Showing posts with label Seniman. Show all posts
Showing posts with label Seniman. Show all posts

Konser ‘Tribute To Rio Grime’ Bukti Papua Punya Segudang Musisi

Konser Papua Dalam Cinta Tribute to Rio Grime yang berlangsung Selasa, (31/10) malam di Graha Bhkati Budaya( GBB) TIM, Jakarta membuktikan bahwa Papua memiliki segudang musisi yang mumpuni. Lebih dari 100 orang musisi, termasuk penari, tampil memukau di hadapan ratusan penonton yang membludak hingga banyak yang berdiri tak kebagian kursi.
 
Cover CD Rio Grime

Dari deretan bangku VVIP nampak Menpora Imam Nahrawi, Mempupera Basuki Hadi Mulyono, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, serta tokoh–tokoh masyarakat Papua seperti Yorris Raweyai. Hadir pula Judhi Kristianto dari JK record yang menjadi produser dua album kelompok Rio Grime.

 Selengkapnya Baca PACEBRO

Lucky Kaikatui: pelukis Papua yang sangat prolifik

Lucky Kaikatui dan sebagian karyanya
Dari beranda, ruang tamu, hingga ke dapur rumahnya berjejer berbagai lukisan indah bernuansa alam dan budaya Papua. Nyaris tidak ada tempat yang tersedia untuk menaruh lukisannya yang terus bertambah setiap minggu.

Lucky Kaikatui adalah seorang pelukis Papua yang sangat prolifik. Sayang sekali, kurangnya publikasi di media massa membuat realis yang satu ini tidak dikenal oleh masyarakat pencinta seni Indonesia. 

Karakternya sebagai seorang pelukis sangat kuat. Hal tersebut terlihat jelas dalam goresan-goresan cat minyak yang tegas dan penuh makna.

Sejak kecil ia telah dijuluki oleh teman-temannya sebagai jago gambar di sekolahnya. Sewaktu duduk di kelas satu SD Negeri I Manokwari, gambar pertama yang dibuatnya, “Pendekar Si Kapak Hilang,” langsung diperebutkan oleh teman-temannya. 

Menginjak SMP, Lucky selalu melukis. Karyanya dipamerkan di ruang perpustakaan sekolah. Begitu pula ketika ia harus pindah dari Manokwari ke Jayapura untuk melanjutkan pendidikannya di SMU. Sekali lagi karya–karya Lucky membuat banyak orang terkagum-kagum. Tahun 1985, ia mengikuti lomba melukis tingkat SMU dan Umum se-Papua. Sebagai hasilnya, untuk Tingkat SMU ia mendapat juara I, sedangkan untuk Tingkat Umum ia meraih juara II.

Bakat alam yang dimilikinya ini sempat mengundang perhatian para petinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Irian Jaya. Sebagai hasilnya, walaupun masih duduk di bangku SMU, pada tahun 1986 ia berhasil menyelenggarakan pameran lukisan di Jayapura sebanyak 3 kali. Tiap kali berpameran minimal jumlah lukisan yang dipajangnya adalah 30 buah. 

Pemuda Lucky Kaikatui menamatkan SMU pada tahun 1987. Ia pun berusaha untuk melanjutkan pendidikannya ke ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Sayang niatnya itu tak dapat ia wujudkan karena pihak keluarga tidak sanggup membiayainya kuliah di pulau Jawa. 

Menyadari kondisi perekonomian keluarganya ini, Lucky lalu kembali ke Manokwari dan mengikuti tes penerimaan CPNS. Ia lulus dan diterima sebagai pegawai negeri di Kabupaten Manokwari. Waktu itu Lucky yang masih muda tersebut ditugaskan di Anggi. Iklim di Anggi dingin sekali dan dikelilingi oleh danau serta kawasan hutan yang masih perawan. Lebih memprihatinkan lagi ternyata Anggi sangat terisolasi dari dunia luar. Menurutnya, di samping bekerja, ia sekaligus dapat meresapi keindahan alam Papua yang kelak akan menjadi sumber inspirasi yang berlimpah bagi karya-karyanya. 

Meskipun sudah bekerja sebagai pegawai negeri, kerinduan untuk menimba ilmu di perguruan tinggi tidak pernah surut. Dalam benaknya, suatu saat ia harus mewujudkannya. 
Setelah 3 tahun bekerja di pedalaman dan tidak pernah turun ke kota, tiba-tiba saja ia terserang penyakit Malaria dan harus berobat ke kota. Dalam keadaan sakit itulah Lucky memutuskan untuk berangkat ke kota. Ia harus berjalan kaki selama tiga hari menembus hutan belantara. Agar tidak tersesat, Lucky mengikuti beberapa orang pedalaman Arfak yang juga hendak ke kota. Kenangan berjalan kaki selama tiga hari di tengah lebatnya hutan Arfak kemudian ia tuangkan dalam sejumlah lukisan. Salah satu di antaranya berjudul “Menembus Isolasi untuk Setetes Kehidupan.” Lukisan itu menggambarkan tantangan alam yang dihadapi masyarakat bila mereka hendak pergi ke kota hanya demi membeli sedikit bahan kebutuhan pokok seperti garam, gula atau minyak goreng. Selain belum ada jalan beraspal, terdapat pula sungai-sungai besar. Dalam keadaan banjir sungai-sungai itu tidak bisa disebrangi. Penduduk harus berjalan di atas pohon-pohon yang telah tumbang. 

Persoalan itu kemudian disampaikannya kepada bupati Manokwari yang ketika itu adalah Drs. Esau Sesa berupa sebuah lukisan. Ternyata pak bupati tidak hanya menanggapinya dengan baik dan kaget melihat karyanya. “Pelukis berbakat seperti harus diberi kesempatan untuk mengembangkan karya-karyamu sebagai appresiasi terhadap seni dan budaya Papua,” komentar bupati kepadanya. Lucky selanjutnya mendapat izin bupati untuk meneruskan studinya di pulau Jawa. Keberangkatannya ke sana dalam rangka tugas belajar dari pemerintah daerah.

Berdasarkan arahan dari petugas pemda, ia diharuskan mengambil jurusan cinematography di Institut Kesenian Jakarta. Walaupun begitu, Lucky setiap saat terlihat nongkrong di jurusan seni lukis. Akhirnya ia pun diterima di jurusan tersebut dan langsung menempati Semester IV program D III Seni Lukis IKJ. 

Selama belajar di IKJ, Lucky dan kawan-kawannya pernah melakukan studi banding di ISI Yogja, sekolah yang telah didambakannya sejak masih di SMU dulu. Sehabis belajar dengan seniman Yogja, ia pun berangkat ke Ubud, Bali guna menuntut ilmu di bawah bimbingan Prof. Srihadi selama satu bulan. Lucky juga berkesempatan belajar dan melihat karya-karya Anthony Blanco, Arie Smith, Eisnel, dan I Nyoman Made Lempar.

Setelah mengembara selama 8 tahun di pulau Jawa dan Bali, maka pada tahun 2000 Lucky dipanggil pulang ke Papua. Ia harus menemani ibunya yang sedang sakit keras.
 
Di Manokwari Papua, ia kembali bekerja seperti sedia kala sebagai pegawai negeri di kantor gubernur IJB. Tidak lama kemudian Lucky turut membidani lahirnya PUMA – Perupa Manokwari. Organisasi ini berfungsi sebagai wadah berkumpulnya seniman Manokwari yang peduli untuk mengangkat kembali kekayaan budaya Papua supaya lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Keahliannya melukis dibagikan pula kepada orang lain yang tertarik mendalaminya. Saat ini ia sedang membina sejumlah anak-anak Papua dengan biayanya sendiri. Pelukis-pelukis remaja ini antara lain Yabal Marbuan, Alberth Marbuan, Alberth Warijo, Carlos, Septinus dan Mesakh, sebagian masih sekolah sisanya sudah drop-out. Harapan Lucky Kaikatui, semoga anak-anak didiknya tersebut, bersama dengan pelukis - pelukis senior, bisa berjuang melestarikan nilai-nilai kultur dan keindahan alam Papua yang semakin terkikis oleh arus modernisasi dan trend globalisasi. 

Bagi Lucky Kaikatui melukis adalah bagian dari perjuangan itu. Ia selalu mengingatkan generasi muda Papua agar tidak meninggalkan kekayaan budaya mereka yang begitu beragam dan tak ternilai harganya. 

Pelukis Lucky Kaikatui bersama
istrinya (Rahab) dan
anak-anaknya: Calvin Cahaya Cendrawasih (7),
Bernilai (2),
Selviana (6 bulan)
Kekayaan budaya Papua ini adalah salah satu aset budaya di Nusantara yang perlu dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda. Setiap lukisan yang dibuat Lucky selalu memiliki latar belakang cerita yang menarik. Contohnya, Hidup Atau Mati, lukisan ini menceritakan saat-saat menegangkan antara burung Kasuari dan si pemburu. Kakeknya Lucky adalah seorang pemburu Kasuari yang sangat terkenal di kampungnya. Dari cerita kakeknya, jika tombak yang dilempar tidak mengenai sasaran, sang pemburu bisa mati ditembusi tendangan tiga cakar Kasuari yang tajam.

Lucky Kaikatui kurang dikenal oleh masyarakat pencinta seni Indonesia. Mungkin ia tinggal di Papua, jauh dari jangkauan media massa nasional. Berbagai pameran lukisan yang digelarnya baik di Manokwari dan Jayapura kurang mendapat peliputan media massa yang semestinya. Walaupun belum banyak lukisan yang berhasil dijualnya, bukan berarti bahwa karya-karyanya kurang diminati masyarakat. Ia hanya belum dikenal oleh dunia luar terutama para kolektor seni.

Kondisi ini tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berkarya. Setiap minggu Lucky menghasilkan lukisan-lukisan yang baru. Kanvas dibuatnya sendiri. Teknik pembuatannya sudah dikuasainya sewaktu kuliah di IKJ dulu. 

Sang isteri (Rahab) sudah memaklumi kecintaan suaminya pada seni lukis. Oleh karena itu, dengan sepenuh hati ia mendukung suaminya yang idealis ini. Lucky Kaikatui sekeluarga tinggal di sebuah rumah kecil di Jalan Brawijaya No. 08, Jati, Manokwari. Papua Barat. Ia bisa dihubungi pada di. telp. 0986 213466


 http://www.geocities.ws

Postering Group Band Black Brothers Digelar

Group Band Black Brothers (foto lst)
Jayapura - Sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada group band asal Papua, “Black Brotehrs” yang merupakan group band legendaris asli Papua, dan telah menorehkan prestasi dan megharumkan nama Papua di dalam maupun luar negeri, maka Panitia, Postering group band “Black Brotehrs”, akan menggelar aksi postering yang akan digelar dibeberapa titik di wilayah kota Jayapura dan sekitrnya.
      Salah satu anggota panitia Postering. Charleston Totto Dacosta kepada SULUH PAPUA di Jayapura, Jumat, (31/1/2013) mengatakan, kegiatan Postering ini bertujuan sebagai bentuk apresiasi kepada group group band asal Papua, “Black Brotehrs” yang merupakan group band legendaris asli Papua.
        ”Jadi group black brotwhrs ini sudah mengahrumkan nama Papua di dalam dan luar Negeri, selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mendesak pemerintah kota Jayapura agar lagu Black Brothers yang berjudul KOTA JAYAPURA dapat menjadi lagu Mars kota Jayapura dan lagu JAYAPURA DI WAKTU MALAM dapat pula menjadi lagu Hymne kota Jayapura,” kata Charleston Totto Dacosta.
     Lebih lanjut Charleston Totto Dacosta mengatakan pihaknya akan meminta secara khusus kepada Panpel Persipura dalam laga ISL musim 2014 kali ini agar semua poster-poster di stadion Mandala yang tidak memiliki andil dengan Persipura di ganti dengan poster-poster Black Brothers yangg sudah menciptakan julukan “Mutiara Hitam” bagi Persipura Jayapura.
(D/CAS/R5/LO1)

Sumber  http://suluhpapua.com/read/2014/02/01/postering-group-band-black-brothers-digelar/

Seniman Papua, Auleman Pekei Tutup Usia

  
Alm. Auleman Pekei. Foto: Bonauwa
Tapi jiwa musik tidak mati begitu saja sebab ia tetap tinggal di sudut-sudut pendengaran manusia... (Kahlil Gibran)

Jayapura,  Salah satu musisi Papua asal suku Mee yang cukup dikenal para pecinta musik Papua, Auleman Pekei, telah menghembuskan nafasnya terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Paniai, Papua, Minggu (01/12/2013) pukul 06.00 pagi. 

Rekan-rekannya mengaku sangat kehilangan sosok yang menjadi panutan bagi banyak orang ini. Salah satunya diungkapkan Herman You. Dirinya mengaku sangat kehilangan seniman Papua, sebab menurutnya tak ada anak Papua yang sama selincah dengan Auleman Pekei. 

"Aul (sapaan akrab Almarhum Auleman Pekey) itu firasatnya tajam, pintar berbicara, pintar ciptakan lagu dalam sedikit waktu, manata musik, dan memainkan melodinya yang unik. Skill dalam mengatur irama juga sangat luar biasa," tutur Herman You sambil menceritakan kisah mereka.

Kata dia, banyak seniman Papua mengaku bisa bermain musik, namun tak selincah Auleman. "Walaupun orang mencopy aliran musik rancangannya, tapi ciri khas musik asli dan petikan jari-jari Auleman itu orang tak akan temukan. Memang itu bakat alamiah," tutur Herman mengenang.

Lebih lanjut kata You, ciri khas dan bobot lagu yang diciptakannya hampir setara dengan para musisi pendahulunya, seperti Arnold Ap dan Sam Kapissa. Kelebihan lain yang dimilikinya termasuk ciri khas vokal Auleman yang merdu dan enak untuk didengar.

Sementara itu rekan seperjuangan lain, Edmar Ukago mengungkapkan merasa menjadi anak tiri atas kepergian pria kelahiran Baliem ini.
"Kami rekan yang ditinggalkan merasa menjadi tiri, kami sangat berduka," kata Edmar singkat.

Pencipta lagu Halleluyah Wae itu menambahkan, Auleman sukses dalam karir seni di bidang musik. Ia juga pernah ikut Show Baliem Selection Band di Manado pada tahun 1997 dan meraih juara umum pada ajang itu.

Edmar berkisah, hasil perjuangan bersama Auleman pernah menjadi terlaris dan terpopuler di Papua. Album yang pernah laris manis tersebut diantaranya, Deiyai Tobe Group edisi perdana rekam di Wamena tahun 1995, rekaman album Mutaetuwai volume 1-2 di Wamena tahun 1998/1999 serta album perdana Taruatune di Nabire tahun 2004.

Diketahui, album terakhir yang pernah direkam dan beredar dalam bentuk kepingan VCD adalah group Paniai tahun 2012 lalu.

Auleman dikabarkan akan dimakamkan hari Senin (2/12/2013).
"Dia (Auleman Pekei) sakitnya demam sekitar satu bulan di Aikai, Enarotali. Hari Jumat yang lalu kami bawa dia ke RSUD untuk mendapatkan pengobatan, tapi di sini hanya 2 hari saja dan tak tertolong, jadi kami ada siap mau bawa jenazahnya ke rumah duka di Aikai. Rencana pemakaman pasti besok hari Senin," tutur Natan Pigai dari Enarotali melalui telepon selulernya.

Selain sebagai seniman, almarhum juga setiap hari menjalani tugasnya sebagai pegawai negeri pada Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya kabupaten Paniai.

Sekedar diketahui, Auleman D. Pekey meninggalkan dua orang anaknya yakni Aulsaide Herman Pekey (18) dan Melany Pekey (16). (MS/Abeth Amoye You)


 Penulis : Abeth Amoye You | Minggu, 01 Desember 2013 16:03 
Sumber : MAJALAH SELANGKAH.com 

Pemkab Paniai Tak Pedulikan Seniman

Seniman Paniai (Foto/Google)
Paniai  - Pemerintah Kabupaten Paniai dinilai mengabaikan para seniman. Salah seorang seniman Paniai Ofni Yeimo mengatakan, sudah lima tahun pemerintah Paniai tak pernah mengucurkan dana bagi sanggar seni. Padahal dana tersebut telah dialokasikan tiap tahunnya.
“Iya untuk sementara ini seniman dan seniawati di kabupaten Paniai ini sangat mati atau tidak berjalan lancar karena kurang adanya perhatian dari pemerintah. Dan sanggar-sanggar sampai saat ini tidak ada uang pembinaan dari pemerintah daerah dan dinas terkait,” keluh Ofni.
Salah seorang seniman Paniai, Papua Ofni Yeimo berharap, pemerintah memberi perhatian kepada mereka. Dana untuk kegiatan kesenian dibutuhkan untuk pengembangan. Ofni Yeimo menambahkan, akibat dana kegiatan yang tidak dikucurkan, banyak sanggar kesenian yang tutup.
Sumber: Suara Cendrawasih

MAMBESAK dan BLACK BROTHERS : Group Band Inspirator

MAMBESAK
Sewaktu pergerakan perlawanan dibawah tanah (dalam kota) yang diprakasai oleh budayawan Alm. Arnold Ap, para seniman sering berbicara sekitar pembangunan jiwa nasionalisme Papua atas generasi muda Papua. Dari sana lahirlah kedua icon perjuangan Papua, yaitu MAMBESAK dan BLACK BROTHERS.
Setelah kegiatan-kegiatan kedua group music mulai tercium oleh intelejen penjajah, maka Black Brothers ditugaskan oleh Markas Victoria dibawah pimpinan Jendral Seth J. Rumkorem untuk menyelundupkan kedua pelaku sejarah, yaitu Alm Bpk Eliezer Yan Bonay, dan Alm. Dirk Samuel Ayamiseba, masing-masing selaku Gubernur pertama dan Ketua DPRD-GR pertama.Mereka bersama group band itu menyelamatkan diri ke luar negeri, dan lebih banyak mengambil bagian dalam Gerakan Papua Merdeka. Dalam pengasingan di Belanda, OPM menugaskan Black Brothers utuk membangun basisnya di Vanuatu bersama Rex Rumakiek. Mereka telah berhasil membangun basis dan telah didirikan sejak tahun 1983 sampai dengan hari ini. Black Brothers juga punya asumbansi dalam memberikan dukungan lewat music untuk mendirikan negara Vanuatu.
BLACK BROTHERS : Group Band Inspirator.
Lirik lagu-lagu itu terus mengalir dan terkenang di hati rakyat Papua sampai kini. Melodinya yang manis, filosofis, dan harmonis, adalah ciri khas dan gaya tersendiri. Black Brothers juga mengunakan instrumen tiup (brass-wind instrument) sehingga lebih berwarna selain itu dari sisi suara Ada vokalis utama, pemusik lain ikut membentuk suara latar. Itulah keunikan sehingga banyak orang Indonesia bahkan manca negara mengagumi. BB sangat unik dan senang didengarkan karena mereka memainkan banyak aliran music yakni; beraliran pop, rock, funky blues, Jaz, Reggae dan juga keroncong. Black Brothers layak dicatat di buku sejarah musik pop Indonesia. Sewaktu mereka berada di luar, mereka juga menyanyikan banyak lagu lirik dan nada dapat ditiru oleh artis lainya.
Penyanyi-penyanyi yang dihuni oleh orang-orang dari timur (manado, Ambon dan Papua) yang melandaskan gaya perjuangan baru dan mengharumkan nama Papua itu telah hilang satu persatu. Ada yang termakan usia, sakit dan juga karena dibunuh secara halus. Mereka adalah Hengky Sumanti Miratoneng, salah satu yang mendirikan Black Brothers pada tahun 1975 bersama Yochi Patipeiluhu (keyboard), Stevy Mambor (drummer), Amrey Kaha (saxophone), Agus Rumaropen (guitaris), Benny Betay (bassis).
Black Brothers adalah salah satu Group inspirator yang hidup dan menunjukan jati diri Bangsa Papua namun saat ini mejadi angan-angan bagi setiap musisi di Papua yang tidak mampu menciptakan dan melanjutkan perjuangan yang dilakukan Black Brothers. Banyak musisi saat ini yang terjebak dengan Programer Keyboard yang sangat miskin kreatifitas yang menciptakan individualismes dan sangat jauh dari kwalitas group music. Padahal musik adalah napas dalam jiwa yang terekam melalui panca indra yang kemudian di latunkan dalam sebuah syair dan instrument (makna filosofis). BB Mampu menerjemahkan jiwa dan napas bangsa Papua yang di masa tahun 1970-an di jajah melalui praktek kekuasaan Negara yang kejam melalui kebijakan-kebijakan yang beraroma Militerisme. Banyak makna dari setiap lirik BB yang menceritakan kebebasan, keadilan, dan kemanusian.
Perkembangan peradaban Musik merupakan ukuran suatu bangsa dalam melihat perkembangan masyarakat. Papua saat ini mengalami degradasi ( kemunduran ) kreativitas seni musik yang bisa di katakan parah, karena minimnya regenerasi. BB Cuma dijadikan sejarah dan cerita dari masa ke masa, namun tidak menjadi inspirasi bagi generasi Papua saat ini untuk membuat banyak group musik yang lebih hebat dari masa BB dulu. Inilah titik kemunduran generasi saat ini, banyak group musik yang muncul tetapi tidak mampu menciptakan performa musik sesuai dengan perkembangan budaya dan Zaman. Munculnya komunitas-komunitas musik baik tradisional maupun yang modern saat ini cenderung lebih meniru budaya bangsa lain( pemahaman sempit dalam meniru jenis/ aliran musik tertentu sperti;reggae, jazz, pop, blues, dll)
Minimnya ruang-ruang yang diciptakan oleh pencinta seni musik merupakan salah satu faktor terhambatnya kebangkitan peradaban musik di tanah Papua saat ini. Strategi membangun seni musik dalam sebuah Group band adalah kesadaran membangun suatu organisasi yang mempunyai program dan menghargai setiap individu yang ada didalamnya. Program tersebut lahir dari peradaban budaya dan perilaku perkembangan masyarakat Papua saat ini, sehingga akan muncul ide-ide kreatif dalam membuat syair/lirik dan menentukan jenis musik sehingga musik tersebut memiliki jiwa yang memberikan pesan-pesan kepada generasi berikut. BB dimasanya mampu menemukan bentuknya, Bagaimana dengan generasi saat ini?

(@rastamaniapapua)

Tuntut Dana, Puluhan Seniman Palang Kantor Dewan Kesenian Papua

Puluhan seniman Papua Barat memalang kantor Dewan Kesenian Tanah Papua. Mereka menuntut dewan atas penggunaan dana APBD senilai 1,5 milyar. Koordinator pendemo Elly Krey mengatakan selama ini tidak ada hasil yang jelas dari berbagai aktivitas kesenian yang dikoordinir Dewan Kesenian.

"Mereka atas namakan seniman ini untuk kepentingan pribadi,seperti proyek saja. Kedua segera pertangung jawabkan keuangan yang cukup besar ini, karena selama ini badan pengurus lama orang-orang yang tertentu di dalam ini mengatas namakan Gubernur provinsi Papua Barat untuk menakut-nakuti seniman yang ada di daerah ini. Kami seniman kecewa karena dana-dana yang di turunkan dari pemerintah kami tidak tahu, dana 1,5 M kami pun tidak tahu,"katanya.

Koordinator pendemp seniman Papua Narat Elly Krey mendesak agar pengurus lama segera membentuk kepengurusan baru. Mereka minta orang yang duduk di dewan tersebut adalah orang yang mengerti dengan kesenian Papua. (KBR68H)
 
Copyright © 2013. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger