Showing posts with label Puncak jaya. Show all posts
Showing posts with label Puncak jaya. Show all posts

Mahalnya Arti Kesehatan Di Distrik Kurulu


Bukit Kurulu. Foto: Imanuel Mabel
Puncak Jaya - Kurulu adalah sebuah distrik yang terdapat di pinggiran kota Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Mata pencaharian masyarakat yang mendiami distrik tersebut, pada umumnya di bidang pertanian lokal dan ternak babi. Daerah ini mempunyai alam yang indah. Namun sayang, dibalik alam yang indah dan menakjubkan itu, masih saja terdengar jeritan tangis anak pemilik negeri, yang disebabkan berbagai penyakit. Penyakit kecil yang sebenarnya bisa diobati dan dapat tertolong, akhirnya menjadi berat bahkan sampai meninggal dunia. Hal tersebut terjadi karena kurangnya tenaga kesehatan.

Suatu pengalaman yang pernah saya lihat yaitu ketika melihat ada seorang anak kecil yang terjatuh dari atas pohon hingga patah tangannya, dan oleh orang tuanya anak tersebut dibawa kepuskesmas Kurulu. Namun sayang mereka (perawat) menolak dengan alasan tidak ada dokter. Akhirnya dengan perasaan yang sangat sedih orang tua dari anak tersebut akhirnya membawa kembali anak mereka pulang tanpa mendapat pengobatan.

Foto: Imanuel Mabel
Saya sendiri juga pernah mengalami pengalaman, yang tidak pernah bisa saya lupa hingga saat ini. Saat itu saya pernah mengalami penyakit paru-paru. Oleh orang tua, saya dibawa Puskesmas Kurulu. Namun, di sana tidak ada dokter yang bisa menangani penyakit tersebut. Akhirnya dengan keadaan serta keterbatasan yang ada, orang tua membawa saya ke sebuah apotek yang terdapat di kota.  Tujuannya, agar saya bisa mendapatkan pelayanan di apotek. Sebab, selain menjual obat, beberapa apotek membuka praktek pengobatan.

Dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, akhirnya saya dapat pelayanan di apotek tersebut. Bayangkan saja, hanya dua kali berobat dan dua kali melakukan pemeriksaan medis, orang tua saya mengeluarkan biaya hingga Rp. 2.000.000 (dua juta Rupiah).

Setelah melihat hal tersebut, terlintas pertanyaan dibenak saya. Secara pribadi kita memang dituntut untuk menjaga kesehatan. Namun masih adakah di luar sana yang peduli terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di Distrik Kurulu tercinta ini? Apalagi dengan kondisi serta tuntutan ekonomi yang semakin keras di zaman ini.

Foto: Imanuel Mabel

Masalah ini akhirnya menimbulkan polemik di masyarakat. Mereka mengatakan bahwa, pemerintah tidak mampu memperhatikan kesehatan masyarakat di Distrik Kurulu sampai tuntas,  hingga saat ini. Hal serupa  pernah terungkap dari orang tua saya, ketika mengantar saya ke apotik tersebut. Ia mengatakan “Seandainya di daerah ini semua orang mengalami penyakit paru-paru, bagaimana pemerintah mampu mengatasinya? Pasti semua tidak akan tertolong (meninggal). Percuma didirikan puskesmas jika tidak ada dokter yang bisa mengobati penyakit yang serius,  seperti penyakit paru-paru.”, ungkap bapak saya. Ungkapan tersebut bila dianalisa, sebenarnya menandakan ketidakpercayaan dan keputusasaan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah, yang tidak menempatkan tenaga-tenaga handal untuk mengobati penyakit yang serius. Khususnya di Puskesmas-Puskesmas.

Di atas adalah kasus yang saya lihat dan pernah saya rasakan, dari sekian banyak kasus yang terjadi dan sedang berlangsung di sana, di Distrik Kurulu. (Imanuel Mabel/Halamanpapua )


TNI/Polri Periksa Senjata dalam Gereja di Puncak Jaya, Yoman Mengecam

TNI di kabupaten Puncak Jaya. Foto: jpnn.com
Puncak Jaya, MAJALAH SELANGKAH -- Sumber majalahselangkah.com melaporkan, siang kemarin, Sabtu, (08/02/14), aparat TNI dan Polri kembali menggelar sweeping. Mereka bahkan bersenjata lengkap memasuki dan memeriksa senjata di dalam gedung Gereja Karubate, Puncak Jaya.

"Katanya dalam gedung Gereja disimpan senjata yang dirampas TPN/OPM waktu lalu itu," kata sumber itu.

Sumber lain yang dihubungi media ini dari Puncak Jaya, tadi malam mengatakan, pihaknya masih dalam kondisi ketakutan.

"Kami masih ketakutan ini. Dorang baku cari terus di sini, tadi periksa di gereja. Tentara tambah banyak. Kenapa begini terus, kami tidak bisa kerja."

Menanggapi kondisi ini, dalam keterangan yang diterima majalahselangkah.com, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua, Socratez Sofyan Yoman, meminta Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menghentikan tindakan-tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh aparat Polri dan TNI di Puncak Jaya.

"Saya meminta kepada bapak (SBY:red) supaya aksi-aksi biadab, kafir dan barbar dari aparat TNI dan POLRI terhadap gereja-gereja di Puncak Jaya HARUS dihentikan. Yang perlu kita jawab bersama adalah apakah benar senjata-senjata itu diambil oleh OPM dan disimpan dalam gereja?," tulis Yoman.

Yoman juga mempertanyakan, "mengapa kekerasan di Puncak Jaya sejak Pendeta Elisa Tabuni dibunuh oleh Kopasus pada 16 Agustus 2004 sampai tahun 2014 belum berhenti? Mengapa kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Puncak Jaya dan Papua pada umumnya selama 50 tahun tidak pernah berhenti?"

Pendeta Yoman menilai, Pemerintah RI gagal membangun Papua karena masih menggunakan pendekatan keamanan dan kekerasan. (GE/MS)

 
 
 

Pendropan Anggota TNI, Polri, Brimob dan Densus 88 Ke Puncak Jaya

Drop Anggota Brimob Ke Puncak Jaya
Tolikara, KNPBNews -   selama beberapa tahun terakhir ini, terjadi penembakan di Kabupaten Puncak Jaya terus menerus, dan juga terus penambahan TNI, POLRI, Brimob Densus 88, dan pasukan organik maupun non organik ke Puncak Jaya, namun saat terjadi insiden penembakan di disana, wartawan langsung tanya  kepada Kapolda Papua dan Pangdam Cendrawasih, begini pertanyaannya; apakah ada penambahan pasukan untuk pengamanan? Namun Kapolda Papua dan Pangdam selalu menjawab; tidak ada penambahan pasukan tetapi anggota polisi setempat dan di back up oleh TNI untuk mengejar pelaku penembakan, namun jawaban tersebut pembohongan publikJawaban di atas hanya menutupi perbuatan mereka yang tidak manusiawi, terhadap rakyat Papua Barat yang ada di Kabupaten Puncak Jaya, jawaban yang sebenarnya adalah ada penambahan pasukan TNI, POLRI, Brimob dan lain-lain. Melalui Crew Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Toli bahwa selama ini wartawan juga di tipu oleh petinggi TNI dan POLRI.
  Setiap kali penembakan pasti ada penambahan pasukan, terbukti setelah terjadi penembakan di post Kulirik distrik Mulia kota, Kabupaten Puncak Jaya, pada tanggal 18/01/2014. Penambahan pasukan dalam jumlah yang sangat besar ke Kabupaten Puncak Jaya, pantauan dari Komite Nasional Papua Bar at (KNPB) wilayah Toli.
Hari sabtu 25/01/2014, brimob dari wamena menuju ke Mulia, pukul 5:00 wpb, tiba di distrik Kuari, Kabupaten Tolikara 9:00, sebanyak 12 strada, dan ada 3 strada khusus untuk Bama, namun hari sabtu itu tidak sampai ke Puncak Jaya karena jalan rusak para sepanjang jalan distrik Kuari, Kabupaten Tolikara. Brimob juga telah memaksa masyarakat setempat untuk membantu dorong mobil.
Pantauan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Toli, hampir semua Brimob yang pergi ke Puncak Jaya adalah anak Papua, berkulit hitam, berambut keriting, tetapi pergi membunuh saudaranya, oleh karena makan minum dan kepentingan kolonial Republik Indonesia.
Mobil Brimob mogok, masyarakat sedang membantu kasih keluar mobil
   
                                            
Semua Mobil ini drop Anggota Brimob Ke Puncak Jaya



 Sumber : http://knpbnews.com/?p=3506

Korban Penembakan Oleh Militer Indonesia, Terhadap Warga Sipil Di Kabupaten Puncak Jaya

Korban Penembakan oleh Militer Indonesia
Puncak Jaya,KNPBNews – Mulia Kabupaten Puncak Jaya, 26/01/2014 pukul 8:00 pagi wpb, Kabupaten Puncak Jaya distrik Mulia, terjadi pengerebekan dan pemukulan terhadap rakyat sipil yang tidak tahu apa-apa, saat itu, Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) jemaat Dodopaga dan jemaat Kulirik sedang beribadah, secara tiba-tiba ada bunyi tembakan dan anggota Brimob dan Densus 88 langsung di kepung masyarakat di dalam gereja, dan gereja pun di bakar oleh militer Indonesia.
Dalam insiden ini di kabarkan bahwa, Pdt, Gembala dan jemaat Tuhan dalam gereja hari itu dapat penyiksaan dan intimidasi yang luar biasa oleh aparat keamanan Indonesia yang berada di puncak Jaya, mereka ditikam dengan pisau sangkur dan saat ini di rawat di rumah sakit umum di Mulia.  Insiden ini ada dua rakyat sipil yang korban pemukulan oleh militer Indonesia, nama-nama sebagai berikut; 1. Lurugwi Morib, sebagai kepala Desa setempat dan 2. Pamit Wonda, sebagai Gembala jemaat setempat.
Saat ini situasi di Kabupaten Puncak Jaya darurat militer, dan hampir semua masyarakat pengungsi ke hutang, dan ada yang pengungsi ke Kabupaten terdekat seperti Kab, Tolikara, Lani Jaya, dan Puncak Ilaga, dan masyarakat dalam kota juga tidak bisa bergerak keluar tetapi tetap harus terkurung di dalam rumah, karena masyarakat sipil di jalan-jalan semua dia angap anggota TPN-OPM oleh militer Indonesia.
Oleh karena itu dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Yamo, puncak Jaya, memohon kepada seluruh rakyat bangsa Papua Barat dari Sorong sampai Merauke, tolomg mendukung di dalam doa bagi rakyat yang ada di Kabupaten Puncak Jaya, saat ini sedang mengungsi ke hutang tahan lapar dan haus, tahan dingin, hujan dan panas di hutang rimbah, demi bangsa dan tanah air kita West Papua
Sumber  :  http://knpbnews.com/?p=3516




Kontak Senjata di Mulia 3 OPM tewas 1 orang TNI meninggal.

Jayapura  – Kontak senjata antara TNI dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali terjadi di wilayah Puncak Jaya Jumat (24/01/2014) pkul 07.30.wit . Dari kontak senjata  tersebut menewaskan 3 anggota OPM  dan berhasil amankan 1 buah senjata jenis  AK 47.
      Namun dalam proses evakuasi jenazah anggota OPM, seorang anggota TNI dari Batalyon 753/ Arga Vira Tama Nabire atas nama Prajurit Satu Sugiarto tewas tertembak, kata Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII Kolonel Infantri  Lismer Lumbar Siantar melalui via selulernya Jumat (24/01/2014) kemarin.
      Menurut Kolonel Lismen Siantar, ada 3 orang tewas dari kelompok OPM yang tewas. awalnya kita kira satu orang tertembak, setelah dilakukan pembersihan ditempat kejadian ditemukan lagi  2 jenasah dari OPM.
      ”Saat kita mau evakuasi jenazah tiba – tiba ada tembakan dari arah kiri sehingga mengenai Pratu Sugiarto di bagian kepala, jenasa sudah diterbangkan ke makassar” kata Lismen
      Sementara Panglima Komando Militer Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Christian Zebua menuturkan selaku Panglima Kodam 17 Cendrawasih merasa berduka atas gugurnya satu prajurit dalam menjalankan tugasnya.
      Dalam melakukan guna mempertahankan kedualatan NKRI, seorang prijurit sudah siap gugur di medan tugas, kata Christian Zebua.
      Namun selaku prajurit, kami  selalu meningkatkan kesiagaan di wilayah tersebut, ada kemungkinan senjata yang dipakai mereka merupakan hasil rampasan dari aparat keamanan beberapa waktu lalu,” tutur Christian.
      Lanjut Pangdam, secara hukum OPM bersalah, namun kami tidak menggap mereka sebagai musu, tetapi sebagai saudara yang harus di panggil secara baik.
      Namun bukan  berarti tidak ada tindakan, jika tindakan mereka mengancam orang lain dan NKRI maka selagi prajurit siap untuk bertidak dengan tegas, tutur Pangdam.
(B/ASH/R2/LO3 ( Sumber: suluhpapua.com)

Goliath Tabuni Bertanggung Jawab Soal Penembakan di Puncak Jaya

Panglima Tinggi Tentara Pembebasan
Nasional-Organisasi Papua Merdeka
(TPN-OPM) Goliath Tabuni (mengenakan
ikat kepala merah) (sumber: Istimewa)
Jayapura - Goliath Tabuni mengaku bertanggungjawab atas penembakan 2 anggota TNI dari satuan 753 Nabire di Ilu, Kabupaten Puncak Jaya. Penembakan terjadi pada Selasa (25/6), sekitar pukul 14.00 WIP.
"Penembakan itu dilakukan dari anggota saya, dan atas perintah saya. Dan juga yang dikatakan warga sipil selaku sopir itu adalah intelejen dari TNI 753 yang biasa antar-antar mereka. Anggota saya tidak bisa menembak masyarakat sipil sembarang, kalau ada media mengatakan masyarakat sipil, itu bohong. TNI boleh yang biasa menembak masyarakat sipil yang ada di wilayah sini bahkan di seluruh Papua, tetapi kami tidak sembarang menembak," tegas Goliath saat dihubungi SP, Rabu (26/6) sore.

Lebih lanjut Goliath Tabuni, mengatakan,TNI yang ada di wilayah Kabupaten Puncak Jaya, diharapkan jika melakukan pengejaran jangan korek masyarakat sipil.

"Jika mau cari anggota saya yang melakukan penembakan terhadap 2 anggota TNI itu, cari saya dan anggota saya, jangan masyarakat sipil Papua," tegasnya.

"Jika TNI-Polri ada yang melakukan pengejaran terhadap masyarakat, harap masyarakat sipil ras Melayu yang ada di wilayah pegunungan segera pulangkan dulu. Anda lakukan tindakan terhadap masyarakat saya."
"Saya siap melayani bagi TNI Polri jika ada yang melakukan pengejaran terhada anggota saya dan saya. Kemarin kami sudah ambil senjata milik anggota itu, sekarang justru kekuatan kami semakin banyak, jadi kami tidak ragu lagi kalau ada pengejaran terhadap kami, asalkan jangan terhadap masyarakat sipil Papua," tegas Goliath.

Goliath Tabuni berpesan kepada semua media nasional dan internasional, bahwa ketika terjadi peristiwa penembakan terhadap TNI-Polri di wilayah Puncak Jaya, jangan pernah ada yang katakan sipil bersenjata dan OTK.

"Tidak ada sipil bersenjata disini, yang memiliki senjata hanya TNI-Polri dan kami Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka. Jadi jika korban TNI-Polri itu saya bertanggung jawab dan saya selaku pimpinan TPN Papua Barat, bukan sebagai sipil besenjata," ujarnya.

Ia pun berpesan kepada Kapolda Papua Tito Karnavian dan Pandam XVII Cenderawasih Cristian Zebua bahwa, harap berikan pendidikan yang baik kepada anggota, agar mereka tidak melanggar aturan perang dan hukum internasional.
Penulis: 154/YUD
Sumber:Suara Pembaruan
 
Copyright © 2013. RASUDO FM DOGIYAI - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger