Masyarakat menyaksikan pesawat Merpati Boeing 737-300 yang tergelincir di bandara Rendani, Manokwari, Papua (13/4). Diduga pesawat tergelincir akibat cuaca buruk. REUTERS/Laode Mursidin |
Sebelumnya dari tiga tersangka kasus Merpati, hanya berkas Hotasi Nababan mantan Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines Hotasi yang sudah masuk ke tahap penuntutan. Dalam tahap penuntutan, lanjut Adi, tim jaksa akan melakukan penelitian terhadap berkas perkara Tony. Jaksa akan menentukan perkara tersebut sudah lengkap atau perlu ditambah. "Keputusannya mungkin dalam waktu dekat," tambahnya.
Namun Adi yakin berkas milik kedua tersangka tersebut sudah cukup lengkap. Sementara itu untuk tersangka Merpati yang terakhir, Guntur Aradea Direktur Keuangan PT Merpati Nusantara Airlines masih dalam tahap penyidikan.
Kasus ini bermula dari perjanjian sewa antara Merpati dan Thirdstone Aircaft Leasing Group Inc (TALG) pada Desember 2006. Perusahaan penyewaan pesawat asal Amerika Serikat itu berjanji menyiapkan dua pesawat untuk Merpati berjenis Boeing 737 seri 400 dan 500.
Merpati lantas mengirimkan US$ 1 juta atau setara dengan Rp 9 miliar ke TALG sebagai jaminan atau security deposit penyewaan. Tapi, hingga tenggat waktu yang disepakati, yakni Januari 2007, pesawat tak kunjung datang. Begitu pula dengan duit jaminan penyewaan, US$ 1 juta, tak bisa ditarik kembali.
Tim jaksa penyidik kemudian menilai terdapat indikasi tindak pidana korupsi sebesar US$ 1 juta dalam kasus tersebut. Selanjutnya, penyidik meningkatkan status kasus tersebut dari penyelidikan ke penyidikan.
TEMPO.CO
0 komentar:
Post a Comment