Showing posts with label Customary. Show all posts
Showing posts with label Customary. Show all posts

Keragaman Bahasa Daerah Papua Harus Diselamatkan

Abdul Haris M. Ali
Waisai  –  Keragaman bahasa merupakan jati diri bangsa Indonesia yang dibangun atas berbagai etnis dan budaya. Keragaman bahasa milik suku-suku asli Papua harus diselamatkan.

Hal ini ditegaskan Kepala Subdirektorat Daerah 1A, Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) Arsip Nasional Republik Indonesia, Abdul Haris M. Ali, belum lama ini.

“Bahasa merupakan jati diri bangsa, makanya diatur dalam Pasal 3 huruf g, Undang-undang Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan. Disitu tercantum bahasa merupakan aset yang harus diselamatkan. Salah satunya adalah bahasa suku-suku Papua, yang saya cukup yakin jumlahnya sangat banyak.

Terlebih yang di pedalaman-pedalaman atau di pelosok-pelosok Papua,” ujarnya saat berada di Raja Ampat.

Menurutnya, salah satu yang dapat dilakukan adalah menemukan dan menyimpan bukti tertulis keberadaan bahasa yang dimaksud. Dicontohkan, seperti dari tokoh adat, kepala suku, ataupun masyarakat asli yang masih menggunakannya.

“Kami masukkan dalam kategori arsip sejarah lisan. Dengan porgram kerja, Penyelamatan aset arsip nasional. Dan saat diturunkan dalam program kerja di daerah, menjadi penelusuran arsip-arsip tentang bahasa,” terangnya.

Ditambahkan, setelah disimpan dan didata dalam arsip nasional, bahasa asli suku-suku di Papua pun dapat dipublikasikan. “Keberadaan keragaman bahasa ini, dapat dijadikan aset bidang sosial budaya Papua. Bukan hanya disimpan, tapi juga harus dijadikan informasi. Ini kekayaan intelektual masyarakat Papua dalam bidang sosial budaya,” paparnya. (mp-22)

 Mediapapua.com

Sekda Harap Kontingen Penas Papua Petik Hal Positif Di Aceh

Sekretaris Daerah (Sekda) Papua, TEA Hery Dosinaen SIP, MKP.(foto Jubi)
JAYAPURA – Sekda Papua Hery Dosinaen berharap kontingen Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan Papua, dapat memetik hal positif untuk diterapkan di Bumi Cenderawasih, selama mengikuti kegiatan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

“Saya harap kontingen Papua juga dapat menampilkan yang terbaik dimiliki oleh Bumi Cenderawasih di Aceh”.

“Kita juga ingin supaya kontingen yang mewakili Bumi Cenderawasih ini dapat membawa pulang hal-hal baik dari Penas Petani dan Nelayan XV tersebut. Dalam artian bisa memetik hal positif untuk diterapkan di provinsi ini,” kata Sekda saat melepas kontingen Penas Petani dan Nelayan Papua 2017, di Main Hall Kantor Gubernur Dok II Jayapura, Kamis kemarin.

Sekda melanjutkan, pada ajang Penas Petani dan Nelayan XV, kontingen Papua bakal membawa paket-paket sumber daya alam di Bumi Cenderawasih untuk dipamerkan. Sejumlah paket sumber daya alam itu, diantaranya buah merah dari sektor pertanian, kura-kura moncong babi, anggrek Papua serta kerajinan lainnya di bidang perikanan.

Meski begitu, Sekda mengakui tak semua kabupaten mengikuti ajang Penas Petani dan Nelayan XV di Aceh. Hanya beberapa saja yang dianggap telah mewakili Bumi Cenderawasih.

“Diantaranya Kota dan Kabupaten Jayapura, Keerom dan Merauke. Meski begitu, sudah cukup mewakili Papua di Aceh,” tuturnya.

Sekda optimis kontingen Papua dapat membawa nama baik dan menampilkan potensi sumber daya manusia yang dimiliki Bumi Cenderawasih.

Sekedar diketahui, peserta Penas Petani dan Nelayan Papua berjumlah 1.284 orang perwakilan. Ribuan peserta dari Papua akan ikut memeriahkan mengikuti Penas Petani dan Nelayan XV di Provinsi Aceh pada 6-11 Mei 2017. (CI)

Berita lima.com


Persiapan Menikah Menurut Suku Biak Papua

Papua memiliki beragam adat istiadat dalam hal pernikahan, salah satunya adalah adat pernikahan di Papua. Nah, Ladies, penasaran kan dengan persiapan menikah di Indonesia bagian timur ini? Berikut adalah gambaran mengenai persiapan menikah menurut suku Biak Papua.

Seperti dijelaskan www.jadilah.com, pihak keluarga dari seorang lelaki Biak harus melamar si wanita. Pada hari lamaran, pihak lelaki harus membawa Kaken yang berbentuk gelang atau kalung dari manik-manik sebagai tanda perkenalan.

Jumlah dan jenis dari Kaken itu tergantung dari kemampuan ekonomi dari pihak lelaki. Jika memang orang tua dari si wanita menyetujui pernikahan tersebut, mereka akan memberikan Kaken pula kepada pihak lelaki.

Melangsir ulang dari www.papua.us, pernikahan yang berlangsung juga ditandai oleh pengataran Ararem atau mas kawin. Besarnya Ararem ditentukan oleh pihak keluarga wanita, sedangkan penentuan waktu penyerahannya dapat disepakati bersama antara pihak keluarga wanita dan lelaki.
Proses pengantaran Ararem ini dilakukan dengan sangat meriah serta diikuti dengan prosesi arak-arakan loh Ladies. Ketika pemberian mas kawin itu sudah selesai, maka status sosial dari si calon suami di depan keluarga calon istrinya menjadi lebih sakral.

Menurut laman budayaindo.com, ada acara makan bersama dari saudara laki-laki pihak ibu kedua mempelai, yang disebut dengan Samrem. Lalu keesokan harinya, calon pengantin wanita dirias dan dibawa ke rumah pengantin pria dengan arak-arakan. Setibanya di rumah calon pengantin pria, pengatin wanita melakukan barter mas kawin dengan uang.

Setelah itu, pihak pengantin wanita memberikan Asyawer atau seperangkat senjata berupa tombak, panah, dan parang kepada pihak pengantin pria. Jika ritual pernikahan ini selesai, baru lah acara pernikahan dapat dilanjutkan oleh kepala adat.

Ternyata perbedaan kebudayaan di Indonesia tidak begitu signifikan ya Ladies. Pastinya dengan mengetahui adat-istiadat yang ada di negeri kita sendiri, bakal lebih gampang untuk cari jodoh dalam negeri.

Oleh: N. Wijayanti

 http://www.vemale.com/relationship/love/58859-persiapan-menikah-menurut-suku-biak-papua.html

MAHASISWA UNCEN : BUDAYA PAPUA DIAMBANG KEPUNAHAN

Puluhan mahasiswa Uncen yang duduk
sambil menyanyi lalu berorasi di pinggir
jalan raya perumnas III Waena (Jubi/Musa)

Jayapura, 15/4 (Jubi) – Senin (15/4) sekitar pukul 10.00 -10.30 WIT, puluhan mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Papua berunjuk rasa. Puluhan mahasiswa itu meminta, warga Papua sadar kalau budayanya sudah diambang kepunahan. Tak hanya itu, pendemo juga meminta perhatian semua pihak atas kasus Tambrauw, Papua Barat.

Pantauan tabloidjubi.com, puluhan mahasiswa itu duduk sambil menyanyikan sejumlah lagu-lagu Papua dipinggir jalan raya persis diputaran taksi perumnas III Waena, Abepura, Kota Jayapura. Pendemo mengenakan baju alamamater kampusnya berwarna kuning. Sebagian diantaranya mengenakan pakaian adat Papua. Sebagian lagi menggenakan mahkota hiasan ala Papua dikepala.Lagu-lagu khas Papua yang dinyanyikan diiringi dengan tabuhan tifa dan gitar. Salah satu lirik lagu yang dinyanyikan adalah ‘Yayun Wambeso’ lagu yang dinyanyikan ‘Black Brothers‘ group ternama di Papua era 1970-an. Mereka (pendemo) memilih putaran taksi karena merupakan satu-satunya tempat persinggahan sementara taksi angkutan umum jurusan Abepura-Waena perumnas tiga.

Tempat itu strategis karena taksi yang mengangkut mahasiswa dan dosen serta staf lainnya yang hendak ke kampus baru perumnas III Waena, harus turun disitu. Mesti demikian, tidak mengganggu kendaraan yang lalu lalang di Jalanan. Aktivitas transportasi lancar seperti biasa. Tak hanya menyanyi dan duduk, beberapa rekan-rekan dari mereka berdiri dan berorasi. Sebagian orator menekan kepunahan budaya Papua yang sudah diambang pintu. Orator lainnya meminta perhatian semua pihak atas wabah yang menimpa warga di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, pekan lalu.

Yason Ngelia, mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Uncen dalam orasi mengatakan, mahasiswa jangan tinggal diam. Saat ini banyak kasus di Papua yang perlu disikapi. Diantaranya, wabah yang mendera sejumlah warga yang diam di Tambrauw, seperti dikabarkan sejumlah media massa beberapa waktu lalu. “Banyak korban berjatuhan di Tambrauw. Jangan kita tiggal diam. Mari kita sikapi,” tegas Yason dalam orasinya, Senin (15/4). Selain Yason, Yeni orator lainnya dalam orasinya mengatakan selain korban yang berjatuhan di Tambrauw, mahasiswa harus sadar kalau budaya Papua sudah berada diambang kepunahan. Dia mengaku merasa bangga saat berorasi karena berpakaian adat Papua. “Saya tidak malu gunakan pakaian adat ini. Rakyat Papua harus sadar kalau pakaian adatnya serta budaya lainnya sudah diambang kepunahan,” tuturnya.

Hal serupa juga disampaikan pendemo lainnya. Mereka menegaskan, orang Papua harus sadar kalau budayanya terancam punah. “Orang Papua jangan diam. Budaya Papua terancam,” tegas orator lainnya. Menurut dia, warga Papua harus sadar karena budayanya jarang dimasukan dalam kurikulum sekolah untuk dipelajari. Sementara budaya luar yang sementara ini dipaksakan untuk dipelajari. Benyamin Gurik, salah satu pendemo kepada tabloidjubi.com mengatakan, pendemo akan melanjutkan demo ke Lingkaran Abepura. Demonstrasi kali ini dikoordinir oleh Yason Ngelia. Sekitar pukul 10.30 WIT, puluhan mahasiswa ini meninggalkan perumnas III lalu berjalan kaki menuju Lingkaran Abepura. (Jubi/Musa)


Penulis/ Editor  : Musa Abubar |Sumber: tabloidjubi.com






Koteka Nan Eksotic, Berikan Untung Fantastic

Jayapura - Bisnis  Sovenir  Khas Papua bisa dibilang tidak kenal Musiman. Dalam banyak kesempatan barang tersebut banyak diburu baik Masyarakat Lokal maupun Turis mancanegara . Disamping Itu tingkat merugi juga kecil karena usaha souvenir khas Papua tersebut  tahan lama sehingga tidak cepat lapuk serta usang dimakan usia

Karena factor itulah  banyak pelaku usaha yang mencari keberuntungan dari bisnis tersebut,salah satunya fadil,setiap hari kita bisa melayani pembeli 5 kadang 7 orang bahkan bisa lebih kalau lagi rame kata  Fadil ketika  bertemu Bintang Papua senin 13/1 ,ditempat usahanya kemarin,

Kebanyakan yang  dicari disini adalah koteka dimana barang tersebut dicari sebagai buah tangan kerabat di luar Papua atau pesanan. Salah satunya adalah Risma mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi di Yogya tersebut membeli Koteka karena  mendapat pesanan dari rekanya di Yogya . “ Iya ni mas malu juga perempuan beli ginian tapi gimana lagi ada rekan yang pesan jadi yah terpaksa saya beli dari pada ntar bikin kecewa mereka,” ujarnya .

Untuk Koteka ukuran Kecil dihargai rp 50 ribu sedang ukuran besar rp 75 ribu,kalau beli diatas 3 Pc ntar dikasih discount jelasnya, dalam sehari  koteka bisa terjual  5 hingga 7 buah, bahkan kadang lebih kalau lagi rame, ditambah dari penjualan barang lainya seperti Noken dll , rata rata dalam sehari pendapatan sekitar rp 2-3 juta , koteka merupakan pakaian adat pria dewasa Disebagian pedalaman pegunungan Papua, dan koteka juga  sebagai  pakaian yang berfungsi untuk menutupi kemaluan laki laki . Hingga kini, pakaian adat  tersebut masih digunakan oleh sebagian dari mereka untuk menutup kemaluannya. Sedangkan  Koteka terbuat dari kulit labu air, isi dan biji labu tua dikeluarkan lalu kulitnya dijemur.,
 secara harfiah koteka bermakna “pakaian”, kata ini berasal dari bahasa salah satu suku Papua di daerah Nabire yaitu suku Paniai. Namun di daerah wamena orang-orang setempat menyebutnya dengan sebutan “Horim , Untuk ukuran dan bentuk pun sangat beragam , perbedaan ini berhubungan dengan jenis acara Contohnya, koteka berukuran panjang digunakan untuk upacara adat, atau jika terjadi perang suku, dan biasanya sudah diberi ornament  atau ukiran terlebih dahulu. Untuk koteka ukuran pendek digunakan untuk kegiatan sehari-hari misal pada saat bekerja di hutan atau di ladang. Bentuk koteka pun bermacam-macam, ada yang bulat dan ada yang lonjong, ada juga yang berbentuk seperti huruf L.

Seiring waktu, koteka saat ini kurang populer untuk dipakai sehari-hari. jarang sekal iditemukan  orang yang memakai koteka,sekali waktu dalam acara tertentu jasa masih bisa kita lihat  apalagi,Saat ini ada larangan memakai koteka di kendaraan umum, sekolah, atau jika ingin ke gereja. Namun sekarang koteka lebih banyak ditemukan tergantung di toko-toko suvenir. Jika kita  ingin membelinya, tidak perlu menjadikannya sebagai pakaian untuk dipakai, namun bisa sebagai buah tangan atau sebagian untuk dikoleksi
Selain menyediakan Kotega dengan berbagai ukuran Baliem Shop Juga Menyediakan noken , Lukisan Khas papua dari Kulit Kayu,Topi Kulit Kayu,Topeng kayu dan Aksesories seperti gelang dan Kalung etnic Papua, Untuk Harga Terendah dari Gelang Dan Kalung Rp 5 rupiah sedangkan tertinggi dari Topeng Kayu ukuran Besar Dibandrol Hingga rp 1,5 juta untuk satu topeng.

Besar harapan Fadil  dan  beberapa penjual Sovenir  Etnic Papua lainya  agar  kegiatan yang berskala nasional di Jayapura lebih sering diadakan seperti  Raimuna kemarin hal tersebut bertujuan agar,kerajinan tangan khas Papua ini lebih dikenal diseantero Negeri. “ Dan tidak kalah pentingnya hal tersebut juga akan mampu mendongkrak omset penjualan lebih besar lagi,” pungkasnya . ( Ady/don/lo1)

 Sumber: BINPA


 

Ulang tahun Trans, Mahasiswa Papua akan tampil Balada Cendrawasih

Bandung - Puluhan Mahasiswa Papua yang bergabung dalam wadah Ikatan Mahasiswa Se-Tanah Papua (Imasepa) di Bandung Jawa Barat, akan menampilkan balada Cendrawasih pada sabtu (15/12), pukul 19.00 wib. saat acar ulang Tahun Trans Tv dan Trans 7 yang ke-11 .

Hal ini sampaikan oleh Ketua Ikatan Mahasiswa Se-tanah (Imasepa) paul mayor saat membuhungi Media ini. tepatnya depan kampus Universitas Langgang Buana (UNLA) jalan Karapitan Bandung Jawa Barat .

Paul mengatakan, kegiatan ini adalah bentuk implementasi dari kreatifitas dan kemajuan generasi muda papua yang berdomisi di Badung. Agar kami dapat menunjukan kepada publik bawah orang Papua memiliki kearifan tersendiri  dan kaya akan Budaya kepada Publik “Kata Ketua Imasepa.

“Namun, yang dapat mengkordinir kelompok Balada Cendrawasih adalah Sdri Jenny Kossay yang dirinya sebagai Kordinator Depatemen Seni dan Budaya Ikatan Mahasiswa Papua Bandung”

Tambahannya, acara ini nantinya akan dimeriahkan oleh beberapa artis dan musisi indonesia yang sering ditampail  di Tv. Maka kamipun akan tampil, karena kami diundang. (MS/Jeck iko)


Perempuan Perkasa dari Selatan Papua

Pangkar sagu, bukti perkasanya
perempuan Suku Kamoro
Timika - Suku Kamoro tinggal di wilayah selatan Papua, tepatnya di Timika. Uniknya, ada yang menjadi satu kebanggaan bagi perempuan di suku tersebut, yaitu pangkar sagu. Apakah itu?

Di muara-muara Timika tempat Suku Kamoro menetap, perempuan adalah salah satu tokoh sentral dalam keluarga. Bukan hanya karena perannya sebagai ibu dan istri tapi juga kelihaian mereka dalam aktivitas pangkur sagu.

Sagu yang menjadi bahan makanan utama bagi masyarakat Suku Kamoro dihasilkan dari proses yang lumayan panjang dan tidak mudah. Sedari pagi, para wanita Suku Kamoro dengan kampak di tangan dan noken di kepala akan mulai menjelajah ke dalam hutan mencari dan memilih pohon sagu terbaik.

Sagu yang telah ditebang akan mulai dikuliti hingga menyisakan bagian dalam batang sagu yang berwarna putih. Bagian ini nantinya akan di pangkur, atau ditumbuk dengan alat pangkur yang terbuat dari batang kayu berbentuk cangkul tumpul, hingga berbentuk serat-serat sagu.

Dalam aktivitas pangkur sagu, para perempuan Kamoro bekerja bergotong-royong. Beberapa orang wanita akan mulai membuat lintasan drainase dari pelepah-pelepah pohon sagu, sedangkan wanita yang lain akan mulai menguliti dan mulai memangkur batang sagu hingga berbentuk serat. Di lintasan tadi mereka nantinya akan mencuci, meremas dan menapis serat sagu. Dari air sisa perasan akan mengendap cikal bakal tepung sagu.

Saat hari berakhir, endapan yang berbentuk tepung ini akan mereka kumpulkan dan bungkus dengan daun sagu. Mereka akan membawanya pulang dan diolah menjadi santapan lezat bagi seluruh keluarga mereka.

Kesempatan melihat para perempuan Kamoro melakukan aktivitas pangkur dengan sangat bersemangat membuat saya terhibur. Pangkur sagu sungguh bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit untuk mengubah batang-batang sagu yang kokoh hingga menjadi tepung sagu yang halus.

"Ini perempuan punya hak! Laki-laki bisa bantu potong tapi cuma kita perempuan yang boleh pangkur," kata seorang perempuan tua Kamoro, Mama Cornelia yang sedang melakukan aktivitas pangkur sagu sekaligus menjelaskannya kepada saya.

Sejatinya pangkur sagu sendiri adalah pekerjaan yang mungkin tampak sebagai kewajiban, tapi bagi perempuan suku Kamoro inilah kebanggaan. Layaknya melahirkan, menyusui dan menjaga keluarga bagi mereka, pangkur sagu adalah identitas seorang perempuan. Dan untuk itu, saya tidak merasa segan untuk kagum dan menghormati para perempuan perkasa dari selatan Papua ini.

Penulis Oleh: Husni Mubarak Zainal

Sumber : Detik Trevel 


Perempuan kamoro memeras serat sagu yang airnya dialirkan kepenampungan yang terbuat dari pelepah sagu.


Kulitsagu di buka menggunakan kampak olehperempuan terkuat, setelahnya isi batang di pangkur secarabergiliran.

Pangkar sagu, bukti perkasanya perempuan Suku Kamoro



Noken Ditetapkan Sebagai Warisan Dunia UNESCO

Noken, tas khas Papua. (sumber: Unesco.org)
Noken merupakan kerajinan tangan pengrajin Papua yang terbuat dari daun pandan dan kulit kayu.

Tas rajutan khas Papua, Noken, akan ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dalam sidang Unesco di Paris, Prancis, pada 4 Desember 2012. Tahun ini, selain noken, juga diakui subak dan tenun.

Menurut Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti, usulan noken sebagai warisan dunia sudah dilakukan sejak empat tahun terakhir melalui beberapa kali revisi.

“Tahun ini, subak dari Bali sudah diakui sebagai warisan dunia,” katanya dalam acara Sosialisasi dan Kampanye Pembangunan Karakter Bangsa di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sabtu (29/11).

Ada lima domain untuk menetapkan budaya Indonesia menjadi warisan budaya tak benda. Selain tradisi, ekspresi lisan, bahasa, seni pertunjukan, adat istiadat, ritus, perayaan, juga pengetahuan, kebiasan atau perilaku mengenai alam semesta, dan terakhir kemahiran kerajinan seni tradisional.

Noken merupakan kerajinan tangan pengrajin Papua yang terbuat dari daun pandan dan kulit kayu.

Noken biasanya dibawa di kepala untuk membawa barang kebutuhan sehari-hari, seperti hasil-hasil per tanian (sayuran, umbi-umbian, dan barang dagangan) ke pasar.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan gerakan nasional Indonesia Berkarakter.

Menurut Diah Harianti, mengutip pernyataan Wakil Menteri Bidang Kebudayaan Kemendiknas Wiendu Nuryanti, melalui gerakan ini, pihaknya ingin menyeimbangkan antara kemampuan yang sifatnya nalar dengan kemampuan yang sifatnya budi, kreativitas, estetika, dan etika.

“Cerdas saja tidak cukup tapi harus cerdas dan berbudi,” katanya.

Menurut dia, dengan mengangkat gerakan Indonesia Berkarakter, pihaknya juga ingin memasukkan nilai-nilai ke dalam sistem pendidikan, supaya pendidikan itu tidak orientasi penugasan saja tetapi juga olah hati, olahraga, olah nurani sehingga karakter menjadi kuat.

“Yang membuat sukses itu adalah social skill. Jadi, bukan hanya IQ tapi EQ, bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana berinteraksi dengan orang lain dengan manusia lain,” paparnya.

Jangan Jual Harga Diri Koteka dan Moge

Tulisan ini kutulis ketika terjadi ketegangan antara orang Papua dengan orang Jawa di Karang Tumaritis Nabire Papua.

Asal mula koteka, tidak semua orang tahu, termasuk mereka yang mengenakannya. Menurut alm Paulus Wakey, mantan katakis Timeepa yang dulu pernah meneliti budaya orang Mee bersama antropolog Helkma, koteka berasal dari moyang orang yang mengenakannya itu sendiri. Tidak ada koteka impor. Konon katanya, dua orang bernama Emogiki Pane dan Emobeku Pane berbuat dosa disebuah tempat yang disebut Egaidimi, lalu mereka diusir dan dalam perjalanan mereka diberi petunjuk untuk mengenakan Koteka dan Moge. Ketika itu para malaikat menyanyikan lagu:

“Epeko benoo – epeko samouwii, puneko beno – puneko samouwi, gagako beno – gaga ko samouwi, didiko beno – didiko samouwi, peuko beno – peuko samouwi, sigimagako beno – sigimagako samougi, ediwaneko beno – ediwaneko samouwi,  waneko beno – waneko samouwi,  uwaikobeno – uwaiko  samouwi”.

TUHAN Allah memberi nama Emogiki dan Emobeku karena berdua berbuat dosa yang berakibat Emo (darah), lalu pikiran berdua terbuka (Egaidimi) yang selanjutnya menjadi nama bukit. Sejak diusir itulah, kedua orang ini sadar bahwa mereka dalam keadaan telanjang. Awalnya mereka mencoba menutupinya dengan dedaunan, namun Tuhan Allah memberi ilham untuk membuat koteka yang tumbuh subur di kebun mereka yang berpagar. Maka jadilah busana yang betul-betul menunjukan kejantanan seorang pria dan moge bagi seorang wanita.
Sebelum pikiran manusia pertama belum terbuka, tidak ada permusuhan, pertentangan, pertengkaran, percemoohan dan lain sebagainya. Dan memang mereka mau baku marah dengan siapa, karena memang tidak ada orang pada waktu itu. Namun iblis yang gila hormat, dari waktu ke waktu menggoda manusia dan Allah pun harus membuat pagar agar si iblis tidak lagi masuk ke tamanNya.

Iblis itulah pikiran yang kemudian dinyatakan lewat tindakan, tanpa timbang-timbang langsung  bertindak. Peristiwa seperti yang terjadi di Nabire medio April 2010 di Nabire, mesti menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bermula dari seorang pemuda Paniai mencuri buah Salak milik mas Narto di Girimulyo Nabire dan warga Jawa yang mendapatinya langsung menghajar si pencuri tadi. Namun peristiwa tersebut tidak diterima oleh warga lain yang berlatar budaya koteka. Isu beredar cepat dan sejumlah rumah milik orang Jawa dibakar masa, sejumlah warga Jawa dipukuli dan yang lain nyaris diperkosa.

Ternyata tindakan itu membela seorang pencuri. Warga Papua pun baru menyesal di Kantor Polisi karena terlanjur disulut isu yang tidak benar.

Peristiwa yang menghebohan Papua itu mesti menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa mencuri itu tidak baik dan lebih buruk lagi bila kita membela orang yang sudah berbuat kesalahan.

Bila kita telusuri moyang kita dulu, mereka sudah mengatakan ikrar kesetiaan mereka kepada TUHAN Allah dengan mengenakan koteka dan moge untuk melawan si iblis itu. Koteka dan moge adalah tanda bukti kesetiaan manusia kepada TUHAN, walaupun selanjutnya manusia harus menanggung beban penderitaan sebagai akibat dari pikiran independent yang telah dipilih itu. TUHAN Allah mengatakan, okei, kalau anda sudah berjanji untuk menuruti aku, berbuatlah setiap hari dengan ajaran-ajaranKu ini. Selanjutnya TUHAN Allah turunkan Kabo Mana yang didalamnya berbunyi: tide dimi (kesederhanaan, merendah), enaimo dimi (kebersamaan), ide dimi (bersemangat), ipa dimi (mengasihi sesama), ahoo dimi (rajin, telaten),  dan wadoo dimi (membangun).

Sekarang, kalau kita mau jujur. Setiap keturunan yang berasal dari moyangnya yang pernah mengenakan koteka dan moge, mestinya harus malu dan malu terhadap semua tindakan yang kita berbuat sekarang.  Sering kita main hakim sendiri, mencari menang sendiri, egois, mementingkan kelompoknya, menceritakan orang, ini semua sikap yang keliru dan bimbang. Mesti kita lihat persoalan, apa penyebabnya lalu kita mengambil tindakan. Ingat. Jangan main hakim sendiri, apalagi disini Negara hukum.

Dengan adanya sikap demikian, pihak ketiga mudah saja memprovokasi ruang-ruang yang dihuni si iblis untuk membasmi keturunan TUHAN dengan berbagai daya upaya.

Orang Jawa, orang Madura, orang Sulawesi, orang Manado, orang Sumatra adalah saudara-saudara kita yang sudah hidup dari dulu. Kebun mereka, rumah mereka dan bahkan kuburan keluarga mereka, semua disini. Mereka bukan tamu, mereka juga bukan baru datang untuk menghancurkan tatanan kehidupan yang sudah terbentuk sejak dulu. Maka oleh karena itu, hargailah mereka, mintalah dengan terus terang, pasti ada jawaban. Jangan kita bertindak semau gue. Bisa berakibat buruk.

Sekali lagi, wahai sahabat, hargailah Koteka Peiyo itu, jangan lihat koteka dari pandangan miris, lihatlah koteka sebagai bukti kesetiaan manusia terhadap ajaran Kabo Mana (ajaran dasar hidup) yang sudah ada sejak turun-turun. Jangan kita baku musuh lagi. Papua sejak lama hidup rukun dan aman. Tidak pernah rakyat kecil berpolitik, apalagi yang makar, tetapi politik mekar Papua, pasti siapa saja pasti berkomentar.

Kepada bapak-bapak polisi, agar perjudian dan miras dihentikan. Sebab dengan judi dan miras ini telah memicu banyak hal. Jangan biarkan Toto Gelap (Togel) bebas di wilayah ini. Pasar karang adalah pusatnya judi. Disitu setiap hari ada pertengkaran, pertikaian dan perkelahian, hanya karena mabuk dan judi.

Beberapa kali saya pantau, mama-mama Jawa yang jual nasi bungkus, mama Ekari dan Dani yang jual sayuran merasa terganggu, om-om Bugis yang jual ikan dan barang kios, setiap hari terancam oleh saudara-saudara kita yang minum mabuk tanpa kenal batas. 

Kepada para pemegang HP, agar berhati-hati menyebarkan SMS yang bersifat mengadu domba, politis dan sara. Sebab dengan SMS-SMS demikian, masyarakat merasa takut dan bila terjadi persoalan, gampang saja emosi mereka terbakar. Persoalan kecil bisa menjadi besar, oleh karena itu marilah kita semua bertanggung jawab menjaga Kamtibmas yang aman dan damai. ***Tulisan ini kutulis ketika terjadi ketegangan antara orang Papua dengan orang Jawa di Karang Tumaritis Nabire Papua.

Asal mula koteka, tidak semua orang tahu, termasuk mereka yang mengenakannya. Menurut alm Paulus Wakey, mantan katakis Timeepa yang dulu pernah meneliti budaya orang Mee bersama antropolog Helkma, koteka berasal dari moyang orang yang mengenakannya itu sendiri. Tidak ada koteka impor. Konon katanya, dua orang bernama Emogiki Pane dan Emobeku Pane berbuat dosa disebuah tempat yang disebut Egaidimi, lalu mereka diusir dan dalam perjalanan mereka diberi petunjuk untuk mengenakan Koteka dan Moge. Ketika itu para malaikat menyanyikan lagu:

“Epeko benoo – epeko samouwii, puneko beno – puneko samouwi, gagako beno – gaga ko samouwi, didiko beno – didiko samouwi, peuko beno – peuko samouwi, sigimagako beno – sigimagako samougi, ediwaneko beno – ediwaneko samouwi,  waneko beno – waneko samouwi,  uwaikobeno – uwaiko  samouwi”.

TUHAN Allah memberi nama Emogiki dan Emobeku karena berdua berbuat dosa yang berakibat Emo (darah), lalu pikiran berdua terbuka (Egaidimi) yang selanjutnya menjadi nama bukit. Sejak diusir itulah, kedua orang ini sadar bahwa mereka dalam keadaan telanjang. Awalnya mereka mencoba menutupinya dengan dedaunan, namun Tuhan Allah memberi ilham untuk membuat koteka yang tumbuh subur di kebun mereka yang berpagar. Maka jadilah busana yang betul-betul menunjukan kejantanan seorang pria dan moge bagi seorang wanita.

Sebelum pikiran manusia pertama belum terbuka, tidak ada permusuhan, pertentangan, pertengkaran, percemoohan dan lain sebagainya. Dan memang mereka mau baku marah dengan siapa, karena memang tidak ada orang pada waktu itu. Namun iblis yang gila hormat, dari waktu ke waktu menggoda manusia dan Allah pun harus membuat pagar agar si iblis tidak lagi masuk ke tamanNya.

Iblis itulah pikiran yang kemudian dinyatakan lewat tindakan, tanpa timbang-timbang langsung  bertindak. Peristiwa seperti yang terjadi di Nabire medio April 2010 di Nabire, mesti menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bermula dari seorang pemuda Paniai mencuri buah Salak milik mas Narto di Girimulyo Nabire dan warga Jawa yang mendapatinya langsung menghajar si pencuri tadi. Namun peristiwa tersebut tidak diterima oleh warga lain yang berlatar budaya koteka. Isu beredar cepat dan sejumlah rumah milik orang Jawa dibakar masa, sejumlah warga Jawa dipukuli dan yang lain nyaris diperkosa.

Ternyata tindakan itu membela seorang pencuri. Warga Papua pun baru menyesal di Kantor Polisi karena terlanjur disulut isu yang tidak benar.

Peristiwa yang menghebohan Papua itu mesti menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa mencuri itu tidak baik dan lebih buruk lagi bila kita membela orang yang sudah berbuat kesalahan.

Bila kita telusuri moyang kita dulu, mereka sudah mengatakan ikrar kesetiaan mereka kepada TUHAN Allah dengan mengenakan koteka dan moge untuk melawan si iblis itu. Koteka dan moge adalah tanda bukti kesetiaan manusia kepada TUHAN, walaupun selanjutnya manusia harus menanggung beban penderitaan sebagai akibat dari pikiran independent yang telah dipilih itu. TUHAN Allah mengatakan, okei, kalau anda sudah berjanji untuk menuruti aku, berbuatlah setiap hari dengan ajaran-ajaranKu ini. Selanjutnya TUHAN Allah turunkan Kabo Mana yang didalamnya berbunyi: tide dimi (kesederhanaan, merendah), enaimo dimi (kebersamaan), ide dimi (bersemangat), ipa dimi (mengasihi sesama), ahoo dimi (rajin, telaten),  dan wadoo dimi (membangun).

Sekarang, kalau kita mau jujur. Setiap keturunan yang berasal dari moyangnya yang pernah mengenakan koteka dan moge, mestinya harus malu dan malu terhadap semua tindakan yang kita berbuat sekarang.  Sering kita main hakim sendiri, mencari menang sendiri, egois, mementingkan kelompoknya, menceritakan orang, ini semua sikap yang keliru dan bimbang. Mesti kita lihat persoalan, apa penyebabnya lalu kita mengambil tindakan. Ingat. Jangan main hakim sendiri, apalagi disini Negara hukum.

Dengan adanya sikap demikian, pihak ketiga mudah saja memprovokasi ruang-ruang yang dihuni si iblis untuk membasmi keturunan TUHAN dengan berbagai daya upaya.

Orang Jawa, orang Madura, orang Sulawesi, orang Manado, orang Sumatra adalah saudara-saudara kita yang sudah hidup dari dulu. Kebun mereka, rumah mereka dan bahkan kuburan keluarga mereka, semua disini. Mereka bukan tamu, mereka juga bukan baru datang untuk menghancurkan tatanan kehidupan yang sudah terbentuk sejak dulu. Maka oleh karena itu, hargailah mereka, mintalah dengan terus terang, pasti ada jawaban. Jangan kita bertindak semau gue. Bisa berakibat buruk.

Sekali lagi, wahai sahabat, hargailah Koteka Peiyo itu, jangan lihat koteka dari pandangan miris, lihatlah koteka sebagai bukti kesetiaan manusia terhadap ajaran Kabo Mana (ajaran dasar hidup) yang sudah ada sejak turun-turun. Jangan kita baku musuh lagi. Papua sejak lama hidup rukun dan aman. Tidak pernah rakyat kecil berpolitik, apalagi yang makar, tetapi politik mekar Papua, pasti siapa saja pasti berkomentar.

Kepada bapak-bapak polisi, agar perjudian dan miras dihentikan. Sebab dengan judi dan miras ini telah memicu banyak hal. Jangan biarkan Toto Gelap (Togel) bebas di wilayah ini. Pasar karang adalah pusatnya judi. Disitu setiap hari ada pertengkaran, pertikaian dan perkelahian, hanya karena mabuk dan judi.

Beberapa kali saya pantau, mama-mama Jawa yang jual nasi bungkus, mama Ekari dan Dani yang jual sayuran merasa terganggu, om-om Bugis yang jual ikan dan barang kios, setiap hari terancam oleh saudara-saudara kita yang minum mabuk tanpa kenal batas. 

Kepada para pemegang HP, agar berhati-hati menyebarkan SMS yang bersifat mengadu domba, politis dan sara. Sebab dengan SMS-SMS demikian, masyarakat merasa takut dan bila terjadi persoalan, gampang saja emosi mereka terbakar. Persoalan kecil bisa menjadi besar, oleh karena itu marilah kita semua bertanggung jawab menjaga Kamtibmas yang aman dan damai. ***Tulisan ini kutulis ketika terjadi ketegangan antara orang Papua dengan orang Jawa di Karang Tumaritis Nabire Papua.

Asal mula koteka, tidak semua orang tahu, termasuk mereka yang mengenakannya. Menurut alm Paulus Wakey, mantan katakis Timeepa yang dulu pernah meneliti budaya orang Mee bersama antropolog Helkma, koteka berasal dari moyang orang yang mengenakannya itu sendiri. Tidak ada koteka impor. Konon katanya, dua orang bernama Emogiki Pane dan Emobeku Pane berbuat dosa disebuah tempat yang disebut Egaidimi, lalu mereka diusir dan dalam perjalanan mereka diberi petunjuk untuk mengenakan Koteka dan Moge. Ketika itu para malaikat menyanyikan lagu:

“Epeko benoo – epeko samouwii, puneko beno – puneko samouwi, gagako beno – gaga ko samouwi, didiko beno – didiko samouwi, peuko beno – peuko samouwi, sigimagako beno – sigimagako samougi, ediwaneko beno – ediwaneko samouwi,  waneko beno – waneko samouwi,  uwaikobeno – uwaiko  samouwi”.

TUHAN Allah memberi nama Emogiki dan Emobeku karena berdua berbuat dosa yang berakibat Emo (darah), lalu pikiran berdua terbuka (Egaidimi) yang selanjutnya menjadi nama bukit. Sejak diusir itulah, kedua orang ini sadar bahwa mereka dalam keadaan telanjang. Awalnya mereka mencoba menutupinya dengan dedaunan, namun Tuhan Allah memberi ilham untuk membuat koteka yang tumbuh subur di kebun mereka yang berpagar. Maka jadilah busana yang betul-betul menunjukan kejantanan seorang pria dan moge bagi seorang wanita.

Sebelum pikiran manusia pertama belum terbuka, tidak ada permusuhan, pertentangan, pertengkaran, percemoohan dan lain sebagainya. Dan memang mereka mau baku marah dengan siapa, karena memang tidak ada orang pada waktu itu. Namun iblis yang gila hormat, dari waktu ke waktu menggoda manusia dan Allah pun harus membuat pagar agar si iblis tidak lagi masuk ke tamanNya.

Iblis itulah pikiran yang kemudian dinyatakan lewat tindakan, tanpa timbang-timbang langsung  bertindak. Peristiwa seperti yang terjadi di Nabire medio April 2010 di Nabire, mesti menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bermula dari seorang pemuda Paniai mencuri buah Salak milik mas Narto di Girimulyo Nabire dan warga Jawa yang mendapatinya langsung menghajar si pencuri tadi. Namun peristiwa tersebut tidak diterima oleh warga lain yang berlatar budaya koteka. Isu beredar cepat dan sejumlah rumah milik orang Jawa dibakar masa, sejumlah warga Jawa dipukuli dan yang lain nyaris diperkosa.

Ternyata tindakan itu membela seorang pencuri. Warga Papua pun baru menyesal di Kantor Polisi karena terlanjur disulut isu yang tidak benar.

Peristiwa yang menghebohan Papua itu mesti menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa mencuri itu tidak baik dan lebih buruk lagi bila kita membela orang yang sudah berbuat kesalahan.

Bila kita telusuri moyang kita dulu, mereka sudah mengatakan ikrar kesetiaan mereka kepada TUHAN Allah dengan mengenakan koteka dan moge untuk melawan si iblis itu. Koteka dan moge adalah tanda bukti kesetiaan manusia kepada TUHAN, walaupun selanjutnya manusia harus menanggung beban penderitaan sebagai akibat dari pikiran independent yang telah dipilih itu. TUHAN Allah mengatakan, okei, kalau anda sudah berjanji untuk menuruti aku, berbuatlah setiap hari dengan ajaran-ajaranKu ini. Selanjutnya TUHAN Allah turunkan Kabo Mana yang didalamnya berbunyi: tide dimi (kesederhanaan, merendah), enaimo dimi (kebersamaan), ide dimi (bersemangat), ipa dimi (mengasihi sesama), ahoo dimi (rajin, telaten),  dan wadoo dimi (membangun).

Sekarang, kalau kita mau jujur. Setiap keturunan yang berasal dari moyangnya yang pernah mengenakan koteka dan moge, mestinya harus malu dan malu terhadap semua tindakan yang kita berbuat sekarang.  Sering kita main hakim sendiri, mencari menang sendiri, egois, mementingkan kelompoknya, menceritakan orang, ini semua sikap yang keliru dan bimbang. Mesti kita lihat persoalan, apa penyebabnya lalu kita mengambil tindakan. Ingat. Jangan main hakim sendiri, apalagi disini Negara hukum.

Dengan adanya sikap demikian, pihak ketiga mudah saja memprovokasi ruang-ruang yang dihuni si iblis untuk membasmi keturunan TUHAN dengan berbagai daya upaya.

Orang Jawa, orang Madura, orang Sulawesi, orang Manado, orang Sumatra adalah saudara-saudara kita yang sudah hidup dari dulu. Kebun mereka, rumah mereka dan bahkan kuburan keluarga mereka, semua disini. Mereka bukan tamu, mereka juga bukan baru datang untuk menghancurkan tatanan kehidupan yang sudah terbentuk sejak dulu. Maka oleh karena itu, hargailah mereka, mintalah dengan terus terang, pasti ada jawaban. Jangan kita bertindak semau gue. Bisa berakibat buruk.

Sekali lagi, wahai sahabat, hargailah Koteka Peiyo itu, jangan lihat koteka dari pandangan miris, lihatlah koteka sebagai bukti kesetiaan manusia terhadap ajaran Kabo Mana (ajaran dasar hidup) yang sudah ada sejak turun-turun. Jangan kita baku musuh lagi. Papua sejak lama hidup rukun dan aman. Tidak pernah rakyat kecil berpolitik, apalagi yang makar, tetapi politik mekar Papua, pasti siapa saja pasti berkomentar.

Kepada bapak-bapak polisi, agar perjudian dan miras dihentikan. Sebab dengan judi dan miras ini telah memicu banyak hal. Jangan biarkan Toto Gelap (Togel) bebas di wilayah ini. Pasar karang adalah pusatnya judi. Disitu setiap hari ada pertengkaran, pertikaian dan perkelahian, hanya karena mabuk dan judi.

Beberapa kali saya pantau, mama-mama Jawa yang jual nasi bungkus, mama Ekari dan Dani yang jual sayuran merasa terganggu, om-om Bugis yang jual ikan dan barang kios, setiap hari terancam oleh saudara-saudara kita yang minum mabuk tanpa kenal batas. 

Kepada para pemegang HP, agar berhati-hati menyebarkan SMS yang bersifat mengadu domba, politis dan sara. Sebab dengan SMS-SMS demikian, masyarakat merasa takut dan bila terjadi persoalan, gampang saja emosi mereka terbakar. Persoalan kecil bisa menjadi besar, oleh karena itu marilah kita semua bertanggung jawab menjaga Kamtibmas yang aman dan damai. *** Engelbertus P Degey

 Sumber: Swarapapua.com


Masuknya Ajaran Agama, Budaya dan Adat Asli Papua di Musnakan

Budaya dan adat asli Papua banyak yang di musnakan karna masuknya ajaran agama di Tanah Papua, sebab budaya yg di musnakan itu di anggap penyembahan Beralah, seperti Kegotai dan masih banyak lagi yang lainnya, Kalau saja budaya dan adat ini di pertahankan dan di robah pola pemakaiaannya akan menjadi sanggat berguna dan menjadi aset budaya yang beharga bagi masing-masing daerah terutama bagi daerah tercinta Papua.

 Mando Mote yang juga Mahasiswa Peraja IPDN mengatakan "kalau adat papua dilihat dari sisi pegobatan/kesehatan mengunakan berbagai obat adat di papua itu sangat banyak tetapi itu juga di musnakan karna di anggap orang papua melakukan penyembahan beralah, tetapi apakah bedanya  budaya penyembuhan asli orang papua dan obat yang kita komsumsi sekarang ini , Misalnya Orang sakit Malaria setelah ia mengkomsumsi Obat KINA lalu ia akan berkata bahwa, setelah komsumsi obat KINA lalu ia sembuh, kalau dilihat dari sisi ajaran agama bukan obat itu yang menyembukan tetapi TUHANlah yang telah menyembukan dirinya melalua perantara Obat tersebut (kina), bukankah itu juga penyembahaan beralah yang dilakukan orang itu terhadap obat KINA ini"

Lanjutnya "Kalo dilihat dari perkembagan kesehatan orang papua belakagan ini banyak orang asli papua yang susah di sembuhkan dari berbagai penyakit sebab perantara yang Tuhan berikan kepada Orang papua semua telah di musnakan karna pegajaran dan budaya orang barat melalua agama untuk mematikan karakter adat dan budaya orang asli papua" pengkasnya.(Rsdfm/Nick)

Adat Seni dan Budaya Papua

Seni dan budaya papua_ Papua dulu bernama Irian Jaya pulau paling timur wilayah negara Indonesia. Sebagai pulau yang juga terkenal akan kekayaan hasil buminya, masyarakat pulau Papua pun juga memiliki kekayaan dalam ragam seni dan budaya.
* Apa saja ragam seni dan budaya yang ada di Papua ?
Mari kita bersama-sama menengok ragam adat seni dan budaya yang ada di pulau paling timur Indonesia ini !
Sebagai salah satu seni kebudayaan yang ada di Papua maka tidak ada salahnya kita bisa menyebutnya seni kebudayaan kita juga, walaupun tidak semua para Sahabat Awan yang membaca artikel ini berasal dari pulau Papua. Entah itu dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, atau pulau-pulau lain yang secara pribadi Awan tidak bisa menyebutnya satu persatu.

Dengan alasan apa kita bisa menyebut seni budaya Papua juga merupakan ragam seni dan budaya kita juga ? Jawabannya hanya ada satu, bahwa Papua adalah merupakan salah satu wilayah yang berada dibawah naungan NKRI, dengan falsafah Bhineka Tunggal Ika.

Jadi tidak salah jika kita menyebut ragam seni dan budaya Papua sama saja dengan kita menyebut kekayaan ragam seni dan budaya Indonesia, yang perlu kita jaga dan lestarikan keberadaanya.
yang akan kita ambil sebagai contoh dari kekayaan ragam seni dan budaya Papua adalah :
=> Pertama_ Alat musik tradisional Tifa.

Tifa merupakan salah satu alat musik pukul yang bentuknya hampir mirip dengan gendang. Alat musik Tifa terbuat dari kayu yang mana pada bagian tengah kayu tersebut dibuat lubang besar yang dibersihkan/dikosngkan. Lalu kemudian ujung salah satu kayu tersebut ditutup dengan mengunakan kulit rusa yang telah dikeringkan terlebih dahulu, dimaksudkan agar alat musik Tifa ini bisa menghasilkan suara yang indah dan bagus.

Alat musik Tifa sering dimainkan sebagai instrumen musik tradisional atau untuk mengiring berbagai tarian tradisional seperti: tarian perang, tarian tradisional Asmat, dan tarian Gatsi.

Selain dari Papua alat musik ini juga berasal dari maluku, jadi antara Papua dan Maluku mempunyai alat musik yang sama. Tapi tidak apa yang penting semuanya adalah kekayaan seni yang ada di nusantara Indonesia ini.

=> Kedua_ Tarian tradisional Papua.

Sebagai daerah yang kaya akan ragam seni budaya, Papua memiliki beberapa tarian tradisonal yang menjadi ciri khas masyarakat Papua biasa menyebutnya dengan sebutan Yosim Pancar ( Y0SPAN), dalam tari ini terdapap beberapa bentuk gerak tarian diantaranya tari Pacul Tiga, tari Seka, tari Sajojo, tari Balada serta tari Cendrawasih. Tarian tradisional Papua ini sering di mainkan dalam berbagai kesempatan seperti untuk penyambutan tamu terhormat, penyambutan para turis asing yang datang ke Papua serta dimainkan adalah dalam upacara adat.

=> Ketiga_ Pakaian Adat Tradisional Papua.



Pakaian adat Papua untuk pria dan wanita hampir sama bentuknya. Pakaian adat tersebuta memakai hiasan-hiasan seperti hiasan kepala berupa burung cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki.

=> Keempat_ Rumah Adat Papua.

Nama rumah asli Papua adalah Honai yaitu rumah khas asli Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Bahan untuk membuat rumah Honai dari kayu dengan dan atapnya berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Rumah tradisional Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak berjendela. Umumnya rumah Honai terdiri dari 2 lantai yang terdiri dari lantai pertama untuk tempat tidur sedangkan lantai kedua digunakan sebagai tempat untuk bersantai, makan, serta untuk mengerjakan kerajinan tangan.


Sumber:  http://agvnk-0n3.blogspot.com/2012/06/adat-seni-budaya-papua.html


Wam Aik, Simbol Kemenangan Lelaki Papua

Koteka (foto Liputan6.com)
Wamena: Pada tradisi suku asli di Papua, lelaki dewasa dalam kesehariannya mengenakan koteka yang terbuat dari kulit labu air untuk menutup kemaluan laki-laki. Ukuran koteka biasanya disesuaikan dengan aktivitas penggunanya, hendak bekerja atau upacara.

Selain koteka, kaum laki-laki juga mengenakan wam aik, yaitu aksesori yang dipakai di hidung. Wam aik terbuat dari taring babi.

Berdasarkan tradisi lokal, menurut Kepala Distrik Kurulu, Wamena, Juda Defarius, setelah berperang dengan suku lain dan mengalahkan musuh, maka suku pemenang akan berkumpul untuk menari dan menyanyi bersama untuk merayakan kemenangan. Saat itulah kaum lelaki melubangi hidungnya untuk memakai wam aik.

Ada pula noken. Noken adalah tas tradisional masyarakat Papua yang terbuat dari serat kulit kayu. Biasanya, kaum perempuan memakai noken di kepala untuk membawa barang kebutuhan sehari-hari dan juga membawa hasil pertanian. Karena keunikannya yang dibawa dengan kepala ini, noken didaftarkan ke UNESCO (Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu, dan Budaya) sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia.(ANS)

Sumber: Liputan6.com
Julianus Kriswantoro

SISTEM PERKAWINAN ADAT SUKU MEE

SISTEM PERKAWINAN ADAT SUKU MEE
Oleh: Yahya S.W. Iyai
 
1.   Pengertian perkawinan adat suku MEE
Wakawegai adalah istilah perkwinan dalam adat suku MEE. Wakawegai sendiri berasal dari dua suku kata yaitu waka yang berarti hubungan antara pria dan wanita, atau bersatu, dan wegai yang berarti memiliki. Maka dapat disimpulkan pengertian perkawinan sebagai berikut:
     a.  Pria dan wanita memiliki hubungan
     b. Pria dan wanita bersatu, atau
    c. Seorang pria dan seorang (beberapa) wanita memiliki hubungan khusus dan bersatu atau bersama. 
Jadi wakawegai adalah hubungan khusus antara pria dan wanita yang dipersatukan dengan ikatan mege makii (pembayaran maskawin). Perkawinan dalam adat suku Mee dikatakan resmi dan sah apabila maskawin dibayar lunas. Dan seorang wanita diperbolehkan oleh orang tuanya untuk mengikuti sang pria.[1] Suku Mee mengenal dua system perkawinan yaitu monogamy dan poligami. Monogami umumnya diberlakukan bagi orang  yang miskin (daba Mee), dan sederhana hidupnya. Sedangkan poligami diberlakukan bagi orang yang kaya (tonawi).

2        [2]  Tujuan Perkawinan
Seperti yang ditulis oleh oleh Welemin Tuturop dalam makalanya[3] bahwa tujuan dari perkawinan adalah sebagai berikut:
1.      Memperoleh keturunan yang banyak (pada masa lampau dengan adanya keturunan yang banyak bisa dipergunakan untuk menghadapi musuh).
2.      Melestarikan warisan adat, dan melanjutkan marga
3.      Mendapatkan anak laki-laki.
 
Demikian juga perkawinan dalam adat suku Mee tidak jauh brbeda dengan tujuan prkawinan tersebut di atas. Tujuan prkawinan adat suku Mee adalah sebagai berikut:
1.      Mendapat  anak. Terutama anak laki-laki sebagai pewaris keturunan.
2.      Menambah jumlah tuma (marga) dan menaikan gengsi di tengah masyarakat.
3.      Dengan mendapatkan anak yang banyak diharapkan ada perubahan ekonomi ditengah masyarakat, dan mendatangkan kehidupan/mempertahankan status terutama dalam perang, berkebun, politik, memelihara babi dan lain-lain.   
4.      Anak menjadi tanda persatuan antara istri dan suami (terutama anak laki-laki). Kebanyakan  dalam keluagra Suku Mee kawin banyak Istri atau menceraikan istri dikarenakanan istri mandul atau hanya mendapatkan anak perempuan.[4] 
 
3.      Proses Perkawinan
Sebelum mengenal lebih mendalam tentang proses perkawinan dalam adat suku Mee, diperkenalkan lebih dahulu bentuk perkawinan dalam adat suku Mee. Bentuk perkawinan adat suku Mee ada dua, yaitu Monogami dan Poligami. Kedua bentuk perkawinan ini turut mempengaruhi proses perkawinan adat suku Mee.
a.      Bentuk-bentuk perkawinan dalam adat suku Mee
Dalam perkawinan adat suku Mee dikenal dua bentuk perkawinan yaitu monogamy dan poligami. Kebanyakan masyarakat Mee yang monogamy adalah mereka yang miskin, sederhana atau tidak mempunyai banyak harta. Tetapi mereka yang mempunai isteri lebih dari satu adalah orang kaya (tonawi) atau mempunyai harta banyak. Perkawinan semacam ini tidak berarti untuk melampiaskan nafsu, tetapi untuk mendapat anak lebih banyak sebagai pewaris keturunan, dan agar anak-anak membantu orang tua mendapat kekuatan dan mempertahankan diri dari lawan /menambah kekayaan orang tua. 
b.      Pemilihan jodoh[5]
Pemilihan jodoh biasanya terjadi dalam pesta-pesta adat seperti pesta pertukaran barang (pesta tapaa), dan pesta babi (pesta yuwoo), yang melibatkan banyak orang dari berbagai kampung. Kaum pemuda dan pemudi juga hadir dalam peseta itu. Pada pesta ini kaum pemuda dan pemudi mengungkapkan perasaanya melalui syair-syair dan memilih pasangan hidupnya. Pemilihan jodoh ini tidak hanya melaui pesta-pesta tetapi juga bisa ditentukan oleh orang tua atau oleh laki-laki dan perempuan itu sendiri saat berjupa. Namun dalam pemilihan itu ada syarat-syarat yang harus diperhatikan.
c.       Syarat-syarat perkawinan
Dalam perkawinan adat suku Mee, ada beberapa hal yang menjadi persyaratan perkawinan adat yaitu sebagai berikut: [6]
v Adanya Persetujuan
Dalam perkawinan adat suku Mee biasanya harus ada persetujuan kawin antara mempelai pria dan wanita. Orang tua juga memaikan peranan penting dalam hal persetujuan. Jika orang tua tidak merestui maka perkawinan dibatalkan. Ini berkaitan dengan persoalan tuma sama (marga sama) dan peristiwa sejarah nenek moyang yang kelam pada masa silam, serta berasal dari satu totem yang sama. Jika dilihat kembali dan kedapatan hal seperti ini, maka perkawinan dibatalkan. Jika tidak maka orang tua akan merestui perkawinan anak-anak mereka.  
v Kedewasaan Jasmani/fisik
Persayaratan lain lagi adalah kedewasaan secara fisik. Kaum pria dikatakan dewasa, jika berkumis, berjenggot, dan mengalami perubahan tubuh lainya. Disamping itu, dilihat juga dari kemampuan bekerja kebun, berburu, membuat rumah, membuat pagar, membuat perahu, memelihara babi dan kemampuan mengumpulkan mege. Sedangkan wanita dilihat dari membesarnya buah dada. Dan kemampuan lain yaitu; memilih bibit, menanam bibit, membersihkan rumput di kebun, dan menyiapkan makanan.
v Pemberian harta maskawin
Dalam budaya Mee hal yang paling menentukan sah tidaknya sebuah perkawinan adalah maskawin (mege makii). Pemberian maskawin ini diberikan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan seturut permintaan dari pihak perempuan. Tetapi permintaan maskawin dari pihak wanita yang terlalu besar tidak selalu dipenuhi oleh pihak laki-laki dan terjadi tawar-menawar hingga minimal mencapai kesanggupan pihak laki-laki. Setelah pemberian maskawin kemudian dilanjutkan dengan upacara peneguhan perkawinan adat.
d.      Upacara Perkawianan dalam Tradisi Mee[7]
1.      Upacara pembukaan
Dalam upacara pembukaan, pemilihan tempat yang dianggap sacral (entah itu rumah atau alam terbuka) sangat penting dilakukan oleh kedua mempelai. Kedua mempelai didampingi oleh orang tua masing-masing. Orang tua pria berdiri disamping kanan dan orang tua wanita berdiri disamping kiri. Setelah itu, upacara dibuka dengan memainkan kaido (musik adat) selama 5 menit. Tujuannya adalah menghadirkan Ugatame (Tuhan) yang diyakini sebagai sang pencipta dan penyelenggara hidup dantang untuk melindungi dan memberkati kedua pasangan baru.  
2.      Upacara peneguhan
Upacara peneguhan ini dipimpin oleh kepala suku. Kepala suku memberikan beberapa nasihat sebagai pedoman hidup kepada kedua mempelai. Upacara-upacara peneguhan lainnya adalah berupa pemberian simbol-simbol. Tujuan dari pemberian ini adalah kedua pasangan dapat hidup menurut nilai-nilai yang berlaku dalam adat. Symbol pertama: mege bugaiya (pasangan mege: jantang dan betina) yang diikat sebagai lambang ikatan kesetiaan antara kedua mempelai. Juga sebagai lambing bisnis. Simol kedua: pemberian bibit tanaman seperti ubi jalar, sayur dan tebu sebagai dasar berkebun atau lambing kesuburan dan kesejahteraan keluarga. Selain itu diberikan juga bibit ternak sebagai dasar berbisnis ternak. Simbol ketiga: pemberian sekop dari kayu (patau) dan kapak batu (maumi) dan anak panah (ukaa mapega) sebagai lambang bekerja, melindungi dan menjaga keamanan keluarga dari ancaman perang dan sebagai lambang berburuh.    
3.      Upacara penutup
Upacara perkawinan adat ini diakhiri dengan membunyikan/memainkan musik adat (kaido) kurang lebih 5 menit. Dan dilanjutkan dengan cerita dongen oleh para tua-tua adat dari masyarakat setempat. Dan keesokan harinya orang tua wanita pulang ke rumahnya.
4.      Kasimpulan
Dalam setiap budaya tentu saja ada pengertian perkawinan, tujuan perkawinan dan proses perkawinan yang dijumpai disana. Dalam perkawinan adat suku Mee ada banyak istilah yang dipakai, namun istilah wakawegai dipakai disini dengan alasan diterjemahkan pengertian ini secra harafia untuk menjelaskan pengertian perkawinan.
Di samping itu tujuan perkawinan dalam adat suku Mee adalah untuk mendapat anak, terutama anak laki-laki. Peranan anak laki-laki dalam kehidupan keluarga suku Mee amat besar. Maka jika tidak mendapat anak laki-laki, para suami yang mampu biasanya kawin istri baru.
Tidak hanya itu, dalam perkawinan adat suku Mee ada syarat yang menentukan sah tidaknya pekawinan dan ada upacara perkawinannya. Syarat itu adalah sebagai berikut:               
 a. adanya persetujuan baik dari kedua orang tua pria maupun perempuan dan dari kedua mempelai sendiri. 
b. adanya tanda kedewasaan secara fisik dan kemampuan bekerja dan kemampuan lainnya, 
c. pembayaran maskawin sebagai penentu sah perkawinan. Sedangkan upacara perkawinannya adalah sebagai berikut:    
a. upacara pembukaan; pemelihan tempat sacral, pendampingan oleh orang tua, memainkan music adat untuk menghadirkan Ugatame.               
 b. upacara pengukuhan; kepala suku, nasihat-nasihat, pemberian symbol perkawinan kepada kedua mempelai, dan 
c. upacara Penutup; memainkan music adat, cerita dongen, dan pembubaran.


[1] Lih. Paulus Valentino Edoway., Skripsi: Inkulturasi Liturgi Perkawinan Katolik Dalam Upacara Perkawinan Adat Suku Mee. 1999. Hal. 63.
[2] Lih. Agustinus Johanis Tatago., Skripsi: Hukum adat perkawinan Suku Ekagi dan Perubahan-Perubahannya Akibat Kontak Dengan Dunia Luar. 1979. Hal. 24. 
[3] Lih. Welemin Tuturop., Makalah: Hidup Perkawinan Keluarga Suku Soub Dalam Perspektif Katekese. 2003.  Hal.11
[4] Lih. Agustinus Johaes Tatago., skripsi. Hal. 49.
[5] Ibid. hal 27-34.
[6] Op.cit. Paulus Valentino Edoway. Hal. 63-66.
[7] Ibid. hal. 68-69.
 
 
 Sumber :  Documents
 
 
 
 
 
Copyright © 2013. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger