Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts

Duapuluh Tiga Motif Batik Papua Khas Nabire Diluncurkan

Nabire, Sebanyak 23 motif Batik Papua ciri khas kabupaten Nabire diluncurkan, Senin (6/11/17) di halaman kantor Bupati Nabire. Peluncuran batik Papua khas Nabire dirangkai dalam sebuah acara syukuran bersama prestasi opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi Papua atas laporan keuangan Pemerintah Kabupaten Nabire tahun 2016, penghargaan Indonesia Awards 2017 dari MNC Grup, I News TV dengan kategori “Pembangunan Infrastruktur dalam Rangka Pembukaan Isolasi Daerah Indonesia Bagian Timur”, penyerahakan Kartu Indonesia Pintar, serta penutupan dan penyerahan hadiah Voli Putra Bupati Cup 2017.

Rangkaian acara pemberian penghargaan dan peluncuran batik Papua ciri khas Kabupaten Nabire dihadiri oleh Kepala Seksi Hak Cipta, Ditjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Kasubdit Kekayaan Intelektual Kanwil Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Papua, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkpimda), Pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan rakyat Daerah, Unsur TNI dan Polri, Pimpinan Instansi Vertikal di Kabupaten Nabire, Pimpinan Badan Usaha Milik Negara, Pimpinan Badan Usaha Milik Daerah, Pimpinan Organisasi Non-Pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, ribuan Aparatur Sipil Negara, dan perwakilan masyarakat.

Peluncuran batik Papua ciri khas Kabupaten Nabire diawali dengan penjelasan tentang proses pembuatan batik khas Nabire oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabupaten Nabire, Ibu Yufinia Mote, S.SIT sebagai penggagasnya.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan secara resmi Hak Cipta dan Desain Industri dari Kepala Seksi Hak Cipta, Ditjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Luter Pasande kepada Pemerintah Kabupaten Nabire.

Dijelaskan Yufinia Mote, S.SIT, batik Papua ciri khas Kabupaten Nabire dapat diluncurkan setelah melalui proses yang panjang. “Pada awalnya, ketika kami mengikuti dan menghadiri berbagai kegiatan baik yang dilaksanakan di Provinsi Papua maupun di luar Provinsi Papua, kami selalu menggunakan Batik Papua sebagai busana dan ada banyak pertanyaan yang diajukan kepada kami. Ditanyakan, apakah batik yang ibu gunakan adalah batik dari Kabupaten Nabire? "Sebagai seorang istri Bupati dan juga sebagai seorang Pimpinan saya merasa malu. Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan kepada mereka. Tetapi untuk menutupi semuanya, saya hanya bisa katakan bahwa yang saya gunakan adalah Batik Papua,” kata Ibu Yufinia, isteri bupati Nabire.

“Berawal dari pengalaman-pengalaman inilah saya sebagai pimpinan termotifasi dan saya berkomitmen bahwa Kabupaten Nabire harus mempunyai Batik Khas Nabire. Kemudian saya memamnggil Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan, Ibu Matilda Mose dan saya menceritakan semua yang terjadi dengan satu harapan bahwa Batik Khas Nabire harus ada. Puji Nama Tuhan karena akhirnya kegiatan membatik ini mulai diperjuangkan melalui Bidang Pemberdayaan Perempuan pada Tahun 2015 dengan membentuk Panitia Pelaksana Kegiatan Desain Batik Papua Ciri Khas Nabire dengan ketua Panitianya adalah Bapak Agustinus Tatogo, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Nabire,” kata Yufinia menjelaskan.

Selanjutnya, ibu Yufinia menjelaskan bahwa sebelum Kegiatan Sayembara/ Lomba Desigen Batik dimulai, ia sebagai anak adat yang tahu dan menghargai nilai-nilai budaya mengundang Ketua Lembaga Adat, Kepala Suku, Para Seniman/Seniwati serta Budayawan Kabupaten Nabire guna memberikan kriteria / bentuk motif batik ciri khas Nabire dan memperoleh pengakuan serta penerimaan terhadap motif tesebut.

“Pada tanggal 15 April 2015 rapat berama antara Panitia penyelenggara dengan Ketua Lembaga Adat Kepala Suku Para Seniman/Seniwati serta Budayawan Kabupaten Nabire sekaligus Penandatanganan Berita Acara 'Ppngakuan dan Penerimaan Motif Batik Papua Ciri Khas Nabire. Pada tanggal 16 Aprll 2015 dlumumkan Lomba Sayembara Desain Motif Batik Papua Ciri Kahs Nabir,” katanya melanjutkan penjelasan.

Persyaratan yang ditetapkan bersama untuk Sayembara adalah dalam batik khas Nabire harus memuat unsur kebudayaan pegunungan dan pesisir pantai. Pegunungan berupa Panah, jubi, Koteka, Moge dan Wupi. Daerah Pesisir dan Kepulauwan dengan motif Rumah Adat, Keyakinan (Dewa yang di Puja), Sisir Bambu, Tifa, Tali Persahabatan/Persatuan, Gelang Batu, Kulit Bia, Paseda, dayung, dan Penokok Sagu. Kemudian, kekayaan alam seperti Hiu, Paus dan Emas.

“Pada tanggal 20 April 2015, saya sebagai Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Kabupaten Nabire mengeluarkan Surat Keputusan tentang Pembentukan Tim Juri untuk mengadakan penilaian terhadap motif batik yang dilombakan. Tim Juri dipimpin oleh Daniel Maipon, S.STP dengan Sekretaris Matilda Mose, S.Sos dan anggota antara lain (alm) Yakobus Muyapa, (Alm) Yuuan Yaap Marei, Drs. Blasius Nuhuyanan, Menasye Yoteni, SH, Yufinia Mote, S.Si.T, Septinus Bamnsano, S.Pd, Derek Nurlete, S.STP, Albert Runaweri (Dewan Kesenian Provinsi), Lamech Niwari, Nyoman Dana,” jelasnya lagi.

“Setelah mengujian dan penilai tertulis maupun secara lisan akhirnya Pengumuman pemenang Lomba Desain Batik Papua Ciri Khas Nabire dapat diumumkan secara resmi Pada tanggal 24 April 2015 dengan pemenang lomba adalah Juara I, Marthen Giyai, Juara II, Koresac.Mobalen, Juara Ill, Fransiskus Tekege. Selanjutnya, tanggal 24 April 2015 kami lakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Hasil Desain Motif Batik Papua Ciri Khas Nabire dari pemenang Lomba Motif Batik Papua Ciri Kas Nabire kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Nabire, Bapak Bupati Nabire Bapak, Isaias Douw, S.Sos., MAP untuk dijadikan sebagai Aset Pemerintah Daerah Kabupaten Nabire,” kata Yufinia.

Dijelaskannya lagi, selama tahun 2016  kegiatan memproduksi Batik Papua ciri khas Nabire kembali diusulkan dan diperjuangkan namun tidak dapat dilanjutkan karena tidak tersedianya dana dalam memfasilitasi kegiatan dimaksud. Tahun 2017 kembali lagi diperjuangkan. "Puji Tuhan karena mendapat dukungan dari berbagai pihak terutama dari bapak Bupati Nabire sehingga melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak pada tahun 2017 ini kami dapat melewati tahapan-tahapan, salah satunya adalah mendaftarkan di di Kementerian Hukum dan HAM guna memperoieh Lesiansi/ Hak Paten Batik Papua Ciri Khas Nabire dan kegiatan pelatihan membatik di Yogyakarta diikuti oleh 20 peserta pelatihan.” jelasnya.

“Akhirnya, hari ini tanggai 6 Nopember 2017 adalah merupakan hari bersejarah bagi perjalanan batik Papua ciri khas Nabire, yakni dilakukan acara Penyerahan Sertifikat Hak Paten Batik Papua Khas Nabire dan Launching Perdana Batik Papua Ciri Khas Nabire. Selaku Pimpinan SKPD penyelenggara dan Pencetus Batik Papua Ciri Khas Nabire, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Tuhan pemilik alam semesta ini,” tutur Yufinia.

Dengn pencapian itu Ibu Yufinia mengucapkan terima kasih kepada semua unsur yang telah berjuang serta berkorban demi terciptanya batik Papua ciri khas Nabire, antara lain Pak Bupati, lbu Direktur Hak Cipta Kementerian Hukum dan HAM RI, Kanwil Kemenkumham Jayapura, Ketua Asosiasi Batik dan Tenun Nusantara, Ketua Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Nabire, Ketua Ketua Lembaga Adat Kabupaten Nabire, Kepala-Kepala Suku, Seniman/Seniwati, Para Budayawan, Panitia Penyelenggara, Tim Juri, serta kepada ketiga pemenang Lomba Desigen Motif yang dengan rela hati tanpa ada paksaan telah menyerahkan basil karyanya kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Nabire untuk dijadikan sebagai Aset Kabupaten Nabire, dan juga kepada semua staf Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atas kerjasama yang baik.
Di tempat yang sama, dalam sambutannya, Bupati Nabire, Isaias Douw, S.Sos., MAP mengungkapkan rasa syukurnya atas Batik Papua khas Nabire. “ Hari ini, kita bersyukur bahwa Kabupaten Nabire resmi memiliki batik Papua ciri khas Nabire yang unik, kombinasi unsur-unsur kebudayaan daerah pegunungan, pesisir dan kepulauan.”

“Saya atas nama pemerintah daerah Kabupaten Nabire menyampaikan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para seniman dan budayawan yang telah ikut terlibat dalam proses terwujudnya batik Papua ciri khas Nabire,” kata Isaias.

Dijelaskan Bupati Isaias, yang dimaksud dengan karya seni batik Papua ciri khas Nabire adalah motif batik kontemporer yang bersifat inovatif, masa kini, dan bukan tradisional. Karya tersebut dilindungi karena mempunyai nilai seni, baik dalam kaitannya dengan gambar, corak, maupun komposisi warna.

“Batik Papua khas Nabire ini adalah kebanggaan kita, orang Nabire. Karena itu, saya minta agar semua ASN wajib mengenakan batik ciri khas Nabire pada setiap hari Kamis dan dapat digunakan sebagai tablak meja, kain jendela, latar belakang spanduk, kop surat dan, dapat digunakan di sekolah-sekolah, BUMD, BUMN dan organiasi non-pemerintah sambil menunggu keputusan resmi dari pemerintah kabupaten Nabire,” pinta Isaias.

‘Saya minta kepada dinas teknis agar segera menyediakan sarana berupa mesin dan bahan kain serta melatih tenaga-tenaga untuk memproduksi sebanyak-banyaknya batik ini. Mari kita lestarikan seni dan budaya melalui batik Papua ciri khas Nabire,” harap Isaias mengakhiri sambutannya. (
Oleh : Yermias Degei )
KabarIndonesia 


 

Sekda Harap Kontingen Penas Papua Petik Hal Positif Di Aceh

Sekretaris Daerah (Sekda) Papua, TEA Hery Dosinaen SIP, MKP.(foto Jubi)
JAYAPURA – Sekda Papua Hery Dosinaen berharap kontingen Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan Papua, dapat memetik hal positif untuk diterapkan di Bumi Cenderawasih, selama mengikuti kegiatan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

“Saya harap kontingen Papua juga dapat menampilkan yang terbaik dimiliki oleh Bumi Cenderawasih di Aceh”.

“Kita juga ingin supaya kontingen yang mewakili Bumi Cenderawasih ini dapat membawa pulang hal-hal baik dari Penas Petani dan Nelayan XV tersebut. Dalam artian bisa memetik hal positif untuk diterapkan di provinsi ini,” kata Sekda saat melepas kontingen Penas Petani dan Nelayan Papua 2017, di Main Hall Kantor Gubernur Dok II Jayapura, Kamis kemarin.

Sekda melanjutkan, pada ajang Penas Petani dan Nelayan XV, kontingen Papua bakal membawa paket-paket sumber daya alam di Bumi Cenderawasih untuk dipamerkan. Sejumlah paket sumber daya alam itu, diantaranya buah merah dari sektor pertanian, kura-kura moncong babi, anggrek Papua serta kerajinan lainnya di bidang perikanan.

Meski begitu, Sekda mengakui tak semua kabupaten mengikuti ajang Penas Petani dan Nelayan XV di Aceh. Hanya beberapa saja yang dianggap telah mewakili Bumi Cenderawasih.

“Diantaranya Kota dan Kabupaten Jayapura, Keerom dan Merauke. Meski begitu, sudah cukup mewakili Papua di Aceh,” tuturnya.

Sekda optimis kontingen Papua dapat membawa nama baik dan menampilkan potensi sumber daya manusia yang dimiliki Bumi Cenderawasih.

Sekedar diketahui, peserta Penas Petani dan Nelayan Papua berjumlah 1.284 orang perwakilan. Ribuan peserta dari Papua akan ikut memeriahkan mengikuti Penas Petani dan Nelayan XV di Provinsi Aceh pada 6-11 Mei 2017. (CI)

Berita lima.com


Buku ‘Papua Nyawene’ Diluncurkan di Wamena

Bedah buku Papua Nyawene di Gedung Soska Wamena, Rabu (11/11/2015)-Jubi/Islami
Wamena, Jubi – Buku berjudul Papua Nyawene (Papua Bercerita) resmi diluncurkan di gedung Soska, Wamena, Jayawijaya, Papua, Rabu (11/11/2015).

Kepala Bappeda Jayawijaya, para penulis, pegiat HAM, LSM dan para mahasiswa serta masyarakat hadir dalam peluncuran dan bedah buku tersebut.

Salah satu penulis, Pastor Jhon Djonga, Pr. menjelaskan, buku tersebut memuat tentang pergumulan masyarakat akar rumput yang bertahun-tahun tidak punya akses, tempat dan ruang untuk berbicara. Mereka hanya tinggal diam dan tidak menyampaikan pergumulannya ke masyarakat.

Buku itu setidaknya menggugat pemerintah dan pemimpin-pemimpin agama yang tidak memberikan ruang untuk berbicara kepada mereka.

“Saya merasa dalam buku ini adalah proses pertobatan perilaku pendekatan dari semua pihak, dan melakukan pendekatan dari pemerintahan serta pendekatan pastoral yang hanya mengajar dan petunjuk harus di stop dan saat ini bagaimana penentu kebijakan ini diam dan mendengarkan masyarakat,” kata Pastor peraih Yap Thiam Hien Award 2009 itu.

Oleh karena itu, ia mengajak pemerintah dan pemimpin gereja agar bekerja sesuai dengan keinginan masyarakat demi kebaikan bersama.

Buku yang beberapa waktu lalu diluncurkan di STFT Fajar Timur Abepura itu ditulis di tiga distrik—Asolokobal Jayawijaya, Kurima Kabupaten Yahukimo dan distrik Samenage Kabupaten Tolikara, yang dibantu beberapa Pastor di pegunungan tengah Papua dan referensi dari masyarakat setempat.
“Proses pembuatan buku ini memakan waktu satu tahun satu bulan dan semua ditulis di kampung, yang intinya buku ini adalah menceritakan kehidupan masyarakat yang menerima pemerintah dan pastoral dengan terbuka, tetapi tidak melihat dukungan yang berpihak kepada masyarakat,” katanya.
Salah satu peserta yang hadir dalam peluncuran buku tersebut, Pius Wetipo menilai, buku itu memberikan masukan tentang kebiasaan masyarakat yang diubah. Maka dari itu, ia mengajak agar kembali kepada adat.

Sementara peserta lainnya, Yosina Logo mengatakan, banyak hal yang perlu disampaikan kepada masyarakat tentang hal baik yang sudah sejak awal dimiliki oleh masyarakat adat.

“Kami tidak mau hanya karena modernisasi menghancurkan budaya kita yang tidak memberikan bukti kemajuan apa-apa, hanya kehancuran yang kami dapatkan,” kata Yosina.

Salah satu penulis buku tersebut, Niko Lokobal mengakui bahwa persoalan budaya yang semakin hilang itu.

“Jangan berpikir budaya dan perkembangan luar itu baik, itu menghancurkan jadi jangan selalu mau mengikuti perubahan itu tanpa saring baik. Jika kita lakukan ini, artinya kita menyelamatkan daerah, budaya dan manusia Papua di daerah ini,” kata Lokobal.

Sementara Theo Hesegem dari perspektif HAM meminta kepada tim kerja buku Papua Nyawene untuk melakukan kegiatan yang sama di Kabupaten Yahukimo, sebab sejumlah masyarakat yang diwawancarai yang tertuang dalam buku adalah masyarakat Kabupaten Yahukimo.

“Saya harap teman-teman tim kerja bisa bedah bukuh Papua Nyawene di Yahukimo, karena distrik Kurima dan Samenage yang tertuang dalam buku ini adalah masyarakat Kabupaten Yahukimo, supaya pemerintah di sana buka mata juga,” ujar Theo.

Kepala Bappeda Kabupaten Jayawijaya, Petrus Mahuse mengatakan, atas masukan kepada pemerintah, ia secara pribadi siap mendorong dan membantu bersinergi melaksanakan tuntutan masyarakat. (Islami)

 Sumber: http://tabloidjubi.com/2015/11/12/buku-papua-nyawene-diluncurkan-di-wamena/

Yoman: Indonesia Hancurkan Nilai Budaya Papua

Pendeta Socrates Sofyan Yoman. Foto: Hengky Y.
Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Pendeta Socrates Sofyan Yoman, Ketua Persekutuan Gereja Gereja Baptis di Papua menaggapi sweeping serta menyita kartu-kartu memory dan handphone milik warga yang berisi lagu-lagu bahasa daerah Papua di kabupaten Paniai, Papua. Seperti yang diberitakan tabloidjubi.com bahwa polisi menyita kartu memory dan handphone milik warga yang berisi lagu-lagu daerah dan dihancurkan dengan batu. Keprihatinan atas tindakan polisi ini diungkapkan Yoman  dalam acara Jumpa Pers di toko buku Yoman Ninom Jalan Tabi Tobati 01 Kota Raja, Jayapura, Papua, Rabu (6/3).

Socrates menilai tindakan polisi di Paniai itu menandakan bahwa orang Indonesia mau menghancurkan bangsa-bangsa yang dijajahnya. Nilai budayanya dihancurkan, nilai bahasanya juga dihancurkan, kesenian di hancurkan, ekonomi di hancurkan dan kreativitas bangsa Papua dihancurkan supaya kita tidak punya pegangan di kemudian hari.

"Tindakan polisi dai Paniai itu tidak manusiawi, itu menandakan bahwa meraka mau menghancurkan budaya, nilai bahasa, keseniai, ekonomi maupun kreativitas bangsa Papua supaya kita tidak punya pegangan pada waktu yang akan datang," kata Yoman.

"Apabila kita membaca Buku  yang berjudul Mitos Pribumi Malas yang ditulis oleh Alatas dalam buku menjelaskan mengenai penjajahan Spanyol terhadap Philipina, Belanda menjajah Indonesia. Mereka bilang orang penduduk asli itu tidak punya budaya peradaban, tidak punya apa-apa kaum miskin, kaum tidak sanggup seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia sedang menjajah bangsa Papua dengan sistem yang terstruktur," tambah Yoman.

Penghancuran budaya Papua Seperti tulisan Nungroho yang di muat di The Jakarta Post 10 Juli 2012  bahwa The Generatif Politic menurut Pak Nungroho adalah  pandangan-pandangan politik dan angapan-angapan yang yang melumpuhkan dan memperburuk kondisi Masyarakat Papua yang dilaksanakan mendasari  kebijakan publik oleh Pemerintah Indonesia di Papua selama 50 tahun.

Dengan fakta ini saya mau katakan bahwa "Indonesia merasa terganggu dengan keberadaan Orang Papua di Tanah Papua ini, Orang Papua harus dimusnahkan supays kita ambil mereka punya harta kekayaan itulah yang ada di benak Orang Melayu, Orang Indonesia," tuturnya. 

Benny Giyai juga membenarkan hal itu "kadang kita terjebak, kita terkadang bicara mengenai kekerasan Fisik saja, tetapi kekerasan itu juga di lakukan melaui Budaya kekerasan Simbolis kekerasan Psikologis salah satunya adalah, Pelarangan masyarakat terhadap kultural kecuali sama dengan gaya dan seni penguasa kebebasan untuk masyarkat melakukan seni juga di kontrol seperti Arnol Ap dengan Group Mambesak hal ini membuat negara juga terganggu sehingga mereka dibunuh," Tutur Giyai. (MS)





Festival Budaya SMA Adhi Luhur Meriah: Diapresiasi dan Dikritik

Saat dramatari "Upacara Pemberian Nama Anak Adat dan Ratapan Mama-mama Papua" dipentaskan pada Festival Budaya SMA Adhi Luhur Nabire. Foto: Yermias Degei
Nabire, MAJALAH SELANGKAH -- Sekolah Menengah Atas (SMA) YPPK Adhi Luhur, Kolese Le Cocq dArmandville Nabire Papua menggelar Festival Budaya di halaman sekolahnya, Jalan Merdeka Nabire, Sabtu, (02/11/13).
 
Festival digelar meriah. Tampak anak-anak SMA dari berbagai suku yang sekolah di SMA ini mengenakan pakaian adat mereka masing-masing. Tidak hanya para murid, para guru di sekolah ini tampak mengenakan pakaian adat mereka. 

Tidak seperti Festival Budaya tahun-tahun sebelumnya, tampak di tangan tamu dan undangan terlihat bendera merah putih berukuran kecil. "Kami diberi bendera kecil di pintu masuk oleh penerima tamu. Ya, pegang saja," kata Stevanus Mote.  

"Budaya itu bukan hanya soal-soal tampilan, melainkan merupakan seluruh proses kerja. Akhirnya, saya menyampaikan selamat menikmati tampilan-tampilan gelaran budaya dari suku dan etnis yang ada di SMA Adhi Luhur," demikian kata Kepala SMA Adhi Luhur, V. Seno Hari Prakoso, SJ mengakhiri sambutannya. 

Tampilan drama dari suku Asmat, "Perayaan Pembabtisan" dari para Tahun Orientasi Rohani (TOR) dari lima keuskupan di tanah Papua menandai pembukaan Festival ini. 

Bupati Nabire, Isaias Douw dalam sambutannya yang dibacakan Asisten II, Sukadi mengatakan, kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dari tiap suku bangsa di dunia. Maka, kebudayaan menunjukkan identitas sebuah suku yang harus terus diwariskan oleh generasi muda di zaman ini.
"Saat ini, budaya kita mulai terkikis oleh perubahan zaman. Maka, saya apresiasi apa yang dilakukan SMA  Adhi Luhur ini. Karena budaya adalah perwujudan harga diri sebagai manusia," kata Bupati. 

Selanjutnya, penabuhan tifa Papua oleh Bupati Nabire menandai pemukaan Festival ini secara resmi. Disusul, para siswa menyanyikan lagu Theme Song yang diciptakannya sendiri sebagai opening ceremony dilanjutkan catwalk dari masing-masing suku. 

Sebuah drama bertema "Perayaan Keberagaman" sosial budaya yang dibawakan para siswa kelas XII usai opening ceremony cukup mengundang tawa hadirin. Drama ini mengisahkan bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia yang multi etnis dengan kompleksitas masalahnya. 

Tidak disangka, kritik muncul dari orang tua murid atas drama ini. "Drama ini panjang. Saya justru melihat drama ini lebih banyak diperlihatkan superioritas suku tertentu atas suku lain. Juga, menempatkan tokoh anak Papua ini sebagai pencuri dalam drama ini. Peran dia hanya pencuri, ini bisa menyinggung perasaan orang tua murid, walaupun ingin gambarkan kehidupan sosial kita di Indonesia," kata Antomina.    

Usai drama yang cukup panjang ini, tamu undangan diarahkan ke stand-stand yang menyajikan makanan khas dan karya seni dari tiap suku. Ada makanan khas Batak, Jawa, Bali, Timor, Toraja, Key, Pesisir Papua, Pegunungan Papua, dan Cina. Icip-icip makanan khas berlangsung  sekitar 30 menit. 

Tarian Yospan (Yosim Pancar) secara bersama mengundang para tamu kembali mengikuti acara inti. Acara inti diawali sebuah drama. 

Beberapa siswa berpakaian adat Koteka (pakaian adat laki-laki Pegunungan Papua dan Moge (pakaian adat perempuan Pegunungan Papua) memasuki arena utama dari dua pintu yang didesain khas Papua. 
 
Menyimak Dramatari Papua

"Kehidupan di sekitar Danau Wissel," demikian sebuah papan nama dipajang. Drama "Upacara Pemberian Nama Anak Adat dan Ratapan Mama-mama Papua" dimulai. Ini adalah sebuah dramatari gabungan suku-suku pegunungan Papua dan pesisir Papua yang sekolah di SMA Adhi Luhur. 

Intinya, drama ini menceritakan bagaimana kehidupan orang Papua sebelum ada kontak dengan dunia luar. Para siswa menggambarkan bagaimana kehidupan masing-masing suku sebelum ada kontak dengan dunia luar. 

Pertemuan orang Papua gunung dan orang Papua pesisir pada zaman dahulu digambarkan kembali dalam drama ini. Beberapa anak berpakaian pegunungan Papua bertemu dengan beberapa anak berpakaian pesisir Papua. Di sana terjadi kontak antar mereka dan membangun hubungan sosial dan ekonomi. 

Suasana kehidupan suku-suku yang digambarkan dalam dramatari berubah setelah upacara adat pemberian nama adat usai. Bunyi "bomm, bomm, trum, trum" membuat kehidupan damai yang digambarkan kocar-kacir. Bagaimana kontak-kontak awal dengan dunia luar yang disertai kekerasan di masa lalu digambarkan di sana. 

Air mata beberapa tamu undangan berlinang pada adegan ratapan atas tertembaknya seorang anak laki-laki kepala suku. Suasana tampak benar-benar hening saat salah satu anak tampak tak berdaya meminta pertolongan. Lagu dan bunyi tifa mengiringi adegan ini. Digambarkan,  anak ini meninggal dan ditemukan oleh suku pesisir Papua dan mereka meratapi anak ini. 

Di tengah ratapan suku pesisir, beberapa suku lain yang terseber di Papua mulai berdatangan. Beberapa siswa perempuan yang berperan sebagai mama-mama Papua dan mereka meratapi dia. Suasana ratapan inilah yang membuat  air mata tamu undangan dan beberapa siswa SMP tak tertahankan. Selanjutnya, anak ini digotong keluar oleh suku-suku dalam kondisi hening. 

Diperlihatkan pada akhir drama ini, kondisi bagaimana saat ini orang-orang Papua mulai bangkit dari suasana keterpurukan mereka. Ajakan-ajakan untuk maju dan bekerja untuk memperbaiki kehidupan disampaikan di sana. "Buna yoka, anigou-anigou. Buna yoka ekowai-ekowai" (orang Papua, maju-maju. Orang Papua bekerja-bekerja). 

Selanjutnya, ditampilkan tarian budaya dari suku Jawa, Timor, Tinghoa, Batak, Manado, Toraja, Maluku, dan kebudayaan dari pesisir Papua. Semua penampilan dari tiap suku menarik. Festival yang dimulai 08.00 WIT itu diakhiri sekitar pukul 15.00 WIT. 

"Saya benar-benar senang dan puas melihat anak-anak SMA ini berpakaian adat. Anak saya ini dulu takut tetapi sekarang berani pakai koteka.  Saya salut buat SMA Adhi Luhur yang hidupkan budaya kita," kata Damiana Magai, salah satu orang tua murid. 

Apresiasi disampaikan juga dari Zakeus Petege. "Saya senang dengan kegiatan ini. Saya ajak anak-anak saya ke sini untuk nonton." Kata dia, Festival Budaya ini adalah kegiatan berbobot dan banyak nilai hidup di sana. 

Tidak disangka, salah satu alumni SMA Adhi Luhur, Stevanus menyampaikan kritik tajam. 

"Saya suka acara ini. Tiap dua tahun saya datang nonton. Tetapi, saya tidak suka kalau dalam apresiasi budaya ada muatan-muatannya. Saya jadi heran, kenapa ada bagi-bagi bendera merah putih pada acara budaya ini. Ini kita mau bangun nasionalisme Indonesia karena orang Papua tidak ada nasionalisme atau acara budaya," kata dia. 

Kata dia, pendidikan (sekolah) dan apresiasi budaya tidak bisa disisipi kepentingan. Menurutnya, pendidikan dan kebudayaan haruslah ditetakkan pada posisinya. Hasil dari apresiasi budaya dan pendidikan itu tentu akan melahirkan manusia-manusia yang dapat memilih kehidupannya. "Tidak perlu ada pemaksaan seperti ini," kata dia. (MS/Yermias Degei)


 Sumber : MAJALAH SELANGKAH



MAHASISWA UNCEN : BUDAYA PAPUA DIAMBANG KEPUNAHAN

Puluhan mahasiswa Uncen yang duduk
sambil menyanyi lalu berorasi di pinggir
jalan raya perumnas III Waena (Jubi/Musa)

Jayapura, 15/4 (Jubi) – Senin (15/4) sekitar pukul 10.00 -10.30 WIT, puluhan mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Papua berunjuk rasa. Puluhan mahasiswa itu meminta, warga Papua sadar kalau budayanya sudah diambang kepunahan. Tak hanya itu, pendemo juga meminta perhatian semua pihak atas kasus Tambrauw, Papua Barat.

Pantauan tabloidjubi.com, puluhan mahasiswa itu duduk sambil menyanyikan sejumlah lagu-lagu Papua dipinggir jalan raya persis diputaran taksi perumnas III Waena, Abepura, Kota Jayapura. Pendemo mengenakan baju alamamater kampusnya berwarna kuning. Sebagian diantaranya mengenakan pakaian adat Papua. Sebagian lagi menggenakan mahkota hiasan ala Papua dikepala.Lagu-lagu khas Papua yang dinyanyikan diiringi dengan tabuhan tifa dan gitar. Salah satu lirik lagu yang dinyanyikan adalah ‘Yayun Wambeso’ lagu yang dinyanyikan ‘Black Brothers‘ group ternama di Papua era 1970-an. Mereka (pendemo) memilih putaran taksi karena merupakan satu-satunya tempat persinggahan sementara taksi angkutan umum jurusan Abepura-Waena perumnas tiga.

Tempat itu strategis karena taksi yang mengangkut mahasiswa dan dosen serta staf lainnya yang hendak ke kampus baru perumnas III Waena, harus turun disitu. Mesti demikian, tidak mengganggu kendaraan yang lalu lalang di Jalanan. Aktivitas transportasi lancar seperti biasa. Tak hanya menyanyi dan duduk, beberapa rekan-rekan dari mereka berdiri dan berorasi. Sebagian orator menekan kepunahan budaya Papua yang sudah diambang pintu. Orator lainnya meminta perhatian semua pihak atas wabah yang menimpa warga di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, pekan lalu.

Yason Ngelia, mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Uncen dalam orasi mengatakan, mahasiswa jangan tinggal diam. Saat ini banyak kasus di Papua yang perlu disikapi. Diantaranya, wabah yang mendera sejumlah warga yang diam di Tambrauw, seperti dikabarkan sejumlah media massa beberapa waktu lalu. “Banyak korban berjatuhan di Tambrauw. Jangan kita tiggal diam. Mari kita sikapi,” tegas Yason dalam orasinya, Senin (15/4). Selain Yason, Yeni orator lainnya dalam orasinya mengatakan selain korban yang berjatuhan di Tambrauw, mahasiswa harus sadar kalau budaya Papua sudah berada diambang kepunahan. Dia mengaku merasa bangga saat berorasi karena berpakaian adat Papua. “Saya tidak malu gunakan pakaian adat ini. Rakyat Papua harus sadar kalau pakaian adatnya serta budaya lainnya sudah diambang kepunahan,” tuturnya.

Hal serupa juga disampaikan pendemo lainnya. Mereka menegaskan, orang Papua harus sadar kalau budayanya terancam punah. “Orang Papua jangan diam. Budaya Papua terancam,” tegas orator lainnya. Menurut dia, warga Papua harus sadar karena budayanya jarang dimasukan dalam kurikulum sekolah untuk dipelajari. Sementara budaya luar yang sementara ini dipaksakan untuk dipelajari. Benyamin Gurik, salah satu pendemo kepada tabloidjubi.com mengatakan, pendemo akan melanjutkan demo ke Lingkaran Abepura. Demonstrasi kali ini dikoordinir oleh Yason Ngelia. Sekitar pukul 10.30 WIT, puluhan mahasiswa ini meninggalkan perumnas III lalu berjalan kaki menuju Lingkaran Abepura. (Jubi/Musa)


Penulis/ Editor  : Musa Abubar |Sumber: tabloidjubi.com






Koteka Nan Eksotic, Berikan Untung Fantastic

Jayapura - Bisnis  Sovenir  Khas Papua bisa dibilang tidak kenal Musiman. Dalam banyak kesempatan barang tersebut banyak diburu baik Masyarakat Lokal maupun Turis mancanegara . Disamping Itu tingkat merugi juga kecil karena usaha souvenir khas Papua tersebut  tahan lama sehingga tidak cepat lapuk serta usang dimakan usia

Karena factor itulah  banyak pelaku usaha yang mencari keberuntungan dari bisnis tersebut,salah satunya fadil,setiap hari kita bisa melayani pembeli 5 kadang 7 orang bahkan bisa lebih kalau lagi rame kata  Fadil ketika  bertemu Bintang Papua senin 13/1 ,ditempat usahanya kemarin,

Kebanyakan yang  dicari disini adalah koteka dimana barang tersebut dicari sebagai buah tangan kerabat di luar Papua atau pesanan. Salah satunya adalah Risma mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi di Yogya tersebut membeli Koteka karena  mendapat pesanan dari rekanya di Yogya . “ Iya ni mas malu juga perempuan beli ginian tapi gimana lagi ada rekan yang pesan jadi yah terpaksa saya beli dari pada ntar bikin kecewa mereka,” ujarnya .

Untuk Koteka ukuran Kecil dihargai rp 50 ribu sedang ukuran besar rp 75 ribu,kalau beli diatas 3 Pc ntar dikasih discount jelasnya, dalam sehari  koteka bisa terjual  5 hingga 7 buah, bahkan kadang lebih kalau lagi rame, ditambah dari penjualan barang lainya seperti Noken dll , rata rata dalam sehari pendapatan sekitar rp 2-3 juta , koteka merupakan pakaian adat pria dewasa Disebagian pedalaman pegunungan Papua, dan koteka juga  sebagai  pakaian yang berfungsi untuk menutupi kemaluan laki laki . Hingga kini, pakaian adat  tersebut masih digunakan oleh sebagian dari mereka untuk menutup kemaluannya. Sedangkan  Koteka terbuat dari kulit labu air, isi dan biji labu tua dikeluarkan lalu kulitnya dijemur.,
 secara harfiah koteka bermakna “pakaian”, kata ini berasal dari bahasa salah satu suku Papua di daerah Nabire yaitu suku Paniai. Namun di daerah wamena orang-orang setempat menyebutnya dengan sebutan “Horim , Untuk ukuran dan bentuk pun sangat beragam , perbedaan ini berhubungan dengan jenis acara Contohnya, koteka berukuran panjang digunakan untuk upacara adat, atau jika terjadi perang suku, dan biasanya sudah diberi ornament  atau ukiran terlebih dahulu. Untuk koteka ukuran pendek digunakan untuk kegiatan sehari-hari misal pada saat bekerja di hutan atau di ladang. Bentuk koteka pun bermacam-macam, ada yang bulat dan ada yang lonjong, ada juga yang berbentuk seperti huruf L.

Seiring waktu, koteka saat ini kurang populer untuk dipakai sehari-hari. jarang sekal iditemukan  orang yang memakai koteka,sekali waktu dalam acara tertentu jasa masih bisa kita lihat  apalagi,Saat ini ada larangan memakai koteka di kendaraan umum, sekolah, atau jika ingin ke gereja. Namun sekarang koteka lebih banyak ditemukan tergantung di toko-toko suvenir. Jika kita  ingin membelinya, tidak perlu menjadikannya sebagai pakaian untuk dipakai, namun bisa sebagai buah tangan atau sebagian untuk dikoleksi
Selain menyediakan Kotega dengan berbagai ukuran Baliem Shop Juga Menyediakan noken , Lukisan Khas papua dari Kulit Kayu,Topi Kulit Kayu,Topeng kayu dan Aksesories seperti gelang dan Kalung etnic Papua, Untuk Harga Terendah dari Gelang Dan Kalung Rp 5 rupiah sedangkan tertinggi dari Topeng Kayu ukuran Besar Dibandrol Hingga rp 1,5 juta untuk satu topeng.

Besar harapan Fadil  dan  beberapa penjual Sovenir  Etnic Papua lainya  agar  kegiatan yang berskala nasional di Jayapura lebih sering diadakan seperti  Raimuna kemarin hal tersebut bertujuan agar,kerajinan tangan khas Papua ini lebih dikenal diseantero Negeri. “ Dan tidak kalah pentingnya hal tersebut juga akan mampu mendongkrak omset penjualan lebih besar lagi,” pungkasnya . ( Ady/don/lo1)

 Sumber: BINPA


 

Papua Akan Miliki Institut Seni

Ilustrasi: Sejumlah mahasiswa asing memainkan kesenian Indonesia. (Foto: Rifa Nadia/Okezone)
JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan membangun Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) di Papua. Hal tersebut disampaikan oleh Mendikbud Mohammad Nuh, dalam acara serah terima aset Politeknik Tanah Laut dan Universitas 19 November Kolaka, pada Kamis (3/1/2012) di Gedung D Kemendikbud, Jakarta.
 
Menurut Nuh, pembangunan ISBI di Papua memang sudah lama direncanakan oleh Kemendikbud, namun baru sekarang bisa direalisasikan. Dengan adanya ISBI, diharapkan tradisi, nilai budaya, dan adat istiadat di daerah perbatasan seperti Papua dapat tetap dilestarikan dan berkembang.
 
"Pembangunan ISBI ini bertujuan agar pendidikan Indonesia tidak kering. Jadi tidak hanya mengajarkan teknologi, tapi juga mengajarkan budaya dan tradisi," tuturnya.
 
Selain di Papua, Kemendikbud juga berencana untuk membangun ISBI di daerah perbatasan lainnya seperti Kalimantan.
 
"Dengan menghadirkan ISBI di daerah perbatasan, maka anak-anak disana pun akan tetap belajar di negara sendiri, tidak perlu pergi belajar ke negara tetangga," imbuh Nuh.
(rfa)

Ulang tahun Trans, Mahasiswa Papua akan tampil Balada Cendrawasih

Bandung - Puluhan Mahasiswa Papua yang bergabung dalam wadah Ikatan Mahasiswa Se-Tanah Papua (Imasepa) di Bandung Jawa Barat, akan menampilkan balada Cendrawasih pada sabtu (15/12), pukul 19.00 wib. saat acar ulang Tahun Trans Tv dan Trans 7 yang ke-11 .

Hal ini sampaikan oleh Ketua Ikatan Mahasiswa Se-tanah (Imasepa) paul mayor saat membuhungi Media ini. tepatnya depan kampus Universitas Langgang Buana (UNLA) jalan Karapitan Bandung Jawa Barat .

Paul mengatakan, kegiatan ini adalah bentuk implementasi dari kreatifitas dan kemajuan generasi muda papua yang berdomisi di Badung. Agar kami dapat menunjukan kepada publik bawah orang Papua memiliki kearifan tersendiri  dan kaya akan Budaya kepada Publik “Kata Ketua Imasepa.

“Namun, yang dapat mengkordinir kelompok Balada Cendrawasih adalah Sdri Jenny Kossay yang dirinya sebagai Kordinator Depatemen Seni dan Budaya Ikatan Mahasiswa Papua Bandung”

Tambahannya, acara ini nantinya akan dimeriahkan oleh beberapa artis dan musisi indonesia yang sering ditampail  di Tv. Maka kamipun akan tampil, karena kami diundang. (MS/Jeck iko)


Perempuan Perkasa dari Selatan Papua

Pangkar sagu, bukti perkasanya
perempuan Suku Kamoro
Timika - Suku Kamoro tinggal di wilayah selatan Papua, tepatnya di Timika. Uniknya, ada yang menjadi satu kebanggaan bagi perempuan di suku tersebut, yaitu pangkar sagu. Apakah itu?

Di muara-muara Timika tempat Suku Kamoro menetap, perempuan adalah salah satu tokoh sentral dalam keluarga. Bukan hanya karena perannya sebagai ibu dan istri tapi juga kelihaian mereka dalam aktivitas pangkur sagu.

Sagu yang menjadi bahan makanan utama bagi masyarakat Suku Kamoro dihasilkan dari proses yang lumayan panjang dan tidak mudah. Sedari pagi, para wanita Suku Kamoro dengan kampak di tangan dan noken di kepala akan mulai menjelajah ke dalam hutan mencari dan memilih pohon sagu terbaik.

Sagu yang telah ditebang akan mulai dikuliti hingga menyisakan bagian dalam batang sagu yang berwarna putih. Bagian ini nantinya akan di pangkur, atau ditumbuk dengan alat pangkur yang terbuat dari batang kayu berbentuk cangkul tumpul, hingga berbentuk serat-serat sagu.

Dalam aktivitas pangkur sagu, para perempuan Kamoro bekerja bergotong-royong. Beberapa orang wanita akan mulai membuat lintasan drainase dari pelepah-pelepah pohon sagu, sedangkan wanita yang lain akan mulai menguliti dan mulai memangkur batang sagu hingga berbentuk serat. Di lintasan tadi mereka nantinya akan mencuci, meremas dan menapis serat sagu. Dari air sisa perasan akan mengendap cikal bakal tepung sagu.

Saat hari berakhir, endapan yang berbentuk tepung ini akan mereka kumpulkan dan bungkus dengan daun sagu. Mereka akan membawanya pulang dan diolah menjadi santapan lezat bagi seluruh keluarga mereka.

Kesempatan melihat para perempuan Kamoro melakukan aktivitas pangkur dengan sangat bersemangat membuat saya terhibur. Pangkur sagu sungguh bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit untuk mengubah batang-batang sagu yang kokoh hingga menjadi tepung sagu yang halus.

"Ini perempuan punya hak! Laki-laki bisa bantu potong tapi cuma kita perempuan yang boleh pangkur," kata seorang perempuan tua Kamoro, Mama Cornelia yang sedang melakukan aktivitas pangkur sagu sekaligus menjelaskannya kepada saya.

Sejatinya pangkur sagu sendiri adalah pekerjaan yang mungkin tampak sebagai kewajiban, tapi bagi perempuan suku Kamoro inilah kebanggaan. Layaknya melahirkan, menyusui dan menjaga keluarga bagi mereka, pangkur sagu adalah identitas seorang perempuan. Dan untuk itu, saya tidak merasa segan untuk kagum dan menghormati para perempuan perkasa dari selatan Papua ini.

Penulis Oleh: Husni Mubarak Zainal

Sumber : Detik Trevel 


Perempuan kamoro memeras serat sagu yang airnya dialirkan kepenampungan yang terbuat dari pelepah sagu.


Kulitsagu di buka menggunakan kampak olehperempuan terkuat, setelahnya isi batang di pangkur secarabergiliran.

Pangkar sagu, bukti perkasanya perempuan Suku Kamoro



Noken Ditetapkan Sebagai Warisan Dunia UNESCO

Noken, tas khas Papua. (sumber: Unesco.org)
Noken merupakan kerajinan tangan pengrajin Papua yang terbuat dari daun pandan dan kulit kayu.

Tas rajutan khas Papua, Noken, akan ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dalam sidang Unesco di Paris, Prancis, pada 4 Desember 2012. Tahun ini, selain noken, juga diakui subak dan tenun.

Menurut Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti, usulan noken sebagai warisan dunia sudah dilakukan sejak empat tahun terakhir melalui beberapa kali revisi.

“Tahun ini, subak dari Bali sudah diakui sebagai warisan dunia,” katanya dalam acara Sosialisasi dan Kampanye Pembangunan Karakter Bangsa di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sabtu (29/11).

Ada lima domain untuk menetapkan budaya Indonesia menjadi warisan budaya tak benda. Selain tradisi, ekspresi lisan, bahasa, seni pertunjukan, adat istiadat, ritus, perayaan, juga pengetahuan, kebiasan atau perilaku mengenai alam semesta, dan terakhir kemahiran kerajinan seni tradisional.

Noken merupakan kerajinan tangan pengrajin Papua yang terbuat dari daun pandan dan kulit kayu.

Noken biasanya dibawa di kepala untuk membawa barang kebutuhan sehari-hari, seperti hasil-hasil per tanian (sayuran, umbi-umbian, dan barang dagangan) ke pasar.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan gerakan nasional Indonesia Berkarakter.

Menurut Diah Harianti, mengutip pernyataan Wakil Menteri Bidang Kebudayaan Kemendiknas Wiendu Nuryanti, melalui gerakan ini, pihaknya ingin menyeimbangkan antara kemampuan yang sifatnya nalar dengan kemampuan yang sifatnya budi, kreativitas, estetika, dan etika.

“Cerdas saja tidak cukup tapi harus cerdas dan berbudi,” katanya.

Menurut dia, dengan mengangkat gerakan Indonesia Berkarakter, pihaknya juga ingin memasukkan nilai-nilai ke dalam sistem pendidikan, supaya pendidikan itu tidak orientasi penugasan saja tetapi juga olah hati, olahraga, olah nurani sehingga karakter menjadi kuat.

“Yang membuat sukses itu adalah social skill. Jadi, bukan hanya IQ tapi EQ, bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana berinteraksi dengan orang lain dengan manusia lain,” paparnya.

Tarian Adat Meriahkan Peresmian Gereja di Timika

Suku Kamoro menari mengiring perjalanan Sang Uskup ke gereja.
Timika - Terik matahari terasa sangat menyengat meski jam masih menunjukkan pukul 08.30 WIT. Meski harus berpanas-panasan, ratusan warga tetap berbondong-bondong menuju Gereja Katolik Paroki Santo Stefanus Sempan, Timika, Papua.

Mengenakan busana rapi, Jumat (23/11/2012) warga terlihat antusias mengikuti prosesi peresmian gereja tersebut. Mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga orang tua. Ada yang sudah menunggu di dalam dan halaman gereja, tapi banyak juga yang berjejer di pinggir jalan Busiri, Timika, Papua.

Mereka menunggu dimulainya misa untuk meresmikan gereja. Prosesi adat dalam peresmian gereja memang menjadi tradisi di Papua. Prosesi adat selalu ada karena gereja di Papua masih kental dengan kearifan lokal.

"Tradisinya harus ada termasuk saat peresmian gereja," kata panitia peresmian gereja, Kristina Betau.

Di dalam peresmian gereja Katolik Paroki St Stefanus Sempan, ada dua tarian adat yang ditampilkan yakni tarian suku Kei dan suku Kamoro. Tepat pukul 09.00 WIT, prosesi pun dimulai.

Sembilan orang pemuda menarikan tari suku Kei. Mereka mengenakan kaos putih dan celana pendek warna merah, mereka terlihat lincah menari dilengkapi busur dan panah.

Tarian sembilan pemanah ini sekaligus membuka jalan bagi iring-iringan uskup dan pastur. Sementara di sisi kanan sudah menunggu puluhan orang suku Kamoro. Saat iringan uskup mendekati, suku Kamoro bergegas menarikan tarian adatnya.

Tarian suku Kamoro terus mengiringi uskup hingga masuk ke dalam gereja. Ada 3 uskup yang ditahbiskan menjadi pastur dalam peresmian gereja ini yang pembangunannya dibantu dengan dana CRS PT Freeport Indonesia.

"Dana CSR kita diperuntukkan untuk pendidikan, kesehatan, ekonomi rakyat, lembaga adat dan seni budaya. Gereja termasuk dalam lembaga adat," kata Juru Bicara Freeport Indonesia, Ramdani Sirait.

Program social development, Freeport memberikan dana program melalui Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). Dukungan terhadap pengembangan di bidang agama menjadi penting karen kehidupan masyarakat Kabupaten Mimika disatukan oleh ikatan keagamaan.(fdn/lh)


Sumber: Detik.com

Sepuluh Sanggar Seni di Pania Papua Tutup

Seniman Paniai (ilustrasi foto suaracendrawasi.blogspot.com
Paniai– Sepuluh sanggar kesenian di Paniai, Papua sudah tutup. Kesepuluh sanggar itu diantaranya, Sanggar Ipakiye, Ibumomaida, Alie, dan Rejape. Menurut salah satu seniman Paniai Ofni Yeimo, kini hanya ada lima sanggar yang masih aktif. Sebagian besar sanggar yang tutup terdiri dari sanggar tari dan sanggar ukir.

“Jadi kami berharap untuk kedepan bila perlu 2013 pemerintah bisa perhatikan hal itu. Karena bakat bakat seniman seniawati kami sudah lumpuh. Jadi harapan kami untuk kedepan itu tidak terjadi seperti kemarin.”

Salah satu seniman Paniai Ofni Yeimo menambahkan, sanggar-sanggar itu tutup karena Pemerintah Kabupaten Paniai tidak memberdayakan sanggar tersebut selama lima tahun terakhir. Ofni berharap ada perhatian khusus soal sanggar kesenian di Paniai.  
 Sumber: KBR68H

Pemkab Paniai Tak Pedulikan Seniman

Seniman Paniai (Foto/Google)
Paniai  - Pemerintah Kabupaten Paniai dinilai mengabaikan para seniman. Salah seorang seniman Paniai Ofni Yeimo mengatakan, sudah lima tahun pemerintah Paniai tak pernah mengucurkan dana bagi sanggar seni. Padahal dana tersebut telah dialokasikan tiap tahunnya.
“Iya untuk sementara ini seniman dan seniawati di kabupaten Paniai ini sangat mati atau tidak berjalan lancar karena kurang adanya perhatian dari pemerintah. Dan sanggar-sanggar sampai saat ini tidak ada uang pembinaan dari pemerintah daerah dan dinas terkait,” keluh Ofni.
Salah seorang seniman Paniai, Papua Ofni Yeimo berharap, pemerintah memberi perhatian kepada mereka. Dana untuk kegiatan kesenian dibutuhkan untuk pengembangan. Ofni Yeimo menambahkan, akibat dana kegiatan yang tidak dikucurkan, banyak sanggar kesenian yang tutup.
Sumber: Suara Cendrawasih

Jangan Jual Harga Diri Koteka dan Moge

Tulisan ini kutulis ketika terjadi ketegangan antara orang Papua dengan orang Jawa di Karang Tumaritis Nabire Papua.

Asal mula koteka, tidak semua orang tahu, termasuk mereka yang mengenakannya. Menurut alm Paulus Wakey, mantan katakis Timeepa yang dulu pernah meneliti budaya orang Mee bersama antropolog Helkma, koteka berasal dari moyang orang yang mengenakannya itu sendiri. Tidak ada koteka impor. Konon katanya, dua orang bernama Emogiki Pane dan Emobeku Pane berbuat dosa disebuah tempat yang disebut Egaidimi, lalu mereka diusir dan dalam perjalanan mereka diberi petunjuk untuk mengenakan Koteka dan Moge. Ketika itu para malaikat menyanyikan lagu:

“Epeko benoo – epeko samouwii, puneko beno – puneko samouwi, gagako beno – gaga ko samouwi, didiko beno – didiko samouwi, peuko beno – peuko samouwi, sigimagako beno – sigimagako samougi, ediwaneko beno – ediwaneko samouwi,  waneko beno – waneko samouwi,  uwaikobeno – uwaiko  samouwi”.

TUHAN Allah memberi nama Emogiki dan Emobeku karena berdua berbuat dosa yang berakibat Emo (darah), lalu pikiran berdua terbuka (Egaidimi) yang selanjutnya menjadi nama bukit. Sejak diusir itulah, kedua orang ini sadar bahwa mereka dalam keadaan telanjang. Awalnya mereka mencoba menutupinya dengan dedaunan, namun Tuhan Allah memberi ilham untuk membuat koteka yang tumbuh subur di kebun mereka yang berpagar. Maka jadilah busana yang betul-betul menunjukan kejantanan seorang pria dan moge bagi seorang wanita.
Sebelum pikiran manusia pertama belum terbuka, tidak ada permusuhan, pertentangan, pertengkaran, percemoohan dan lain sebagainya. Dan memang mereka mau baku marah dengan siapa, karena memang tidak ada orang pada waktu itu. Namun iblis yang gila hormat, dari waktu ke waktu menggoda manusia dan Allah pun harus membuat pagar agar si iblis tidak lagi masuk ke tamanNya.

Iblis itulah pikiran yang kemudian dinyatakan lewat tindakan, tanpa timbang-timbang langsung  bertindak. Peristiwa seperti yang terjadi di Nabire medio April 2010 di Nabire, mesti menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bermula dari seorang pemuda Paniai mencuri buah Salak milik mas Narto di Girimulyo Nabire dan warga Jawa yang mendapatinya langsung menghajar si pencuri tadi. Namun peristiwa tersebut tidak diterima oleh warga lain yang berlatar budaya koteka. Isu beredar cepat dan sejumlah rumah milik orang Jawa dibakar masa, sejumlah warga Jawa dipukuli dan yang lain nyaris diperkosa.

Ternyata tindakan itu membela seorang pencuri. Warga Papua pun baru menyesal di Kantor Polisi karena terlanjur disulut isu yang tidak benar.

Peristiwa yang menghebohan Papua itu mesti menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa mencuri itu tidak baik dan lebih buruk lagi bila kita membela orang yang sudah berbuat kesalahan.

Bila kita telusuri moyang kita dulu, mereka sudah mengatakan ikrar kesetiaan mereka kepada TUHAN Allah dengan mengenakan koteka dan moge untuk melawan si iblis itu. Koteka dan moge adalah tanda bukti kesetiaan manusia kepada TUHAN, walaupun selanjutnya manusia harus menanggung beban penderitaan sebagai akibat dari pikiran independent yang telah dipilih itu. TUHAN Allah mengatakan, okei, kalau anda sudah berjanji untuk menuruti aku, berbuatlah setiap hari dengan ajaran-ajaranKu ini. Selanjutnya TUHAN Allah turunkan Kabo Mana yang didalamnya berbunyi: tide dimi (kesederhanaan, merendah), enaimo dimi (kebersamaan), ide dimi (bersemangat), ipa dimi (mengasihi sesama), ahoo dimi (rajin, telaten),  dan wadoo dimi (membangun).

Sekarang, kalau kita mau jujur. Setiap keturunan yang berasal dari moyangnya yang pernah mengenakan koteka dan moge, mestinya harus malu dan malu terhadap semua tindakan yang kita berbuat sekarang.  Sering kita main hakim sendiri, mencari menang sendiri, egois, mementingkan kelompoknya, menceritakan orang, ini semua sikap yang keliru dan bimbang. Mesti kita lihat persoalan, apa penyebabnya lalu kita mengambil tindakan. Ingat. Jangan main hakim sendiri, apalagi disini Negara hukum.

Dengan adanya sikap demikian, pihak ketiga mudah saja memprovokasi ruang-ruang yang dihuni si iblis untuk membasmi keturunan TUHAN dengan berbagai daya upaya.

Orang Jawa, orang Madura, orang Sulawesi, orang Manado, orang Sumatra adalah saudara-saudara kita yang sudah hidup dari dulu. Kebun mereka, rumah mereka dan bahkan kuburan keluarga mereka, semua disini. Mereka bukan tamu, mereka juga bukan baru datang untuk menghancurkan tatanan kehidupan yang sudah terbentuk sejak dulu. Maka oleh karena itu, hargailah mereka, mintalah dengan terus terang, pasti ada jawaban. Jangan kita bertindak semau gue. Bisa berakibat buruk.

Sekali lagi, wahai sahabat, hargailah Koteka Peiyo itu, jangan lihat koteka dari pandangan miris, lihatlah koteka sebagai bukti kesetiaan manusia terhadap ajaran Kabo Mana (ajaran dasar hidup) yang sudah ada sejak turun-turun. Jangan kita baku musuh lagi. Papua sejak lama hidup rukun dan aman. Tidak pernah rakyat kecil berpolitik, apalagi yang makar, tetapi politik mekar Papua, pasti siapa saja pasti berkomentar.

Kepada bapak-bapak polisi, agar perjudian dan miras dihentikan. Sebab dengan judi dan miras ini telah memicu banyak hal. Jangan biarkan Toto Gelap (Togel) bebas di wilayah ini. Pasar karang adalah pusatnya judi. Disitu setiap hari ada pertengkaran, pertikaian dan perkelahian, hanya karena mabuk dan judi.

Beberapa kali saya pantau, mama-mama Jawa yang jual nasi bungkus, mama Ekari dan Dani yang jual sayuran merasa terganggu, om-om Bugis yang jual ikan dan barang kios, setiap hari terancam oleh saudara-saudara kita yang minum mabuk tanpa kenal batas. 

Kepada para pemegang HP, agar berhati-hati menyebarkan SMS yang bersifat mengadu domba, politis dan sara. Sebab dengan SMS-SMS demikian, masyarakat merasa takut dan bila terjadi persoalan, gampang saja emosi mereka terbakar. Persoalan kecil bisa menjadi besar, oleh karena itu marilah kita semua bertanggung jawab menjaga Kamtibmas yang aman dan damai. ***Tulisan ini kutulis ketika terjadi ketegangan antara orang Papua dengan orang Jawa di Karang Tumaritis Nabire Papua.

Asal mula koteka, tidak semua orang tahu, termasuk mereka yang mengenakannya. Menurut alm Paulus Wakey, mantan katakis Timeepa yang dulu pernah meneliti budaya orang Mee bersama antropolog Helkma, koteka berasal dari moyang orang yang mengenakannya itu sendiri. Tidak ada koteka impor. Konon katanya, dua orang bernama Emogiki Pane dan Emobeku Pane berbuat dosa disebuah tempat yang disebut Egaidimi, lalu mereka diusir dan dalam perjalanan mereka diberi petunjuk untuk mengenakan Koteka dan Moge. Ketika itu para malaikat menyanyikan lagu:

“Epeko benoo – epeko samouwii, puneko beno – puneko samouwi, gagako beno – gaga ko samouwi, didiko beno – didiko samouwi, peuko beno – peuko samouwi, sigimagako beno – sigimagako samougi, ediwaneko beno – ediwaneko samouwi,  waneko beno – waneko samouwi,  uwaikobeno – uwaiko  samouwi”.

TUHAN Allah memberi nama Emogiki dan Emobeku karena berdua berbuat dosa yang berakibat Emo (darah), lalu pikiran berdua terbuka (Egaidimi) yang selanjutnya menjadi nama bukit. Sejak diusir itulah, kedua orang ini sadar bahwa mereka dalam keadaan telanjang. Awalnya mereka mencoba menutupinya dengan dedaunan, namun Tuhan Allah memberi ilham untuk membuat koteka yang tumbuh subur di kebun mereka yang berpagar. Maka jadilah busana yang betul-betul menunjukan kejantanan seorang pria dan moge bagi seorang wanita.

Sebelum pikiran manusia pertama belum terbuka, tidak ada permusuhan, pertentangan, pertengkaran, percemoohan dan lain sebagainya. Dan memang mereka mau baku marah dengan siapa, karena memang tidak ada orang pada waktu itu. Namun iblis yang gila hormat, dari waktu ke waktu menggoda manusia dan Allah pun harus membuat pagar agar si iblis tidak lagi masuk ke tamanNya.

Iblis itulah pikiran yang kemudian dinyatakan lewat tindakan, tanpa timbang-timbang langsung  bertindak. Peristiwa seperti yang terjadi di Nabire medio April 2010 di Nabire, mesti menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bermula dari seorang pemuda Paniai mencuri buah Salak milik mas Narto di Girimulyo Nabire dan warga Jawa yang mendapatinya langsung menghajar si pencuri tadi. Namun peristiwa tersebut tidak diterima oleh warga lain yang berlatar budaya koteka. Isu beredar cepat dan sejumlah rumah milik orang Jawa dibakar masa, sejumlah warga Jawa dipukuli dan yang lain nyaris diperkosa.

Ternyata tindakan itu membela seorang pencuri. Warga Papua pun baru menyesal di Kantor Polisi karena terlanjur disulut isu yang tidak benar.

Peristiwa yang menghebohan Papua itu mesti menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa mencuri itu tidak baik dan lebih buruk lagi bila kita membela orang yang sudah berbuat kesalahan.

Bila kita telusuri moyang kita dulu, mereka sudah mengatakan ikrar kesetiaan mereka kepada TUHAN Allah dengan mengenakan koteka dan moge untuk melawan si iblis itu. Koteka dan moge adalah tanda bukti kesetiaan manusia kepada TUHAN, walaupun selanjutnya manusia harus menanggung beban penderitaan sebagai akibat dari pikiran independent yang telah dipilih itu. TUHAN Allah mengatakan, okei, kalau anda sudah berjanji untuk menuruti aku, berbuatlah setiap hari dengan ajaran-ajaranKu ini. Selanjutnya TUHAN Allah turunkan Kabo Mana yang didalamnya berbunyi: tide dimi (kesederhanaan, merendah), enaimo dimi (kebersamaan), ide dimi (bersemangat), ipa dimi (mengasihi sesama), ahoo dimi (rajin, telaten),  dan wadoo dimi (membangun).

Sekarang, kalau kita mau jujur. Setiap keturunan yang berasal dari moyangnya yang pernah mengenakan koteka dan moge, mestinya harus malu dan malu terhadap semua tindakan yang kita berbuat sekarang.  Sering kita main hakim sendiri, mencari menang sendiri, egois, mementingkan kelompoknya, menceritakan orang, ini semua sikap yang keliru dan bimbang. Mesti kita lihat persoalan, apa penyebabnya lalu kita mengambil tindakan. Ingat. Jangan main hakim sendiri, apalagi disini Negara hukum.

Dengan adanya sikap demikian, pihak ketiga mudah saja memprovokasi ruang-ruang yang dihuni si iblis untuk membasmi keturunan TUHAN dengan berbagai daya upaya.

Orang Jawa, orang Madura, orang Sulawesi, orang Manado, orang Sumatra adalah saudara-saudara kita yang sudah hidup dari dulu. Kebun mereka, rumah mereka dan bahkan kuburan keluarga mereka, semua disini. Mereka bukan tamu, mereka juga bukan baru datang untuk menghancurkan tatanan kehidupan yang sudah terbentuk sejak dulu. Maka oleh karena itu, hargailah mereka, mintalah dengan terus terang, pasti ada jawaban. Jangan kita bertindak semau gue. Bisa berakibat buruk.

Sekali lagi, wahai sahabat, hargailah Koteka Peiyo itu, jangan lihat koteka dari pandangan miris, lihatlah koteka sebagai bukti kesetiaan manusia terhadap ajaran Kabo Mana (ajaran dasar hidup) yang sudah ada sejak turun-turun. Jangan kita baku musuh lagi. Papua sejak lama hidup rukun dan aman. Tidak pernah rakyat kecil berpolitik, apalagi yang makar, tetapi politik mekar Papua, pasti siapa saja pasti berkomentar.

Kepada bapak-bapak polisi, agar perjudian dan miras dihentikan. Sebab dengan judi dan miras ini telah memicu banyak hal. Jangan biarkan Toto Gelap (Togel) bebas di wilayah ini. Pasar karang adalah pusatnya judi. Disitu setiap hari ada pertengkaran, pertikaian dan perkelahian, hanya karena mabuk dan judi.

Beberapa kali saya pantau, mama-mama Jawa yang jual nasi bungkus, mama Ekari dan Dani yang jual sayuran merasa terganggu, om-om Bugis yang jual ikan dan barang kios, setiap hari terancam oleh saudara-saudara kita yang minum mabuk tanpa kenal batas. 

Kepada para pemegang HP, agar berhati-hati menyebarkan SMS yang bersifat mengadu domba, politis dan sara. Sebab dengan SMS-SMS demikian, masyarakat merasa takut dan bila terjadi persoalan, gampang saja emosi mereka terbakar. Persoalan kecil bisa menjadi besar, oleh karena itu marilah kita semua bertanggung jawab menjaga Kamtibmas yang aman dan damai. ***Tulisan ini kutulis ketika terjadi ketegangan antara orang Papua dengan orang Jawa di Karang Tumaritis Nabire Papua.

Asal mula koteka, tidak semua orang tahu, termasuk mereka yang mengenakannya. Menurut alm Paulus Wakey, mantan katakis Timeepa yang dulu pernah meneliti budaya orang Mee bersama antropolog Helkma, koteka berasal dari moyang orang yang mengenakannya itu sendiri. Tidak ada koteka impor. Konon katanya, dua orang bernama Emogiki Pane dan Emobeku Pane berbuat dosa disebuah tempat yang disebut Egaidimi, lalu mereka diusir dan dalam perjalanan mereka diberi petunjuk untuk mengenakan Koteka dan Moge. Ketika itu para malaikat menyanyikan lagu:

“Epeko benoo – epeko samouwii, puneko beno – puneko samouwi, gagako beno – gaga ko samouwi, didiko beno – didiko samouwi, peuko beno – peuko samouwi, sigimagako beno – sigimagako samougi, ediwaneko beno – ediwaneko samouwi,  waneko beno – waneko samouwi,  uwaikobeno – uwaiko  samouwi”.

TUHAN Allah memberi nama Emogiki dan Emobeku karena berdua berbuat dosa yang berakibat Emo (darah), lalu pikiran berdua terbuka (Egaidimi) yang selanjutnya menjadi nama bukit. Sejak diusir itulah, kedua orang ini sadar bahwa mereka dalam keadaan telanjang. Awalnya mereka mencoba menutupinya dengan dedaunan, namun Tuhan Allah memberi ilham untuk membuat koteka yang tumbuh subur di kebun mereka yang berpagar. Maka jadilah busana yang betul-betul menunjukan kejantanan seorang pria dan moge bagi seorang wanita.

Sebelum pikiran manusia pertama belum terbuka, tidak ada permusuhan, pertentangan, pertengkaran, percemoohan dan lain sebagainya. Dan memang mereka mau baku marah dengan siapa, karena memang tidak ada orang pada waktu itu. Namun iblis yang gila hormat, dari waktu ke waktu menggoda manusia dan Allah pun harus membuat pagar agar si iblis tidak lagi masuk ke tamanNya.

Iblis itulah pikiran yang kemudian dinyatakan lewat tindakan, tanpa timbang-timbang langsung  bertindak. Peristiwa seperti yang terjadi di Nabire medio April 2010 di Nabire, mesti menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bermula dari seorang pemuda Paniai mencuri buah Salak milik mas Narto di Girimulyo Nabire dan warga Jawa yang mendapatinya langsung menghajar si pencuri tadi. Namun peristiwa tersebut tidak diterima oleh warga lain yang berlatar budaya koteka. Isu beredar cepat dan sejumlah rumah milik orang Jawa dibakar masa, sejumlah warga Jawa dipukuli dan yang lain nyaris diperkosa.

Ternyata tindakan itu membela seorang pencuri. Warga Papua pun baru menyesal di Kantor Polisi karena terlanjur disulut isu yang tidak benar.

Peristiwa yang menghebohan Papua itu mesti menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa mencuri itu tidak baik dan lebih buruk lagi bila kita membela orang yang sudah berbuat kesalahan.

Bila kita telusuri moyang kita dulu, mereka sudah mengatakan ikrar kesetiaan mereka kepada TUHAN Allah dengan mengenakan koteka dan moge untuk melawan si iblis itu. Koteka dan moge adalah tanda bukti kesetiaan manusia kepada TUHAN, walaupun selanjutnya manusia harus menanggung beban penderitaan sebagai akibat dari pikiran independent yang telah dipilih itu. TUHAN Allah mengatakan, okei, kalau anda sudah berjanji untuk menuruti aku, berbuatlah setiap hari dengan ajaran-ajaranKu ini. Selanjutnya TUHAN Allah turunkan Kabo Mana yang didalamnya berbunyi: tide dimi (kesederhanaan, merendah), enaimo dimi (kebersamaan), ide dimi (bersemangat), ipa dimi (mengasihi sesama), ahoo dimi (rajin, telaten),  dan wadoo dimi (membangun).

Sekarang, kalau kita mau jujur. Setiap keturunan yang berasal dari moyangnya yang pernah mengenakan koteka dan moge, mestinya harus malu dan malu terhadap semua tindakan yang kita berbuat sekarang.  Sering kita main hakim sendiri, mencari menang sendiri, egois, mementingkan kelompoknya, menceritakan orang, ini semua sikap yang keliru dan bimbang. Mesti kita lihat persoalan, apa penyebabnya lalu kita mengambil tindakan. Ingat. Jangan main hakim sendiri, apalagi disini Negara hukum.

Dengan adanya sikap demikian, pihak ketiga mudah saja memprovokasi ruang-ruang yang dihuni si iblis untuk membasmi keturunan TUHAN dengan berbagai daya upaya.

Orang Jawa, orang Madura, orang Sulawesi, orang Manado, orang Sumatra adalah saudara-saudara kita yang sudah hidup dari dulu. Kebun mereka, rumah mereka dan bahkan kuburan keluarga mereka, semua disini. Mereka bukan tamu, mereka juga bukan baru datang untuk menghancurkan tatanan kehidupan yang sudah terbentuk sejak dulu. Maka oleh karena itu, hargailah mereka, mintalah dengan terus terang, pasti ada jawaban. Jangan kita bertindak semau gue. Bisa berakibat buruk.

Sekali lagi, wahai sahabat, hargailah Koteka Peiyo itu, jangan lihat koteka dari pandangan miris, lihatlah koteka sebagai bukti kesetiaan manusia terhadap ajaran Kabo Mana (ajaran dasar hidup) yang sudah ada sejak turun-turun. Jangan kita baku musuh lagi. Papua sejak lama hidup rukun dan aman. Tidak pernah rakyat kecil berpolitik, apalagi yang makar, tetapi politik mekar Papua, pasti siapa saja pasti berkomentar.

Kepada bapak-bapak polisi, agar perjudian dan miras dihentikan. Sebab dengan judi dan miras ini telah memicu banyak hal. Jangan biarkan Toto Gelap (Togel) bebas di wilayah ini. Pasar karang adalah pusatnya judi. Disitu setiap hari ada pertengkaran, pertikaian dan perkelahian, hanya karena mabuk dan judi.

Beberapa kali saya pantau, mama-mama Jawa yang jual nasi bungkus, mama Ekari dan Dani yang jual sayuran merasa terganggu, om-om Bugis yang jual ikan dan barang kios, setiap hari terancam oleh saudara-saudara kita yang minum mabuk tanpa kenal batas. 

Kepada para pemegang HP, agar berhati-hati menyebarkan SMS yang bersifat mengadu domba, politis dan sara. Sebab dengan SMS-SMS demikian, masyarakat merasa takut dan bila terjadi persoalan, gampang saja emosi mereka terbakar. Persoalan kecil bisa menjadi besar, oleh karena itu marilah kita semua bertanggung jawab menjaga Kamtibmas yang aman dan damai. *** Engelbertus P Degey

 Sumber: Swarapapua.com


 
Copyright © 2013. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger