kita semua selesaikan konflik politik tentang keabsahan West Papua dengan damai, jujur dan demokratis. Kematian itu milik semua orang, juga perdamaian adalah milik semua orang. Hidup dalam damai itu indah, tetapi kedamaian tanpa kemerdekaan adalah kematian terindah.

Victor Yeimo
Kamwolker, 20 April 2019
Dihati Gersang

Mengenag Arnold Clemens Ap

Arnold Clemens Ap (foto list dok)
Arnold Clemens Ap: Banyak dari Anda barangkali tidak mengenal nama ini. Dia adalah antropolog, kurator museum Universitas Cendrawasih, seorang penyiar radio yang mengasuh acara Pelangi Budaya Irian Jaya, yang disiarkan setiap pekan oleh RRI Jayapura.

Arnold Ap juga seorang musisi. Dia mendirikan sebuah group musik yang bernama "Mambesak." Dia mengumpulkan berbagai lagu-lagu tradisional Papua dari berbagai suku dan menyanyikannya sebagai lagu rakyat atau folk songs.

Papua adalah musik. Anda mulai bernyanyi, orang secara otomatis akan mengikuti dengan suara 1, 2, 3, dan seterusnya. Iramanya akan jalin menjalin dan bergulung-gulung dengan indah.

Arnold Ap mengarang beberapa lagu berbahasa Indonesia. Salah satunya adalah "Nyanyian Sunyi," yang menjadi favorit saya. Lagu ini penuh kenangan karena pernah menemani saya dalam kesunyian.

Dalam lagu ini, Arnold Ap memainkan semua ironi yang bisa dia ungkapkan tentang tanah dan nasib bangsanya Papua. Refrainnya berbunyi: Surga yang terlantar dan penuh senyuman// Laut mutiara yang hitam terpendam //Dan sungai yang deras mengalirkan emas

Surga terlantar tapi masih bisa tersenyum. Laut mutiara tapi hitam terpendam. Sungai deras, mengalirkan emas yang tak terjangkau. Tanah yang permai, kaya (namun) melarat.

Saya selalu mendengar lagu ini dengan kepedihan yang menyayat.

Ada satu lagi dari Arnold Ap yang berbahasa Indonesia yang juga saya suka. Lagu ini ditulis oleh Arnold Ap di dalam penjara, saat tahu bahwa dia akan meninggal.

Pada bulan November 1983, Arnold Ap dan kawannya Eddie Mofu ditangkap pasukan Kopassus. Dia dijebloskan ke dalam tahanan dan disiksa.

Dia dituduh bersimpati pada gerakan Organisasi Papua Merdeka. Hanya karena kegiatannya dalam memajukan kebudayaan Papua. Tentu saja, dia tidak pernah diadili.

Dalam penjara, Arnold Ap menciptakan lagu yang mengungkapkan kerinduannya akan kebebasan. Lagu ini direkam dalam pita kaset dan diselundupkan keluar, kepada istrinya yang sudah terlebih dahulu lari dan hidup di kamp pengungsian di Papua New Guinea.

Hidup ini suatu misteri
Tak terbayang, juga tak terduga
Beginilah kenyataan ini
Aku terkurung di dalam duniaku

Yang kudamba dan kunanti
Tiada lain, hanya kebebasan 2x

Andai saja aku burung elang
Terbang tinggi, mata menelusur
Tapi sayang nasib burung sial
Jadi buruan, akhirnya terkurung

Yang ku damba yang ku nanti
Tiada lain, hanya kebebasan 2x


Arnold Ap akhirnya ditemukan meninggal pada hari raya Paskah tanggal 26 April, 1984 di Pantai Pasir 6, Jayapura. Kepalanya ada luka tembak dari belakang. Keterangan aparat keamanan Indonesia adalah karena dia berusaha melarikan diri.

Apa yang tidak bisa dibunuh dari Arnold Ap adalah warisan imajinasinya. Dia membantu bangsa Papua menemukan dirinya sendiri. Generasi muda Papua menciptakan musiknya sendiri. Tidak sedikit yang berkiblat pada ide-ide yang sudah ditanamkan pondasinya oleh Arnold Ap.

Hari-hari ini saya mengenangkan Arnold Ap dan Eddie Mofu, yang keduanya dibunuh tiga puluh lima tahun yang lalu.

Lagu terakhir Arnold Ap bisa ditonton disini:

https://bit.ly/2ZsDfsw

Lagu "Nyanyian Sunyi" bisa didengarkan disini:

https://bit.ly/2VZyDIh

#Repost Fb: made Supriatma
#melawanlupa

Manfaat kritik


Kritikan berarti salah satu sikap seseorang yang tidak setuju dengan suatu hal yang dianggap melenceng dari aturan atau keluar dari batas kebijakan suatu masalah.

Kritikan ada bermacam macam yaitu

1. Kritik Membangun : Yaitu kritik yang memberi masukan dan memberitahu orang lain dengan tujuan baik yaitu agar orang tersebut bisa memperbaiki atau mengurangi kekurangan atau kelemahannya tanpa memojokan orang yang dikritik dan memberi tips atau cara untuk mendukung upaya perbaikan kekurangannya.

2. Kritik berbau Iri : Yaitu kritik yang menjatuhkan karena tidak suka akan keberhasilan orang lain dalam sesuatu hal, biasanya memberi masukan yang bisa menjebak dan tidak secara langsung memperlihatkan rasa iri nya dan tidak menilai secara obyektif terhadap orang yang di kritiknya

Dalam menanggapi kritikan ada yang merasa beruntung karena sudah diingatkan kekurangan dan kesalahannya ada juga yang merasa down karena kekurangan dan kelemahannya diungkap oleh orang lain. Bagaimana cara menyikapi kedua kritikan itu?

1. Kritik membangun sangat berguna dan penyelamat hidup dari lembah kelemahan juga kekurangan kita sebagai manusia yang tidak sempurna, dengan adanya kritikan membangun kita bisa segera memperbaiki kekurangan dan kelemahan kita sehingga kwalitas hidup akan lebih bernilai serta penuh makna dan hikmah. Begitu banyak keuntungan kita mendapat kritik membangun selain kita dapat ilmu dan wawasan yang luas juga bisa belajar dari kesalahan dan bisa lebih memahami hidup dari berbagai sisi.

2. Untuk kritik yang berbau iri, dengki dan sejenisnya sebaiknya kita pun tidak lantas harus merasa down untuk menunjukan bahwa kita memang sudah melakukan sesuatu yang benar, juga tidak boleh balik dendam terhadap yang mengkritik tetapi kita musti introspeksi diri juga, menelaah semua apa yang pernah kita lakukan yang menimbulkan kritik tidak nyaman ini sampai mendekati kebenaran, selebihnya kita serahkan pada yang Maha Kuasa.

Dalam menyikapi kekurangan dan kelemahan kita tentunya kita akan lebih baik lagi apabila menyadari kekurangan dan kelemahan kita tanpa menunggu di kritik orang lain karena ada prinsip “

"""" semoga """"""

Mando Mote

10 Jenis Kelelawar Paling Unik dan Aneh di Dunia

Kelelawar telah lama melahirkan cerita-cerita horor (kelelawar vampir), mitos dan kesalah pahaman (seperti kebutaan).
Kelelawar dalam segala bentuk dan ukuran dan merupakan makhluk yang sangat menarik dan unik. Daftar ini adalah daftar sepuluh kelelawar paling tidak biasa di sekitar kita.

10. Kelelawar Pisang
Spesies eksklusif untuk Meksiko barat, kelelawar pisang yang terkenal karena moncongnya yang sangat panjang, terpanjang dari setiap kelelawar (relatif terhadap ukuran).
Hewan ini nectarivorous, yang berarti makan pada nektar yang merupakan penyerbuk penting dalam habitat hutan tropis. Ia mendapatkan namanya karena sering ditemukan di perkebunan pisang.

9. Kelelawar Hantu
Kelelawar berbulu putih ini ditemukan di hutan hujan tropis dari Meksiko ke Brasil, dan juga di Pulau Trinidad, di Karibia.
Ini adalah hewan soliter yang menghabiskan siang hari bersarang di bawah daun palem, dan kemudian terbang tinggi di malam hari, berburu ngengat dan serangga terbang lainnya.

8. Kelelawar Chapin’s
Kelelawar ini mempunyai “rambut” yang aneh, dan kelelawar jantan mengeluarkan bau aneh untuk menarik perhatian betina selama musim kawin. Mereka makan serangga dan hidup di hutan hujan Afrika Tengah.

7. Kelelawar Bermuka Kerutan
Spesies pemakan buah ini ditemukan di Meksiko dan Amerika Tengah, di mana ia dikenal sebagai “Murcielago viejito” (“kelelawar orang tua”) atau Murcielago zopilote (“Kelelawar kondor”), karena tubuhnya agak telanjang dan keriput.
Mereka memiliki lipatan besar kulit yang mereka gunakan sebagai masker untuk menutupi wajah mereka ketika mereka tidur.

6. Kelelawar Bertelinga Besar
Kelelawar terbang ini memakan serangga terbang, seperti kelelawar lainnya, menggunakan echolocation untuk menemukan mangsanya. Telinga besar mereka memberi mereka pendengaran jauh lebih baik daripada kelelawar bertelinga kecil. Mereka memiliki genera beragam dan ditemukan di banyak bagian dunia.

5. Kelelawar Pemancing
Kelelawar besar ini hidup di Meksiko, Amerika Tengah dan Selatan dan kebanyakan memakan ikan. Menggunakan kaki panjang bercakar untuk mengambil ikan di permukaan air dan kemudian memakan melalui sayapnya.
Yang relatif lebih kecil dari jenis Fishing Bat adalah Lesser Fishing Bat yang makanannya adalah serangga air.

4. Kelelawar Bermuka Hantu
Kelelawar Bermuka Hantu banyak tersebar di Dunia, dari Amerika Serikat, Selatan sampai Peru. Mereka nyaris tidak berhidung, memiliki flap kulit aneh yang keras di wajah mereka dan dahi yang sangat menonjol yang memberi mereka penampilan sangat aneh. Mereka makan serangga nokturnal.

3. Sucker Footed Bat
Kelelawar ini, endemik Madagaskar, awalnya diperkirakan menggunakan penyedot pada sayapnya dan pergelangan kaki untuk bergelantungan di daun palem dan permukaan halus lainnya.
Namun saat ini diketahui bahwa mereka tidak menggunakan tenaga hisap, melainkan adhesi, dengan menghasilkan zat lengket yang bertindak sebagai semacam-lem sama seperti adhesi ditemukan di katak pohon dan salamander.

2. Kelelawar Berhidung Tabung
Ditemukan di hutan hujan Filipina, kelelawar ini memiliki salah satu wajah aneh di antara mamalia. Telinga gelap dengan bintik kuning, mata berwarna oranye dan, terutama, hidung yang mirip tabung, memberikan penampilan wajahnya mirip tokoh kartun.
Kebanyakan mereka makan buah ara dan buah-buahan lainnya, tetapi dalam keadaan tertentu mereka juga makan serangga .

1. Kelelawar Berkepala Palu
Ditemukan di hutan hujan Afrika, kelelawar besar ini mendapatkan namanya karena bentuk kepalanya yang besar juga aneh, tapi ini hanya pada yang jantan.

Sebagian besar thorax kelelawar jantan adalah ruang untuk beresonansi yang memungkinkan mereka untuk menghasilkan suara yang sangat keras untuk menarik kelelawar betina. Mereka memakan buah-buahan dan kadang-kadang, juga memakan hewan lain.

Sumber :danish56.blogspot.com


Keadilan selalu di dasari dengan rasa KASIH

 Cerita pendek Buat sabat bloger
Ilustrasi@
Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.

"Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga contoh cerita di atas menjadikan kita semua selalu bisa mengambil keputusan dengan kasih, kasih akan membuat dunia ini menjadi lebih baik.

Kemerdekaan bagi Papua Goal Futile

Kepulauan terbesar di dunia - tempat yang besar lebih dari 17.500 pulau - adalah di antara tempat di dunia yang paling fractious. Ini adalah banyak pulau yang membentuk Indonesia, saat ini pembangkit tenaga listrik resesi-bukti Asia Tenggara, di mana tumbuh kelas menengah yang memacu pertumbuhan ekonomi yang pesat, tidak seperti di Barat, tidak sebagian besar didasarkan pada utang.

Selama lebih dari tiga dekade, negara itu diperintah oleh diktator Suharto, yang digulingkan di tengah bergolak bencana ekonomi pada tahun 1998 yang saya saksikan langsung ketika massa bayed dan tank berpatroli di jalanan Jakarta. Di antara tindakan pertama penggantinya, lalu-wakil presidennya BJ Habibie, sekarang penduduk Jerman, yang dilakukan adalah untuk mengizinkan Timor Timur, dimana Indonesia di tahun 1975, sebuah referendum kemerdekaan di mana ia memberikan suara bulat untuk membebaskan diri. Hal ini sekarang resmi dikenal sebagai Republik Demokratik Timor-Leste, dan juga terkenal karena menjadi salah satu negara terkecil di dunia dan termiskin.

Berturut-turut pemerintah Indonesia bergulat dengan pemberontakan berdarah di bagian utara dari negara, Aceh, di provinsi Sumatera Utara, tempat yang secara tradisional Muslim di mana Gerakan Aceh Merdeka telah selama beberapa dekade telah berusaha untuk membuat negara mereka sendiri. Tsunami Asia 2004 yang rata provinsi dan menewaskan sedikitnya 130.000 orang di sana memberi mereka keinginan mereka, setidaknya sebagian. Aceh sekarang menjadi wilayah otonomi khusus Indonesia, diperintah oleh hukum Islam dan headline mendapatkan untuk praktek-praktek seperti memberlakukan undang-undang untuk pezinah batu sampai mati.

Di tempat lain di negara raksasa dari 204 juta orang, Republik Maluku Selatan telah berusaha untuk membangun dirinya sebagai entitas yang terpisah sejak tahun 1950, namun telah memperoleh traksi sedikit. Namun, lanjut ke Timur, di pulau bahwa Indonesia saham dengan Papua New Guinea, pemberontakan yang lebih kuat telah menyeduh sejak itu dianeksasi pada tahun 1969 setelah pemungutan suara Bangsa-diamati Serikat dikenal sebagai Pepera - dasarnya menunjukkan tangan di antara sekelompok ulung dan sebelum militer - yang sejak itu telah secara luas dianggap sebagai tipuan.

Jakarta mempertahankan kehadiran militer yang kuat di provinsi ini suku-suku primitif, banyak dari kaum laki-laki yang mengenakan apa-apa selain labu, atau selubung penis, dan sebagian besar off-batas bagi orang asing, terutama mencongkel wartawan, seperti yang telah lama terjadi di Aceh berperang . Militer berdiri dituduh melakukan pelanggaran di Papua, beberapa di antaranya telah mengakui, seperti dalam kasus insiden tahun 2010 di mana tentara menyiksa warga Papua, video yang diupload ke internet, sehingga mustahil bagi militer untuk membantah . Para anggota separatis Papua Gratis Gerakan secara rutin dipenjara karena pengkhianatan, seperti siapa saja yang berani untuk menaikkan bendera Bintang Kejora.

Pemerintah Indonesia melindungi Papua karena alasan lain: itu adalah di mana tambang emas terbesar di dunia berada, tambang Grasberg dioperasikan oleh perusahaan Amerika Freeport-McRoRan, generator miliar dolar tahunan pendapatan bagi kas negara. Meskipun kekayaan besar yang dihasilkan oleh tambang, dan juga pertambangan tembaga di Grasberg, Papua desa berpendapat bahwa mereka sebagian besar miskin dan memiliki infrastruktur yang kurang di daerah terpencil dan hutan yang tertutup sebagai aliran dana ke Jakarta, bahwa sumber daya alam mereka diperkosa untuk memberi makan pemerintah pusat.

Baru-baru ini tokoh baru dalam perjuangan kemerdekaan Papua telah muncul, dalam bentuk Benny Wenda, yang dipenjara dan kemudian berhasil melarikan diri ke Inggris, di mana dia tinggal di pengasingan. Dalam sebulan terakhir, Wenda telah pada tur Pasifik, meningkatkan kesadaran tentang penderitaan umat-Nya dan menyerukan pemungutan suara kemerdekaan.

Haruskah orang di seluruh dunia yang mendukung Timor Timur menyebabkan sekarang bergabung dengan perjuangan Papua? Penyebabnya telah mendapatkan perhatian, terutama dari aktivis Noam Chomsky Amerika dan Uskup Agung Desmond Tutu dari Afrika Selatan, pemenang Nobel Perdamaian.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mantan panglima militer, akan datang ke akhir masa jabatannya, dengan pemilihan presiden yang dijadwalkan pertengahan tahun depan, ia tidak memenuhi syarat untuk menjalankan lagi karena dia berada di masa jabatannya yang kedua dan terakhir. Tapi itu adalah taruhan yang aman bahwa siapa pun keuntungan kekuasaan tidak akan melepaskan kendali atas bagian yang sangat menguntungkan dari negara yang Papua, tentu tidak semudah itu membiarkan Timor Timur menyelinap pergi.
Papua memiliki populasi kecil hanya 2,1 juta, Timor Leste hanya memiliki 1,1 juta. Aceh, sebaliknya, adalah rumah bagi hampir 4,5 juta - angka yang berkelanjutan untuk mendukung kebutuhan dan kerja sebuah negara kecil. Apakah mereka di Papua yang mencari kenegaraan benar-benar berpikir mereka bisa pergi sendiri? Seperti Aceh, tampaknya bahwa dialog dengan Jakarta di mana istilah otonomi khusus yang bekerja keluar adalah solusi yang lebih bisa diterapkan, bagi semua pihak.

Oleh: Amoye Bidabi



Pembredelan Buku Bukan Hal Baru di Tanah Papua

By. Naftali Edoway 
Jayapura Voice Baptist,-- Saya membuka sebuah media online yang berita-beritanya selalu saya santapi. Dialah Tabloidjubi.com, salah satu media online dari Tanah Papua yang berita-beritanya tak dapat disangsikan hingga kini.  Dalam media ini saya menemukan sebuah judul berita “Buku Ke-15 Dari Socratez Dilarang Beredar”[1], membaca judulnya saya jadi tertawa. Tertawa bukan karena ada kesalahan pada judul dan isi atau pada medianya tapi kepada mereka yang melarang buku itu beredar. Lalu sejenak saya berpikir bahwa rupanya sampai saat ini penguasa negara ini belum mau ditelanjangi dosa-dosanya. 
Mereka masih ingin berkubang dalam lumpur dosa. Mereka masih ingin menari-nari diatas penderitaan yang mereka ciptakan bagi orang Papua. Mereka masih ingin tertawa diatas dosa yang mereka lahirkan karena kekerasan dan kejahatan kemanusiaan yang sudah dan terus dilakukannya hampir 50 tahun terakhir.
Sejak diintegrasi paksa 1969 hingga hari ini yang namanya pembredelan buku tentang Papua bukan hal yang baru. Hal seperti ini sudah berlangsung lama. Misalnya saja; Buku karangan Pdt. I.S. Kijne, “Seruling Mas” di larang beredar oleh pejabat Indonesia di Papua tahun 1963; Buku, Jayapura ketika perang Pasifik, oleh A.Mampioper di di larang beredar oleh pejabat Indonesia di Papua tahun 1979; Buku Karya Pdt. Jan Mamoribo, Benteng Jembekaki, dilarang beredar dalam tahun 1979 oleh pemerintah Indonesia; Buku karya Benny Giay, Penculikan dan Pembunuhan Theys Eluay, dilarang beredar dalam tahun 2003 oleh pejabat negara Indonesia di Papua; Sendius Wonda dengan bukunya, Tenggelamnya Rumpun Melanesia, dilarang beredar oleh pemerintah Indonesia tahun 2007; Socrates Yoman dengan buah penahnya yang berjudul Pemusnahan Etnis Melanesia, dilarang beredar oleh pemerintah Indonesia dalam bulan Agustus 2008, dll[2].
Dilarang beredarnya buku diatas, termasuk bukunya Socratez S.Yoman yang terakhir ini, menurut saya merupakan kebijakan untuk mematikan aktualisasi diri orang Papua atau upaya mematikan sikap kritis. Mereka ingin padamkan suara-suara demokrasi dari rakyat Papua. Mereka tak ingin kesalahan dimasa lalu dibongkar. Karena jika demikian mereka akan kehilangan muka dihadapan rakyatnya dan dunia internasional.
Kedua, Negara berusaha mengamankan status quonya atas tanah Papua dengan bahasa, bahwa isi dari buku-buku itu akan meresahkan rakyat, akan menganggu kondisi keamanan bahkan dikatakan berbau makar. Sikap negara seperti ini menunjukkan bahwa tak ada demokrasi di Papua. Yang ada hanya kekerasan, stigma dan teror dari waktu ke waktu untuk mengamankan kepentingan negara di Tanah Papua. Kekerasan yang berlebihan di Papua ini menunjukan adanya darurat kekerasan.  
Ketiga, ini adalah bentuk nyata kebijakan publik negara yang menurut Wibawanto Nugroho adalah degenerative politics[3]. Degenerative politics menurut Pak Nugroho adalah pandangan-pandangan politik dan anggapan-anggapan yang melumpuhkan kondisi masyarakat Papua. Artinya, Jakarta berpikir bahwa kehadiran buku itu akan mengganggu kadaulatan negara, sehingga segera diberedel/dilumpuhkan. Tak boleh ada orang Papua yang pintar dan menulis buku yang mempermasalahkan status quonya,dll.
Keempat, pembredelan buku ini menunjukkan bahwa sebenarnya ada penjajahan atau pun perbudakan di Tanah Papua atau dengan kata lain Jakarta masih ingin memelihara politik penjajahan/perbudakannya di Papua.
Jika demikian, kapan ada kebebasan sebebas-bebasnya bagi rakyat Papua untuk menyatakan perlakukan tidakadil yang terus mereka alami? Kapan impian “Papua Tanah Damai” itu diwujudnyatakan? Kapan slogan “Kasih dan Damai itu Indah” yang dipajang di markas-markas militer itu terwujud? Entalah!  Tapi kekerasan masih terus terjadi. Ketidakadilan dan diskriminasi masih terlihat di depan mata. Teror dan intimidasi terus berjalan.  
Adakah Jakarta punya niat untuk mengakhiri konflik ini dengan jalan dialog atau perundingan? Kita tunggu sambil berjuang. Maju sambil terus mengumandangkan suara-suara kritis dari negeri ini dengan keyakinan kita bahwa kebenaran itu ibarat kekuatan air yang mengalir dari ketinggian ke dataran rendah. Ia tak dapat dibendung atau dipenjarahkan. Ia akan terus mengalir menembus sekat-sekat kebijakan negara yang ingin menahannya
 
Penulis: Naftali Edoway ( Dosen STT Walter Post jayapura)
 
Sumber: Voice Baptist
 
 
 
 

Stop Kekerasan, Sejarah Harus DIBuka


Orang yang mengalami rasa takut (terhadap perang lain) karena telah berbohong, biasanya akan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan yang pertama. Jadi setiap kebohongan memiliki kecenderungan untuk melahirkan kebohongan baru. Kelihatannya hal serupa juga berlaku dalam tindakan kekerasan. Ketika sekelompok orang memilki kekuasan atas kelompok yang lainya atau suatu bangsa atas bangsa lainya dengan jalan kekerasan(termasuk pembunuhan),tidak mustahil bangsa yang memperoleh kekuasaan melalui kekerasan tersebut akan menjaga kelanggengan kekuasaannya dengan cara memelihara kekerasan sebagai sarana mempertahankan hegemoninya terhadap bangsa yang ia kuasai sehingga bangsa yang dikuasinya kerapkali harus mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan cara mempertahankan diri melalui kekerasan pula.  Terhadap itu, saya berpikir : 

Papua mengalami hal itu. Saya meyakini,kekerasan yang dilakukan baik oleh individu maupun kelompok (dari bangsa Papua) terhadap kelompok YANG diyakini sebagai musuhnya adalah sebagai usaha mempertahankan eksistensi diri dan bangsanya dari serentetan kekerasan yang pernah ditujukan dan membungkam bahkan terkesan "menghancurkan) individu maupun kelompok dari bangsa Papua pada masa sebelumnya. Jika inilah yang terjadi, maka sudah sepantasnya sejarah Papua dibuka kembali,dilihat secara objektif dengan sikap rendah hati dan menerima kesimpulan yang logis dari ke-objektif-an itu dan memutuskan untuk bertindak secara tepat dan proporsional sesuai kesimpulan itu dan bukanya melakukan manipulasi terhadap fakta sejarah dengan cara menyederhanakan kekerasaan yang terjadi sebagai sebuah konflik biasa yang perlu direkonsiliasi agar dapat menyebut daerah dimana terjadi konflik antara yang menguasai dan dikuasi sebagai ZONA damai! 

Oleh : Agus Mofu


 

DRAF NASIB BANGSA WEST PAPUA YANG DI GANTIKAN OLEH AMERIKA DAN PBB

SEJARAH TANAH PAPUA DAN TIMUR LESTE ADALAH SAMA, NEGARA MERDEKA YANG SUDA DI DAFTAR OLEH BELANDA DAN PORTUGIS DI AGENDA PBB DALAM MASA YANG BERBEDA.
HANYA SAJA PAPUA SEBELUM MENGADAKAN NEW YORK AGREEMENT 15 AGUSTUS 1962, SETELAH KONTRES PERTAMA 1961 BELANDA TELAH DI DAFTARKAN DRAF KENEGARAAN BANGSA PAPUA BARAT DI AGENDA PBB, TETAPI DRAF KENEGARAAN BANGSA PAPUA BARAT TESEBUT DI GANTIKAN DENGAN DRAF NASIB BANGSA PAPUA OLEH AMERIKA DAN PBB DEMI KEPENTINGAN KEKAYAAN ALAM PAPUA.
SETELAH BERHASIL DI GANTI DRAF TERSEBUT, PRESIDEN SUKARNO MENYERAHKAN GUNUNG EMAS DI PAPUA SEBAGAI KADO KEPADA AMERIKA DAN PBB.
NEW YORK AGREEMENT ADALAH SEBUAH PERJANJIAN ANTARA PBB, AMERIKA, DAN BELANDA UNTUK MENYERAHKAN PAPUA MELALUI UNTEA KEPADA INDONESIA.
SEBELUM 2 TAHUN INDONESIA DI NYATAKAN SAH KNRI AMERIKA DAN INDONESIA MENGADAKAN KONTRAK KERJA PT FI AWAL. INTINYA PAPUA DAN TIMUR LESTE ADALAH SAMA, NEGARA MERDEKA , MUNGKIN HANYA ZAMAN SAJA YANG BEDA.
KINI DUNIA MASIH MENGAKUI DENGAN DRAF NASIB BANGSA PAPUA YANG PERNAH DI GANTIKAN OLEH AMERIKA DAN PBB DENGAN DRAF KENEGARAAN ITU.
SAAT INI KITA ORANG PAPUA PUNYA TUGAS MENJELASKAN SEJARAH BANGSA PAPUA KEPADA SIAPA SAJA, JANGAN SIFATNYA MEMBENARKAN DRAF NASIB HIDUP BANGSA PAPUA YANG PERNAH DI GANTIKAN OLEH AMERIKA DAN PBB SEBELUM NEW YORK AGREEMENT ITU, TAPI JELASKANLAH SEJARAH BANGSA PAPUA YANG BENAR PADA SIAPA SAJA, AGAR MEREKA PUN MEGETAHUI SEJARAH KEMERDEKAAN BANGSA PAPUA SECARA UTUH. (VOT/Piche)
(MAT JUANG UNTUK BANGSA PAPUA)
MERDEKA....





RI NEGARA OTORITER, BUKAN NEGARA RAKYAT

Kekuasaan dan politik dimiliki oleh manusia hanya karena ia adalah manusia. Kakuasaan dan Politik yang dimiliki manusia berkembang dari lingkungan kecil hingga membentuk kekuasaan dan politik yang lebih tinggi, yang dinamakan negara. Dalam perwujudannya manusia menggunakan akal sehat atau pemikiran logis.

Mengenai kekuasaan Negara para filsuf berpendapat bahwa, negara hanya sebuah kayangan yang hanya mengidealkan negara yang tidak pernah ada. Karena mereka yang terlibat dalam negara hanya bermain kuasa dan kepemimpinannya.

Sebagian besar pemimpin dan bukan semua, minim dalam keterlibatan dengan masyarakat. Maka penggunaan akal sehat atau pemikiran logis hanya sebagai formalitas dalam sebuah negara. Negara seperti demikian sering bersikap otoriter. Ingin menguasai yang lain.

kalau negara yang tidak menyadari akal sehat dan yang tidak membangun rakyatnya dengan baik serta tidak mendegar seluk-beluk penderitaan kehidupan rakyat, maka negara tersebut bukan negara manusiawi. Negara tersebut barangkali boleh dinamakan negara penguasa dan lebih dari itu penindas. (Honei)

PEDAGANG ASLI PAPUA: Antara Penguasa Dan Dikuasai

Honaratus Pigai, Pemuda Papua
(Foto Facebook)
Kemarginalan Orang asli Papua.
Orang asli Papua benar-benar terpinggirkan dan dikuasai dari tanah leluhurnya sendiri. Hal ini, dapat dilihat dari contoh, mama-mama pedagang asli Papua yang hingga kini berjualan di pinggir jalan dan emperan-emperan tokoh. Mereka menahan hantaman teriknya matahari dan derasnya hujan dengan beralaskan lantai tanah dan beratap langit. Hanya demi mencari nafkah hidup sehari-hari. Begitu banyak kebijakan dari pemerintahan pusat hingga daerah pun belum dan bahkan tidak menyentuh kehidupan pasar mama-mama Papua.

Untuk menanggapi hak hidup mereka, Solidaritas Pedagang Asli Papua (SOLPAP), yang terdiri dari organisasi-organisasi telah berupaya untuk menuntut hak hidup mama-mama ini. SOLPAP berjuag ke pemerintah dan meminta pembangunan pasar yang layak bagi mama-mama Papua, namun sampai saat ini pasar tersebut belum jadi. Pihak yang berwenang, dalam hal ini pemerintah Indonesia di Papua (Gubernur, DPRP, Walikota Jayapura dan jajarannya) tak pernah menanggapi usulan ini secara serius. Malah usaha yang dilakukan tim SOLPAP seringkali mendapat tantangan. Karena antara pihak pemerintah sendiri saling melempar dan mengaburkan. Janji-janji pun tidak terjawab dan bahkan kadang-kala janji itu hanya bohong. Akibatnya, mama-mama Papua masih berdagang di tempat yang tidak layak.

Sementara orang BBMJ (Bugis, Buton, Makasar dan Jawa) mendapatkan tempat yang layak. Mereka benar-benar menikmati fasilitas pemerintah Indonesia di Papua dalam kerangka Otsus di Papua. Itu wajar, karena orang asli Papua bukan orang Indonesia, sehingga fasilitas yang disiapkan Indonesia dinikmati oleh rakyat Indonesia yang berada di negri Papua ini. Katanya para pendatang dan Otsus memberdayakan orang asli Papua. Realitasnya tidak seperti itu. Kaum non Papua dan Otsus menjadi penguasa yang menguasai orang asli Papua dengan segala macam trik. (Socratez Sofyan Yoman, Pintu Menuju Papua Merdeka: Pejanju=ian New York 15 Agustus 1962 dan PEPERA 1969 Hanya Sandiwara Politik Amerika, Indonesia, Belanda dan PBB, 2000)

Dengan termarginalnya rakyat asli Papua di tanahnya sendiri adalah tidak mendapatkan fasilitas yang layak, namun tetap semangat berjualan di berjualan di tempat yang seadanya. Ini merupakan penindasan dan tidak adanya keadilan juga pemerataan. Apakah ini kalah saing? (Yoman, 2000).

Bukan hanya dalam hal ekonomi saja, melainkan dalam segala segi kehidupan; politik, kebudayaan, sosial, dan sebagainya. Orang asli Papua mendapatkan tekanan mental maupun fisik yang dahsyat. Mereka diperlakukan tidak adil dan benar. Sampai diperbodohi secara licik dengan berbagai strategi yang dimaikan. Yang membuat orang asli Papua “bimbang” dan bahkan tidak percaya kepada pemerintah yang selalu manipulatif. Dalam hal ini pemerintah semacam “latihan lain main lain”. Pemerintah sering berjanji akan berikan ini atau itu, tetapi tidak terlaksana. Inilah janji yang membohongi dan janji-janji palsu yang sering terdengar dari mulut pemerintah.

Contoh singkat janji bohong yang dialami mama-mama Papua bisa disimak seperti berikut: Bapak kita, yang mulia Barnabas Suebu, pernah berjanji dengan mulutnya sendiri bahwa mulutnya adalah SK. Ia pernah berjanji akan membangun pasar mama-mama tetapi sampai kini hal itu tidak pernah terjawab.

Sekarang juga mulai muncul masalah ketidak jelasan dana awal pembangunan yang dijanjikan Pjs. Hatari sebesar 10 milyar. Dana tersebut oleh badan keuangan provinsi pendahkan ke PU provinsi untuk pekerjaan pembangunan pasar, sementara lokasi yang mau direncanakan untuk pembangunan itu belum dibereskan secara tuntas. Sementara kantanya ada 15 milyar untuk membereskan lokasi tersebut, padahal pada bulan juni lalu pemerintah berjanji akan bereskan lokasi pembangunan tersebut. Maka di sini ada sikap pembiaran dan terkesan pemerintah yang adalah orang asli Papua sedang mempermainkan mama-mama Papua dengan janji-janji yang tidak benar.

= Kesenjangan antara Penguasa dan Dikuasa
Kesenjangan ini dinilai sebagai potensi kebohongan dan ketidakadilan. Ini merupakan ketimpangan yang cukup serius di Papua. Pembangunan di Papua umumnya mengarah ke ketimpangan ini. Orang mulai membedakan antara penguasa dan dikuasa. Sang penguasa mulai menari-nari di atas mimbar, atas tingkahlaku yang konyol. Ia merasa berhasil bahwa bisa menguasa manusia, alam dan kekayaan yang ada di Papua. Lebih sadis, sikap otoriter dan membunuh bila ada yang menyeleweng dari padanya.

Misalnya dalam segi ekonomi, bila dibandingkan dengan negara lain, Indonesia tergolong miskin. Pertumbuhan ekonomi telah melahirkan kesenjangan sosial antara penguasa dan dikuasa. Kebijaksanaan pembangunan yang memprioritaskan pertumbuhan ekonomi belum berhasil meningkatkan keberhasilan yang memadai. Sehingga seantero daerah di negara kesatuan republik Indonesia mengalami upah buruk.

Di Papua khususnya. Bagi orang lain, Papua dipandang kaya. Namun, yang kaya bukan orang asli Papua, tapi alam Papua. Alam Papua memang terkenal kaya, tapi alam Papua memperkaya orang non Papua yang ada di Papua. Orang asli Papua sendiri miskin di atas kekayaannya. Antara penguasa dan dikuasa memainkan peran, sehingga yang dikuasa mengalami nasip buruk atas ulah penguasa yang tidak adil dan bijaksana. Orang asli Papua mengalami situasi dikuasa oleh yang penguasa. Mereka bagaikan seorang penonton atas pengurasan kekayaan alamnya. Mulut mereka ditutup rapat-rapat. Mereja mau menurunkan penguasa dari mimbar kekayaan, tetapi semuanya ditanggapi dengan ancaman.

Otonomi Khusus (Otsus) misalnya, yang diberlakukan di Papua sejak 2001, diharapkan dapat menjadi pedang yang memberantas kesenjangan ini dan dapat menyamakan antara penguasa dan dikuasa. Namun tidak mencapai harapan itu. Malah dengan adanya Otsus menimbulkan kesenjangan yang lebih besar. Sehingga penguasa tetap menari terus-menerus di mimbar kekayaan dan yang dikuasa meratap atas kekayaan yang semakin hari hilang dibawa.

Kebanyakan orang asli Papua yang menyuarakan bahwa Otus gagal, karena tidak menjawab kebutuhan rakyat yang dikuasa adalah pernyataan yang sesungguhnya benar. Atas realitas di Papua pernyataan ini tidak dapat dibantah, oleh seribu satu kebohongan. Papua sedang berada dalam penguasaan raja negara. Semena-mena ia mengatur segalanya, sampai melupakan yang tidak seharusnya dilupakan. UP4B sekalipun hanya kebijkan semu dan hanya mau mendatangkan malapetaka.

Ketika orang asli Papua menyampaikan pendapatnya atas nasib hidupnya. Tidak ditanggapi serius. Pemerintah menganggap bahwa yang dikuasa tidak perlu mengangkat suara banyak. Yang mengangkat suara harus ditindas dan dianiaya. Karena yang dikuasa tidak dapat mengatur penguasa.

Salah seorang teman (JB) pernah mengatakan dalam diskusi tentang realitas kehidupan mama-mama Papua, bahwa “orang kaya menjadi tetap kaya dan orang miskin tetap menjadi miskin”. Rasanya ungkapan ini benar. Realitas Papua sedang menuju ke arah itu. Orang yang kaya menjadi penguasa, sedangkan orang miskin menjadi yang dikuasa. Sehingga orang kaya tidak peduli lagi dengan orang miskin. Dibiarkan seorang miskin merana mencari kebutuhan tiap harinya, dengan mengumpulkan barang-barang bekas (botol aqua, fanta, cocacola, besi tua dan sebagainya). Apakah ini sikap adil dan memanusiakan manusia? Atau melihat manusia sebagai “sampah/binatang”?

= Perlu Kesadaran
Antara penguasa dan dikuasa adalah dua subjek, yang sama-sama manusia. Tidak satu pun yang melebihi yang lain. Keduanya memiliki martabat yang sama yakni manusia. penguasa juga manusia dan yang dikuasa pun manusia. Ini sebenarnya harus menjadi modal dasar untuk saling membangun dan melengkapi kekurangan antar sesama manusia.

Label penguasa dan dikuasa seharusnya dihapuskan dan harus saling melengkapi sebagai manusia. maka pemerintah seharusnya mendengar dan sadar bahwa rakyat sedang membutuhkan sesuatu sehingga harus melengkapi kebutuhan umum yang dibutuhkan. Bukan membohongi dengan berbagai macam tindakan dan ungkapan yang berujung pada merugikan yang lain. Seharusnya pemerintah yang adalah orang asli Papua sendiri harus sadar dan mendukung kebutuhan umum dari mama-mama Papua ini. pasar yang diminta bukan untuk pribadi dan lembaga yang sedang berjuang, melainkan demi kepentingan dan kehidupan mama-mama pasar.

Mungkin saja pemerintah masih meragukan untuk membangun pasar, dengan pertimbangan mama-mama Papua tidak akan merawat gedung dengan baik. Tetapi kita bisa mengambil contoh bahwa ketika mama-mama Papua sehabis jualan di penggir jalan mereka selalu membersihkan dan menata kembali tempat jualan mereka sebelum pulang ke rumah. Maka bagi saya ini bukan alasan yang mendasar. Atau kah mungkin ada alasan lain yang membuat pemerintah tidak ingin membangun pasar, padahal perjuangan mama-mama Papua untuk meminta pembangunan pasar sudah sejak 2004 lalu. Alasan-alasan yang membuat pemikiran pemerintah terganjal ini harus dihapuskan dari benak dan menyadari bahwa mama-mama Papua adalah mama-mama kita bersama. Merekalah yang melahirkan kita sehingga bisa menduduki jabatan-jabatan tinggi seperti demikian, maka seharusnya disadari oleh kita semua sebagai manusia yang terlahir dari mama-mama.

Penulis: Honaratus Pigai Adalah mahasiswa STFT ‘Fajar Timur’ Abepura-Papua.
Sumber: Facebook
 
 
 
 
Copyright © 2013. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger