Showing posts with label Biak. Show all posts
Showing posts with label Biak. Show all posts

Internasionalisasi Kasus Biak Berdarah, Berhasilkah?

 Biak Berdara fotoTabloid Jubi
Oleh : Alexa Christina, Peneliti di LSISI, Jakarta

Peristiwa “Biak Berdarah” atau dikenal dengan peristiwa Tower terjadi pada 6 Juli 1998. Peristiwa ini diawali dengan tindakan pengibaran bendera Bintang Kejora yang merupakan milik kelompok separatis di Papua disebuah tower berketinggian 35 meter yang berada dekat pelabuhan laut Biak, Papua Barat.

 Bendera tersebut berkibar sejak tanggal 2 Juli sampai dengan 6 Juli 1998. Massa yang diduga pendukung separatis Papua merdeka menari dan menyanyi serta meneriakkan merdeka-merdeka. Bahkan mereka menggelar mimbar terbuka, dimana salah satu aktivis yang bergabung dengan massa saat itu yaitu Yopy Karma menyampaikan atau membacakan tuntutan aspirasi yang mengatasnamakan masyarakat Biak untuk merdeka atau lepas dari NKRI.

Mengingat situasi yang tidak kondusif saat itu, Bupati Biak waktu itu didampingi unsur aparat keamanan dari TNI dan Polri menghimbau agar unjuk rasa tersebut dihentikan, namun himbauan ini kurang dihargai atau digubris oleh massa pengunjuk rasa yang didominasi sejumlah anggota dan simpatisan organisasi separatis Papua, sehingga saat itu aparat Polri dan TNI melakukan tindakan yang dinilai berbagai kalangan di Biak, Papua Barat dengan sinis karena berlebihan bahkan sarat pelanggaran HAM berat.

Bahkan, pasca kejadian tersebut upaya internasionalisasi terhadap kasus Biak berdarah ini dilakukan oleh sejumlah kalangan sampai saat ini, dengan alasan mereka tidak puas dengan langkah-langkah pemerintah untuk menyelesaikan kasus ini. Seorang tokoh Dewan Adat Biak misalnya menilai peristiwa Biak sebagai peristiwa pembantaian kemanusiaan karena tidak manusiawi dan tidak menghormati nilai-nilai universal HAM. Oleh karena itu, mengatasnamakan Dewan Adat Biak, tokoh ini meminta dukungan dari Uni Eropa dan masyarakat international untuk dapat membantu mengugat peristiwa pembantaian tersebut, bahkan menuntut penentuan nasib sendiri dalam rangka penyelamatan rakyat Papua.

Konon, para korban pelanggaran hak asasi manusia di Papua, termasuk korban Biak Berdarah 1998 menolak solusi apapun yang ditawarkan pemerintah untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di Papua. Pendamping para korban Biak Berdarah, Ferry Marisan mengatakan para korban sudah frustasi terhadap langkah-langkah pemerintah selama ini, dan mereka hanya punya satu keinginan yaitu merdeka. Ferry mengatakan para korban sudah kecewa karena pemerintah pusat maupun daerah tidak pernah memperhatikan kasus pelanggaran itu selama belasan tahun.



Lebihnya  Baca Disini

http://www.neraca.co.id/article/86865/internasionalisasi-kasus-biak-berdarah-berhasilkah


 

Usai Rekam Hubungan Intim Tetangga, Dua Pelajar Ini Upload Videonya ke Medsos

Ilustrasi (pixabay.com)
Polisi menangkap dua orang pelajar di Kabupaten Biak Numfor lantaran diduga menyebarluaskan video asusila ke media sosial. Kedua oknum pelajar ini diduga merekam seorang pria yang sedang melakukan hubungan layaknya suami istri dengan seorang wanita pada malam hari.

Kedua oknum pelajar berinisial FW dan OM ini diduga merekam video menggunakan kamera handphone secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui korban sebut saja Jaka. Video hasil rekaman tersebut kemudian diupload kedua oknum pelajar ini ke media sosial.

Dilansir dari Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group), korban awalnya tidak mengetahui kalau dirinya sedang direkam oleh pelaku saat melakukan hubungan layaknya suami istri dengan seorang wanita. Dirinya baru tahu setelah mendapat informasi dari keluarganya bahwa ada yang telah merekam hubungan intim yang korban lakukan dengan seorang wanita di rumahnya dan video tersebut tersebar di media sosial.

“Mengetahui hal tersebut, korban kemudian melapor ke Mapolres Biak Numfor. Dari laporan tersebut, Polres Biak Numfor melakukan penyelidikan dan akhirnya mengamankan dua pelajar yang diduga menyebarluaskan video asusila yang dilaporkan korban,” ungkap Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal kepada wartawan di Mapolda Papua, Jumat (2/6).

Dikatakan, hubungan layaknya suami istri yang direkam dua oknum pelajar ini diduga terjadi di Distrik Samofa. “Kedua pelaku masih kami periksa dan keduanya bisa dijerat dengan Undang-Undang IT,” kata Kamal.

Polres Biak Numfor menurut Kamal masih mencoba memediasi persoalan ini dengan mempertemukan keluarga pelaku dan keluarga korban untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Mediasi ini dilakukan karena kedua pelaku masih dibawah umur yang melanjutkan pendidikannya di bangku SMA.

Selain akan melakukan mediasi, Kamal mengatakan kepolisian juga mencoba memblokir akun media sosial yang digunakan untuk mengupload video asusila tersebut agar tidak lagi disebarluaskan. “Orang tua kedua pelajar ini akan dipanggil untuk membicarakan masalah ini dan dipertemukan dengan korban,” pungkasnya. (jo/nat/sad/JPG)

 JawaPos.com

WISATA PANTAI: Pakreki, Pulau Hantu di Tenggara Biak

WISATA PANTAI: Pakreki, Pulau Hantu di Tenggara Biak
Pulau Pakreki, Kepulauan Padaido, Biak, Papua. Maps.Google.com
TEMPO.CO, Jakarta - Dari kejauhan, Pulau Pakreki sudah tampak menyeramkan: tinggi, besar, berdinding tebing karang hitam, dan sesak pepohonan hutan tropis yang kehijauan. Sabtu kedua bulan lalu, kami--saya dan fotografer Tony Hartawan--melewatinya. Tujuan kami sebenarnya adalah Meosmangguandi, sebuah pulau tepat di sisi selatan Pakreki di pojok tenggara Kepulauan Padaido, Biak, Papua.

Laut di sekeliling Pakreki siang itu benar-benar membuat nyali kami ciut. Perairan yang tadi tenang tiba-tiba bergejolak. Seketika perahu “johnson”--begitu nelayan setempat menyebut kapal mesin tempel--kami diterpa ayunan ombak yang datang tak tentu arah. Tony yang duduk di haluan beberapa kali menengok sambil tersenyum kecut. Saya yang duduk di belakangnya membalas dengan mimik tak kalah khawatir. 

Setiba di Meosmangguandi, sekitar 5 mil laut sebelah selatan Pakreki, kami baru tahu laut yang baru saja diseberangi dianggap keramat. "Pakreki paling menyeramkan. Di sana juga dibilang ada faknik," kata Markus Rumkorem, 24 tahun, anak "ibu kos" kami selama di Meosmangguandi.

Faknik ialah sebutan masyarakat Biak untuk hantu penjaga lautan. Selama ratusan tahun, kepercayaan ini menjadi kearifan lokal untuk melindungi samudra. Ada keyakinan faknik akan menculik siapa pun yang berbuat onar di atas lautan. Tak ada yang dapat memastikan wujudnya. Sejumlah warga mengatakan faknik semacam gurita raksasa yang berdiam di dasar laut. Ada juga yang meyakininya semacam naga laut.



Omongan Markus mungkin benar. Setidaknya dalam lampiran draf Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang rencana pengelolaan dan zonasi taman wisata perairan Kepulauan Padaido memang disebutkan Lembaga Masyarakat Adat Padaido telah menetapkan Pulau Pakreki sebagai kawasan faknik. 

Ai mama... Sejak mengetahui informasi itu, kami diam seribu bahasa ketika harus kembali melintasi Pakreki dalam perjalanan kembali ke Pulau Biak. Ada perasaan plong begitu perahu kami melewatinya.



Meski saya tak akan ragu untuk kembali melewatinya suatu saat kelak. Sebab, Kepulauan Padaido benar-benar menjadikan Biak, seperti dibilang banyak orang, adalah singkatan dari bila ingat akan kembali.

Di Meosmangguandi, misalnya. Terletak sekitar 32 mil laut dari pusat Kota Biak, pulau ini hanya seluas 14 kilometer persegi dan dihuni sekitar 84 kepala keluarga. Mereka tinggal di rumah panggung yang masing-masing berjarak, dipisahkan tanah cukup luas. Hunian warga sangat nyaman ditinggali, dengan fasilitas MCK yang cukup memadai. Air tanah juga tak sulit ditimba dari sumur yang hanya berjarak beberapa meter dari pinggir pantai.

Dari sana, cobalah pergi ke Rasi, sebuah pulau kecil tak berpenghuni di wilayah selatan perairan Meosmangguandi. Di sini, butiran pasir putih sehalus tepung membentang di pantai yang lebar dan meninggi. Di depan sana, warna laut biru bergradasi.



Atau cobalah ke Kebori. Terletak di antara Meosmangguandi dan Rasi, laut di pulau yang juga tak berpenghuni ini dangkal dan tenang. Dari atas perahu, Anda pasti tergoda untuk segera melompat. Ikan kecil beraneka warna berkerumun, berlalu-lalang di atas koral beraneka warna yang membentang tak jauh di depan pantai pasir putih sebelah timur.

Kami sempat menginap di Kebori. Malam itu seolah tak ada lagi yang dibutuhkan dalam hidup ini. Api unggun telah berkobar di atas pasir yang menimbun singkong. Empat ikan gemuk, tiga di antaranya baronang, siap dibakar setelah terperangkap jala yang belum lama tadi dijulurkan Nikson, warga setempat, menjelang laut surut. Ditambah sepuluh bungkus mi instan siap dimasak.




Dari Meosmangguandi, kami mampir ke gugusan pulau seberang di utara. Dalam perjalanan, sekelompok lumba-lumba berlompatan, seolah ingin berkejaran dengan perahu kami yang melintas di tengah laut perbatasan Pulau Pasi, Mbromsi, dan Dauwi. Di pulau terakhir ini, kami sengaja menunggu petang lalu pergi ke Pulau Samakur.

Warga sekitar menjuluki Samakur sebagai pulau burung. Bukan karena bentuk pulaunya yang mirip burung, tapi lantaran ratusan ribu--jika tak ingin menyebut jutaan--burung laut berduyun-duyun terbang mendekati pulau tersebut ketika lembayung di langit barat Padaido semakin merah.

Selama beberapa saat mereka berputar-putar di atasnya. Tidak untuk berburu mangsa, tapi menunggu kelelawar pergi dari tebing-tebing padas di tengah pulau itu untuk kemudian menjadikannya tempat peristirahatan. Esok pagi, giliran bangau yang pergi digantikan kelelawar. Begitu seterusnya....

AGOENG WIJAYA
Rabu, 18 November 2015 | 15:25 WIB  
https://m.tempo.co



Persiapan Menikah Menurut Suku Biak Papua

Papua memiliki beragam adat istiadat dalam hal pernikahan, salah satunya adalah adat pernikahan di Papua. Nah, Ladies, penasaran kan dengan persiapan menikah di Indonesia bagian timur ini? Berikut adalah gambaran mengenai persiapan menikah menurut suku Biak Papua.

Seperti dijelaskan www.jadilah.com, pihak keluarga dari seorang lelaki Biak harus melamar si wanita. Pada hari lamaran, pihak lelaki harus membawa Kaken yang berbentuk gelang atau kalung dari manik-manik sebagai tanda perkenalan.

Jumlah dan jenis dari Kaken itu tergantung dari kemampuan ekonomi dari pihak lelaki. Jika memang orang tua dari si wanita menyetujui pernikahan tersebut, mereka akan memberikan Kaken pula kepada pihak lelaki.

Melangsir ulang dari www.papua.us, pernikahan yang berlangsung juga ditandai oleh pengataran Ararem atau mas kawin. Besarnya Ararem ditentukan oleh pihak keluarga wanita, sedangkan penentuan waktu penyerahannya dapat disepakati bersama antara pihak keluarga wanita dan lelaki.
Proses pengantaran Ararem ini dilakukan dengan sangat meriah serta diikuti dengan prosesi arak-arakan loh Ladies. Ketika pemberian mas kawin itu sudah selesai, maka status sosial dari si calon suami di depan keluarga calon istrinya menjadi lebih sakral.

Menurut laman budayaindo.com, ada acara makan bersama dari saudara laki-laki pihak ibu kedua mempelai, yang disebut dengan Samrem. Lalu keesokan harinya, calon pengantin wanita dirias dan dibawa ke rumah pengantin pria dengan arak-arakan. Setibanya di rumah calon pengantin pria, pengatin wanita melakukan barter mas kawin dengan uang.

Setelah itu, pihak pengantin wanita memberikan Asyawer atau seperangkat senjata berupa tombak, panah, dan parang kepada pihak pengantin pria. Jika ritual pernikahan ini selesai, baru lah acara pernikahan dapat dilanjutkan oleh kepala adat.

Ternyata perbedaan kebudayaan di Indonesia tidak begitu signifikan ya Ladies. Pastinya dengan mengetahui adat-istiadat yang ada di negeri kita sendiri, bakal lebih gampang untuk cari jodoh dalam negeri.

Oleh: N. Wijayanti

 http://www.vemale.com/relationship/love/58859-persiapan-menikah-menurut-suku-biak-papua.html

Besok Demo Dukung MSG di Biak Walau Dilarang Polisi

Biak –  Walau dilarang Polisi, Komite Nasional Papua Barat ( KNPB ) Biak telah mengumumkan bahwa akan melaksanakan demostrasi pada tanggal 18 Juni 2013 bertempat di Bundaran Pasar Lama Biak guna mendukung pertemuan MSG yang akan dilaksanakan di Kanaky ( Kaledonia Baru).
 
Apolos Sroyer selaku Ketua KNPB Biak mengatakan untuk menghormati undang-undang Republik 
 Indonesia maka, kami telah mengirim surat pemberitahun aksi demostrasi pada Kepolisian Biak.  Dan kami jamin pelaksanaan demonstrasi itu akan damai.
 
Untuk menanggapi rencana pelaksanaan demonstrasi KNPB Biak ini maka Kepala Kepolisian Resort Biak mengadakan pertemuan dengan pihak KNPB Biak pada tanggal 16 Juni 2013 pukul 14.00-16.00 bertempat di Pendopo Adat KBS Sorido Biak.
 
Dalam pertemuan itu pihak kepolisian mengatakan bahwa KNPB adalah organisasi yang tidak terdaftar pada kantor pembinaan politik dan bela negara Indonesia maka tidak diijinkan untuk melaksanakan suatu kegiatan politik.  Dan Kepala Kepolisian daerah Papua telah melarang KNPB melakukan demonstrasi.
 
Dalam perdebatan itu pihak KNPB Biak tetap pada komitmenya untuk melaksanakan demonstrasi. Menutu Apolos Sroyer aksi yang kami lakukan hanya berupa aksi demostrasi damai, hanya memfasilitasi masyarakat West Papua di Biak untuk menyampaikan aspirasinya secara damai guna mendukung pertemuan MSG itu.
Walaupun kepolisian Biak melarang dan akan membubarkan massa kami namun pada komitmennya kami tetap melaksanakan aksi damai itu, ujar Apolos Soryer. (kume)
 
 
 Sumber: KNPBnews
 
 

Delapan Sekolah Papua Ditarget Jadi Percontohan

Biak - (Rabu,20/03/13) Tiga badan dunia PBB yakni UN Woman, Unicef dan United Nation Population Fund  bersama Pemprov Papua menagertkan delapan sekolah dan lima desa menjadi percontohan bebas kekerasan anak dan perempuan.

Koordinator United Nation Population Fund Papua Samuel Polii di Biak, Rabu, mengatakan upaya mewujudkan program bebas kekerasan anak dan perempuan di Papua melibatkan berbagai instansi terkait di Provinsi Papua dan Pemkab setempat.

Samuel mengatakan instansi yang dilibatkan dalam program bebas kekerasan anak dan perempuan antara lain Polda Papua, Dinas Pendidikan, Badan Pemberdayaan Masyarakat Kamoung, Biro Pemberdayaan Perempuan, Pemderdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana serta berbagai SKPD terkait lainnya.

"Data kekerasan perempuan dan anak di Papua tiga kali lebih tinggi secara nasional, karena itu diperlukan regulasi khusus dalam menangani persoalan kekerasan anak dan perempuan," harap Samuel Polii.

Ia menyebutkan, kabupaten yang menjadi sasaran kegiatan bebas kekerasan anak dan perempuan yakni Kabupaten Jayapura dan Jayawijaya telah dilaksanakan sejak Maret 2011 hingga 31 Desember 2013.

Menyinggung motif kekerasan anak dan perempuan di Papua, menurut Samuel, sangat beragam motifnya, namun yang paling dominan akibat pengaruh minuman keras dan motif ekonomi.
"Kita harapkan setiap desa dan sekolah yang menjadi target bebas kekerasan anak dan perempuan mendirikan kelompok kerja sehingga menjadi tempat perlindungan serta tempat konsultasi dalam mengatasi kekerasan," kata Samuel Polii. (ant/rud)



Lima Tahun Pustu Owi Tak Punya Petugas

Kampung Owi di Kabupaten Biak
Biak – Hampir lima tahun Puskesmas Pembantu Kampung Owi di Pulau Owi, Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak, tak punya petugas. Bila ada warga sakit, para tetangga atau kerabat akan membawa pasien jauh ke Kota Biak.

“Tidak ada petugas, sudah mau lima tahun, padahal pulau Owi tidak begitu jauh dari Biak,” kata Leo Rumpaidus, Kepala Bamuskam Kampung Owi, Selasa (11/12).

Ia mengatakan, warga tak punya pilihan untuk harus menunggu petugas kesehatan tiba di kampung. Kerap untuk menyembuhkan sakit, beberapa mengobati diri menggunakan ramuan tradisional. Sementara sebagian besar memilih ke kota meski harus tidur diatas perahu. “Disini tidak ada obat rumah sakit, begitulah keadaan,” ujarnya.

Penyakit yang sering diderita diantaranya malaria. Penyebaran penyakit disebabkan oleh pola hidup warga yang kurang memperhatikan kesehatan. “Kalau ada petugas, mungkin bisa ada penyuluhan bagaimana cara hidup sehat,” kata leo.

Kampung Owi terletak dibibir pantai Pulau Owi. Kampung seluas kurang lebih 125 meter persegi itu didiami 117 Kepala Keluarga atau 468 jiwa. Profesi warga Owi adalah nelayan. Jarak Pulau Owi ke Kota Biak, 30 menit menggunakan speedboat atau satu jam memakai perahu bermesin dorong kecil. “Sedikit saja yang berkebun,” kata Piet Dimara, Kepala Kampung Owi.

Dimara menambahkan, jarang petugas dari Dinas Kesehatan Biak mengunjungi Owi. Beberapa pejabat pemerintah yang datang, juga hanya sekedar bertamasya atau melihat pulau wisata itu. “Kalau bisa ada perhatian dari pemerintah,” pungkasnya. (JO/Biak/aldp-papua.com)




Dinkes Biak Upayakan Penurunan Angka Kematian Ibu

BIAK - Jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Biak Numfor, Papua berupaya menurunkan angka kematian ibu dari 168 per 100 ribu kelahiran hidup menjadi 116 atau mendekati standar Milenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015.

Kepala Dinas Kesehatan Biak dr Imron Ohoirella di Biak, Kamis mengatakan, untuk menurunkan angka kematian ibu, bayi baru lahir, bayi dan balita pemerintah melalui Dinas Kesehatan melakukan berbagai upaya melalui peningkatan pelayanan kesehatan Polindes, Puskesmas, Pustu hingga rumah sakit.

Ia mengatakan, diantara terobosan dilakukan pemerintah dalam perluasan layanan kesehatan melalui penempatan bidan di desa, pemberdayaan keluarga dan masyarakat dengan menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA).

Sedangkan upaya lain digencarkan pemerintah menekan angka kematian ibu, lanjutnya, melaksanakan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), serta penyediaan fasilitas kesehatan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas perawatan dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di rumah sakit.

�Terobosan yang paling mutakhir pelayanan kesehatan adalah program jaminan persalinan (Jampersal) ) yang digulirkan sejak 2011 di seluruh Indonesia,� ungkap Kadinkes dr Imron.

Kadinkes Imron mengatakan, program Jampersal ini diperuntukan bagi seluruh ibu hamil, bersalin dan nifas serta bayi baru lahir yang belum memiliki jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan.

Keberhasilan Jampersal tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pelayanan kesehatan namun juga kemudahan masyarakat menjangkau pelayanan kesehatan disamping pola pencarian pertolongan kesehatan dari masyarakat.

�Program Jampersal diharapkan dapat mendukung pencapaian target penurunan angka kematian ibu di Kabupaten Biak Numfor,� ungkap Kadinkes dr Imron Ohoirella.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, penyebab langsung kematian ibu hampir 90 persen terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan.

Sementara itu, risiko kematian ibu juga makin tinggi akibat adanya faktor keterlambatan, yang menjadi penyebab tidak langsung kematian ibu.

Ada tiga risiko keterlambatan, yaitu terlambat mengambil keputusan untuk dirujuk (termasuk terlambat mengenali tanda bahaya), terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat keadaan darurat dan terlambat memperoleh pelayanan yang memadai oleh tenaga kesehatan.

Sedangkan pada bayi, dua pertiga kematian terjadi pada masa neonatal (28 hari pertama kehidupan). Penyebabnya terbanyak adalah bayi berat lahir rendah dan prematuritas, asfiksia (kegagalan bernapas spontan) dan infeksi.

Pada tahun 2015 Dinkes juga bertekad menekan angka kematian bayi dari 27 per 100.000 ribu kelahiran hidup menjadi 23 serta meningkatkan kualitas angka harapan hidup masyarakat Biak dari 68 tahun menjadi 72 tahun.
(ant/ ap)

LIGA PENDIDIKAN INDONESIA SE-PAPUA—Pemkab Biak Siapkan Anggaran

Logo Liga Pendidikan Indonesia
BIAK–Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, Papua, akan menyiapkan anggaran untuk membiayai kejuaraan sepak bola pelajar Liga Pendidikan Indonesia (LPI) se-Papua 2013, terkait penetapan Kabupaten Biak sebagai tuan rumah penyelenggara.

Kepala Dinas Pendidikan Biak Hendri Jan Rumkabu mebgatakan penyaluran anggaran akan dilakukan Pemkab Biak ke Dinas Pendidikan.

Dia mengatakan untuk mendukung pelaksanaan event sepak bola pelajar pihaknya akan meminta dukungan pemerintah kabupaten, DPRD, KNPI serta pemangku kepentingan pendidik di daerah ini.
“Penunjukan Biak menjadi tuan rumah kejuaraan Liga Pendidikan se-Papua saya respon positif, sebab hal ini menjadi bukti kepercayaan Pemprov Papua kepada jajaran Pemkab Biak Numfor,” kata Hendri, kutip Antara, Rabu (10/10).

Dia mengaku belum dapat memastikan besaran anggaran yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan event Liga Pendidikan Indonesia karena masih harus dihitung berbagai program dan kegiatan yang akan dilaksanakan.

Akomodasi siap
Ketika menyinggung mengenai kesiapan akomodasi peserta selama kejuaraan LPI 2013, Hendri menyatakan tidak khawatir untuk tempat penginapan atlet maupun lokasi pertandingan.

Pemkab Biak, katanya, telah siap karena sering menjadi tuan rumah berbagai event organisasi, seni budaya, maupun acara keagamaan MTQ dan Pesparawi.

“Fasilitas penginapan peserta seperti hotel, mess TNI, sekolah, maupun lembaga pendidikan latihan Pemkab telah siap digunakan untuk menjadi tempat penginapan pemain dan official dari Kabupaten/Kota di Provinsi Papua.”

Dia juga berharap  Dinas Pendidikan Pemkab Biak serta para pemangku kepentingan di Kabupaten Biak Numfor dapat menyukseskan penyelenggraan Liga Pendidikan Indonesia se-Papua pada 2013.

Berdasarkan data pada LPI 2012, dua sekolah Biak yakni SMP Negeri 4 dan SMA Negeri 1 berhasil mengawinkan piala Gubernur Papua di Biak karena berhasil merebut juara pertama tingkat SMP dan SMA berlangsung di Jayapura 23–29 September lalu.(ant/iaa)

Newswire/  bisnis-kti.com


LEBARAN — Harga Tiket di Biak Naik 75%

Aktivitas di Bandara Frans Kaisiepo Biak
BIAK, PAPUA — Harga tiket pesawat udara tujuan Jakarta dan Makassar dari Bandara Frans Kaisiepo Kabupaten Biak Numfor, Papua, menjelang H-10 Idul Fitri 1433 Hijriyah naik drastis antara  50% – 75% dari harga normal.

Data diperoleh, Kamis, harga tiket tujuan Makassar penerbangan Garuda Indonesia sebelumnya Rp1.520.000, pada H-10 hingga beberapa hari setelah Lebaran melonjak hingga Rp2,5 jutan.
Sedangkan untuk tiket penerbangan Sriwijaya Air harga normal tujuan Makassar Rp1,3 jutan, kini naik mencapai Rp2,1 jutan. Sementara Merpati Nusantara biasanya tiket Biak-Makassar Rp1,1 juta naik menjadi Rp1,9 juta hingga Rp2,3 juta.

Salah seorang agen penjualan tiket Biak, Henock, mengakui, harga tiket pesawat menjelang Lebaran hingga beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri mengalami kenaikan dibanding hari biasa.
“Sudah tiket pesawat naik, seat penerbangan juga penuh hingga beberapa hari mendatang setelah Lebaran,” ungkap Henock menanggapi kenaikan harga tiket pesawat jelang Lebaran.
Sementara itu, calon penupang pesawat, Aril, mengatakan kenaikan harga tiket pesawat udara mendekati Lebaran makin tidak terkendali hingga 75% dari harga normalnya.

“Untuk mudik Lebaran ke Makassar saya berencana naik pesawat udara, tapi harganya tinggi hingga kini tiket juga sudah penuh dibooking,” katanya.

Arus kedatangan dan keberangkatan penumpang di Bandara Frans Kaisiepo Biak pada Kamis pagi berjalan normal. Penumpang dilayani dua maskapai yakni Garuda Indonesia dan Merpati. (ant/mw)

Sumber Antara

 
Copyright © 2013. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger