Showing posts with label Mahasiswa. Show all posts
Showing posts with label Mahasiswa. Show all posts

Mahasiswa Papua di Makassar Tak Nyaman 'Dibayangi' Polisi

Suasana sepi terlihat dari depan asrama papua di Makassar yang berada di kawasan Jalan Lanto Dg. Pasewang, 8 Desember 2018. (CNNIndonesia/Ancha
Sejumlah mahasiswa yang mendiami asrama mahasiswa Papua di Kota Makassar mengaku tak nyaman dengan tindakan polisi membayang-bayangi mereka.

Salah satunya yang dialami sejumlah pelajar di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Lanto Dg. Pasewang, Makassar pada Sabtu (8/12). Polisi bersenjata lengkap setidaknya dua kali mendatangi asrama tersebut.

"Pertama mereka datang pagi, lalu kedua sore," kata Faisal, seorang penjual bakso di sekitar Asrama Mahasiswa Papua kepada CNNIndonesia.com.


Minus Lambrau, salah seorang penghuni asrama, mengatakan bukan hari itu saja polisi bersenjata lengkap mendatangi tempat mereka. Itu, kata dia, sering dilakukan apalagi semenjak 1 Desember dan teror kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Nduga, Papua.

"Terus terang kami tidak nyaman," katanya.


Sambil setengah berbisik, Minus yang tak ingin dicurigai mengatakan meski tidak melakukan apa-apa, kedatangan polisi cukup mengganggu aktivitas penghuni asrama. Para penghuni asrama pun diimbau untuk tidak bepergian lebih jauh. Minus mengatakan, situasi itu membuat saling curiga antarsesama penghuni asrama.

Sekretaris Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Makassar Martinus Go mengatakan kedatangan polisi ke asrama mahasiswa bukan hanya terjadi di Jalan Lanto. Nyaris semua asrama ikut diintai polisi. Mereka baik dalam seragam lengkap hingga pakaian biasa sering menunggui asrama-asrama mahasiswa Papua.

"Saya dengar soal kejadian hari ini di Jalan Lanto, tapi saya belum bisa bercerita lebih banyak," katanya.

Salah seorang penghuni asrama mahasiswa Kabupaten Gogiyai Papua di Jalan Hertasning Makassar, Agus Wensiwor, juga mengaku tempat mereka mendapati hal yang sama. Ia bahkan keberatan dengan kedatangan polisi 1 Desember 2018 lalu. Saat itu polisi datang ditemani Ketua RT/RW di lingkungannya.

"Saya tanya surat izinnya, tapi mereka bilang tidak ada, cukup RT/RW saja," kata Agus menirukan ucapan polisi.

Tidak jelas apa maksud kedatangan polisi itu kata Agus. Mereka biasanya datang menanyakan apakah ada acara di dalam asrama atau tidak. Beberapa kali juga meminta data, mulai dari nama lengkap, alamat asal, hingga kuliah di mana di Makassar.

Sejak 1 Desember lalu, kata Agus, polisi-polisi itu selalu datang. Ia sempat menanyakan ke salah satu polisi yang selalu menungguinya di depan asrama.

"Katanya, Kami mengawasi kalian," tutur Agus.

Tapi ia tidak habis pikir. Diawasi dari apa dan siapa? Ia dan kawan-kawannya mengaku tidak tenang, karena sebelum tanggal 1 Desember tidak pernah ada polisi yang selalu datang.

Saat dikonfirmasi, Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes Pol Dicky Sondani membenarkan perihal polisi yang sering datang ke asrama Papua di kota Makassar. Tapi ia berdalih hal itu sebagai bentuk patroli biasa saja.

"Antisipasi jangan sampai terjadi apa-apa," katanya.

Dicky tidak menjelaskan lebih rinci bentuk gesekan apa yang diantisipasi. Ia hanya mengatakan, korban penembakan pekerja konstruksi di Kabupaten Nduga, Papua baru-baru ini banyak orang dari Sulawesi Selatan. Sehingga ditakutkan risiko 'aksi balas dendam' dari penembakan di Nduga tersebut.

Abdul Azis Dumpa dari Lembaga Bantuan Hukum Makassar mengatakan, intimidasi dan diskriminasi kepada mahasiswa Papua di kota tersebut merupakan bentuk pembatasan kebebasan berekspresi, berpendapat, berserikat dan berkumpul.

"Pembatasan dalam bentuk apapun merupakan pelanggaran atas Hak Asasi Manusia," tegasnya.


Minggu, 09/12/2018 00:57 WIB  (anc/kid) CNN Indonesia

Asrama Mahasiswa Tidak Layak Huni, Alumni Papua Bandung Desak Pemerintah!

Usai Kunjungan Alumni Bandung didampingi Sekjen IMASEPA JABAR
Leonardus O. Magai di Cilaki No. 59 Cihapit Kota Bandung (Foto: William J. Sondakh)
Bandung - Usai Perayaan Natal dan Reuni Akbar Alumni Bandung meminta kepada Pemerintah Provinsi Papua untuk segera merenovasi Asrama Mahasiswa Papua Kamasan II yang terletak di Jalan Cilaki No. 59 Cihapit, Kota Bandung.
 
Perasaan prihatin membekas di hati para Alumni Papua Bandung melihat kondisi asrama mahasiswa yang telah menjadikan mereka manusia namun dibiarkan terlantar.

“Kami menangis ketika melihat tempat tinggal dan belajar saat kami menempuh perkuliahan di Bandung,” lirih Yehuda Majar, Senin (01/12/2018)

Dalam kunjungan ke asrama mahasiswa tersebut, para Alumni Bandung menyepakati untuk mendesak Pemerintah Provinsi Papua supaya fokus pada pemeliharaan gedungnya.
Selain itu pihaknya juga mendesak Pemerintah Provinsi Papua untuk segera merenovasi asrama tersebut.

Ikatan Alumni Bandung sepakat untuk menyurati Pemerintah Provinsi Papua Barat, Wali Kota Bandung, Kementerian Ristek dan Dikti serta Presiden Republik Indonesia.
“Dalam mensukseskan rencana tersebut kami akan membentuk tim internal untuk mengawal rehabilitasi asrama,” ujar Johana.

Sekretaris Jenderal Ikatan Mahasiswa Papua se-Tanah Papua Jawa Barat, Leonardus O Magai berharap, agar asrama segera direnovasi. “Supaya kami, pihak mahasiswa dapat mengembangkan potensi kami,” ungkapnya.

Leonardus O Magai mengatakan, pihaknya punya banyak kegiatan seakan mati tanpa program kerja. Berkaitan tempat perkumpulan yang tidak layak huni dalam melaksanakan rapat pun dalam kondisi gelap dan hanya menggunakan penerangan seadanya.

“Saya ucapkan terimakasih kepada alumni yang berkenan mengunjungi sekretariat kami.  Dan terimakasih atas kepeduliannya untuk melakukan aksi sosial dengan membuka Dompet Cilaki 59 Bandung,” pungkas Leonarsus O Magai.

Pewarta: Barnabas Subagio/wartapriangan.com


Natal IMASEPA JABAR Dan Reuni Akbar Dilaksanakan Bersama Ridwan Kamil

 Bandung, "Bandung Panggil Pulang" menjadi tema Reuni dan Natal Akbar alumni Bandung asal Papua dan Papua Barat bagi para mahasiswa dan alumninya bersama keluarga berbondong-bondong menuju Paris Van Java untuk bernostalgia bersama Walikota Bandung di Pendopo Walikota, Alun-Alun Bandung.

Natal dan Reuni Akbar alumni Bandung Papua tahun 2017 berbeda dengan Reuni dan Natal tahun-tahun sebelumnya yang biasanya digelar di tiap kota di Tanah Papua. Tahun 2017 atas undangan Walikota Bandung Ridwan Kamil, Natal dan Reuni Akbar alumni Bandung dilaksanakan dari 29 Desember 2017 hingga 1 Januari 2018 di Kota Bandung.     

Ketua Panitia Jesaya Ch. Waromi menjelaskan perjalanan Natal IMASEPA JABAR dan Alumni Bandung pertama digelar di Kota Jayapura tahun 2014 dan tahun berikutnya dilanjutkan ke Kota Sorong, pada perayaan ke tiga diadakan di Timika yang dihadiri oleh Bapak Walikota Bandung Ridwan Kamil. "katanya.     

Ia melanjutkan, Saat itu Ridwan Kamil secara resmi meminta untuk Natal dan Reuni Akbar tahun 2017 dilaksanakan di Kota Bandung tempat dimana para alumni pernah mengenyam pendidikan. "ungkapnya. Senin, 1 Januari 2018 di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan II Jl. Cilaki No. 59 Cihapit, Kota Bandung.     

Lebih lanjut, Jesaya menyampaikan bahwa Sejak tanggal 27 dan 28 Desember 2017 para alumni beserta keluarga telah berdatangan dengan pesawat maupun kapal laut melalui Jakarta dan Surabaya dengan mengenakan pakaian "Bandung Panggil Pulang" yang berwarna Merah abu-abu. "paparnya.     

Natal IMASEPA JABAR dan Alumni diadakan pada tanggal 29 Desember 2017 bertempat di GOR Pajajaran selanjutnya keesokan harinya dilaksanakan Reuni Akbar bersama mahasiswa, pelajar dan keluarga besar Papua di seluruh Jawa Barat di Pendopo Kota Bandung. "ujarnya, sambil menunjukkan tempat kegiatan.     

Pantauan dari Media ini, Reuni Akbar dilaksanakan atas Dukungan penuh Bapak Walikota Bandung Ridwan Kamil sebagai Tuan Rumah di Pendopo Kota Bandung pada tanggal 30 Desember 2017 dari Pukul, 12:00-15:00 WIB, yang juga dihadiri Bupati Kabupaten Sorong sebagai alumni Bandung.   

Ketua IMASEPA JABAR, Jack Peyon yang dalam sambutannya memuji Kang Emil yang telah menciptakan sejarah telah mengumpulkan alumni dan mahasiwa  Papua Bandung dalam Reuni Akbar di Bandung merasa bahagia karena telah berbagi sukacita Natal bersama senior dan alumni serta seluruh masyarakat Papua. "ungkapnya.     

"Reuni Akbar ini juga lebih mengakrabkan mahasiswa dan alumni, yang tadinya tidak kenal menjadi kenal". Jelasnya, dengan penuh haru.     

Lebih lanjut, Jack Peyon selaku Presiden Mahasiswa ini menyampaikan ucapan terima kasih kepada Alumni Bandung yang hadir dari berbagai elemen diantaranya Aparat Sipil Negara, pengusaha, legislatif dan bekerja di sektor lainnya memanfaatkan Natal dan Reuni Akbar ini untuk berkunjung ke objek-objek wisata yang ada di Kota Bandung bersama keluarga       

Ridwan Kamil dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang dalam bahasa sunda "Wilujeng Sumping" kepada para alumni dan warga Papua dengan tema "Bandung Panggil Pulang" menarik perhatian Walikota Bandung ini, yang katanya dapat menjadi judul sinetron dan disambut gelak tawa dan applause yang meriah.      

Kang Emil menangkap suasana bahagia di hati setiap alumni yang hadir karena pada saat masyarakat Bandung sedang berbahagia menyambut Tahun Baru namun lebih dari itu, semua alumni sedang bernostalgia di Bandung dengan mengenang masa-masa kuliah yakni masih ada utang angkot yang belum dibayar atau cinta lama yang belum kelar. katanya, dengan senyum serta tawa.       

Sebagai Walikota Bandung, Kang Emil mengucapkan terima kasih atas dipilihnya Bandung sebagai Kota Studi oleh setiap alumni. kata Kang Emil, sambil berpesan agar setiap alumni jadilah individu yang bermanfaat setelah menimba ilmu di Bandung dan sumbangkanlah energi yang baik bagi sisi kemanusiaan.     

Walikota yang sangat cinta Papua ini, memaparkan bahwa kemjauan Kota Bandung yang menjadi nomor 1 di Indonesia dalam berbagai aspek, terutama berfokus pada sisi kemanusiaan. "ungkapnya.      

"kami memiliki 400 software yang siap menyumbangkan kepada Papua secara cuma-cuma". Kata, Kang Emil.     

Hal ini, telah ditangkap oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong dalam pembangunan Alun-Alun Aimas yang sudah di Design oleh Kang Emil atas permintaan Bupati Kabupaten Sorong wujud karya nyatanya saya sumbangkan untuk Papua umumnya maka bagi Pemerintah Daerah dari Papua kami akan utamakan karena kami punya Ilmu, SDM dan lainnya. "pintanya, sambil menutup sambutannya.      

Reuni Akbar bersama Walikota Bandung diakhiri dengan penyerahan cinderamata dari Ikatan Mahasiswa Se-Tanah Papua Jawa Barat yang diserahkan oleh Sekjen IMASEPA JABAR Leonardus O. Magai berupa Noken yang dikenakan langsung kepada Ridwan Kamil sebagai simbol Jembatan kami Warga Papua Jawa Barat kepada Bapak secara person maupun komunitas. "kata, Leonardus.     

Lebih lanjut, Leonardus O. Magai menjelaskan secara adat dan filosofis Orang Papua, Noken bukan tas namun Noken mempunyai manfaat yang multifungsi untuk dapat dipergunakan sebagai mengisi hasil kebun, binatang peliharaan, bahkan manusia. "katanya, sambil senyum.     

Tak hanya memberikan Noken kosong, organisasi mahasiswa Se-Tanah Papua Jawa Barat menitipkan sebuah pesan tertulis di dalam Noken kepada Walikota Bandung untuk mengunjungi Asrama mahasiswa Papua Kamasan II Kota Bandung dan mempermudah pengurusan KTP sebagai warga Kota Bandung. "ungkap magai, saat dimintai keterangan oleh para awak media.      


Ketika ditanya, mengapa harus diutamakan? Ia mengatakan bahwa saya sebagai Pengurus Warga Papua di Jawa Barat sudah ketahui persis apa yang menjadi masalah utama selama ini maka saya sampaikan kedua aspek diatas kepada Bapak walikota untuk dipertimbangkan. "tutupnya. (*)


Pewarta: Barnabas Subagio/kabarindonesia,com


Aliansi Mahasiswa Papua Gelar Aksi Demo Serentak Jawa Bali

Aliansi Mahasiswa Papua Gelar Aksi Demo
Denpasar – Puluhan orang yang menamakan Aliansi Mahasiswa Papua berdemonstrasi di depan kantor Konsulat Jendral Amerika Serikat (Konjen AS) di Denpasar, Kamis 6 Juli 2017.

Luchifer, selaku juru bicara aksi mengungkapkan Negara Bertanggungjawab atas Kejahatan Kemanusiaan di Papua Barat tindakan kolonisasi (sistim) beserta tuannya imperialis telah-sedang menghancurkan alam serta manusia Papua Historis berdarah-darah pun tercatat sejak Papua di Aneksasi (1 Mei 1963) sejalan Pendudukan Indonesia dengan kekuatan kekuatan Militeristik serta kepentingan 1mperialis di West Papua.

Pada 6 Juli 1998 terjadi pembantaian terhadap manusia Papua di kota Biak, yang disebut Peristiwa Biak Berdarah. Peristiwa berdarah akibat tindakan aparat negara yang berlebihan terhadap rakyat yang mengibarkan bendera Bintang Kejora secara damai itu telah mengorbankan 230 orang 8 orang meninggal 8 orang hilang; 4 orang luka berat dan dievakuasi ke Makasar; 33 orang ditahan sewenang-wenang. 150 orang mengatami penyiksaan dan 32 mayat misterius ditemukan hingga terdampar di perairan Papua New Guinewa (PNG).

Kini, telah 19 tahun berlalu tanpa proses penyelesaian kasus dan pembiaran terhadap aparat Negara sebagai pelaku pembantaian tersebut tindakan pemeliharaan dan melindungi pelaku palanggar HAM, justru melanggengi kepentingan akses eksploitasian Sumber Daya Alam dan menjadi eksistensi mengkoloni Papua.

Masifnya Perampasan tanah-tanah adat, serta meningkat represifitas aparat negara disertai dengan masifnya kebrutalan penangkapan aktivis Papua yang makin meningkat Juga, militer, dibawah kontrol Negara, terus melakukan pelanngaran HAM, Pembunuhan, pemerkosaan, pengejaran dan penangkapan aktivis Papua, bahkan memenjarah hingga mengabisi nyawa.

Setelah Biak Derdarah, terjadi pula tragedi wamewa Berdarah (2000 dan 2003) wasyor Berdarah (2001); Uncen Berdarah (200G), Nabire Berdarah (2012), Paniai berdarah (2014), dan peristiwa lainnya yang Negara pun tak menyelesaikan kasusnya.

Maka, pada 19 tahun peringatan ‘tragedi Biak Berdarah Aiansi’ Mahasiswa Papua menuntut kepada Rezim Jokowi-JK serta dunia internasional dalam hal ini Perserikatan Bangsa-Bangsa;

Pertama. Negara harus bertanggungjawab atas tragedi Biak Berdarah 1998 yang telah menewaskan ratusan nyawa manusia dan Rentetan Pelanggaran HAM lainnya di Papua.

Kedua. Buka ruang demokrasi seluas-luasnya dan Berikan Hak Menentukan Nasib sendiri Bagi Rakyat Papua sebagai Solusi Demokratis.

Ketiga. Tarik Militer (TNI-Polri) organik dan Non-orzanik dari seluruh Tanah Papua. Kempat. Tutup Freeport, BP, LNG Tangguh dan MNC, dan perusahaan lainnya yang merupakan dalang kejahatan Kemanusiaan di atas Tanah Papua.

“Aksi ini dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Papua yang ada di Denpasar dan serentak seluruh mahasiswa Jawa dan Bali.” Pungkas Luchifer.

BeritaDewata.com

Mahasiswa Papua di Bandung Rayakan Natal Ipmanapandode

Ketika Fr. Hubertus R. Magai Pr. Memimpin doa makan. (Foto: Mateus Tekege)
Bandung -- Mahasiswa Papua yang tergabung dalam wadah Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai "Ipmanapandode kota studi Bandung Jawa barat" merayakan perayaan Natal di lokantara Auditorium RRI, Jl diponegoro no. 61 di kota Bandung. (Kamis 22/10).

Momentum Natal adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.

Dimana Tuhan Yesus Kristus di lahirkan di kota Betlehem yang penuh dengan simak duri demi melahirkan diri kita agar memperbaruhi dalam sikap, perilaku, dan tindakan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Perayaan Natal Ipmanapandode tersebut ini juga diundang dan mengikut serta dari berbagai paguyuban, komunitas, kombas serta lintas universitas di seluruh jawa barat terlihat sangat antusias.

Thema nasional yang mereka angkat adalah "Hari ini telah lahir bagimu Juru selamat yaitu Kristus Tuhan di kota Daud. dan sub thema adalah, Mari kita nyatakan kemurahan Allah dalam kebersamaan kami sebagai satu keluarga orang Papua di Bandung.

Dalam kotbah yang disampaikan oleh Fr.Hubertus R. Magai Pr. bahwa marilah kita menyambut raja damai Natal dalam hati kita masing-masing karena bayi Natal telah lahir dan hadir dalam diri pribadi soudara-soudari, keluarga dan dalam komunitas kita. ajak Fr. Magai.

Tuhan Yesus telah lahir di tengah-tengah kita dengan tujuan, maksud, dan Penghaarapan-Nya yang lain untuk menperbarui dalam kehidupan kita sehari-hari.

Penyampaian yang sangat terkesan disampaikan oleh Pr. Magai adalah "Mengajak kepada Pelajar dan Mahasiswa Papua untuk belajar dan menimbah ilmu sebanyak-banyaknya ditanah rantauan untuk kembali menyelamatkan umat Tuhan yang selalu saja menginjak-injak oleh para pengusaha karena kita adalah terpilih dan diutus oleh umat/masyarakat kita di seluruh tanah Papua, Kesan Pr. Magai.

Kemudian pantauan media ini, mereka melangsungkan evaluasi yang dimediasi oleh Badan Pengurus Harian "BPH" lalu kemudian ketua panitia dan jajarannya membuka ruang untuk memberi kritik dari senioritas yang ada.

Berbagai kritik dan masukan yang membangun sebagai rujukan oleh senioritas kepada para yunioritas terutama kepada para panitia Natal.

Posted by: Mateus Tekege
 Copyright ©Tabloid WANI 




OTK di Manokwari, Menikam Mati 2 Mahasiswa Unipa

Fhoto kedua korban. Senin,(31/10) sore, di Pantai Amban,Manokwari. (Fhoto : ND/KM)
Manokwari, (KM) – Berdasarkan informasi sementara yang dihimpun Media ini, dikabarkan dua orang Mahasiswa Unipa, telah ditikam mati oleh Orang Tak Dikenal (OTK), Senin, (31/10) sore, Di Pantai Amban, Manokwari-Papua Barat.
Nama kedua korban diantaranya, Irianike Thanesia Sapulete, (Mahasiswi Unipa, Fakultas Peternakan, Jurusan Peternakan,Tahun angkatan 2015). sedangkan korban kedua adalah Agustinus Aun, (Mahasiswa Unipa, Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Listrik, Tahun Angkatan 2015).
Kronologi singkat yang diterima media dimalam ini, kedua korban pergi ke wilayah Amban Pantai, hanya refreshing saja. Lalu sementara kedua korban lagi duduk menikmati keindahan Alam di Amban Pantai, barulah terjadi peristiwa penikaman secara sadis oleh OTK.
Dilaporkankan juga kepada Media ini melalui via Obrolan, ND, bahwa Agustinus Aun  adalah Mahasiswa Papua asal Merauke. 
Kata dia, Agustinus dibunuh terlebih dahulu. Sedangkan pacarnya, yaitu, Irianike Thanesia Sapulete, yang adalah (Peranakan Ambon-Biak) ini, diperkosa oleh OTK tersebut, dan dicabut nyawanya dengan cara memotong dengan alat pemotong mereka,katanya.
Informasi sementara demikian. Mari ikuti info lebih lengkap selanjutnya.
Pewarta : Petrus Yatipai
 

Mahasiswa Papua Tak Boleh Numpang Lagi

sejumlah mahasiswa Universitas Bengkulu (Unib) asal Provinsi Papua
BENGKULU – Dunia pendidikan di Provinsi Bengkulu belakangan ini sempat heboh. Pasalnya beredar informasi sejumlah mahasiswa Universitas Bengkulu (Unib) asal Provinsi Papua tidak diperbolehkan lagi oleh pihak kampus tinggal di Mess Unib yang terletak di Jalan Budi Utomo Kelurahan Beringin Raya Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu.

Para mahasiswa tersebut adalah penerima beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) dari Kemenristek dan Dirjen Dikti, saat ini untuk penempatan di Unib berjumlah sebanyak 24 orang yang terdiri dari 8 perempuan dan 16 laki-laki.

Venus Belau (21) mahasiswa semester V Fakultas Pertanian Unib asal Kabupaten Intan Jaya menuturkan, sebelumnya dalam pembekalan penerima beasiswa mereka dijanjikan mendapatkan tempat tinggal dan biaya hidup selama menempuh pendidikan.

“Kami dijanjikan akan mendapatkan tempat tinggal dan biaya hidup dari pemerintah. Namun setelah kami di Bengkulu, kami tidak ada tempat tinggal. Jadi kami menumpang di Mess Unib,” ungkap Venus kepada RB, kemarin (26/10).

Namun baru sekitar 1,5 tahun tinggal di Mess Unib, para mahasiswa ini terpaksa harus keluar dan mencari kost-kostan. Alasannya dikarenakan bahwa mess tersebut hanya bisa digunakan oleh mahasiswa yang mengikuti program pertukaran mahasiswa. Jadi dengan terpaksa para mahasiswa Papua ini mencari tempat kost untuk tetap tinggal dan berkuliah.

“Selama disini kami hanya diberi biaya hidup saja oleh pemerintah dalam program beasiswa ini. Namun untuk tempat tinggal tidak ada. Berbeda dengan provinsi lain yang disediakan tempat tinggalnya. Jadi untuk ngekost, kami haru membayar sebesar Rp 2,5 juta per tahun,” ujar Venus.

Hal yang sama juga diungkapkan George Nawipa (20) asal Wamena. Ia mengaku kecewa dengan program dan kebijakan pemerintah yang justru malah mempersulit para mahasiswa yang mengikuti program beasiswa tersebut. “Tidak ada kami dapat uang untuk tempat tinggal. Jadi untuk kost ini, kami terpaksa menggunakan uang biaya hidup yang ada,” katanya.

Diakui George, mereka beberapa kali sudah menghadap pihak rektorat Unib. Namun tetap saja hasilnya mereka tidak diperbolehkan tinggal di Mess Unib tersebut. Bahkan saat ini mereka kost menyebar di beberapa lokasi, mulai dari Unib depan, Unib belakang dan Gang 3 Kelurahan Kandang Limun.

“Jadi saat ini yang bisa kami lakukan adalah menjalani apa yang saat ini terjadi. Yang jelas kami harus tetap kuliah dan menamatkan pendidikan disini,” terangnya.

Terpisah, Wakil Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Unib Alimansyah mengungkapkan, tidak benar pihak Unib mengusir para mahasiswa asal Papua tersebut. Bahkan seluruh mahasiswa di Unib mendapatkan perlakuan yang sama dan tidak ada pembedaan. Hanya saja memang untuk Mess Unib tidak bisa digunakan sebagai kost-kostan mahasiswa karena sudah diatur peruntukannya.

Ia mengungkapkan, para mahasiswa Papua tersebut mendapatkan biaya tempat tinggal dari pemerintah, jadi mereka bebas untuk memilih kost dimanapun mereka mau.

“Jadi tidak ada kita pernah mengusir mahasiswa kita. Malahan kita membantu mereka pertama kali tiba di Bengkulu. Dan setelah itu, karena mereka mendapatkan biaya untuk tempat tinggal, maka kita sarankan mereka untuk mencari tempat tinggal,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Rektor Unib Dr. Ridwan Nurazi, SE, M.Sc, AK yang dengan tegas mengatakan bahwa Mess Unib bukan tempat kost. “Mereka kan dapat biaya hidup dari negara. Lagian juga Mess Unib bukan tempat kost,” singkat Ridwan. (sly)

 Sumber:harianrakyatbengkulu.com

Mahasiswa Papua Tolak Program Transmigrasi di Papua


Transmigrasi dari luar Papua. Gambar: Ist

Bogor -- Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA) Bogor menyatakan sikap menolak rencana Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, yang menjadikan Papua sebagai tempat transmigrasi.

Padatnya jumlah penduduk di Kabupaten Maybrat yang mencapai 5,24 persen dan dukungan lahan yang semakin menipis, menjadi dasar penolakan penempatan bagi transmigran.

"Wilayah Provinsi Papua Barat sudah cukup padat. Dukungan lahan untuk pembukaan usaha pertanian dan perkebunan semakin menipis. Belum lagi topografi kabupaten Maybrat yang rawan bencana alam.

Selama 6 tahun terakhir, Maybrat selalu menjadi daerah tujuan perpindahan penduduk dari berbagai daerah di Karena itu, polemik persoalan ekonomi, kependudukan dan infrastruktur selalu menjadi masalah di Maybrat .

“Jadi Masa masih akan dijadikan lagi sebagai tujuan transmigran?"

Sementara itu, kami sangat mendukung aksi penolakan dari Koalisi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Kelapa Sawit dan Transmigrasi di Maybrat (KOMPEKSTRAM) Sorong. Menurutnya, saat ini dengan kondisi kehidupan masyarakat Maybrat yang masih mengalami kesulitan ekonomi.

Maka dengan rencana memasukkan transmigran, dikhawatirkan akan menambah masalah baru di daerah itu.

"Masih banyak warga Maybrat belum memiliki, tanah, rumah dan pekerjaan. Jika dibiarkan transmigran luar daerah diberikan tempat secara legal di tanah Maybrat berarti pemerintah memang sengaja untuk membuat Maybrat berada di antara ada dan tiada. (Yunus Gobay).

Bogor, 29 Agustus 2016

Ketua Ikatan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Bogor
Yunus E. Gobai

Posted by: ERIICK W

Ketua IMAPA Bogor, Mahasiswa Papua Fokus Kuliah, Hindari Keluar Malam

Ketua Ikatan Mahasiswa Papua (Imapa) kota studi Bogor, Yunus Eki Gobai

BOGOR – Ketua Ikatan Mahasiswa Papua (Imapa) kota studi Bogor, Yunus Eki Gobai, menghimbau kepada selruh mahasiswa Papua diseluruh Indonesia khususnya kota studi Bogor, harus waspadai dalam aktifitas keluar malam, namun harus focus pada perkuliahan. Demikian, imbu Eki, kepada wartawan beritaplatmerah melalui seluler, Selasa (23/8). Sore tadi.

Jika keluar malam jangan dua atau satu orang namun lebih dari tiga, agar tidak terjadi hal-hal yang kita tidak inginkan, “Harap Gobai.

“Bagi mahasiswa Papua yang memiliki motor, harus lengkapi surat-surat, Kita harus patuhi aturan lalulintas, “Tegas mantan Ketua Ipmanapandode itu.

Eki berharap, Situasi tidak aman, namun mahasiswa Papua perlu menyimak situasi dengan hati dingin. Aktifitas perkuliahan harus lancar seperti biasa.

“ Waspadai, saat makan di warung, Soalnya banyak kotoran yang sering pendam dalam makanan, akibatnya dapat sakit.

Hal tersebut, saya menyampaikan kepada seluruh mahasiwa Papua di kota-kota studi di Indonesia, agar berantisipasi dalam aktivitas perkuliahan. Ujarnya. (PM/Jekson Ikomouw)

Beritaplatmerah


Diduga Ada Pelanggaran HAM dalam Insiden di Asrama Mahasiswa Papua

Sejumlah anggota kepolisian berjaga di depan Asrama Mahasiswa Papua di Yogyakarta, Jumat (15/7) Antara/Hendra Nurdiyansyah .
SLEMAN -- Anggota Komnas HAM, Natalius Pigai menuturkan adanya dugaan pelanggaran hak asasi pada kasus mahasiswa Papua di Kota Yogyakarta yang terjadi pada tanggal 14 sampai 16 Juli lalu. Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan hasil penyelidikan yang ia lakukan pada Rabu (20/7) di Yogyakarta.

"Hari ini kami mengumpulkan berbagai informasi dari mahasiswa Papua sendiri, pihak kepolisian, dan Gubernur DIY," katanya saat ditemui di Asrama Mahasiswa Papua, Kamasan Jalan Kusumanegara, Kota Yogyakarta.

Adapun dugaan pelanggaran hak asasi ini disinyalir melanggar UU Nomer 39 tahun 2009 tentang HAM dan UU Nomer 40 tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi antar etnik. Selama di Yogyakarta, Natalius melakukan penyelidikan terhadap enam aspek.

"Pertama, apakah mahasiswa diberi kebebasan berekspresi oleh aparat negara. Sebab hal ini menyangkut kodrat individu. Maka itu negara harus memberikan ruang untuk kebebasan berekspresi bagi warganya," kata Pigai.

Oleh karena itu, ia mencoba menggali perihal izin penyelenggaraan aksi dari aparat berwajib. Kedua mengenai fakta dan informasi terkait ada atau tidaknya tindak kekerasan. Karena pada dasarnya, setiap orang tidak boleh disiksa dan dianiaya.

Ketiga mengenai ada atau tidaknya kekerasan verbal yang mengandung unsur rasisme. Seperti kata-kata monyet, biadab, dan hitam. Keempat mengenai keberadaan kelompok ormas yang intoleran untuk melakukan orasi.

"Kami harus menggali apakah aparat keamanan sadar dan membiarkan hal tersebut," ujar Pigai.
Kelima mengenai sikap dan upaya pemerintah untuk menjaga ketentraman selama tanggal 14 sampai 16 Juli. Termasuk untuk mencegah aksi rasisme terhadap mahasiswa Papua. Keenam mengenai alasan penangkapan enam orang mahasiswa Papua yang diamankan oleh pihak kepolisian.

Pigai menilai tindakan pengamanan secara paksa tersebut dapat melanggar hak asasi dan asas kinerja Polri. Karena berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 8 tahun 2009, personel kepolisian harus menjalankan tugas berbasis HAM.

Selain itu, Pigai juga menyayangkan pernyataan Gubernur DIY tentang separatisme yang dilakukan oleh mahasiswa Papua. Di mana Sultan Hamengku Buwono X pun menyampaikan semua pelaku separatis harus keluar dari Yogyakarta.

"Ini tentunya mengancam keberadaan orang Papua di Yogyakarta. Saya sendiri meminta agar Gubernur mengklarifikasi pernyataan tersebut secara terbuka kepada masyarakat," ujar Pigai.

 REPUBLIKA.CO.ID

Hapus Diskriminasi Terhadap Orang Papua

TOLAK INTIMIDASI: Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Jaringan Salatiga Peduli Papua (JSPP) menggelar aksi solidaritas di depan kampus UKSW Salatiga, kemarin.(DhinarSasongko/RadarSemarang/JawaPos.co)
SALATIGA - Sejumlah mahasiswa yang bergabung dalam Jaringan Salatiga Peduli Papua (JSPP) menggelar aksi solidaritas terhadap kasus kekerasan yang dialami mahasiswa Papua di Jogjakarta. Mimbar bebas digelar di depan kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
 
"Kami hanya menyuarakan persamaan hak sebagai warga negara. Kami bukan mahasiswa Papua dan kami sangat peduli terhadap kasus kekerasan yang mereka alami. Namun mereka tidak banyak yang ikut aksi ini," tutur Evan Adiananta, penanggung jawab aksi saat ditemui wartawan di sela aksi, kemarin pagi. 

Dijelaskan Evan, setelah pihaknya menyampaikan pemberitahuan aksi, dirinya telah mendapatkan imbauan untuk membatalkan aksi. "Namun karena sebatas imbauan, maka aksi terus dilakukan dan banyak mahasiswa Papua yang tidak ikut karena berbagai alasan," tuturnya. 

Aksi yang diikuti sejumlah mahasiswa ini mendapatkan kawalan ketat aparat kepolisian karena khawatir akan muncul gesekan. Terlebih selama aksi beberapa organisasi masyarakat lain dengan menggunakan seragam tampak bersliweran di depan kampus namun tidak berhenti. 

Dalam rilis yang dibagikan kepada wartawan, mereka menyerukan beberapa poin yakni negara harus melindungi kebebasan berpendapat warga negaranya sebagai bagian dari nilai-nilai demokrasi. Mereka juga meminta penghapusan segala bentuk diskriminasi, intimidasi dan kekerasan terhadap orang Papua. 

Sementara itu terpisah, Rektor UKSW John Titaley kepada wartawan sehari sebelum aksi menandaskan jika aksi JSPP tidak ada kaitannya dengan kampus ataupun organisasi mahasiswa Papua di Salatiga. Disebutkan, itu merupakan aksi pribadi yang dimotori Evan dengan membawa nama JSPP. "Kami sudah mendapatkan surat resmi dari ketua himpunan mahasiswa Papua di Salatiga bahwa mereka tidak terlibat dalam aksi yang dilakukan JSPP tersebut," terang John Titaley di depan mahasiswa sambil menunjukkan surat yang dikirimkan kepadanya. (sas/ton)

 

MAHASISWA FAK FAK PAPUA MEMBERIKAN CONTOH TERTIB BERLALU LINTAS DI YOGYAKARTA

PAGUYUBAN KELUARGA MAHASISWA FAK FAK PAPUA MEMBERIKAN CONTOH TERTIB BERLALU LINTAS DI YOGYAKARTA

Mhasiswa Fakfak memberi contoh
tertib lalin di Yogyakarta
Yogyakarta (facta-news.com) Pemuda Papua Fakfak kembali menggelar aksi simpati kepada masyarakat Yogyakarta dalam rangka mendukung Tertib Undang Undang Lalin dan Wajib Helm di kota Yogyakrta.

Paguyuban Keluarga Mahasiswa Fakfak Papua (PKMFP) se Yogyakarta yang bejumlah sekitar 50 orang ini pada hari Minggu 4 Juli 2016 mengadakan pawai simpatik lalu lintas Orang Papua Asli (OAP) di Yogyakarta.

Pawai yang dipimpin oleh Bapak Bashir sesepuh OAP mahasiswa Fak Fak Papua dimulai pada jam 1600 wib star dari Asrama Fakfak Papua Jln. Wijaya, Melati Wetan, Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta dengan berkendaraan sepeda motor lengkap menggunakan helm standar.
Route pawai  PKMFP  adalah Jln. Melati wetan – Melati kulon – Jl. Lempuyangan – Jl. Tunjung – Jl. Andong –  Jl. Kenari  – Jl. Gondosuli – Jl.melati wetan – Jl.  Ipda Tut Harsono – Melati wetan dan Finish di Asrama Fakfak pada jam 1700 wib

 

Selama pawai simpati mahasiswa OAP Fakfak mendapat acungang jempol dari masyarakat

Paguyuban Keluarga Mahasiswa Fakfak Papua
Menurut penjelasan dari bapak Bashir sebagai ketua OAP mahasiswa Fakfak “Kita bersama mahasiswa Fakfak berkumpul pada jam 1530 wib untuk pembagian helm dan pengarahan terlebih dahulu” katanya.

Bashir merasa bangga dan berterima kasih atas dukungan helmnya.
Masih dari bashir “Bahwa untuk masalah tertib lalu lintas memang sangat susah, di Papua sering tidak memakai  helm jika menggunakan sepeda motor. Semoga dengan pawai simpati berlalu lintas dapat menjadi awal pertama warga Papua di Yogyakarta untuk berlalu lintas dengan baik dan mahasiswa Papua dari Fakfak sebagai pemberi contoh dan berharap kepada  mahasiswa Papua asal Kab Fakfak supaya memakai helm dan tertib berlalu lintas” ujarnya memberi penjelasan mahasiswa Fakfak peserta pawai.

Pawai tertib lalin mahasiswa Fakfak
Nampak mahasiswa Fakfak selama pawai motor simpatik oleh OAP di perjalanan routeyang di lewati, terlihat bahwa masyarakat di jalan melambaikan tangan dan mengacungkan jempol kepada peserta pawai yang tertib dan sopan.

Setelah selesai pawai pawai motor simpatik terlihat para OAP asal melanjutkan dengan buka bersama di Asrama mahasiswa OAP Fakfak.

By Markus Adii

(facta-news.com)

Persolid Mahasiswa Papua di Malang

Liga Sepakbola  Cendrawasih Cup ke-X Dimulai
MALANG – Pembukaan Liga  sepakbola Cendrawasih Cup ke-X  tahun 2016 di Stadion Gajayana Malang, Sabtu, (12/3) kemarin berlangsung meriah. Kegiatan  dibuka dengan Tari Gunung dan Tari Pantai khas Papua ini diselenggarakan Ikatan Pelajar Mahasiswa Papua Paniai Raya (Ipmapapara), Malang  diikuti sebanyak  19 tim sepakbola.

Rangkaian acara pembukaan diawali dengan teatrikal Tari Gunung asal Papua. Mereka mengenakan pakaian khas Papua, berlari dan menari dengan iringan Lagu Tanah Papua di tengah lapangan.  Tarian tersebut, menceritakan dua suku Papua pantai dan gunung, bertengkar memperebutkan kekuasaan. Dalam pertarungan tersebut, tiba-tiba datang sesorang membawa bola dan menendang keatas.

Kedua kubu tersebut, sontak berlarian mengejar bola tersebut. Disitulah masyarakat Papua mulai mengenal sepak bola. Sampai sekarang sepak bola di Papua sudah menjadi tradisi turun temurun mulai anak-anak sampai orang dewasa.

Ketua Pelaksana Johanes Gygai menjelaskan tujuan turnamen ini, guna menjalin persatuan antar mahasiswa Papua khususnya di Malang. Serta mengembangkan bakat dibidang sepak bola.Selain itu, menjaring hubungan kekeluargaan antar mahasiswa Papua. Sehingga tercipta rasa persatuan masyarakat yang lebih erat. “Mahasiswa Papua yang kuliah di Malang kan sangat banyak. Karena itu kita kumpulkan melalui turnamen ini,” ungkap Johanes kepada Malang Post.

Ditambahkan, event tahunan ini  diikuti sebanyak 19 tim dari kabupaten asal  Papua. Tim tersebut, dibagi menjadi 4 group dengan sistem pertandingan setengah kompetisi. Pembukaan dan final diadakan di stadion Gajayana. Sedangkan  babak perempat final diadakan di Stadion Brantas, Kota Batu.

Lebih lanjut,Johanes menuturkan bahwa  para peserta yang ikut mulai dari Sorong sampai Merauke.
Antusias mereka sangat tinggi, terlihat para pemain merasa senang turnamen diadakan di Malang. Mengingat olahraga sepak bola di Papua sudah mendarah daging.“Pertandingan pembukaan antara Pama FC melawan Inocofu (Manukwari), skor akhir imbang 1-1,” ucapnya

Sementara itu, Ketua Ipma Malang, Alfred Pekei menambahkan tahun ini jumlah tim yang ikut, meninigkat dibandingkan tahun sebelumnya. “Tahun kemarin, 18 tim sekarang bertambah menjadi 19 tim,” katanya.

Tim  peserta  turnamen  ini merupakan organisasi yang tergabung dalam payung hukum Ipma. Jadi, setiap kabupaten di Papua, sudah ada perwakilan dari Ipma yang mengkoordinasi turnamen ini. “Kami berharap kedepan sepak bola di Papua lebih maju. Serta menumbuhkan solidaritas dan semakin  menjalin rasa persatuan dan kesatuan mahasiswa Papua, khususnya di Malang,” pungkasnya. (mg12/nug)

 malang-post.com

 
Copyright © 2013. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger